Arsip Blog

Selasa, 15 Desember 2009

eh, ternyata ... bakrie GA JAUH DARI FREEPORT lho ... 151209

Logo GATRA


Nomor 13/III, 15 Februari 1997

SAHAM

Nusamba Masuk Freeport
Nusamba memastikan diri membeli saham Indocopper milik Bakrie Brothers
senilai Rp. 724,24 milyar.

DALAM kamus pengusaha sekaliber Mohamad Hasan sepertinya hanya ada
satu kata: "beli". Bagaimana tidak. Mengawali tahun 1997 ini,
pengusaha yang memulai debutnya sejak 25 tahun silam itu mengejutkan
publik dengan membeli 50% saham PT Askatindo. Inilah perusahaan yang
bersama Bre-X memegang lisensi megatambang emas Busang, di Kalimantan
Timur. Langkah "beli" tambang emas itu kini dilanjutkan dengan
memborong 51% saham PT Indocopper Investama Corporation, perusahaan
pemegang 9,36% saham PT Freeport Indonesia Corporation, yang melakukan
penambangan emas di Irian Jaya.

Lewat PT Nusamba Mineral Industri, Mohamad Hasan membeli saham
Indocopper dari tangan Bakrie Brothers sebesar 49%. Dua persen lainnya
didapatkan dari Bakrie Investindo. Kesepakatan itu terjadi Selasa
pekan lalu. Wakil Nusamba, Abdul Majid selaku direktur utama dan
wakilnya Paul Wenas, yang bernegosiasi dengan direksi Bakrie Brothers,
Tanri Abeng dan Nalinkant Rathod, sepakat nilai transaksi sebesar US$
28,829 atau Rp 68.988 per saham. "Pembelian ini dilakukan secara
tunai," tutur Tanri Abeng, Presiden Direktur Bakrie Brothers. Cuma,
pembayarannya akan dilakukan setelah perseroan ini mendapatkan
persetujuan pemegang saham yang akan mengadakan rapat 12 Maret
mendatang.

Bagi Bakrie Brothers penjualan itu memberikan masukan US$ 302,7 juta
atau Rp 724,24 milyar. Angka ini bisa jadi akan membesar jika saat
pembayaran nanti kurs dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan. Yang
jelas, kalau dihitung dari nilai pembelian dulu di tahun 1994 yang Rp
583,88 milyar, berarti pihak Bakrie mendapatkan capital gain Rp 140,36
milyar. "Hasil penjualan ini, sebesar US$ 200 juta untuk melunasi
utang jangka pendek," tutur Tanri Abeng.

Dengan transaksi ini, masih kata Tanri, perusahaan juga akan
memperbaiki neraca rugi laba sebesar Rp 167 milyar. Hasil tersebut
didapat setelah pinjaman jangka pendek terlunasi. Selanjutnya
perusahaan akan diuntungkan Rp 36 milyar tiap tahun karena tidak ada
lagi beban bunga utang jangka pendek. "Seterusnya kita hanya akan
memilih pinjaman jangka panjang saja," kata Nalinkant Rathod, Direktur
Keuangan Bakrie Brothers. Tekad itu pun segera dibuktikan. Senin ini,
Bakrie mengeluarkan obligasi 180 milyar atau sekitar US$ 150 juta,
dengan Peregrine Fixed Income sebagai penjamin.

Kisah penjualan saham Bakrie di Indocopper mendapat perhatian luas
sebulan terakhir ini. Menarik, selain karena faktor pengusaha kakap
Mohamad Hasan yang mau membeli, Bakrie Brothers sendiri merupakan
perusahaan publik yang cukup diminati. Lebih dari itu, Indocopper yang
dijualbelikan adalah pemegang 9,36% saham perusahaan tambang emas PT
Freeport Indonesia Company. Sementara itu, orang juga menduga,
Indocopper merupakan sumber keuangan penting bagi Bakrie.

Pihak manajemen Bakrie pun tidak menolak anggapan itu. Setidaknya,
kata Tanri Abeng, saham Bakrie di Indocopper acapkali menjadi
penyokong kuat manakala perusahaan mengajukan pinjaman. "Indocopper
memang menjadi beking kuat untuk kredit-kredit Bakrie," katanya. Tapi,
ditambahkannya, posisi keuangan Bakrie akan menjadi lebih kuat kalau
Indocopper dilepas. Hasilnya kemudian dipakai untuk melunasi pinjaman
jangka pendek yang selama ini menjadi beban keuangan perusahaan.
Sehingga di kemudian hari rasio utang dan modal Bakrie nantinya akan
menjadi satu banding satu. "Return dari Indocopper hanya 4% atau
sekitar US$ 15 juta. Lebih baik dijual untuk menutup pinjaman yang
sifatnya jangka pendek," kata Nalinkant.

Tanri menolak kalau penjualan itu dikaitkan dengan kabar bahwa
perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki keluarga Aburizal
Bakrie itu sedang kesulitan dana. Dibantahnya pula adanya sinyalemen
penjualan itu karena tekanan dari pihak lain. "Penjualan saham
tersebut semata-mata pertimbangan ekonomis," kata Tanri.
Disebutkannya, sejak awal melakukan pembelian, pihak manajemen pun
tidak berniat terus memegang saham Indocopper.

Aksi penjualan itu sendiri diambil setelah pihak manajemen mendapat
masukan dari Salomon Brothers. Perusahaan keuangan dari Amerika
Serikat yang disewa menjadi konsultan keuangan Bakrie itu sejak
Oktober tahun silam memberikan rekomendasi untuk melepaskan
saham-saham Bakrie yang berada di luar bisnis inti. Usulan itu
diperkuat pula oleh opini yang dibuat Forest International, serta para
fund manager. "Bakrie memang hanya akan berkonsentrasi di bisnis inti,
telekomunikasi, perkebunan, infrastruktur, dan kimia," kata Nalinkant.

Itu sebabnya, pihak manajemen disebutkan pula akan melepaskan sahamnya
di PT Arutmin. Di perusahaan tambang batu bara ini Bakrie menanamkan
duit sekitar US$ 40 juta. Hanya, yang menjadi pertanyaan, sasaran
bisnis yang di fokuskan ke inti ini kenapa baru sekarang.

Dwitri Waluyo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini