Minggu, 07 November 2010

anak baru the bakries ... 021011

Ini Perusahaan Tambang Terbaik versi ESDM Perusahaan tambang ini merebut penghargaan Aditama karena andal mengelola lingkungan MINGGU, 2 OKTOBER 2011, 17:55 WIB Syahid Latif, Iwan Kurniawan VIVAnews - Industri pertambangan selama ini identik dengan kerusakan lingkungan akibat operasional perusahaan. Namun dari 60 perusahaan tambang yang dievaluasi, sebanyak dua perusahaan memperoleh predikat terbaik berupa penghargaan Aditama sebagai perusahaan tambang terbaik dalam hal pengelolaan lingkungan di bidang pertambangan mineral. Dua perusahaan tersebut salah satunya adalah perusahaan tambang tembaga dan emas milik PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang beroperasi di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. "Kami sangat senang dan bangga atas pemberian penghargaan ini. Hal ini menjadi salah satu bukti komitmen kami untuk senantiasa mengoperasikan tambang sesuai dengan nilai-nilai perusahaan, yaitu menjadi yang terdepan dalam keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan tanggung jawab sosial," ujar Presiden Direktur Newmont Nusa Tenggara Martiono Hadianto dalam keterangan tertulis, Minggu, 2 Oktober 2011. Dalam kategori pengelolaan lingkungan, Newmont mendapat penghargaan diantaranya untuk pengelolaan timbunan batuan penutup, pengendalian erosi dan sedimentasi, pengelolaan pembibitan, reklamasi dan vegetasi, sarana penunjang, dan pemantauan lingkungan pertambangan. Penghargaan Upakarti Aditama sendiri dianggap sebagai penghargaan tertinggi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk kategori pengelolaan lingkungan bagi perusahaan tambang yang diberikan setiap tahun atas kinerja seluruh perusahaan yang berada di bawah naungan ESDM. Dalam memberikan penilaian, ESDM membentuk tim khusus yang diterjunkan langsung ke beberapa perusahaan tambang dengan melakukan audit, verifikasi sistem, rencana program, dan pelaksanaan program. Newmont selama ini mengoperasikan tambang tembaga dan emas Batu Hijau di Sumbawa Barat sejak tahun 2000 dengan mempekerjakan lebih dari 7000 karyawan yang sebagian besar berasal dari masyarakat lokal dan provinsi NTB. PTNNT telah memperoleh penghargaan PROPER Hijau lima kali berturut-turut dari Kementerian Lingkungan Hidup, serta penghargaan lain di bidang keselamatan kerja dan tanggung jawab sosial. • VIVAnews Semester I, Produksi Newmont 50% dari Target
Rifa Nadia Nurfuadah - Okezone
Rabu, 10 Agustus 2011 07:17 wib


JAKARTA - PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) mengklaim, produksi hingga semester pertama hampir mencapai 50 persen target produksi tahun ini.

"2011 ini kami menargetkan produksi 270-275 juta pounds tembaga, dan 260-275 ribu ounce emas. Hingga semester satu ini setidaknya telah mendekati 50 persen dari target tersebut," kata Presiden Direktur PT NNT Martiono Hardianto usai buka puasa bersama wartawan di Restoran Bebek Bengil, Jakarta Pusat, Selasa (9/8/2011) malam.

Sekadar informasi Adapun produksi rata-rata PNNT setiap tahun yaitu untuk Tembaga 300-500 juta pound per tahun dan untuk emas sekira 300-500 ribu ounce per tahun. Sedangkan untuk emas,produksi di 2010 bisa mencapai 737 ribu ounce, namun di 2011 diperkirakan hanya 226-288,6 ribu ounce saja.

Seperti diketahui guna menutup produksi PT Newmont Nusa Tenggara tahun ini menargetkan mengeksplorasi cadangan mineral baru yang diambil dari lokasi baru di blok Elang, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelumnya, lokasi penambangan Newmont beroperasi di batu hijau NTB sejak 1987 dan baru beroperasi pada 2000.

Adapun kenaikan harga emas dunia sebagai imbas ketidakpastian ekonomi Amerika Serikat (AS) membuat para perusahaan tambang bergirang hati.

"Untuk pertama kalinya harga emas lebih tinggi dari platinum. Kami yang berkecimpung di pertambangan emas, ya tentu saja bersorak," kata Martiono.

Dia mengaku, kenaikan harga emas dunia berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan yang saat ini membutuhkan aliran kas cukup besar. Tahun ini perusahaan yang dipimpinnya memulai pekerjaan fase enam yakni mengupas tanah yang tidak mengandung logam.
(ade)

Senin, 18/07/2011 14:04 WIB
Bumi Resource Mineral Habiskan Dana IPO Rp 1,7 Triliun
Angga Aliya - detikFinance


Jakarta - PT Bumi Resource Mineral Tbk (BRMS) telah menghabiskan Rp 1,752 triliun dana hasil penawaran umum saham perdana alias initial public offering (IPO). Sisa dana yang dimiliki perseroan sebanyak Rp 222,67 miliar.

Menurut Sekretaris Perusahaan BRMS Muhammad Sulthon, seperti dikutip dari keterangan tertulis perseroan, Senin (18/7/2011), dana tersebut untuk periode 30 Juni 2011.

Dana yang telah dihabiskan perseroan itu mayoritas digunakan untuk bayar utang, yaitu sebesar Rp 1,341 triliun. Sementara sebagian kecil dananya dipakai untuk belanja modal (capital expenditure/capex) dan modal kerja Rp 410,69 miliar.

Rencananya, capex dan modal kerja anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUM) itu yang memakai dana IPO sebanyak Rp 633,36 miliar.

Salah satu perusahaan Grup Bakrie itu sebelumnya sudah melangsungkan IPO pada akhir 2010 lalu dengan jumlah dana yang diraih sebanyak Rp 2,095 triliun. Setelah dipotong biaya penawaran umum sebanyak Rp 120,7 miliar, maka hasil bersihnya sebanyak Rp 1,974 triliun.

Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 13.55 waktu JATS, harga saham BRMS naik 10 poin (1,44%) ke level Rp 700 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 53 kali dengan volume 5.969 lot senilai Rp 2,077 miliar.


(ang/dnl)
Bumi Resources Mineral tak Bagi Dividen

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Selasa, 28 Juni 2011 | 14:15 WIB


INILAH.COM, Jakarta - Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRM) menyetujui tidak membagikan dividen 2010. Laba bersih 2010 akan digunakan untuk pencadangan.

"Pencadangan kita baru 6,7% sementara menurut aturan undang-undang PT harus 20% jadi kita memutuskan laba bersih untuk cadangan," ujar Direktur PT Bumi Resources Mineral Tbk Yuanita Rohali, Selasa (28/6).

PT Bumi Resources Mineral Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp764,60 miliar pada 2010 dibandingkan 2009 rugi sebesar Rp209,21 miliar. Pendapatan perseroan sekitar Rp148,50 miliar pada 2010 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp17,88 miliar.

Dalam kesempatan sama perseroan juga menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), dengan menyetujui agenda menjaminkan atau membebani hak jaminan kebendaan sebagian besar atau seluruh aset yang dimiliki langsung atau tidak langsung kepada para krediturnya, gadai atas sebagian atau seluruh saham yang dimiliki atau dikuasai perseroan, fidusia tagihan rekening bank, dan jaminan atau hak jaminan kebendaan lainnya. "Persetujuan pemegang saham ini untuk ke depan bisa apa saja tergantung lendernya. Belum tentu akan kita jaminkan,persetujuan ini agar fleksibel, " tutur Yuanita.

Terkait utang perseroan, Yuanita menuturkan, utang perseroan masih rendah dengan debt to equity ratio (DER) sekitar 0,17x. "Utang kita kepada pihak ketiga yaitu Credit Suisse sekitar US$219 juta dan sekitar US$18 juta kepada Nomura," kata Yuanita.

Ia menambahkan, utang credit suisse akan jatuh tempo pada tahun depan sedangkan Nomura jatuh tempo dua tahun mendatang. Sedangkan saat ini kas perseroan sekitar US$155 juta. [cms]

Bumi Plc Tender Offer Saham BRMS di Kuartal III

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Senin, 27 Juni 2011 | 14:43 WIB


INILAH.COM, Jakarta - Bumi Plc kemungkinan akan menggelar penawaran tender saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) pada kuartal ketiga 2011.

"Bumi Plc akan diskusi dengan regulator. Penjualan akan dilakukan pada kuartal ketiga 2011. Hingga convertibel bond dikeluarkan belum bisa kasih komentar sekarang," ujar Direktur PT Bumi Resources Tbk Dileep Srivastava, Senin (27/6).

Perseroan juga ingin tetap mempertahankan kepemilikan BRMS sekitar 12% dengan harga Rp850 per saham.

Sebelumnya Bumi Plc (Vallar Plc) membeli 75% saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai US$2,07 miliar.

Perseroan akan membayar saham BRMS seharga Rp 850 per saham, atau 22% premium dari harga penutupan rata-rata 30 hari sampai 27 Mei. Vallar akan mendanai akuisisi tersebut melalui penerbitan obligasi konversi (convertible bonds) kepada BUMI, dengan kupon 2%, dan harga konversi awal 15,88 euro.

Lebih lanjut ia mengatakan, perseroan juga akan fokus untuk melunasi dan mengurangi utang khususnya kepada CIC sekitar US$1,9 miliar. Perseroan akan melunasi utang tahap pertama sebesar US$600 juta pada Oktober 2011. Selanjutnya perseroan akan melunasi utang pada Oktober 2013.

Tetapi Dileep enggan menjelaskan detil pendanaan untuk melunasi utang. "Kita memiliki banyak berbagai alternatif. Tapi fokus kita membayar dan mengurangi utang," tegas Dileep. [hid]

Sabtu, 11/06/2011 12:27 WIB
Akuisisi BRMS, Vallar Terbitkan Subdebt US$ 2 Miliar
Angga Aliya - detikFinance


Jakarta - Vallar Plc berniat mengakuisisi 75% saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Salah satu perusahaan milik Rothschild Nathaniel itu berniat menerbitkan obigasi subordinasi (subdebt) senilai US$ 2,07 miliar.

Seperti dikutip dari situs resmi Vallar, Sabtu (11/6/2011), total nilai subdebt tersebut setara dengan nilai jumlah 75% saham BRMS yang saat in dimiliki PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Surat utang yang bisa dikonversi menjadi saham itu berbunga 2%, dan harga konversi awal 15,88 euro.

Jika dihitung dari seluruh saham BRMS, maka harga saham per lembar dalam transaksi ini sebesar Rp 850 per saham. Lebih mahal % dari harga penutupan kemarin di Rp 750 per lembar saham.

"Dengan akuisisi BRMS ini memberikan Vallar kuasa penuh ke aset yang beragam mulai dari pertambangan batubara, tembaga dan seng," kata Co-chairman Vallar Nathaniel Rothschild.

Vallar juga akan meneruskan rencana rencana perubahan namanya menjadi Bumi plc di akhir Juni tahun ini. Rencana ini sudah disepakati oleh pemegang saham ada 7 April 2011 lalu.

Perusahaan saat ini masih menunggu persetujuan otoritas agar bisa segera terdaftar sebagai salah satu dari 100 perusahaan publik terbesar di Bursa Saham London (London Stock Exchange).

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham BRMS ditutup turun 40 poin (5,06%) ke level Rp 750 per lembar. Sahamnya ditransaksikan 605 kali dengan volume 119.420 lot senilai Rp 46,642 miliar.

(ang/ang)
Vallar Plc mengakuisisi 75% saham BRMS milik BUMI dengan harga Rp 850 per saham, merupakan 21,9% premium dibandingkan rata-rata harga penutupan perdagangan hingga 27 Mei 2011. Vallar akan menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 2,07 miliar yang dapat ditukar 75 juta saham baru. Selain itu Vallar juga mempertimbangkan transaksi potensial untuk meningkatkan kepemilikan saham di BUMI dari porsi saat ini 25%.

Sumber : IPS RESEARCH
Bumi Resources Minerals Naikkan Cadangan di 3 Wilayah
Muhammad Rifai - Okezone
Minggu, 12 Juni 2011 15:40 wib


JAKARTA - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) meningkatkan cadangan dan sumber daya perseroan untuk deposit-deposit di area Anjing Hitam, Lae Jahe, dan Base Camp, yang termasuk dalam konsesinya di PT Dairi Prima Mineral (DPM).

Hal tersebut diungkapakan VP Investor Realitions BRMS, Herwin W Hidayat dalam keterangan tertulis yang diterima okezone, Minggu (12/6/2011).

Estimasi terakhir terhadap sumber daya mineral dalam ketiga deposit tersebut telah diselesaikan di akhir 2010 oleh konsultan geologi pihak ketiga, CSA Global (Australia) Limited, berdasarkan interpretasi geologis dan model wireframe secara geologis yang diberikan oleh geologis-geologis di DPM.

"Estimasi terkini atas total sumber daya, termasuk cadangan pada ketiga deposit tersebut menunjukan peningkatan sebesar 25 persen dari sebelumnya sebesar 20,1 juta ton menjadi 25,12 juta ton (10,1 persen Zn, enam persen Pb)," jelasnya.

Pada Februari 2011, Mining Plus Pty Ltd menyelesaikan studi penambangan untuk memperbaharui studi kelayakan penambangan bawah tanah yang telah dilakukan pada Juli 2010 oleh Mining Plus dan pada November 2004 oleh AMC Consultants Pty Ltd.

Hasil estimasi terkini tersebut juga didasari oleh model blok yang disampaikan oleh CSA Global dibulan Oktober 2010 dan menunjukan peningkatan total jumlah cadangan dari sebelumnya sebesar 5,4 juta ton untuk area Anjing Hitam menjadi sebesar 11 juta ton yang meliputi area Anjing Hitam dan Lae Jahe (11,5 persen Zn, 6,8 persen Pb).

”Peningkatan cadangan dan sumber daya dalam tonase dari DPM yang dimiliki 80 persen oleh BRMS, memberikan penambahan nilai terhadap konsesi seng dan timah hitamnya, dan juga terhadap BRMS secara terkonsolidasi,” tambah Direktur Utama BRMS, Kenneth Farrell.
(ade)

BRMS Naikkan Cadangan di Dairi Prima Mineral
Oleh: Charles MS/Agustina Melani
Pasar Modal - Jumat, 10 Juni 2011 | 12:09 WIB


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menaikkan cadangan dan sumber dayanya dalam tonase yang cukup signifikan untuk deposit-deposit di area Anjing Hitam, Lae Jahe, dan Base Camp, yang termasuk dalam konsesinya di PT Dairi Prima Mineral (DPM).

Dalam rilisnya, Jumat (10/6) disampaikan estimasi terakhir terhadap sumber daya mineral dalam ketiga deposit tersebut telah diselesaikan di akhir tahun 2010 oleh konsultan geologi pihak ketiga, CSA Global (Australia) Limited, berdasarkan interpretasi geologis dan model wireframe secara geologis yang
diberikan oleh geologis-geologis di DPM. Estimasi terkini atas total sumber daya (termasuk cadangan) pada ketiga deposit tersebut menunjukan peningkatan sebesar 25% dari sebelumnya sebesar 20,1 juta ton menjadi 25,12 juta ton (10,1% Zn, 6% Pb).

Pada bulan Februari 2011, Mining Plus Pty. Ltd. menyelesaikan studi penambangan untuk memperbaharui studi kelayakan penambangan
bawah tanah yang telah dilakukan pada bulan Juli 2010 oleh Mining Plus dan pada bulan November 2004 oleh AMC Consultants Pty. Ltd. Hasil estimasi terkini tersebut juga didasari oleh model blok yang disampaikan oleh CSA Global dibulan Oktober 2010 dan menunjukan peningkatan total jumlah cadangan dari sebelumnya sebesar 5,4 juta ton (area Anjing Hitam) menjadi sebesar 11 juta ton yang meliputi area Anjing Hitam dan Lae Jahe (11,5%
Zn, 6,8% Pb).

Kenneth Farrell, Direktur Utama BRMS, mengatakan ini merupakan berita positif, selain kabar baik mengenai dikeluarkannya Peraturan Presiden yang
mendukung penambangan bawah tanah di lokasi utang lindung bulan lalu. Peningkatan cadangan dan sumber daya dalam tonase dari DPM yang dimiliki
80% oleh BRMS, memberikan penambahan nilai terhadap konsesi seng dan timah hitamnya, dan juga terhadap BRMS secara terkonsolidasi. [cms]

Jumat, 27/05/2011 18:40 WIB
Laba Bumi Resources Mineral Anjlok 48% Jadi Rp 138 Miliar
Angga Aliya - detikFinance

Jakarta - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menderita penurunan laba bersih 48,93% menjadi sebesar Rp 138,52 miliar di triwulan I-2011, dari sebelumnya Rp 271,28 miliar tahun lalu pada periode yang sama.

Turunnya laba bersih ini diakibatkan produksi tembaga dan emas dari anak usahanya, PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), mengalami penurunan sebesar 40%.

Menurut Direktur Utama BRMS Kenneth Farrell, penurunan produksi NNT itu hanya bersifat sementara dan telah diantisipasi perseroan. Hal ini dikarenakan keterlambatan pengembangan fase 6 di wilayah tambang Batu Hijau dalam konsesi NNT.

"Sambil menunggu pengembangan fase 6 yang akan diselesaikan pada akhir tahun depan, NNT pada saat ini memproduksikan tembaga dan emasnya dari wilayah fase 5 yang sudah melampaui masa produktifnya dan juga dari stock pile yang tersedia dengan grade yang lebih rendah," katanya dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Jumat (27/5/2011).

Pada akhir tahun 2012, produksi tembaga dan emas NNT dari fase 6 diharapkan dapat lebih besar dari rata-rata produksi di tahun 2010. Perseroan berharap bisa mengkompensasikan penurunan produksi di tahun 2011 dan 2012, melalui produksi yang lebih tinggi dari wilayah fase 6 di tahun depan.

Menurut Direktur Keuangan BRMS Yuanita Rohali, produksi awal dari asset-aset BRMS, seperti Mauritania (bijih besi) dan Dairi (seng dan timah hitam) dalam 18 bulan ke depan, akan mempercepat proses diversifikasi dari produksi BRMS dan mengurangi ketergantungan terhadap produksi dari NNT (emas dan tembaga).

"Kami juga berharap tren kenaikan harga jual tembaga dan emas dunia akan menopang kinerja keuangan yang positif oleh perusahaan di masa mendatang," kata Yuanita.


(ang/hen)
TAMBANG, 06 Mei 2011 | 14.29
PTNNT Setor Ke Negara Rp1,364 Triliun Pada Triwulan I/2011


Abraham Lagaligo
abraham@majalahtambang.com

Sumbawa Barat – TAMBANG. PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) telah menyetor sebesar Rp 1,364 triliun terkait semua kewajiban keuangan kepada pemerintah RI berupa pajak, non-pajak dan royalti triwulan I/2011 sesuai dengan ketentuan Kontrak Karya.

Demikian pernyataan tertulis yang diterima Majalah TAMBANG dari Humas PTNNT pada Jumat, 6 Mei 2011.

Pembayaran pajak terbesar pada triwulan ini adalah Pajak Penghasilan Badan (PPh 25) sebesar Rp974,4 miliar, disusul Pajak Penghasilan lain-lain (PPh 4, 15, 23) sebesar Rp140 miliar, PBDR (Bunga, Dividen dan Royalti) (PPh26) sebesar Rp113,6 miliar dan Pajak Penghasilan Perorangan (PPh 21) sebesar Rp48 miliar.

Sementara pembayaran royalti produksi untuk triwulan ini mencapai Rp43,52 miliar. Ini meliputi royalti untuk produksi tembaga sebesar Rp17,16 miliar, emas Rp24,37 miliar dan perak Rp1,99 miliar.

Sementara itu selama 2010 PTNNT telah menyetor sebesar Rp5,761 triliun sehingga sejak 1999 sampai awal 2011 , PTNNT telah menyetor pajak, non pajak dan royalti sebesar Rp22,538 triliun kepada negara.

“PTNNT selalu melaksana kan kewajiban keuangan kepada pemerintah tepat waktu, dan memenuhi semua ketentuan perpajakan. Sejak 2003 PTNNT selalu mendapatkan predikat wajib pajak patuh dari pemerintah,” kata Arif Perdana Kusumah, Manager Senior Hubungan Eksternal PTNNT.

Ia menambahkan, selain manfaat keuangan langsung kepada pemerintah, keberadaan PTNNT juga memberikan manfaat ekonomi lainnya, melalui pembayaran gaji kepada sekitar 4.000 karyawan dan 3.000 kontraktor, pembelian barang dan jasa dari lokal maupun nasional, serta program-program pengembangan masyarakat.

Vallar akan Tambah Kepemilikan di BRMS

Pasar Modal - Jumat, 6 Mei 2011 | 08:39 WIB
Afrika sedang mendekati PT Bumi Resources Mineral (BRMS) bersamaan dengan Vallar Plc akan menambah kepemilikan di perseroan tersebut.

Langkah Vallar ini untuk menyukseskan perseroan dalam menguasai saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Saham BRMS akan menuju level Rp1.200 dalam waktu dekat.

Pada perdagangan kemarin saham BRMS ditutup turun Rp10 ke Rp690 dengan volume 2.099 saham senilai Rp721,09 juta sebanyak 54 kali transaksi.
BRMS Bakal Raih Tambahan Dana USD171 Juta
Kamis, 14 April 2011 - 19:27 wib
R Ghita Intan Permatasari - Okezone


JAKARTA - PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) akan memperoleh tambahan dana sekira USD171 juta dari penjualan waran sebagai sumber pendanaan belanja modal atau capital expenditure (capex) di 2011 ini.

"Untuk capex 2011, kita bakal dapat tambahan USD171 juta dari penjualan waran," ungkap Head of Relations BRMS, Herwin Wahyu Hidayat, kala ditemui dalam acara Public Expose Tahunan BRMS, di Hotel Four Season, Kuningan, Jakarta, Kamis (14/4/2011).

Adapun penambahan capex 2011 itu berasal dari penjualan 2,2 juta waran senilai Rp700 per waran, di mana periode perdagangan waran tersebut berlangsung dari 9 Desember 2010-30 November 2012.

Selain dari waran sumber pendanaan untuk capex tahun ini juga didapat dari dana IPO tahun lalu yaitu sebesar Rp2,1 triliun atau USD232 juta. Sementara sisanya diambil dari kas internal perseroan di mana berdasarkan laporan keuangan perseroan per 31 Desember 2010 posisi kas internalnya sebesar Rp1 triliun.

Sekadar informasi, perseroan menganggarkan belanja modal di 2011 senilai USD240 juta. Adapun capex tahun ini akan digunakan perseroan untuk mendanai beberapa proyek perseroan di antaranya untuk proyek Dairi Prima Mineral di Sumatera Utara yang memproduksi seng dan timah hitam senilai USD100 juta.

Kemudian USD40 juta untuk proyek Bumi Mauritania yang memproduksi bijih besi selain itu untuk Proyek Gorontalo Mineral yang memproduksi tembaga dan emas sebesar USD35 juta, Proyek Citra Palu Minerals sebesar USD30 juta, dan USD35 juta untuk proyek Konblo Bumi (Liberia).(ade)
PT Bumi resources Minerals (BRM) Tbk (BRMS) stated it will not commence production in all Indonesian projects at least until 2013 or 2014.

In an investor presentation, the zinc & black tin mine in North Sumatera, Dairi Prima Mineral, said the present development is still waiting approval for Ministry of Forestry on Forestry Usage Permission. However, BRM claimed all main equipment to work up the project has been ordered and stored in place.

Gold/Copper mines of Gorontalo Minerals and Citra Palu Minerals are still waiting on JORC Resources compliance, expected to complete in 2012. BRM expects to start the mining production operation in the second half of 2014.

Gorontalo Minerals is presently under exploration for identifying mineral veins in the project. Economical & environment study is also undertaken for Citra Palu Minerals, preparing the first drilling exploration expected for this year.

Meanwhile, the company expects to commence Direct Shipping Ore (DSO) Production in Mauritanian mine starting from 2012 and commence full production in 2014. So far, exploration is still underway.

Liberian project Konblo Bumi stated will not commence production until 2015. JORC Resources is still not made yet, but claimed has owned exploration licenses in northwestern capital city of Monrovia and eastern part of Kakata city


http://www.theindonesiatoday.com/mining-headlines/9205-brm-yet-to-commence-production-in-all-mines-in-1-2-years.html

Sumber : Indonesia Today
Laba Bumi Minerals Melonjak 365%
Bumi Minerals meraih laba bersih hingga Rp764 miliar dari sebelumnya rugi Rp209,21 juta.
KAMIS, 31 MARET 2011, 11:46 WIB Syahid Latif


VIVAnews - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) membukukan lonjakan laba bersih hingga 365 persen menjadi Rp764,60 miliar dari posisi rugi pada 2009 sebesar Rp209,21 juta. Lonjakan laba bersih perseroan terutama berasal dari kenaikan laba bersih yang dibukukan PT Newmont Nusa Tenggara (Newmont) yang merupakan perusahaan asosiasi dari Bumi Minerals.

"Kami pada saat ini mengoperasikan perusahaan yang hampir tanpa pinjaman," ujar Direktur Keuangan Bumi Resources Minerals, Yuanita Rohali, dalam keterangan pers yang diterima VIVAnews.com di Jakarta, Kamis, 31 Maret 2011.

Laporan keuangan Bumi Minerals menunjukkan perseroan membukukan pendapatan sepanjang 2010 sebesar Rp148,51 miliar atau naik 730,35 persen dari posisi setahun sebelumnya Rp17,88 miliar.

Bumi Minerals juga membukukan peningkatan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 113 persen menjadi Rp120 miliar dibandingkan kinerja semester pertama 2010. Kenaikan tersebut didorong oleh pendapatan jasa pemasaran yang dibukukan oleh Bumi Resources Japan Company Limited (BRJ) untuk memasarkan produk-produk batu bara dan mineral lainnya ke Jepang.

Penghasilan terbesar perusahaan batu bara pada tahun lalu berasal dari laba bersih perusahaan asosiasi Bumi Minerals yang mencapai Rp2,13 triliun. Posisi ini lebih tinggi dibandingkan pendapatan dari sumber yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya Rp487,59 miliar.

Yuanita menuturkan, perseroan telah menggunakan sebagian dana hasil penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) untuk pelunasan pinjaman dan memperkuat ekuitas perusahaan. Perseroan juga sudah mengkonversi pinjaman sebesar US$546 juta dalam bentuk mandatory convertible note menjadi ekuitas kepemilikan di perseroan.

Dengan kondisi tersebut, Yuanita melanjutkan, perseroan kini mencatatkan rasio pinjaman terhadap modal perusahaan sebesar 0,1 kali.

Direktur Utama Bumi Resources Minerals, Kenneth Farrel, menambahkan, saat ini pendapatan dan arus kas perusahaan memang sebagian besar berasal dari investasi yang dilakukan Bumi Minerals di BRJ dan Newmont.

Kenneth mengungkapkan, produksi tembaga dan emas oleh Newmont mengalami kenaikan sebesar 10-31 persen pada 2010. Dalam dua tahun ke depan, perseroan berharap bisa mulai memproduksi bijih besi dari Bumi Mauritania SA dan seng serta timah hitam dari PT Dairi Prima Mineral.

Perusahaan juga akan melakukan evaluasi melalui JORC standar untuk mengestimasi cadangan dan sumber daya di PT Gorontalo Minerals dan PT Citra Palu Minerals yang merupakan tambang tembaga dan emas sebelum akhir 2012.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menambah nilai bagi
para pemegang saham kami di masa mendatang," kata Kenneth. (art)
• VIVAnews

Selasa, 15/03/2011 09:13 WIB
Terima Dividen Newmont, Saham BRMS Menuju Rp 1.000?
Rumor Saham - detikfinance

Usai menerima setoran dividen dari PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) selaku salah satu anak usahanya, saham PT Bumi Resources Mineral Tbk (BMRS) akan dikerek oleh sejumlah bandar ke level Rp 1.000 per lembar.

"Selain itu peningkatan harga saham BRMS juga dipengaruhi atas kontrak kerja baru mereka di Afrika," kata salah satu pelaku pasar, Selasa (15/3/2011).

Pelaku pasar itu mengatakan, kinerja induk usaha BRMS, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang membaik di tahun 2010 juga menjadi pendorong laju harga saham perseroan.

Pada perdagangan kemarin, Senin (14/3/2011), saham BRMS naik 10 poin ke Rp 690 per lembar dengan volume perdagangan 88.320 lot atau setara 44,16 juta lembar saham.


Disclaimer: Redaksi detikFinance tidak bertanggung jawab atas isi dari rumor saham ini. Semua keputusan investasi tetap berada di tangan investor.

(ang / ang)
Februari, Eksplorasi BRMS Telan US$298,8

Oleh: Wahid Ma'ruf
Pasar Modal - Sabtu, 12 Maret 2011 | 11:56 WIB


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melaporkan kegiatan eksporlasi bulan Februari yang dilakukan PT Bumi Mauritania SA dengan biaya mencapai US$298,839.

Demikian dikutip dari keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI. Kegiatan eksplorasi dilakukan sfariat, Tamagot, Tamagot West, Tamagot South, Makhana dan Bababe. Namun untuk Februari tidak ada kegiatan lapangan hanya menyelesaikan analisa 31 contoh dari program fosfat yang dikerjakan bulan November 2010 dari Bababe dan Makhana.

Selain itu juga masih menunggu laporan dari konsultan utuk sumber daya di Otoy, Tamagot. Kegiatan ini dilakukan oleh Segoce untuk logistik di Mauritania dan SGS Lab Mali untuk menyiapkan contoh.
BUMI Konversi MCN Jadi Kepemilikan di BRMS

Oleh: Wahid Ma'ruf
Pasar Modal - Sabtu, 12 Maret 2011 | 05:14 WIB


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melaporakan induk perusahaannya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) segera mengkonversi fasilitas MCN sebesar Rp4,95 triliun atau setara US$546 juta menjadi kepemilikan ekuitas di BRMS di harga Rp670 per saham.

Demikian dikutip dari keterbukaan inforamsi yang diterbitkan BEI. Untuk itu BRMS menerbitkan 7,4 miliar saham baru atas nama BUMI untuk melunasi fasilitas Mandatory Convertible Note (MCN).

Dirut BRMS Kenneth Farrell mengatakan bulan Desember 2010 pihaknya menggunakan dana hasil IPO untuk melunasi utang US$148 juta dari Bright Ventures Pte Ltd. Karena itu pelunasan MCN sebesar US$546 juta akan memperbaiki rasio utang terhadap modal perusahaan menjadi 0,1x. "Saat ini BRSM dioperasikan hampir tanpa pinjaman," tegasnya.

Sedangkan Dirkeu BRMS Yuanita Rohali menambahkan pinjaman perusahaan sebagian besar dilunasi yang berdampak terhadap berrkurangnya beban bunga secara keseluruhan. Perusahaan kini dapat mengalokasikan tambahan arus kas untuk kegiatan operasional perusahaan. "Kami berhasil untuk dapat memproduksikan aset-aset kami dalam waktu yang telah ditentukan," katanya.

Dengan dikonversikannya fasilitas MCN itu, kepemilikan BUMI di BRMS bertambah sekitar 82% menjadi sekitar 87%. Kepemilikan publik di bursa akan terdelusi dari 18% menjadi 13%. Namun demikian jika seluruh waran yang dikonversikan menjadi saham dalam 24 bulan ke depan, maka kepemilikan investor di bursa naik menjadi 20%. Kepemilikan BUMI di BRMS akan terdilusi menjadi sekitar 80%.

BRMS diharapkan mendapatkan tambahan dana US$171 jua apabila keseluruhan waran yang ada, dikonversikan menjadi saham di harga RP700 per saham dari Juni 2011 sampai dengan Desember 2012.


Rabu, 09/03/2011 15:04 WIB
Kepemilikan BUMI di BRMS Naik Jadi 87%
Angga Aliya - detikFinance






Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) resmi mengkonversi Mandatory Convertible Note (MCN) menjadi 7,4 miliar lembar saham baru yang dikeluarkan anak usahanya, PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS). Nilai MCN yang telah diterbitkan BRMS sebesar Rp 4,96 triliun.

Seperti dikutip dari keterbukaan informasi di situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (9/3/2011), setelah konversi ini kepemilikan BUMI di anak usahanya itu naik menjadi 87% atau setara 22,27 miliar lembar saham.

Sementara kepemilikan publik tetap 3,3 miliar lembar saham namun porsinya berubah dari 18,16% menjadi 12,9% atas terbitnya saham baru bagi BUMI itu.

Saham hasil konversi itu tidak akan diperjualbelikan selama 6 bulan terhitung sejak tanggal pernyataan pendaftaran penawaran umum perseroan dinyatakan efektif oleh Bapepam, yaitu tanggal 26 November 2010.

(ang/hen)
Kamis, 03/03/2011 14:49 WIB
Bumi Mineral Terbitkan 7,4 Miliar Saham Baru untuk BUMI
Angga Aliya - detikFinance





Jakarta - PT Bumi Mineral Resources Tbk (BRMS) menerbitkan 7,4 miliar lembar saham baru yang dicatat atas nama PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pencatatan saham baru tersebut terkait dengan mandatory convertible note yang diterbitkan perseroan kepada BUMI dengan nilai Rp 4,96 triliun.

Menurut Corporate Secretary BRMS Muhammad Sulthon, convertible note tersebut wajib dikonversi tiga bulan setelah pelaksanaan pencatatan saham perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan harga konversi yang akan jatuh pada tanggal 9 Maret 2011.

"Perseroan akan menerbitkan sebanyak 7.401.541.000 saham baru yang akan dicatat atas nama Bumi Resources selaku pelaksana konversi," katanya dalam keterbukaan informasi di situs resmi Bursa Efek Indonesia, Kamis (3/3/2011).

Saat ini, BUMI menguasai sebanyak 14,87 miliar lembar saham BRMS atau setara 81,84%. Sisanya beredar di bursa sebanyak 3,3 miliar lembar saham atau setara 18,16%. (ang/dnl)
Bakrie Masuk Freeport, Cermati BRMS

Oleh:
Pasar Modal - Senin, 21 Februari 2011 | 08:51 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Kabar rencana masuknya PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) ke PT Freeport Indonesia menggiurkan sejumlah bandar untuk mengakumulasi saham tersebut hingga menuju Rp1.000 dalam jangka menengah.

Anak usaha Group Bakrie ini dikabarkan berencana masuk untuk menjadi pemegang saham di Freeport sebelum Perusahaan melakukan IPO.

Pada perdagangan akhir pekan, saham BRMS ditutup naik 10 poin ke level Rp650.
Bintang Mitra Jual Saham RBMS Rp84/Saham
Selasa, 21 Desember 2010 - 10:57 wib
Widi Agustian - Okezone


JAKARTA - PT Bintang Mitra Semestaraya Tbk (BMSR) menjual sebanyak 16.336.125 lembar saham anak usahanya, PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk (RBMS) dengan harga Rp84 per saham.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Utama Bintang Mitra Semestaraya Robinson dalam keterangan tertulisnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (21/12/2010).

"Adapun transaksi diatas merupakan pengalihan saham oleh perseroan kepada pihak pembeli yang hendak menanamkan modal," jelasnya.

Transaksi penjualan saham RBMS tersebut telah dilakukan pada 17 Desember lalu. Dan usai transaksi, saham perseroan di RBMS tinggal 62.663.675 saham setara 19,18 persen.(wdi)

Agus Marto & Bakrie Group Berebut 7% Saham Newmont
Anak Usaha BMRS Terima Dividen Rp 486 Miliar
Sabtu, 18 Desember 2010 , 00:23:00 WIB



RMOL.Menteri Keuangan Agus Martowardodjo akan menggandeng Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk membeli tujuh persen saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT).

Pemerintah menyatakan minatnya untuk membeli tujuh persen saham divestasi PT New­mont Nusa Tenggara untuk jatah tahun 2010. Saat ini pemerintah tengah mengkaji mekanisme pembelian saham tersebut. “Pe­merintah akan mempertim­bang­kan untuk mengambil saham Newmont yang tujuh persen itu,” ujar Agus di Kantor Kementerian Ke­uangan, Jakarta, kemarin.

Bekas Dirut Bank Mandiri ini me­ngatakan selain Kemenkeu, pe­merintah pusat akan menggan­deng PIP atau perusahaan milik pemerin­tah lainnya. “Tentu ben­tuk­nya bisa di PIP atau dalam ben­tuk yang bisa di­jelaskan. Ke­mu­dian ini proses­nya masih lama. Harganya belum bisa di­sam­­pai­kan. Pemerintah pusat ber­minat,” ujar Agus.

Saat dikonfirmasi apakah pi­haknya juga akan menggandeng pe­merintah daerah, Agus kembali mene­gas­kan bahwa pemerintah pusat yang me­nya­takan minat­nya. “Bahwa ini (ke­­mauan) pe­merintah pusat,” tegasnya.

Hal senada dikemukakan Di­rektur Barang dan Milik Negara (BMN) II Ditjen Kekayaan Negara Arif Baharudin. Menu­rutnya, pembahasan mengenai saham Newmont ini baru sebatas rencana mengambil sisa saham tersebut sebesar tujuh persen de­ngan nilai 271,6 juta dolar AS.

“Jumlah tersebut yang dita­war­­kan Newmont kepada tim eva­luasi pemerintah dan peme­rintah be­ren­­cana mengambil saham itu, baru di situ dulu pem­bahasan­nya. Saham 7 persen senilai 271,6 juta dolar AS,” urai Agus.

Seperti diketahui, sesuai kon­trak karya, pemegang saham asing NNT diwajibkan mendi­ves­ta­sikan 51 persen saham asingnya yang ber­jumlah 80 persen itu ke pihak nasional dengan jadwal pa­ling akhir seharusnya Maret 2010. Pe­le­pasan saham tersebut sudah di­lakukan bertahap.

Untuk diives­tasi 31 persen saham NNT sesuai kontrak karya antara lain 3 persen pada Maret 2006, tujuh persen lagi pada Maret 2007, 7 persen pada Maret 2008, 7 persen Maret 2009 dan tujuh persen untuk Maret 2010.

Sementara itu, PT Multi Dae­rah Bersaing (MDB) yang meru­pakan anak usaha PT Bumi Re­sources Minerals Tbk (BMRS) sudah menguasai 24 persen sa­ham divestasi dan juga berniat memi­liki tujuh persen saham NNT yang dijual dalam proses dives­tasi 2010. Salah satu anak usaha Bakrie Group di bidang tam­bang ini ke­marin meng­umum­kan bah­wa anak usahanya, PT MDB men­dapat dividen dari NNT sebe­sar 54 juta dolar AS atau sekitar Rp 486 miliar).

Seperti yang dikutip dari ke­terangan resmi Bumi Resources Minerals, dividen ini merupakan keempat kalinya bagi MDB. Total dividen yang sudah dite­rima 172,8 juta dolar AS.

Mananajemen BMRS akan menggunakan dividen itu untuk melunasi pinjaman dari Credit Suisse. Awal pekan ini, Bumi ju­ga telah melu­nasi pinjaman dari Bright Ventu­res Pte Ltd senilai 148,8 juta dolar AS. Bumi Re­sources Minerals memiliki saham di MDB sebesar 75 per­sen. Se­mentara MDB me­miliki 24 per­sen atas saham tambang emas dan tem­baga PT NNT. [RM]

Kamis, 16 Desember 2010 | 16:03 oleh Dyah Megasari
DIVIDEN NEWMONT NUSA TENGGARA
Anak BRMS akan dapat dividen dari Newmont sebesar US$ 54 juta

JAKARTA. PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) bakal membagi deviden pada 15 Desember 2010 mendatang. Menurut penyataan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS) bertanggal 13 Desember 2010, anak BRMS, yaitu PT Multi Daerah Bersaing (MDB), akan mendapat dividen sebesar US$ 54 juta dari NNT.

BRMS sendiri memiliki 75% saham MDB. Sementara Disini, MDB memiliki sebesar 24% saham milik NTT.

Jika para pemegang saham meminta MDB membagikan seluruh dividen NNT itu ke induk usahanya, berarti, BRMS berhak mendapatkan sebesar US$ 40,5 juta atau 75% dari US$ 54 juta. Sayang, ketika dikonfirmasi, Investor Relation BRMS Herwin Hidayat enggan memastikan apakah perusahaannya akan meminta jatah dividen kepada Multi Daerah Bersaing.


Jumat, 10 Desember 2010 | 08:29 oleh Amailia Putri Hasniawati
AKSI KORPORASI kontan
BRMS incar tambang emas dan tembaga

JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berencana akan mengakuisisi sejumlah wilayah tambang di Indonesia. Anak usaha grup Bakrie yang baru saja melantai di BEI ini membidik tambang yang menghasilkan tembaga dan emas.

Ada sekitar lima wilayah tambang yang saat ini sedang dibidik. Namun, pihak manajemen belum mau blak-blakan terkait di mana saja tambang incarannya dan berapa dana yang disiapkan. "Yang jelas itu di luar capex kami," tandas Yuanita Rohali, Direktur Keuangan Bumi Resources Minerals. Alasannya karena saat ini kelima wilayah tambang tersebut tengah dalam kajian.

Sekadar mengingatkan, BRMS mengalokasikan belanja modal untuk tiga tahun ke depan sebesar US$ 581 juta. Sebesar US$ 240 juta di tahun 2011, US$ 275 juta di tahun 2012 dan sisanya tahun 2013.

BRMS Targetkan Bumi Maurutania Produksi di 2011
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Kamis, 9 Desember 2010 | 11:14 WIB


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menargetkan Bumi Maurutania dapat memberikan kontribusi produksi kepada BRM pada 2011.

Hal itu disampaikan Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk, Yuanita Rohali, Kamis (9/12). "Bumi Mauritania akan memberikan kontribusi pada kuartal keempat 2011. Target produksi bijih besi sekitar 600 ribu ton per tahun," kata Yuanita.

Lebih lanjut, ia mengatakan kontribusi pendapatan akan didapatkan dari Bumi Japan, Bumi Mauritania dan PT Newmont Nusa Tenggara pada 2011. Diperkirakan Bumi Japan akan memberikan kontribusi pendapatan sebesar US$20juta pada 2011. Selanjutnya kontribusi pendapatan 2012 akan didapatkan tambahan dari Dairi Prima. "Gorontalo akan memberikan kontribusi pada 2014 tapi tergantung dari feasibility study," tambah Yuanita.

Perseroan masih mendapatkan kontribusi pendapatan sebesar Rp63 miliar dari Bumi Japan, sedangkan laba bersih sebesar Rp174,68 miliar dari PT Newmont Nusa Tenggara dengan kepemilikan 18% pada Juni 2010. "Diharapkan sisi revenue bisa double demikian ebitda," tegas Yuanita.

Seperti diketahui, Perseroan mendapatkan dana dari penawaran umum saham perdana dan waran sebesar Rp3,7 triliun. Perseroan akan mengeluarkan waran dalam enam bulan ke depan. Perseroan menganggarkan belanja modal sebesar US$581 juta untuk tiga tahun mendatang. "Pada tahun pertama dianggarkan dana sebesar US$240 juta, tahun kedua US$275 juta, dan tahun ketiga US$6 juta,"kata Yuanita.

Perseroan juga melakukan mandatory convertible note dengan ditukar menjadi saham sehingga DER menjadi 0,15 kali. [cms]


Pada perdagangan saham Kamis (9/12), saham perdana PT Bumi Resources Minerals Tbk dicatatkan pada papan pengembangan dengan kode saham BRMS.

Perseroan telah melepas saham ke publik sebesar 3,3 miliar saham dengan harga penawaran saham sebesar Rp635 per saham. Total dana yang diraih sebesar Rp2,09 triliun. Saham yang dicatatkan di bursa menjadi 18.168.608.000 miliar saham.

Selain itu, perseroan menawarkan waran sebesar 2,2 miliar waran dengan rasio tiga saham mendapatkan satu waran. Harga penawaran waran sebesar Rp700. Pencatatan waran pada 9 Desember 2010. Jatuh tempo waran pada 7 Desember 2012. Secara industri, rata-rata PER sebesar 22,31 kali dan rata-rata PBV sebesar 3,81 kali.

Kepemilikan saham setelah penawaran umum saham perdana serta konversi mcn dan sebelum konversi waran yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masing 58,14% dan 28,94%, PT Lumbung Capital sebesar 0,01%, dan masyarakat sebesar 12,90%.

Sumber : INILAH.COM

Rabu, 08 Desember 2010 | 16:03 oleh Anna Suci Perwitasari kontan
AKSI KORPORASI BRM
Anak usaha BRM dapat izin peggunaan hutan untuk tambang emas

JAKARTA. PT Gorontalo Minerals, anak usaha PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRM), mendapatkan izin pinjam pakai kawasan hutan untuk eksplorasi tambang tembaga dan emas Bone Belango, Sulawesi.

Direktur Keuangan BRM Yuanita Rohali mengatakan, Gorontalo Minerals hari ini mendapatkan Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan untuk kegiatan eksplorasi dari Departemen Kehutanan yang memungkinkan Gorontalo untuk memulai kegiatan eksplorasinya dan studi kelayakannya.

"Cadangan dengan standar JORC diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 24 bulan. Ini akan segera ditindak lanjuti dengan kegiatan konstruksi area penambangan dan dimulainya produksi dari Gorontalo," ujar Yuanita, dalam rilisnya siang ini.

Menurut dia, dengan persediaan mineral sebesar 130 juta ton, Gorontalo Minerals merupakan salah satu aset inti dari BRM yang akan menambah nilai terhadap perusahaan setelah produksi komersialnya dapat dilaksanakan.

Ijin Pinjam pakai tersebut memungkinkan Gorontalo Minerals dapat memulai kegiatan eksplorasinya di lokasi Cabang Kiri dan Sungai Mak. Adapun tambang emas dan tembaga Gorontalo Minerals terletak di Kabupaten Bone Belango, di Provinsi Gorontalo, Sulawesi

Sebelum ditransfer kedalam BRM, Gorontalo Minerals diakuisisi oleh PT Bumi Resources Tbk, yang merupakan pemilik mayoritas atas BRM, dari BHP Biliton (BHP) pada 2005.

Di masa lalu, BHP sempat melakukan beberapa aktivitas pemboran dalam wilayah konsesi tersebut. Wilayah Kontrak Kerja dari Gorontalo mencakup 36.070 hektar areal konsesi yang mana 80% dari wilayah tersebut dimiliki oleh BRM, dan sisa 20% nya dimiliki oleh PT Aneka Tambang Tbk.

Ke depan, BRM berencana membangun pabrik konsentrasi tembaga dengan kapasitas 25 juta ton per tahun untuk dapat memproses 0,6% tembaga dan 0,6 gram/ton emas.


Jumat, 03/12/2010 01:10:56 WIB bisnis
Pukuafu tidak kejar saham Newmont
Oleh: Arif Gunawan S.
JAKARTA: PT Pukuafu Indah menyatakan tidak membidik saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang kini dimiliki PT Bumi Resources Minerals Tbk, dan masih membuka opsi penyelesaian sengketa di luar pengadilan.

Manajer Government & Public Relations Pukuafu Alexander Yopi mengatakan pihaknya hanya mendesak Newmont Indonesia Limited (NIL) dan Nusa Tenggara Mining Corporation (NTMC) menyerahkan saham divestasi 31% NNT sesuai dengan putusan pengadilan negeri (PN) Jakarta Selatan.

"Saham NNT yang dikuasai Bumi Minerals saat ini merupakan transaksi jual beli saham di luar saham divestasi NIL dan NTMC. Itu urusan NIL, NTMC, dan manajemen NNT secara business to business," tuturnya kepada Bisnis, tadi malam.

Pukuafu, lanjutnya, tidak peduli pihak NIL dan NTMC akan menyerahkan saham yang menjadi hak Pukuafu sebesar 31% tersebut dari mana, namun tidak harus saham yang kini dimiliki grup Bakrie melalui PT Multi Daerah Bersaing (MDB).

Dengan putusan PN Jaksel tersebut, Pukuafu dinyatakan sebagai pemilik satu-satunya saham divestasi 31% NNT berdasarkan pasal 24 ayat 30 Kontrak Karya Pertambangan PT NNT pada 1986.

Nusa Tenggara Partnership saat ini memiliki 49% saham NNT, sehingga bisa menyerahkan 31% saham sengketa tanpa harus mempersoalkan saham grup Bakrie, untuk menjalankan keputusan pengadilan negeri (PN) Jakarta Selatan.

Terkait dengan saham NNT yang kini dimiliki MDB, dia menilainya sebagai kasus berbeda. “Ini dua hal yang secara substansi berbeda. Untuk saham yang dimiliki MDB, kami hanya menilai ada pelanggaran klausul divestasi oleh NNT,” ujarnya.

Dia mengklaim Pukuafu tidak pernah dilibatkan dalam proses divestasi saham NNT, meski pihaknya telah mengajukan adanya persyaratan dilaksanakan rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk mengesahkan rencana-rencana tersebut.

Bahkan sampai sekarang, pihaknya belum diberi salinan asli dan dokumen putusan majelis arbitrase internasional pada 31 Maret 2009. Mengingat putusan majelis arbitrase internasional sama sekali tidak menghukum default NIL dan NTMC untuk mendivestasi 31% saham, maka saham sengketa itu bukan serta-merta saham yang dimiliki Bumi Minerals. "Saham divestasi 31% hingga kini masih dalam penguasaan NIL dan NTMC," jelas Alexander. (Bsi)

Rabu, 01/12/2010 19:40:15 WIB bisnis
Gugatan Pukuafu tak ganggu IPO Bumi Mineral
Oleh: Arif Gunawan S.
JAKARTA: Terkabulnya gugatan Pukuafu terhadap PT Newmont Indonesia Limited dan Nusa Tenggara Mining Corporation dipastikan tidak mengganggu proses pencatatan saham perdana (initial public offering/ IPO) PT Bumi Resources Mineral Tbk.

Calon emiten grup Bakrie dan penjamin emisi tidak akan mengundur jadwal pencatatan perdana, karena telah mengantongi izin efektif dan proses IPO telah memasuki periode final.

Investor Relation PT Bumi Resources Mineral Tbk Herwin Hidayat mengatakan gugatan Pukuafu tersebut belum memiliki ketetapan hukum final, dan diyakini tidak memengaruhi kepemilikan Bumi Mineral di Newmont.

“Kami yakin Newmont masih memiliki kesempatan untuk banding. Proses pencatatan perdana saham Bumi Mineral insya Allah tetap sesuai dengan jadwal yakni pada 9 November,” tuturnya kepada Bisnis, sore ini.

Semua risiko dan mitigasi yang dianggap penting, lanjutnya, telah diperhitungkan oleh tim konsultan hukum IPO tersebut, dan telah dimasukkan ke dalam prospektus. Perseteruan Pukuafu versus Newmont atas divestasi 30% saham mereka tidak masuk di dalamnya.

Bumi Mineral adalah pemilik 18% saham NNT secara tidak langsung melalui PT Multi Capital (MC), yang memiliki 75% saham di PT Multi Daerah Bersaing (MDB).

Saham di MDB semula dimiliki Newmont Indonesia dan Nusa Tenggara Mining Corporation. “Minat investor yang membeli Bumi Mineral tidak banyak terpengaruh. Kami bahkan membukukan kelebihan permintaan [oversubscribed] lima kali baik dari pemodal domestik maupun pemodal internasional,” ujar Herwin.(mmh)
Bumi Resource Mineral Konversi MCN
Headline
IST
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Senin, 29 November 2010 | 09:19 WIB


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resouces Mineral Tbk sebagai pemegang mandatory convertible note (MCN) akan melakukan konversi atas MCN yang dimilikinya dengan sejumlah saham perseroan pada harga konversi yakni 5% di atas harga penawaran yakni Rp670.
Demikian seperti dikutip INILAH.COM dari prospektus singkat yang diterbitkan pada Senin (29/11). Harga konversi tersebut tunduk pada ketentuan peraturan pasar modal yang berlaku menjadi sebanyak 7.401.541.000 saham baru dalam perseroan. Konversi akan dilakukan 3 bulan setelah tanggal pencatatan saham perseroan di BEI atau tanggal 9 Maret 2011.
Setelah pelaksanaan konversi MCN tersebut, pemegang saham sebelumnya akan mengalami penurunan persenatse kepemilikan sebesar 28,95%. Jumlah saham yang dicatatkan pun sebanyak 18.168.608.000 ditambah 7.401.541.000 saham hasil konversi MCN pada tanggal konversi dan sebanyak-banyaknya 2.200.000.000 saham hasil pelaksanaan waran seri I oleh pemegang waran.
Seperti diketahui, perseroan melepas saham ke publik sebanyak-banyaknya 3,3 miliar saham dengan harga penawaran Rp635 per saham dan dana yang diraih sebesar Rp2,09 triliun. Selain itu, perseroan juga melepas 2,2 miliar waran seri I dengan harga pelaksanaan sebesar Rp700 per saham yang dilaksanakan selama periode pelaksanaan waran pada 9 Juni 2011 hingga 7 Desember 2012.Perseroan juga telah menunjuk PT Danatama Makmur dan PT Nomura Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Rencananya Perseroan akan melakukan masa penawaran pada 30 November hingga 2 Desember 2010, penjatahan pada 6 Desember 2010, pengembalian uang pemesanan pada 8 Desember 2010, distribusi saham secara elektronik pada 8 Desember 2010, dan pencatatan di BEI pada 9 Desember 2010.Sementara itu, masa perdagangan waran pada 9 Desember 2010 hingga 6 Desember 2012, periode pelaksanaan 9 Juni 2011 hingga 7 Desember 2012, dan akhir masa berlakukan waran seri I pada 7 Desember 2012. [cms]


BUMI akan melunasi utang anak usahanya, Calipso Investment Pte Ltd senilai US$ 148,8 juta kepada Brights Venture Pte Ltd, perusahaan milik grup Bakrie. Brights ventures, pada 26 Mei 2010 sudah memberikan pinjaman sebesar US$ 150 juta kepada Calipso dengan bunga 10% per tahun dengan pembayaran secara periodik pada akhir setiap triwulan. BRM dijadikan sebagai penjamin pinjaman, di samping gadai atas seluruh saham Calipso yang dimiliki BRM.



Sumber : IPS Research

Investor asal London menyatakan ketertarikannya atas penawaran saham perdana PT Bumi Resources Mineral (BRM) karena dianggap prospektif, meskipun belum seluruh aset perseroan berproduksi. Dari hasil road show, investor asing masih minati 3,3 miliar saham anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ini.

"London lebih terkesan, karena mereka menanyakan lebih detail. Mereka benar-benar tertarik," ungkap Executive Director of Investment Bank PT Danatama Makmur, Vicky Ganda Saputra di Jakarta, Senin (22/11/2010).

Ia menambahkan, investor asing tetap menunjukkan perhatian atas saham perdana BRM yang akan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) awal Desember 2010 ini. Tercatat permintaan dari investor asal Singapura, Hongkong, serta Eropa (London) cukup berimbang.

"Asia, London cukup berimbang. Jumlahnya saya tidak hafal, saya tidak pegang datanya. Kalau London memang banyak, karena mereka concern di natural resources selama ini," tegas Vicky.

"Saya baru akan submit dokumen hari ini. Mudah-mudahan listing bisa terjadi awal Desember. Ada beberapa dokumen yang sedang disiapkan, mungkin agak mundur sedikit," tuturnya.

Tercatat aset BRM yang telah berproduksi hanya Newmont Nusa Tenggara (NNT). Dimana perseroan memiliki 18% saham secara tidak langsung di NNT melalui 100% kepemilikan di PT Multi Capital (MC), yang memiliki 75% saham di PT Multi Daerah Bersaing (MDB).

Aset lain, seperti Dairi Prima Mineral, Gorontalo Minerals, Citra Palu Minerals, Konlo Bumi Inc, seluruhnya masih dalam tahap pengembangan. Namun hal ini tidak menyulutkan minat asing untuk serap saham perdana BRM. Bahkan terjadi kelebihan permintaan 5 kali, dengan nilai pemesanan mencapai US$ 1 miliar.

"Tetap yang ditawarkan 3,3 miliar saham ke publik dengan waran sebanyak 2,2 miliar lembar. Mereka tertarik, karena Dairi (Prima Mineral) punya kandungan tertinggi. Gorontalo (Minerals) kalau sudah tahap produksi sama seperti satu Newmont," ucapnya.

Dana hasil penawaran saham perdana ini, BRM juga siap membayar utang Calipso sebesar US$ 148,8 juta dari Bright Ventures Pte. Ltd. Pihak pemberi utang merupakan pihak yang terafiliasi dengan perseroan. Pinjaman jangka pendek ini dilakukan sehubungan dengan pembiayaan sebagaian belanja modal dan modal kerja BRM dan anak usaha, yaitu Bumi Mauritania SA. (BM), Herald resources Ltd. (Herald), PT Citra Palu Minerals (CPM) dan PT Gorontalo Minerals (GM).

Keseluruhan dana, sebanyak US$ 35,8 juta telah terpakai untuk keperluan belanja modal. Sisanya, US$ 113 juta sementara waktu diinvestasikan dalam bentuk investasi jangka pendek. Investasi disepakati antara Calipso dan PT Henan Putihrai Asset Management (HPAM).



Sumber: detikcom

BRM Diperkirakan Raih Dana Rp2 T Dari IPO
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Kamis, 18 November 2010 | 18:46 WIB


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Mineral diperkirakan akan meraih dana sebesar Rp2 triliun dari hasil penawaran umum saham perdana.

Perseroan menetapkan harga saham perdana PT Bumi Resources Mineral sebesar Rp635 per saham. Direktur Utama PT Bumi Resources Mineral Ken Farrell mengatakan, pihaknya baru saja menyelesaikan roadshow international dari 9 November hingga 15 November 2010. "Minat dan tanggapan dari pasar investor asing yang kami temui sangat positif," ujar Ken dalam siaran pers yang diterima, Kamis (18/11).

Perseroan melakukan international roadshow ke Singapursa, Hongkong dan London dari 9 November hingga 15 November 2010. Roadshow ini difasilitasi oleh penjamin pelaksana emisi efek antara lain PT Danatama Makmur dan PT Nomura Indonesia serta international selling agent yaitu Credit Suisse, JP Morgan, Nomura International. Ken menuturkan, dana hasil penawaran umum saham perdana ini untuk membiayai kebutuhan belanja modal dan modal kerja dari anak-anak perusahaannya yaitu Dairi Prima Minerals, Mauritanisa, Gorontalo Minerals, Citra Palu Minerals, dan Liberia. Selain itu, BRM secara efektif memiliki 18% kepemilikan di PT Newmont Nusa Tenggara.

Vicky Ganda Saputra, Direktur Eksekutif PT Danatama Makmur, salah satu penjamin emisi efek transaksi IPO BRM, mengatakan, "Sampai saat ini minat para calon investors dalam transaksi IPO BRM sangat positif berdasarkan acara Paparan Publik di pasar domestik dan roadshow internasional yang telah diselesaikan dalam 2 minggu terakhir. Untuk itu pemesanan saham dalan transaksi IPO BRM ini telah mengalami kelebihan permintaan sebesar 5 kali. [ast]

PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), anak usaha BUMI, akan memperoleh dana Rp 2,09 triliun dari hasil penawaran umum perdana (IPO) sebanyak 3,3 miliar saham (17,2%) pada akhir November 2010. Harga saham perdana di tetapkan Rp 635 per saham, dengan kelebihan permintaan (oversubscribed) sekitar lima kali. Pencatatan di bursa akan dilakukan pada tanggal 2 Desember 2010.



Sumber : IPS Research
BRMS Listing, BUMI di Level Rp2.800
Headline
inilah.com
Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal - Selasa, 16 November 2010 | 09:09 WIB


INILAH.COM, Jakarta - Saham BUMI, Selasa (16/11) akan terus menguat. Penawaran umum saham perdana (IPO) anak usahanya, BRMS) jadi katalis untuk tembus Rp2.800. Rekomendasi strong buy!

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI.JK) hari ini, terutama dipicu sentimen positif anak usahanya PT Bumi Resourses Mineral (BRMS) yang segera Initial Public Offering (IPO) akhir November ini atau awal bulan depan. Harga IPO sudah dipatok di level Rp625-635 per saham.

Karena itu, saat market pekan lalu melemah akibat tingginya inflasi China di level 2%, saham BUMI masih perkasa di level Rp2.450. Saat ini, BUMI sudah menembus titik resistance 2.525. “BUMI.JK Selasa (16/11) ini akan mengarah ke level resistance Rp2.600. Sedangkan level support kuatnya di posisi Rp2.450,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (15/11).

Pada perdagangan Senin (15/11) saham BUMI ditutup menguat Rp100 (4,08%) jadi Rp2.550 dari posisi sebelumnya Rp2.450. Harga tertingginya mencapai Rp2.575 dan terendah Rp2.450. Volume transaksi mencapai 263,4 juta unit saham senilai Rp666,3 miliar dan frekuensi 4.718 kali.

Willy menegaskan, IPO BRMS jadi faktor utama penguatan saham BUMI. Sebab, BUMI akan memisahkan pengelolaan mineralnya ke BRMS. Sedangkan BUMI akan fokus di pertambangan batubara. Pertambangan minerals menyangkut Herald, Newmont, dan semua usaha BUMI non batubara akan dipisahkan dari BUMI. “Ini jadi kabar gembira bagi pasar,” ucapnya.

Willy menilai sangat positif atas langkah perseroan ini. Sebab, BUMI akan konsentrasi sehingga produksi batubaranya pun berpeluang naik. Tidak tertutup kemungkinan, emiten juga akan berekspansi dengan membeli tambang-tambang batubara baru. “Saat ini, terlalu banyak tambang yang harus diurus,” imbuhnya.

Dengan berdirinya BRMS sebagai perusahaan yang terpisah dari BUMI, perseroan akan fokus pada batubara. Sebab, BRMS sudah memiliki manajemen baru sehingga tidak campur aduk.

Lebih jauh Willy memaparkan, saat ini, IPO BRMS sudah akan memasuki tahapan pengajuan pooling (pengajuan pembelian saham BRMS ke underwriter) yaitu Danatama. Jika oversubscribe, dana pengajuan tersebut akan dikembalikan ke nasabah. “Pemesanan secara tunai yang harus dibayar di muka langsung oleh nasabah ke underwriter,” paparnya.

Sedangkan pemesanan fixed (penawaran dari underwriter untuk semua broker) sudah ditutup Jumat (12/11) pekan lalu. Namun, penjatahannya belum diumumkan. Pengumumannya, menurut Willy, bisa dilakukan di pekan depan.

IPO itu, lanjutnya, sangat positif juga karena bersamaan dengan kenaikan harga batubara ke level US$108 per metrik ton. “Karena itu, saham BUMI mendapat sentimen dua kali yaitu dari IPO BRMS dan kenaikan harga batubara,” tuturnya.

Selain itu, potensi penguatan BUMI juga karena faktor jelang realisasi janji perseroan untuk melunasi utang-utangnya senilai US$700 juta. Sebab, saat ini sudah mendekati akhir tahun. Karena itu, nilai utang perseroran akan berkurang.

“Saya rekomendasikan strong buy untuk BUMI dengan target terdekatnya di level Rp2.800 pada saat BRMS listing. Sedangkan Rp3.300 merupakan target di akhir tahun karena faktor window dressing,” pungkas Willy. [ast]


Sepekan BUMI
Rencana IPO BRM Angkat BUMI 7%

Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Minggu, 14 November 2010 | 09:09 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Sepekan ini saham PT Bumi Resources (BUMI) naik 7,7%. Sentimen positif berasal dari penawaran umum saham perdana anak usahanya, PT Bumi Resources Mineral (BRM).

Analis PT Am Capital Janson Nasrial mengatakan, pasar bereksepektasi IPO BRM dapat memberikan sentimen positif untuk BUMI. Apalagi bila BRM ingin meningkatkan saham di Newmont Nusa Tenggara (NNT), maka kinerja BUMI akan lebih baik ke depan. "Dividen NNT besar sekali. Bila benar BUMI akan meningkatkan saham di NNT maka memberikan sentimen positif untuk pergerakan saham BUMI ke depan," ujar Janson saat dihubungi INILAH.COM.

Selain itu, sentimen positif lain yang mempengaruhi BUMI adalah penjualan aset yang dapat membantu mendapatkan dana segar untuk mengurangi utang-utangnya. Adapun rata-rata harga penjualan batu bara, khususnya Kaltim Prima Coal (KPC) yang cukup tinggi sekitar US$100-US$103 per ton, turut mendukung pergerakan harga saham BUMI.

BUMI sepekan ini bergerak fluktuatif. Setelah dua hari menguat 125, anak usaha Bakrie ini kembali terkoreksi 25 pada Rabu (10/11). Sedangkan kenaikan pada keesokan harinya sebesar Rp125, segera diikuti dengan penurunan Rp50 ke Rp2.450 per lembarnya.

Menurut Janson, jika dibandingkan sektor batu bara di regional seperti Asia Pacific, Australia, China dan Thailand, sektor saham batu bara di Indonesia sebenarnya termasuk mahal dari segi valuasi. "Price earning ratio (PER) dan price book value (PBV) saham sektor batu bara sudah mahal sehingga sektor batu bara di Indonesia mengalami koreksi," katanya.

Ia menuturkan, rata-rata PER sekitar 22 kali pada 2010, sementara PER dan PBV di wilayah regional masih rendah. Valuasi saham sektor batu bara yang mahal itu memberikan sentimen negatif untuk saham BUMI. "Bumi terkena sentimen valuasi saham yang mahal di regional sehingga memberikan katalis negatif," tambah Janson.

Namun, ketimbang saham sektor batu bara lain di dalam negeri, seperti PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) dan Adaro (ADRO), valuasi BUMI cukup rendah, sehingga ada peluang kenaikan harga sahamnya. "Valuasi BUMI yang paling murah sehingga bisa mendongkrak harga sahamnya, sedangkan saham ITMG dan Adaro sudah tinggi," kata Janson.

Adapun, laporan keuangan sektor batu bara yang tidak terlalu baik pada kuartal ketiga 2010 pada saham PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) dan ITMG, pasar memprediksikan hal tersebut terjadi pada laporan keuangan BUMI. "Apalagi ada faktor cuaca yang mengganggu produksi," imbuhnya. [ast]



... GAYA LOH MASEH JADUL tukh: gali lubang bwat tutup LUBANG ...
Bayar Utang, BUMI Jual Aset
Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Kamis, 11 November 2010 | 20:58 WIB


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana mengurangi utang dengan menjual aset perseroan.

Hal itu disampaikan Direktur PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava, Kamis (11/11). "Kita menjual aset PTMP dengan nilai US$190 juta. Kita baru menerima sebesar US$20 juta jadi sisanya US$170 juta. Kita akan terima bulan ini atau paling lambat tahun depan," ujar Dileep.

Dileep menambahkan, perseroan juga menjual aset Energ Corp sebesar US$90 juta. Perseroan baru menerima dana sebesar US$45 juta. "Kita akan menerima sisanya lagi sebesar US$45 juta," tambah Dileep.

Perseroan juga menganggarkan belanja modal sebesar US$1,1 miliar dalam tiga tahun. Dileep menuturkan, perseroan akan menggunakan belanja modal untuk KPC dan Arutmin. Selain itu, perseroan juga akan fokus mengurangi utang sebesar US$600 juta hingga US$700 juta. "Kita telah melakukan non prempetive issue untuk mengurangi utang, dan kita fokus untuk mengurangi utang," kata Dileep.

Dileep mengatakan, perseroan juga melepas sekitar 20 persen saham di Gallos oil. Perseroan diperkirakan akan mendapatkan dana sebesar US$290 juta. Penjualan saham Gallos oil ini menunggu ijin pemerintah Yaman.

Selain itu, Perseroan juga berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi 125 juta ton. Dileep menambahkan, perseroan juga fokus mengelola produksi batu bara dan bisnis non batu bara akan dikerjakan oleh anak usaha yaitu PT Bumi Resources Mineral. [hid]

Hasil penawaran saham perdana (IPO) PT Bumi Resources Mineral (BRMS) digunakan untuk pembayaran pinjaman jangka pendek. Sebab perseroan mengharapkan meraih dana US$600-700 juta.

Menurut Direktur BMRS, Yuanita Rohali, dari keseluruhan dana IPO dan warran, BMRS diperkirakan memperoleh dana berkisar US$600-700 juta. Dana ini akan digunakan untuk pembayaran pinjaman jangka pendek (bridge financing) sebesar US$148,8 juta kepada Brad Adventure sebagai pembiayaan proses feasibility produksi anak perusahaan BRMS. Mereka adalah Bumi Mauritania, Dairi Prima Mineral, Citra Palu Minerals, dan Gorontalo Minerals (GM).

Sisanya akan digunakan untuk Capex 1 tahun pertama sebesar US$240 juta dolar (untuk membiayai proses konstruksi di Dairi & Bumi Mauritania), capex tahun kedua US$275 juta (penyelesaian konstruksi Dairi yang diperkirakan memakan waktu 24 bulan dan US$66 juta untuk capex di tahun ketiga.

Selain melepas sejumlah saham, Bumi Resources Mineral (BRMS) juga akan menerbitkan Waran Seri I dengan rasio 3:2. Setiap investor yang mendapat alokasi 3 saham baru akan memperoleh 2 Waran Seri I secara cuma-cuma.

Sumber : INILAH.COM
PT Bumi Resources Targetkan Raup Dana Hingga Rp 2,7 Triliun
Senin, 08 November 2010 | 16:44 WIB


TEMPO Interaktif, Jakarta -PT Bumi Resources Minerals mentargetkan bakal meraup dana hingga Rp 2,7 triliun dalam penjualan saham perdananya. "Paling sedikit dana yang akan kami dapatkan sebesar US$ 200 juta," kata Direktur Keuangan PT BRM Yuanita Rohali di Jakarta, 8 November 2010.

Anak usaha PT Bumi Resources Tbk ini akan menjadi emiten grup Bakrie ke-8 yang go public. Saham yang akan ditawarkan sebanyak 4,32 miliar dengan harga berkisar Rp 625 hingga Rp 635 per saham.

Selain menjual saham perdana, Bumi juga akan menerbitkan waran dengan perbandingan 2:3. Total waran yang akan diterbitkan maksimal 2,88 miliar lembar dengan harga Rp 690-700 per lembar. Dana hasil waran seluruhnya digunakan untuk belanja modal.

Adapun sebanyak US$ 148,8 juta akan dipakai untuk membayar utang pada Bright Ventures Pte Ltd. Sisanya dipakai untuk menambah belanja modal perusahaan dan anak-anaknya.

Perusahaan juga akan menerbitkan Mandatory Convertible Notes yang akan mengubah utang pada induk usahanya, PT Bumi Resources Tbk menjadi saham. MCN yang diterbitkan bernilai Rp 4,96 triliun. MCN akan dikonversi menjadi saham dengan harga 5 persen diatas harga penawaran, 3 bulan setelah persetujuan efektif Bapepam-LK.

Sebanyak 99,9 persen saham Bumi dimiliki oleh PT Bumi Resources Tbk. Setelah penawaran saham perdana, kepemilikan publik mencapai 22,53 persen. Setelah penerbitan Mandatory Convertible Notes, kepemilikan publik terdilusi hingga tersisa 16,19 persen.

Dalam tiga tahun mendatang, Bumi menganggarkan belanja modal sebesar US$ 581 juta. Sebesar US$ 240 juta akan digunakan pada tahun 2011 untuk belanja anak usahanya yakni PT Dairi Prima Minerals, PT Bumi Mauritania, PT Citra Palu Minerals, PT Gorontalo Minerals dan Konblo Bumi Inc. Tahun berikutnya dianggarkan US$ 275 sisanya US$ 66 juta pada tahun 2013.

FAMEGA SYAVIRA

Eksekusi MCN, Kepemilikan BUMI Jadi 83%
Senin, 8 November 2010 - 17:13 wib
text TEXT SIZE :
Widi Agustian - Okezone
Logo BUMI. Dok BUMI

JAKARTA - Kepemilikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan naik menjadi 83 persen, setelah melakukan eksekusi atas Mandatory Convertible Notes (MCN) senilai Rp4,959 triliun.

Adapun MCN tersebut akan diterbitkan melalui anak usaha PT Bumi Resources Minerals (BRMS), PT Multi Daerah Bersaing (MDB), selambat-lambatnya pada 16 November 2010. Eksekusi MCN oleh BUMI akan dilakukan tiga bulan setelah pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO) BRMS.

Akan tetapi, usai melakukan eksekusi MCN tersebut, saham publik bakal berkurang menjadi 16,19 persen dari sebelumnya yang sebesar 22,53 persen.

BRMS akan melepas 4,323 miliar saham atau 22,53 persen ke publik. Saat ini, BRMS dimiliki sebanyak 99,99 persen oleh BUMI dan sisanya dikuasai PT Lumbung Capital. Setelah IPO terlaksana, kepemilikan BUMI akan menjadi sebanyak 14,868 miliar saham 77,47 persen, publik 4,323 miliar saham atau 22,53 persen, dan Lumbung capital sebanyak 1.600 saham.

Direktur Keuangan BMRS Yuanita Rohali dalam paparan publik dan due diligence meeting IPO di Jakarta, Senin (8/11/2010) menjelaskan, jika penerbitan MCN merupakan bagian dari perjanjian utang BUMI dan MDB senilai USD850 juta yang disepakati pada 16 November 2009.

Pinjaman itu digunakan untuk mendanai akuisisi 24 persen saham PT Newmont Nusa Tenggara. Sebagian pinjaman itu telah dilunasi dengan pendanaan dari Credit Suisse. Sedangkan sisanya sekitar Rp4,959 triliun akan dikonversi menjadi saham melalui penerbitan MCN.

"Sisanya akan dikonversi menjadi saham BMRS setelah tiga bulan pelaksanaan IPO BMRS. Harga pelaksanaanya lima persen lebih tinggi dari harga IPO. Tapi berapa porsi saham milik BUMI setelah eksekusi MCN belum diketahui pastinya tergantung dari harga IPO. kemungkinan sekitar 83 persen," kata Yuanita.

Dia juga menjelaskan, BRMS masih memiliki utang sebesar USD257 juta kepada Credit Suisse dari total perjanjian pinjaman sebesar USD300 juta yang digunakan untuk membayar sebagian pinjaman akuisisi NNT kepada PT Bumi Resources.

"Utang kepada kepada Credit Suisse ini jatuh tempo di 2012 dan akan kita lunasi dari bagian dividen NNT yang diterima BMRS," katanya.

Perseroan juga bermaksud melunasi utang jangka pendek berupa bridge loan kepada Bright Ventures Pte. Ltd dengan dana dari IPO senilai USD148,8 juta. Pinjaman tersebut seluruhnya sebesar USD150 juta yang digunakan untuk pembiayaan belanja modal (capex) dan modal kerja Bumi Mauritania SA, Herald Resources Ltd, PT Citra Palu Minerals, dan PT Gorontalo Minerals.(ade)

Sentimen IPO BRM Angkat BUMI Sepekan
Headline
inilah.com
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Minggu, 7 November 2010 | 09:14 WIB


INILAH.COM, Jakarta Sepekan ini, saham PT Bumi Resources (BUMI) berhasil naik 2,2% mendekati level 2.300. Rencana pencatatan saham perdana PT Bumi Resources Mineral memberikan sentimen positif untuk perseroan.

Demikian ujar analis PT AM Capital Janson Nasrial kepada INILAH.COM. Menurutnya, rencana pencatatan saham perdana PT Bumi Resources Mineral (BRM) berhasil mengangkat harga saham BUMI. Hal ini didukung prospek BRM yang cerah, katanya.

Janson menuturkan, Debt Equity to Ratio (DER) BRM mencapai satu kali dengan Return On Equity (ROE) sekitar 25%. Laba bersih BRM terdongkrak hasil investasi di PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) dan BUMI Japan Coal Trading. Hal ini pun diperkirakan berlanjut hingga tahun depan. Kendati demikian, keuntungan BRM dari sisi operasional belum kelihatan," tutur Janson.

BRM berencana melepas 4,3 miliar lembar saham atau 25,53% dari total saham perseroan melalui IPO. Target awal perseroan untuk melantai di bursa adalah 2 Desember 2010 dan masa penawaran di periode 24 November hingga 26 November 2010. Tanggal pernyataan efektif dari otoritas bursa rencananya akan diperoleh 22 November 2010.

Dalam rangka IPO ini, BRM menunjuk PT Danatama Makmur dan PT Nomura Indonesia sebagai penjamin emisi. Sedangkan sebagai agen penjual asing, BRM menunjuk Credit Suisse, JP Morgan serta Nomura International.

Sementara itu, dana yang diperoleh rencananya akan digunakan untuk melunasi hutang kepada Bright Ventures Pte.Ltd sebesar AS$148,8 juta setara dengan Rp1,35 triliun dan sisanya akan digunakan untuk belanja modal perseroan. Hal ini menyebabkan utang BUMI dapat berkurang, paparnya.

Harga penawaran saham masih belum disampaikan di prospektus perseroan yang diterbitkan hari ini namun rencananya setiap pembelian tiga lembar saham akan mendapatkan 2 lembar waran seri I secara cuma-cuma.

Perseroan juga akan melakukan konversi mandatory convertible note (MCN) dengan sejumlah saham perseroan dengan harga konversi lima persen di atas harga penawaran. Konversi ini akan dilakukan tiga bulan setelah tanggal pencatatan saham perdana di BEI.

Senada dengan pengamat pasar modal Willy Sanjaya. Menurutnya, rencana pencatatan saham perdana PT Bumi Resources Mineral yang menarik, berhasil mengangkat saham induk usahay. Hal ini dikarenakan PT Bumi Resources Mineral memiliki pengelompokan usaha yang bagus sehingga BUMI bisa berkosentrasi di bidang batu bara, katanya.

Selain itu, harga komoditas batu bara yang mencapai level harga US$106 per ton, juga turut mempengaruhi harga saham BUMI. Harga batu bara hingga akhir tahun diperkirakan bisa mencapai US$125 per ton pada akhir tahun. Hal ini terus memberikan sentimen positif untuk saham BUMI, katanya.

Kebijakan moneter yang diambil The Fed, telah mengangkat harga komoditas dunia. Harga minyak menembus level US$86,9/barel diikuti timah yang naik 2,5%), nikel yang naik 4% dan CPO menembus level US$1,085/ton. Sedangkan Willy menilai, masalah pajak BUMI, yang sempat membayangi pergerakan emiten batu bara ini dinilai sudah lama,Sehingga tidak ada pengaruhnya terhadap pergerakan BUMI,tutupnya.

Setelah sempat menguat di awal pekan dengan naik Rp25 ke level Rp2.250, saham BUMI kembali turun dan terus merosot, hingga pada Kamis (4/11) bertengger di angka Rp2.175. Namun, di penghujung pekan , saham anak usaha Bakrie kembali melesat Rp100 dan berakhir di level Rp2.275.

Sepanjang pekan ini, shaam BUMI berhasil naik 2,2%, dengan pergerakan cukup fluktuatif, di level tertinggi Rp2.350 dan terendah di Rp2.150 per lembarnya. [ast]

Welcome All of You

Cari di Blog Ini