Selasa, 15 Februari 2011

gado2 BISNIS dan KEKUASAAN @ bumi, bo (140811)

Bumi Resources Kucurkan KPC Rp6,8 Miliar
R Ghita Intan Permatasari - Okezone
Sabtu, 13 Agustus 2011 18:01 wib


JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengucurkan biaya eksplorasi (operation expenditure/opex) untuk PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar USD801.772 (Rp6,8 Miliar) pada Juli 2011 lalu.

Direktur dan Corporate Secretary BUMI, Dileep Srivastava, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Sabtu (13/8/2011) memaparkan, realisasi biaya eksplorasi ini tampaknya melebihi budget yang telah dianggarkan perseroan sebelumnya sebesar USD727.162 (Rp6,2 miliar).

Secara year to date (ytd), biaya aktual yang dikeluarkan adalah sebesar USD4,436 juta, masih lebih kecil dari yang dianggarkan USDUSD4,514 juta sementara anggaran tahunan mencapai USD7,788 juta.

Eksplorasi dengan cara pengeboran tersebut dilakukan didaerah Pit Melawan, East Pinang, Inul East dan Pit Bendili in Fill. Sejauh ini pengeboran yang terjadi di Pit Melawan sudah mencapai 68 persen dengan pengeboran preproduction dengan menggunakan tiga mesin bor dengan target utama seam Beam.

Lalu pengeboran yang terjadi di East Pinang sudah sejauh 37 persen yang merupakan pengeboran tahap awal dengan menggunakan dua mesin bor dengan target kedalaman 400 meter.

Pengeboran Inul East sejauh ini sudah mencapai 20 persen dengan melakukan pengeboran pre production dengan menggunakan dua mesin bor dengan target uta, seam B2 dan seam SL, sementara pengeboran yang dilakukan di Pit Bendili Infill sudah terlaksana 100 persen.

Adapun jumlah total meter pengeboran yang telah dilakukan adalah sebesar 22.970,9 meter yang terdiri dari 61 lubang terbuka dan sembilan lubang inti.

Untuk selanjutnya, KPC berencana untuk melakukan penngeboran di tiga lokasi yang sama yang mana untuk East pinang berencana untuk mengebor 68 lubang terbuka, Pit Melawan sebanyak 56 lubang terbukan dan 41 lubang inti dan Inul East 29 lubang inti.
(wdi)

Selasa, 14/06/2011 10:08 WIB
Bayar Utang, BUMI Kaji Cairkan Surat Utang Vallar
Whery Enggo Prayogi - detikFinance






Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kaji penjualan convertible bonds (CB) untuk mempercepat pelunasan utangnya ke China Investment (CIC). Surat utang ini didapat dari Vallar Plc setelah menjual 75% kepemilikan sahamnya di PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).

Hal itu diungkapkan oleh Direktur BUMI Dileep Srivastava dalam pesan elektronik yang diterima detikFinance, Selasa (14/6/2011).

"CB ini bisa dengan mudah dicairkan untuk mengurangi kewajiban, seperti membayar utang ke CIC, dalam rangka memaksimalkan kepentingan pemegang saham," katanya.

Saat ini, BUMI sedang dalam proses penjualan 20.854.263.529 saham BRMS ke Vallar. Harga transaksi dipatok Rp 850 per lembar saham.

Total dana yang bisa diraup salah satu perusahaan milik Grup Bakrie itu sebesar US$ 2,07 miliar, namun tidak dalam bentuk tunai, melainkan surat utang yang bisa dikonversi.

Menurut Dileep, perseroan lebih pilih terima CB karena nilainya berpotensi naik seiring apresiasi harga saham Vallar. Selain itu, surat uatng yang terdaftar di Bursa London itu bisa diperdagangkan, dan dicairkan dengan cepat untuk menambah likuiditas.

CB ini dapat dikonversi 40 hari setelah penerbitan hingga 14 hari sebelum jatuh tempo. Berbeda dengan CB pada umumnya yang dapat dikonversi setelah jatuh tempo. Tenor CB ini 5 tahun 6 bulan atau jatuh tempo pada triwulan I-2017.

Dileep menambahkan, BUMI melepas kepemilikan mayoritasnya di BRMS karena ingin fokus di pertambangan batubara. Selain itu, merestrukturisasi perusahaan dengan masuk di bawah payung Grup Vallar.

"BUMI juga dapat keuntungan atas harga premium dalam transaksi ini yaitu Rp 850 per saham, dibandingkan harga IPO di Rp 630 per saham," jelasnya.

Seperti diketahui, BUMI memiliki utang ke CIC sebesar US$ 1,9 miliar. Cicilan pembayaran dilakukan dalam 3 tahap, pertama pada Oktober 2013 senilai US$ 600 juta, kedua pada 2014 senilai US$ 600 juta dan terakhir di 2015 senilai US$ 700 juta.
(ang/dnl)
BUMI Tunda Divestasi Aset Gallo Oil


Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Minggu, 1 Mei 2011 | 10:58 WIB

INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menunda divestasi aset Gallo Oil di Yaman.

Hal itu disampaikan Direktur PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava,lewat surat elektronik yang diterima INILAH.COM, akhir pekan lalu.

"Sebenarnya pembeli sangat antusias dengan aset itu, tapi karena situasi politik di Yaman sehingga membuat investor tidak dapat menaikkan pendanaan yang diperlukan," ujar Dileep.

Dengan demikian, lanjutnya, perseroan menunda penjualan aset Gallo Oil. Perseroan juga tidak akan melakukan write off dalam aset tersebut.

Dalam pemberitaan Sebelumnya, Dileep mengatakan bahwa perseroan akan menjual aset Gallo Oil. Hal ini dikarenakan Gallo Oil tidak terlalu memberikan kontribusi besar kepada perseroan. [mre]

Target BUMI 2011 di Level Rp4.800


Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal - Selasa, 19 April 2011 | 03:59 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Laju saham BUMI, Selasa (19/4) diprediksi naik seiring sentimen Vallar Plc dan potensi kenaikan harga batu bara ke US$140 per ton. Target harga akhir 2011 di level Rp4.800. Strong buy!

Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini selain sentimen Vallar Plc juga karena potensi kenaikan harga batu bara yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga minyak dunia. Dia memperkirakan, batu bara bakal bertenger di level US$140 per metrik ton.

Karena itu, menurut Willy, kalaupun terjadi koreksi terhadap saham sejuta umat ini, merupakan kesempatan untuk akumulasi beli. “Saya rekomendasikan strong buy BUMI. Saya masih menargetkan saham ini di level Rp4.800 akhir 2011,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup stagnan di level Rp3.350. Harga intraday tertingginya mencapai Rp3.375 dan terendah Rp3.325. Volume transaksi mencapai 36,3 juta unit saham senilai Rp121,7 miliar dan frekuensi 851 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah ditutup stagnan di level Rp3.350, bagaimana Anda memperkirakan laju saham BUMI hari ini?

Terbuka lebar menguat. Salah satunya masih dipicu Valar Plc yang akan menggenapi kepemilikannya di saham ini menjadi 51% pada Mei 2011 melalui market dari level 25% saat ini. Karena itu, potensi penguatan saham ini masih terbuka lebar. Saham BUMI tetap paling menarik di sektornya.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan bermain di resistance Rp3.400-3.425. Penguatan berikutnya ke level Rp3.600. Sedangkan level support berada di posisi Rp3.325.

Sentimen selain Vallar?

Potensi penguatan saham BUMI juga karena faktor tingginya harga minyak mentah dunia di level US$109 per barel . Sebab, harga batu bara berpotensi naik ke level US$140 per metrik ton di 2011. Seiring masih panasnya suhu politik di Timur Tengah, harga minyak mentah dunia akan terus bertenger di atas US$110 per barel.

Permintaan batu bara akan terus meningkat di tiap tahunnya sehingga mengerek naik harganya. Karena itu, harga batu bara akan terjaga di kisaran US$110-140 per metrik ton. Apalagi, cadangan batu bara dunia terbesar berada di Indonesia, disusul Australia dan China. China pun belum diketahui seberapa besar candangan batu bara yang dimilikinya. Karena itu, Vallar mencari emiten batu bara hingga Indonesia.

Kenaikan harga batu bara akan jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga minyak. Sebab, tidak semua negara memiliki batu bara. Sedangkan minyak, dimiliki banyak negara meskipun tidak sehebat Timur Tengah.

Bagaimana dengan sentimen market?

Sentimen market hari ini bisa saja positif. Sebab, kemarin pun, indeks saham hanya melemah terbatas, sehingga trennya tetap masih bullish. Karena itu, setelah libur Paskah atau pekan depan, saham BUMI bisa mencapai Rp3.600.

Sebab, market juga merespon positif laporan kinerja BUMI untuk kuartal pertama 2011 yang diprediksikan positif. Apalagi, BUMI sudah membayar utang lama yang berbunga tinggi. Memang, ada tambahan utang baru tapi bunganya tidak sebesar utang lama. Pasti ada peningkatan kinerja BUMI per kuartal ini.

Apa rekomendasi Anda?

Kalaupun terjadi koreksi di saham BUMI, merupakan kesempatan untuk akumulasi beli. Saya rekomendasikan strong buy BUMI. Saya masih menargetkan saham ini di level Rp4.800 akhir 2011. [mdr]
Vallar Plc Resmi Jadi Bumi Plc
Masuk FTSE, Bumi Plc Tunggu Persetujuan Otoritas
Rabu, 13 April 2011 - 14:37 wib
Widi Agustian - Okezone

JAKARTA - Sejak Senin, 11 April lalu, Vallar Plc resmi berganti nama menjadi Bumi Plc. Perusahaan saat ini masih menunggu persetujuan otoritas untuk bisa segera terdaftar sebagai salah satu dari 100 perusahaan publik terbesar di Bursa Saham London (London Stock Exchange/FTSE100).

Bumi Plc yang memiliki aset Kaltim Prima Coal, Arutmin, Berau Coal, dan Bumi Resources Mineral diharapkan menjadi global coal champion pertama asal Indonesia dengan target produksi batubara mencapai 140 juta ton pada tahun 2013, atau sekitar 20 persen dari total produksi batu bara dunia.

"Kami ingin global coal champion pertama di dunia adalah perusahaan batubara yang berbasis di Indonesia dan sahamnya terdaftar di London. Saat ini belum ada satu perusahaan batu bara yang bisa disebut global coal champion," kata Chairman BUMI Plc Indra U Bakrie dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (13/4/2011).

Indra berharap bersama rekanan yang memiliki reputasi sangat terpercaya seperti keluarga Rothschild dalam Bumi Plc bisa menjadi awal baru dalam internasionalisasi Grup Bakrie ke depan.

"Selama ini, aksi korporasi kami sering dituduh sebagai terlalu ambisius. Gerak kami yang cepat dianggap terlalu agresif. Dan harapan kami terhadap masa depan yang lebih baik dianggap terlalu mengumbar janji. Kami bangga bisa membuktikan bahwa semua yang kami janjikan kepada Nat Rothschild dan kepada pasar tiga bulan yang lalu, bisa kami penuhi sesuai kesepakatan dan dengan on-time," tegas Indra.(wdi)
Vallar Plc, Nathaniel Rothschild akan menambah investasi sahamnya di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mendekati 50%.

Mengutip Bloomberg, transaksi pertukaran saham ini diharapkan tuntas pada 10 Mei. Vallar telah melengkapi kepemilikannya atas BUMI sebesar 25% bulan lalu, dan akan menawarkan pertukaran satu saham dengan 57,7 saham perusahaan penghasil tambang terbesar di Indonesia ini. Demikian dikatakan co-founder Vallar, Darren Morris, di Jakarta kemarin. "Idealnya akhirnya kami memiliki hampir 50 persen saham BUMI, yang benar-benar akan mempererat hubungan antara BUMI dan Vallar," kata Rothschild. "Saya kira dari perspektif investor pasar saham Inggris akan senang dengan hal ini."

Pada November, Vallar telah sepakat untuk menginvestasikan $3 miliar di PT Bumi dan PT Berau Coal Energy Tbk dalam bentuk saham dan transaksi tunai untuk memperbesar sektor tambang di Indonesia, di tengah meningkatnya permintaan untuk bahan bakar dari India dan Cina. Vallar akan mengganti namanya menjadi Bumi Plc sesuai yang terdaftar dalam Bursa Efek London pada Mei ini.

"BUMI berencana untuk melakukan pembayaran utang tahap pertama ke China Investment Corp sebesar US$ 600 juta, lebih awal dari jadwal pada bulan Oktober tahun ini, sambil melanjutkan hubungan bisnis dengan China," kata Rothschild. "Tingkat leverage tidak akan menjadi masalah, yang kecepatan untuk melu

Sumber : INILAH.COM
Saham BUMI Pindah Tangan Ke Vallar Plc Rp 13 Triliun
Diduga Untuk Mengurangi Tekanan Utang
Sabtu, 05 Maret 2011 , 04:15:00 WIB


RMOL. Salah satu perusahaan milik keluarga Rotschild yaitu Vallar Plc secara resmi membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp 13,014 triliun dengan harga Rp 2.500 per lembar saham.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin menye­butkan, JP Morgan Securities Indonesia (BK) menfasilitasi pem­belian 10.386.700 lot atau se­tara 5,193 miliar lembar (25 per­sen) saham dari PT Credit Suisse Securities Indonesia (CS).

Sebelumnya, PT Credit Suisse Secu­rities Indonesia telah mem­fasi­litasi transaksi dari tiga broker, yaitu PT Recapital Secu­rities (LK), PT Deutsche Secu­rities (DB) dan Sinarmas Sekuritas (DH). Seba­nyak 3,39 miliar sa­ham BUMI kemarin telah di-crossing (pindah tangan) melalui bursa saham pada harga yang bervariasi.

“Pada crossing saham Bumi hari ini, selain proses pengumpu­lan saham Bumi untuk ditransfer ke Vallar Plc, ada juga pelaksa­na­an perjanjian opsi dengan Glen­­core,” ungkap salah seorang ek­sekutif yang mengaku men­dengar informasi transaksi itu.

Menanggapi aksi BUMI ini, analis pasar modal Satrio Utomo mengatakan, pembelian Vallar atas saham dengan di-lock-up (mo­del transaksi dengan meng­gu­nakan jangka waktu tertentu).

“Yang paling berpengaruh itu kinerja BUMI akan seperti apa setelah Vallar masuk. Yang jelas, kinerja full year 2010 belum ke­luar. Kemungkinan, dalam satu atau dua bulan ke depan baru akan terlihat pengaruhnya ter­hadap ki­nerja BUMI,” ujarnya saat dihu­bungi Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Satrio menjelaskan, meski Vallar masuk, namun pergerakan saham BUMI tetap bakal mengi­kuti kondisi pasar dan akan naik jika kepercayaan pasar mening­kat. Pergerakan saham BU­MI selama ini tertinggal dengan sa­ham-sa­ham emiten batubara lain­.

Ketika kabar pindah tangan sa­ham ini dikonfirmasi ke Cor­porate Secretary Bumi Resources Dile­ep Sri­nivasta, dia enggan ber­ko­men­tar.

Satrio menduga, masuknya Vallar karena akan menyelesai­kan berbagai macam permasala­han yang ada di BUMI, termasuk so­al utang-utangnya. “Saya ber­ha­rap semoga saham BUMI bisa berubah. Untuk proyeksi harga jang­ka pendek antara Rp 2.700-3.250-an. Arti­nya kalau bisa naik, hanya di kisa­ran Rp 3.250, tapi ka­lau di atas itu sedikit berat,” tuturnya.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menurun Rp­ 50 jadi Rp 3.025 dari hari se­belumnya Rp 3.075. [RM]
Saham BUMI Uji Level Rp3.000

Oleh: Ahmad Munjin
Pasar Modal - Rabu, 2 Maret 2011 | 06:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Laju saham BUMI, Rabu (2/3) diprediksi naik seiring rampungnya tukar guling saham dengan Valar Plc. Tapi, penguatan itu baru terkonfirmasi jika level psikologis Rp3.000 ditembus. Hold saja!

Satrio Utomo, Head of Research PT Universal Broker Indonesia mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini karena tiga faktor. Sentimen market, rampungnya tukar guling saham dengan Vallar Plc dan faktor teknikal.

Tapi, lanjut Satrio, dirilisnya berbagai kinerja emiten batu bara yang mencatatkan laba di bawah ekspektasi pasar jadi bumerang bagi saham sejuta umat ini. “Saya rekomendasikan hold saja saham BUMI,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Selasa (1/3), saham BUMI ditutup melemah Rp25 (0,83%) jadi Rp2.975 dibandingkan sebelumnya Rp3.000. Harga tertingginya mencapai Rp3.025 dan terlemahnya Rp2.950. Volume transaksi mencapai 59,9 juta unit saham senilai Rp179,1 miliar dan frekuensi 1.725 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah melemah ke level Rp2.975, bagaimana Anda memperkirakan laju saham BUMI hari ini?

Potensi penguatan masih ada pada saham ini. Salah satunya karena rampungnya proses akuisisi saham ini Senin (28/2) oleh Vallar Plc. Vallar bakal segera melunasi utang BUMI. Vallar sedianya akan melunasi utang perseroan ke CIC (China Investment Corporation) sebesar US$1,9 miliar dengan bunga hingga 19% terlebih dahulu. Praktis setelah akuisisi tersebut, Vallar resmi memiliki 25% saham ini.

Akan bergerak di kisaran berapa?

Karena itu, BUMI berpeluang mengarah ke level resistance Rp3.100-3.250 dan Rp2.950 sebagai level support-nya.

Bagaimana dengan laporan keuangan BUMI untuk full year 2010?

Kinerja keuangan emiten batu bara, untuk full year 2010, banyak dirilis dengan mencatatkan laba bersih di bawah ekspektasi analis. Kondisi itu dipicu curah hujan yang terlalu tinggi sepanjang 2010 sehingga mengganggu produksi batu bara baik dari sisi kualitas maupun volume. Investor dan trader kemudian berhati-hati bermain di saham-saham batu bara termasuk BUMI.

Karena itu, saham-saham di sektor batu bara mengalami tekanan ke bawah pada perdagangan kemarin. Paling tidak, saham-saham di sektor ini jadi susah naik. Investor masih menunggu sentimen yang baru.

Apalagi, dengan rendahnya inflasi Februari 2011 di angka 0,13% (month ton month), orang lebih berburu pada saham-saham yang sensitif terhadap inflasi dan suku bunga seperti perbankan dan saham-saham di sektor konsumsi. Begitu juga dengan saham-saham yang terkait dengan crude palm oil (CPO).

Artinya, ada peluang BUMI melemah hari ini?

Untuk itu, potensi kenaikan saham BUMI ke level resistance Rp3.100-3.250 dengan catatan. Artinya, pasar harus menunggu ditembusnya resistance Rp3.000 yang merupakan level psikologis. Jika tidak ditembus ke atas, saham ini berpeluang kembali dilanda aksi profit taking.

Saya mewanti-wanti, pasar harus mencermati, apakah level Rp3.000 bisa ditembus ke atas atau tidak. Tapi, secara teknikal untuk turun pun susah. Apalagi, di tengah situasi market yang sedang naik. Karena itu, kecenderungan saham ini lebih ke penguatan ke atas level Rp3.100.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan hold saham BUMI. Jika investor akan melakukan aksi jual, lebih baik sell on strength di atas level Rp3.100 hingga Rp3.250. Jika mau beli, lebih baik menunggu di bawah Rp2.900. [mdr]

Saham BUMI, Senin (28/2) diprediksi melanjutkan rally seiring rampungnya akuisisi Vallar PLc. Secara teknikal pun, saham ini sudah memasuki fase up trend. Saatnya beli!

Praska Putrantyo, analis Infovesta Utama mengatakan, banyak faktor yang bisa memicu penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) awal pekan ini. Yang utama adalah faktor rampungnya prosesi tukar guling saham dengan Vallar Plc hari ini. Selain itu, faktor teknikal juga mendukung.

Begitu juga dilihat dari sisi valuasi yang menurutnya masih murah dan meroketnya harga batu bara ke level US$131,71 per metrik ton. “Saya rekomendasikan buy saham BUMI, karena momentumnya rally pekan ini,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Jumat (25/2), saham BUMI ditutup menguat Rp125 (4,50%) jadi Rp2.900 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.775. Harga tertingginya mencapai Rp2.925 dan terendah Rp2.825. Volume transaksi mencapai 168,1 juta unit saham senilai Rp485,1 miliar dan frekuensi 3.963 kali.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1273632/bumi-ke-fase-up-trend

Sumber : INILAH.COM
Vallar Plc bakal merampungkan transaksi dengan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada 28 Februari besok. Selanjutnya, transaksi untuk mendapatkan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) bakal segera Vallar realisasikan.

"Transaksi dengan BUMI diperkirakan akan selesai pada 28 February 2011. Vallar akan mulai mengontrol Berau pada saat yang sama. Sementara pemegang saham Berau, PT Bukit Mutiara,baru akan menuntaskan transaksinya pada 8 April 2011 setelah periode BCE lock up habis," jelas Co-chairman of Vallar Nathaniel Rotchschild dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, JUmat (25/2/2011).

Sebelumnya, perusahaan milik keluarga Rothschild, Vallar Plc mengumumkan transaksi tukar guling 75 persen saham Berau dan 25 persen saham Bumi. "Transaksi ini bernilai USD3 miliar yang akan dibayar dengan tunai dan saham Vallar," kata Direktur Vallar Nathaniel Rothschild melalui telekonferensi di Jakarta beberapa waktu lalu.

Transaksi ini, kata dia, sesuai dengan tujuan perusahaan untuk berekspansi di bidang pertambangan. Bumi dan Berau diharapkan memproduksi 140 juta ton batu bara per tahun mulai 2013.

Vallar membeli 75 persen saham Berau melalui induknya, PT Bumi Mutiara. Skemanya, 35 persen saham Berau dibayar tunai Rp 6,57 triliun. Selebihnya ditukar guling dengan 52,3 juta lembar saham Vallar. Setelah transaksi ini, saham Bumi Mutiara di Berau tersisa 15,3 persen

Sumber : OKEZONE.COM
Two dynasties, several pits
Messrs Rothschild and Bakrie team up to dig coal
Coal in Indonesia

Jan 27th 2011 | JAKARTA | from PRINT EDITION


COAL is so popular that it makes for odd bedfellows. In November Nat Rothschild, a member of a prominent European banking dynasty, announced a tie-up with one of South-East Asia’s most controversial tycoons. Aburizal Bakrie (pictured) is the patriarch of a scrum of companies with interests in everything from agriculture to shipping. He is also a powerful politician who may well run for Indonesia’s presidency in 2014.

Indonesia is the world’s largest exporter of thermal coal. The Bakrie Group controls some of its choicest mines. Since these are conveniently located a shortish sea trip from the ravenous power plants of China and India, they are tempting to investors.

Vallar, a London-listed investment firm founded by Mr Rothschild, is to acquire stakes in two Bakrie-associated coal firms. The deal is complex: it involves a reverse takeover of Vallar by a Bakrie holding company and another Indonesian firm, Recapital Advisors, using cash and share swaps valued at $3 billion. The British firm will hold a 25% stake in Bumi Resources, Indonesia’s largest coal producer, and 75% of Berau Coal, the fifth-largest. Vallar will change its name to Bumi plc. Its chief executive and chief financial officer will be Bakrie appointees.


For Mr Bakrie, the deal provides prestige and access to global capital. His firms are indebted—so much so that the credit crunch of 2008 is thought nearly to have crushed them. Bumi’s outstanding debt is $3.8 billion, says Dileep Srivastava, a company official. The plan is that the new firm will eventually be large enough to join the FTSE-100 index, triggering a flurry of investment by index funds.

Mr Rothschild and his co-investors gain access to heaps of coal and a web of connections. Mr Bakrie is the chairman of Golkar, a big political party, and is an important ally of Indonesia’s president, Susilo Bambang Yudhoyono. Even if Mr Bakrie fails, as he probably will, to become Indonesia’s next president, he and his party are likely to remain a strong influence on the government.

But Mr Bakrie is not universally loved in his homeland. He prospered under Suharto, the corrupt autocrat who ruled from 1967 to 1998. More recently, his firms have fought allegations of underpaying taxes. And a mud volcano that erupted in East Java in 2006, burying 14,000 homes, was blamed on a Bakrie oil and gas firm drilling nearby. (At the time, Mr. Bakrie was the minister for social welfare.) Mr Rothschild should prepare for a bumpy mix of politics and business.

from PRINT EDITION | Business

Welcome All of You

Cari di Blog Ini