Arsip Blog

Rabu, 09 Desember 2009

B(erau_coal)UMI ... 091209

09/12/2009 - 14:31
Investor Sebaiknya Tunggu Kabar BUMI
Asteria


(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Aksi korporasi BUMI yang memberi pinjaman ke PT Recapital Advisors sebesar US$300 juta, dinilai agak ganjil. Investor pun diminta untuk menunggu kelanjutan kabar ini.

Hal ini diungkapkan Purwoko Sartono dari Panin Sekuritas. Menurutnya, aksi korporasi BUMI kali ini cukup aneh dan agak ‘lucu’. Karena BUMI yang notabene bukan bank, memberi pinjaman kepada pihak lain.

Padahal, BUMI sendiri sedang membutuhkan dana yang besar untuk beberapa ekspansinya. “Saat ini yang menjadi pertanyaan adalah berapa tingkat bunganya, karena untuk utang US$1,9 miliar ke CIC, BUMI mendapatkannya dengan biaya sebesar 19% per tahun,” ujarnya, Rabu (9/12).

Seperti diketahui, BUMI memberi pinjaman kepada PT Recapital Advisors sebesar US$300 juta sebagai biaya awal akuisisi 90% saham PT Berau Coal senilai US$1,48 miliar. Recapital akan mengakuisisi Berau melalui anak perusahaan PT Bukit Mutiara, dengan kepemilikan 99,6% saham.

BUMI memperoleh dana ini dari penerbitan obligasi tukar berjangka 7 tahun pada November lalu. Selain itu, BUMI juga telah mendapat pinjaman senilai US$150 juta dari JPMorgan Chase Bank NA dan Hongkong. Direktur Keuangan BUMI, Andrew Beckham berharap, investasi ini dapat memberi keuntungan minimal 25%.

Di sisi lain, Recapital telah menunjuk Credit Suisse untuk mengatur fasilitas utang hingga US$600 juta. Pinjaman itu terbagi menjadi 2 bagian, yaitu OpCo dan HoldCo masing-masing senilai US$300 juta.

Fasilitas OpCo akan dibukukan anak usaha Berau, Empire Capital, untuk membiayai pelunasan lebih cepat obligasi US$325 juta. Sedangkan fasilitas HoldCo ditujukan ke Bukit Mutiara untuk membiayai saham Berau.

Bagi Purwoko, aksi korporasi BUMI memang kerap sulit dimengerti. Terkait kasus ini, Purwoko mempertanyakan, kenapa bukan BUMI saja yang membeli perusahaan tambang batubara Berau Coal, bila dapat memberi return 25%.

Dalam beberapa kejadian terakhir, langkah yang diambil BUMI ternyata bisa menjadi berita baik, terlihat dari harga saham yang menguat. Purwoko pun menyarankan investor menunggu kejelasan lebih lanjut. “Mungkin jawabannya akan terungkap di hari-hari mendatang. Semoga berupa berita baik. Rekomendasi beli di level bawah untuk BUMI,” paparnya.

Hal senada juga diungkapkan Kim Eng Securities yang menyarankan investor mencermati perkembangan BUMI, terutama terkait aksi korporasinya yang sangat banyak. “Hold untuk BUMI. Sebaiknya tunggu perkembangan lebih lanjut,” katanya.

Kepala Riset BNI Securities Norico Gaman sebelumnya sempat menuturkan, BUMI mempunyai kepentingan tersendiri terhadap Berau Coal. Pasalnya, baru kali ini BUMI berperan sebagai perantara perdagangan batubara. "Kalau memang tidak ada kepentingan di Berau, untuk apa mereka merencanakan aksi itu," ucapnya.

Lebih jauh Norico memprediksi, Berau cukup prospektif, dengan cadangan batubara besar yang kualitasnya setara dengan PT Arutmin, anak usaha BUMI. Sedangkan produksi batubara Berau mencapai 20 juta ton per tahun. [mdr]
Indonesia's Recapital to pay $1.48 bln for Berau-source
Wed Dec 9, 2009 12:48am EST
Related News
Indonesia's Bumi eyes marketing deal for Berau Coal
Thu, Dec 3 2009
Malaysia PM wants 5 pct growth next year
Thu, Nov 12 2009
UPDATE 1-Recapital set to buy Indonesia's Berau Coal-sources
Tue, Oct 20 2009
Recapital nears deal to buy Berau Coal-sources
Tue, Oct 20 2009
Stocks

PT Bumi Resources Tbk
BUMI.JK
Rp. 2,575.00
+100.00+4.04%
2:59pm GMT+0700

Credit Suisse Group
CSGN.VX
CHF51.10
-0.50-0.97%
4:16pm GMT+0700
SINGAPORE, Dec 9 (Reuters) - Recapital Advisors, an Indonesian investment firm, will pay $1.48 billion in cash and notes to buy coal miner PT Berau Coal, $300 million of which is coming from rival miner Bumi Resources (BUMI.JK), a source familiar with the deal said on Wednesday. Two sources, who declined to be identified because the deal is not public, said Credit Suisse (CSGN.VX) is arranging a $600 million loan to help finance a deal for Indonesia's fourth-largest coal producer.

A spokesman for Bumi, Indonesia's largest coal producer and controlled by the politically connected Bakrie Group, told Reuters on Wednesday that the firm had "possible intent" to take part in the Berau acquisition, but declined to comment further.

Recapital was not immediately available to comment, while Berau declined to comment.

Recapital said last month it signed the Berau deal on Nov. 27 and the transaction would be completed in a month. It did not give a value for the deal. (Reporting by Harry Suhartono, editing by Neil Chatterjee & Ian Geoghegan)
Indonesia's Bumi eyes marketing deal for Berau Coal
Thu Dec 3, 2009 8:16am EST
Related News
Japan 2010 coal imports seen flat, India's robust -industry
Thu, Dec 3 2009
Indonesia forex reserves at $65.84 bln - c.bank
Thu, Dec 3 2009
U.S miner seeks to boost Asian coal sales
Thu, Dec 3 2009
UPDATE 1-Indonesia 2010 cement consumption seen up -Indocement
Wed, Dec 2 2009
Indonesia United Tractors sees '10 revenue up 15 pct
Wed, Dec 2 2009
Stocks

PT Bumi Resources Tbk
BUMI.JK
Rp. 2,575.00
+100.00+4.04%
2:59pm GMT+0700
JAKARTA, Dec 3 (Reuters) - Indonesian coal miner PT Bumi Resources Tbk (BUMI.JK) said on Thursday it is in talks to be the exclusive marketing agent for coal produced by unlisted coal miner Berau Coal.

ENERGY

Bumi, which is controlled by the politically connected Bakrie group, is discussing the deal with investment firm Recapital Advisors, which recently acquired a stake in Berau Coal, the country's fifth-largest coal producer.

"We want to do the marketing, to be the exclusive marketing agent," Bumi's Chief Financial Officer, Andrew Beckham, told reporters. "We can market the coal if they want, if the discussions are favourable."

He added that the coal may be marketed to India and China as the two countries are the biggest markets at the moment.

"There will be some domestic, but they've already got domestic contracts. And you have to understand, they have contracts that they must honour," said Beckham.

He declined to disclose the details of the arrangement.

Indonesia is the biggest exporter of thermal coal and is a key supplier to North Asia, India and increasingly China. (Reporting by Tyagita Silka; Editing by Sara Webb)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini