Arsip Blog

Sabtu, 28 November 2009

investor BUMI GA KAPOK juga ... 281109

28/11/2009 - 08:32
Analis Enggan Melakukan Prediksi
BUMI Selalu Kejutkan Pasar
Asteria


(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – Grup Bakrie yang kerap membuat aksi korporasi mengejutkan tak hanya membingungkan pelaku pasar. Analis pun enggan membuat prediksi grup Bakrie, terutama BUMI terkait volatilitas yang di luar dugaan.

Misalkan saja Suryadi Chandra Kasih. Analis dari eTrading Securities ini sudah beberapa bulan terakhir enggan memberi perkiraan pergerakan harga saham PT Bumi Resources (BUMI).

“Bagaimana kita bisa menentukan saham BUMI. Selama ini manajemennya kurang transparan atas aksi korporasi yang dilakukan. Sementara kita memiliki investor yang cukup banyak di grup Bakrie,” tuturnya, kemarin.

Menurutnya, saham primadona ini sulit diprediksi. Selain selalu melakukan aksi secara tiba-tiba, pihak manajemen jarang memberi penjelasan yang memadai. “Alhasil, pasar pun selalu menjadikannya sebagai obyek spekulasi,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Adrian Rusmana, analis pasar modal dari Kresna Securities. Ia menilai, saham BUMI sulit ditebak, karena aksi korporasinya berubah-ubah dengan cepat. “Karena itu susah memastikan pergerakan saham BUMI,” ulasnya.

Lihat saja aksi BUMI awal tahun ini. Sementara pembelian kembali (buy back) saham yang direncanakan pada 2008 belum terealisasi, BUMI sudah melakukan akuisisi. Melalui anak usahanya, PT Bumi Resources Investment, BUMI mengambil alih 75,74% saham PT Fajar Bumi Sakti senilai Rp2,48 triliun, 44% saham PT Darma Henwa Rp2,41 triliun, dan 84,46% saham PT Pendopo Energi Rp1,3 triliun. Total akuisisi Rp6,18 triliun.

Pasar menilai akuisisi BUMI ini tidak perlu dan terlalu mahal sehingga berpotensi meningkatkan risiko keuangan. Otoritas bursa pun mempertanyakan apakah transaksi ini termasuk material dan benturan kepentingan. Bahkan analis dari sekuritas asing seperti JP Morgan dan Macquarie memangkas target harga BUMI 1 tahun ke depan.

Ketika itu, analis Panca Global Securities Betrand Raynaldi menuding aksi akuisisi BUMI sengaja untuk menolong induknya, PT Bakrie & Brothers (BNBR). Hal ini mengingat kemampuan dana BUMI masih besar dan mempunyai ruang menambah utang.

“Ini salah satu cara mereka (BNBR) mengambil dana BUMI. Jadi kesannya BUMI diambil cashnya melalui cara akuisisi,” katanya. Sentimen negatif ini berlangsung cukup lama, hingga akhirnya surut seiring rilisnya peningkatan kinerja perseroan terdorong kenaikan harga minyak dan batubara.

Lalu, beredar kabar bahwa BUMI mendapat suntikan dana raksasa bisnis China, CIC dalam bentuk instrumen utang jangka panjang, menambah daftar aksi perseroan selanjutnya.

BUMI pun bergoyang melemah seiring kekhawatiran akan kemampuan membayar kewajibannya yang dibebani bunga tinggi serta penjaminan aset berharga perseroan, yaitu KPC dan Arutmin.

Ketika itu, Hedge Fund Asia, Vier Jamal menuturkan, saham Bakrie terimbas sentimen negatif BUMI, yang terkoreksi secara major, dipicu saham tutup sendiri (crossing) PT CLSA Indonesia di level Rp1.700. Crossing dilakukan setelah BUMI spekulasi di level 2.600. “Pasar mensinyalir selisih itu digunakan untuk membayar repo BUMI,” katanya.

Sementara analis Bhakti Securities Reza Nugraha memprediksi BUMI masih akan terus melakukan pinjaman. Padahal, dengan cadangan saat ini, sebenarnya BUMI tidak perlu melakukan akuisisi dalam 1-2 tahun ini.

Ia pun menyarankan, BUMI fokus pada beban utang baru dengan pendanaan CIC, sebaiknya tidak digunakan untuk akuisisi. “Kecuali akuisisi untuk diversifikasi produk, misalnya emas,” tuturnya.

Terkait pergerakan BUMI, Felix Sindhunata mengakui bagi investor jangka pendek, pergerakan BUMI memang mengkhawatirkan. Pasalnya, emiten ini sangat tergantung pada sentimen dan rasionalitas pasar.

Namun, sesuai karakter emiten tersebut, maka sentimen terhadap BUMI hanya bersifat sementara. “Pada saat naik, sangat kencang dan turunnya pun kencang. Ini tergantung pasar, apakah mereka akan termakan isu-isu korporasi atau tidak,” katanya.

Felix pun mengakui, aksi-aksi korporasinya memang cenderung membingungkan. Namun, ia menyarankan pasar mencermati seksama sebelum bertransaksi. “Grup Bakrie sangat cerdik dalam financial enggineering,” ulasnya.

Hal senada diungkapkan Yanuar Rizky, analis Independen-Aspirasi Indonesia Research Institute (AIR Inti), yang mengaku sulit memberi rekomendasi. Ia menyarankan investor mencermati benar-benar setiap aksi korporasi BUMI, karena saham ini sangat sensitif sentimen.

“Kayak makan cabe rawit, walaupun merasa pedas, begitu saham BUMI bergerak sedikit, misalnya ada isu Soros, pasti akan ngikutin. Jadi, susah kita ngomongnya. Tergantung kesukaan. Namun, kalau ngikutin, kemudian kelelep, ya jangan menyalahkan,” ucapnya.

Kendati demikian, Yanuar tetap mengembalikan seluruh keputusan berinvestasi ke tangan investor. Ia pun meminta pelaku pasar lebih berhati-hati, apalagi BUMI menarik untuk digoyang.

“Jadi harus pintar secara teknikal. Kalau senang menggoreng, ikutin saja. Tapi, kalau tidak berpengalaman, ya seperti di iklan-iklan, don’t try this at home ,” katanya. [mdr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini