Arsip Blog

Rabu, 25 November 2009

bumi dan asienk antara cinta dan benci ... 251109

25/11/2009 - 09:24
Irwan Ibrahim
‘Buy’ BUMI untuk Jangka Panjang

INILAH.COM, Jakarta – Menyusul koreksi teknis dua hari terakhir, pergerakan saham PT Bumi Resources (BUMI), Rabu (25/11) diprediksikan mengalami technical reboundLong term buy BUMI!
Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim mengatakan, peluang penguatanBUMI terjadi karena technical rebound menyusul koreksi teknis sebelumnya. Pelemahan harga batu bara ke level US$60-70 per metrik ton dan harga minyak dunia di level US$77 per barel  telah menekan pergerakan saham ini dalam dua hari terakhir.

Namun, koreksi itu hanya sesaat dan hari ini, harga energi secara umum akan menguat sehingga menjadi sentimen positif bagi saham sejuta umat ini. “BUMI akan menguat ke level resistance Rp2.700 dan Rp2.550 sebagai level support-nya,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.
Pada Selasa (24/11), saham BUMI ditutup melemah Rp125 (4,54%) menjadi Rp2.625, dengan intraday Rp2.750 dan Rp2.550. Volume transaksi mencapai 459,9 juta unit saham, senilai Rp1,2 triliun dan frekuensi 13.962 kali. Berikut wawancara lengkapnya:
BUMI tengah menjajaki pencarian dana lagi sebesar US$300 juta pada akhir 2009 untuk menutupi kekurangan pembeliaan saham Newmont. Bagaimana pengaruhnya terhadap pergerakan sahamnya hari ini?
Semua sentimen positif dari aksi korporasi sudah diserap oleh pasar, seperti jatah 24% divestasi saham Newmont untuk BUMI dari sebelumnya 10%. Semuanya secara umum tidak ada sentimen positif lagi.

Tapi, BUMI hari ini berpotensi menguat karena technical rebound menyusul koreksi teknis sebelumnya. Pelemahan harga batu bara ke level US$60-70 per metrik ton dan harga minyak dunia di level US$76 per barel, telah menekan pergerakan BUMI dua hari terakhir. Namun, koreksi itu hanya sesaat dan hari ini, harga energi secara umum akan menguat sehingga menjadi sentimen positif bagi saham ini.
Bagaimana dampak dari aksi BUMI yang akan berinvestasi hingga US$80 juta untuk menggenjot ekspansinya di mancanegara?
Untuk saat ini belum berpengaruh positif. Pasalnya, apapun aksi korporasi BUMI, analis sudah mengetahui berapa free cash flow-nya. Investor bisa mengetahui pertumbuhan emiten ini hingga lima tahun ke depan. Karena itu, ekspansi itu baru akan berpengaruh positif tahun depan. Penjualan dikurangi harga pokok penjualan dan laba kotor dikurangi biaya administrasi baru BUMI mendapatkan free cash flow.
Kalau begitu, apa yang perlu diantisipasi pasar?
Pasar masih harus mengatisipasi kenaikan harga batu bara dan komoditas lainnya di pasar internasional. Karena, jika harga minyak naik ke level US$80 per barel atau bahkan tembus di level US$100 per barel, investor asing secara otomatis akan memborong saham BUMI.

Saat ini, BUMI masih menunggu investor asing kembali masuk ke pasar domestik dan melakukan pembelian di saham ini, sehingga bisa mengerek naik harganya lebih jauh untuk jangka panjang. Karena asing biasanya memborong dalam jumlah banyak. Sebagian besar pelaku pasar asing masih belum kembali ke pasar kita.
Selain itu, market secara umum saat ini masih mengkhawatirkan kasus Bank Century. Hal ini juga telah membuat investor melakukan aksi jual. Sentimen Century sangat negatif dan berimbas buruk ke seluruh saham. Risiko politik ini juga menjadi salah satu penghambat investor asing masuk ke bursa Indonesia.
Berapa nilai net buy asing di bursa?
Net buy asing saat ini yang tercatat di bursa senilai Rp310 miliar. Namun, angka itu tidak bisa dijadikan patokan. Investor asing yang sesungguhnya tidak bisa dideteksi karena bisa saja mereka menggunakan broker lokal. Brokernya saja yang asing, tapi pemainnya dari Indonesia. Pasar luar negeri saat ini masih berfluktusi, sehingga menjadi alasan asing belum bisa masuk ke pasar domestik. Mereka masih fokus ke saham-saham bluechips di negara masing-masing. Apalagi, harga komoditas sendiri belum menampakkan tren kenaikan. Pada sesi malam harga minyak dunia mendekati US$80 per barel tapi di pagi hari hari kembali ke US$76 per barel.

Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?
BUMI akan menguat ke level resistance Rp2.700 dan Rp2.550 sebagai level support-nya. ‘Beli’ BUMI untuk jangka panjang, long term buy dan buy on weakness untuk jangka pendek. Namun pemain jangka pendek berisiko karena hari Jumat (27/11) merupakan hari libur. Jangka pendek tidak cocok. [ast]
25/11/2009 - 08:56
Investor Bisa Beli Jangka Panjang
BUMI Potensi Rebound Teknikal
Ahmad Munjin


(inilah.com /Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Pergerakan saham PT Bumi Resources (BUMI), Rabu (25/11) diprediksi technical rebound menyusul koreksi teknis dua hari terakhir. Saatnya long term buy BUMI!

Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan potensi penguatan BUMI hari ini semata technical rebound menyusul koreksi teknis sebelumnya. Pelemahan harga batubara ke level US$60-70 per metrik ton dan harga minyak dunia di level US$77 per barel telah menekan pergerakan saham ini dua hari terakhir.

Namun, koreksi itu hanya sesaat mengingat harga energi secara umum akan menguat sehingga menjadi sentimen positif bagi saham sejuta umat ini. “BUMI akan menguat ke level resistance Rp2.700 dan Rp2.550 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (24/11).

Kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp125 (4,54%) menjadi Rp2.625 dibandingkan sebelumnya pada level Rp2.750. Harga tertingginya mencapai Rp2.750 dan terendah Rp2.550. Sedangkan volume transaksi mencapai 459,9 juta unit saham senilai Rp1,2 triliun dan frekuensi 13.962 kali.

Lebih jauh Irwan mengatakan, penguatan BUMI hari ini hanya semata technical rebound. Pasalnya, semua sentimen positif dari aksi korporasi sudah diserap oleh pasar seperti jatah 24% divestasi saham Newmont untuk BUMI dari sebelumnya 10%. “Semuanya secara umum tidak ada sentimen positif lagi,” ujarnya.

Begitu juga dengan sentimen dari rencana BUMI yang akan menginvestasikan hingga US$80 juta untuk menggenjot ekspansinya di manca negara. Sebesar US$60 juta akan dialokasikan untuk mengembangkan bisnis bijih besi di Mauretania. Sedangkan sisanya, bisnis berlian di Liberia. “Ini belum berpengaruh positif,” imbuhnya.

Apapun aksi korporasi BUMI, lanjut Irwan, analis sudah mengetahui berapa free cash flow-nya. Investor bisa mengetahui berapa pertumbuhan emiten ini hingga lima tahun ke depan.

Karena itu, ekspansi itu baru akan berpengaruh positif tahun depan. “Penjualan dikurangi harga pokok penjualan dan laba kotor dikurangi biaya administrasi, baru kemudian BUMI mendapatkan free cash flow,” timpalnya.

Pasar juga masih menunggu kenaikan harga batubara dan komoditas lainnya di pasar internasional. “Jika harga minyak naik ke level US$80 per barel atau bahkan tembus di level US$100 per barel, investor asing secara otomatis akan memborong saham BUMI,” paparnya.

Saat ini, saham BUMI masih menunggu investor asing kembali masuk ke pasar domestik dan melakukan pembelian di saham ini sehingga bisa mengerek naik harganya lebih jauh untuk jangka panjang. Asing biasanya memborong dalam jumlah banyak. “Sebagian besar pelaku pasar asing masih belum kembali ke pasar kita,” paparnya.

Net buy asing saat ini yang tercatat di bursa senilai Rp310 miliar tidak bisa dijadikan patokan. Investor asing sesungguhnya tidak bisa dideteksi karena bisa saja mereka menggunakan broker lokal. “Brokernya saja yang asing, tapi pemainnya dari Indonesia,” tukasnya.

Pasar luar negeri saat ini masih berfluktuasi sehingga menjadi alasan asing belum bisa masuk ke pasar domestik. Mereka masih fokus ke saham-saham bluechips di negara masing-masing.

Apalagi, harga komoditas sendiri belum menampakkan tren kenaikan. “Pada sesi malam harga minyak dunia mendekati US$80 per barel tapi di pagi hari hari bisa kembali ke US$76 per barel,” timpalnya.

Selain itu, market secara umum saat ini masih khawatir terhadap kasus Bank Century. Hal ini juga telah membuat investor melakukan aksi jual. “Sentimen Century sangat negatif dan berimbas buruk ke seluruh saham,” tuturnya. “Risiko politik ini juga menjadi salah satu penghambat investor asing masuk ke bursa Indonesia.”

Untuk itu, Irwan merekomendasikan ‘beli’ BUMI untuk jangka panjang dan buy on weakness untuk jangka pendek. Namun pemain jangka pendek berisiko karena hari Jumat (27/11) merupakan hari libur. “Jangka pendek tidak cocok,” tukasnya. [mdr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini