Arsip Blog

Selasa, 24 November 2009

ANALIS PRO jadi BLOON di depan nasib BUMI...(6)

24/11/2009 - 10:01
Nico Simatupang
‘Hold’ Saja untuk BUMI!

INILAH.COM, Jakarta – Seiring sentimen negatif dari penerbitan kembali obligasi konversi senilai US$300 juta, akan menekan saham PT Bumi Resources (BUMI), pada Selasa (24/11). Rekomendasi hold untuk BUMI!

Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Aset Manajemen mengatakan, pelemahan BUMI dipicu sentimen negatif dari aksi korporasi berupa penerbitan kembali obligasi.

Pasar mengkahwatirkan besaran utang perseroan dapat membebani kas BUMI.

Melalui anak usahanya Enercoal Resources, emiten ini akan menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 300 juta. Obligasi ini berjangka waktu 7 tahun dengan kupon bunga 5%. Utang BUMI 2009 ini yang mencapai US$2,875 miliar, pada 2016 menjadi US$4,689 miliar.

“Karena itu, BUMI akan melemah ke level support Rp2.500-2.400 dan Rp2.800 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdangan Senin (23/11), BUMI ditutup melemah Rp75 (2,65%) menjadi Rp2.750, dengan intraday Rp2.875 dan Rp2.675. Volume transaksi menacpai 565,2 juta unit saham, senilai Rp1,5 triliun dan frekuensi 15.307 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

BUMI kembali berencana menerbitkan obligasi konversi senilai US$300 juta. Bagaimana pengaruhnya terhadap pergerakan emiten hari ini?

Akan melemah. Obligasi itu kan tambahan utang yang artinya menjadi sentimen negatif. Melalui anak usahanya Enercoal Resources, BUMI akan menerbitkan obligasi konversi senilai US$ 300 juta. Semoga saja aset-aset yang dibeli perseroan segera berproduksi sehingga memberikan hasil bagi perusahaan ini.

Seberapa besar risiko utang BUMI tidak terbayar?

Utang BUMI sangat berisiko. Di satu sisi perusahaan meminjam uang dalam jumlah besar, tapi pada saat bersamaan melakukan akuisisi. Seperti akuisisi Herald yang sampai saat ini belum berproduksi, dan baru 2011 akan menghasilkan produk.

Tapi, memang sudah ada beberapa perusahaan yang diakuisisi BUMI yang sudah berproduksi seperti Berau Coal dan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). Jika harga komoditas naik, sementara produksi anak usaha yang diakuisisinya juga naik, utang-utang BUMI bisa terbayar. Taruhan BUMI di harga batu bara, seng dan nikel seperti yang di Dairi itu.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan melemah ke level support Rp2.500-2.400 dan Rp2.800 sebagai level resistance-nya.

Sampai kapan tren pelemahan BUMI?

Kecenderungan pelemahannya akan terus berlangsung, seiring pengaruh emiten-emiten Grup Bakrie yang gencar berutang. Saat ini, hampir semua perusahaan Bakrie Group berutang misalnya UNSP (PT Bakrie Sumatera Plantations), dan ENRG (PT Energi Mega Persada) yang juga akan mengeluarkan obligasi. Bahkan, PT Bakrie and Brothers (BNBR) sendiri juga akan mengeluarkan obligasi.

Setelah isu utang reda, saham-saham The Seven Brothers akan menguat kembali termasuk BUMI. Sentimen negatifnya akan berakhir jika investor melihat Grup ini tidak lagi perlu mengutang lagi. Misalkan BUMI baru lebih terpengaruh harga batubara yang kini naik ke level US$82 per metrik ton di New Castle.

Hari ini pun bisa saja BUMI menguat, karena kenaikan harga batu bara. Tapi menurut saya, BUMI masih akan melanjutkan pelemahan, tinggal tergantung seberapa besar efek tambahan utang itu terhadap pergerakan sahamnya. Dalam beberapa hal, atau kadang-kadang berita aksi korporasi BUMI tidak konsisten.

Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?

Saya rekomendasikan hold untuk BUMI sambil melihat kepastian tambahan obligasinya itu karena semuanya belum benar-benar resmi sampai ujung. [ast]


24/11/2009 - 12:58

IHSG Sesi Pertama
BUMI Kembali Ganduli Bursa
Ahmad Munjin
INILAH.COM, Jakarta – Siang ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih melanjutkan pelemahannya. Koreksi saham BUMI memimpin pelemahan saham tambang dan saham grup Bakrie lainnya.
Pada perdagangan Selasa (24/11) sesi pertama, IHSG  melemah tipis 4,914 poin (0,20%). Indeks LQ 45 juga turun 0,905 poin (0,18%) ke level 488,906. Perdagangan berjalan moderat dengan volume transaksi 3,156 miliar lembar saham, senilai Rp 2,163 triliun dengan frekuensi 50.086 kali. Sebanyak 50 saham naik, 110 turun dan 66 stagnan.

Sektor properti memimpin penurunan, dengan jatuh 1,9%, disusul sektor tambang yang terkoreksi 1,4%, kemudian konsumsi 0,5%, perdagangan 0,4% dan finansial 0,04%. Sedangkan beberapa sektor masih terpantau menguat, seperti perkebunan, aneka industri, infrastruktur, industri dasar, dan manufaktur.
Saham grup Bakrie mendominasi perdagangan, dengan saham PT Bumi Resources (BUMI) mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp708 miliar atau 32,7% dari total perdagangan siang ini.
Adapun BUMI ditutup turun 4,54% ke level Rp2.625, PT Energi Mega Persada (ENRG) turun 5,3% ke level Rp270, PT Bakrie Telecom (BTEL) melemah 3,06% ke Rp158 dan PT Bakrie & Brothers (BNBR) turun 3,8% ke Rp102.

Budi Ruseno, Kepala Riset Bhakti Capital Securities memperkirakan, IHSG hingga sore nanti akan mixed seiring bervariasinya bursa regional. Hal ini akibat harga minyak dunia yang pagi tadi turun 0,723% menjadi US$76,2 per barel 
“Secara teknikal, indeks akan bergerak pada kisaran support 2.462 dan 2.500 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (24/11).
Perkembangan pasar juga tidak terlepas dari sentimen faktor internal yang masih variasi. Sisi positifnya, beberapa perusahaan pada triwulan ketiga mencatatkan kinerja baik dalam laporan keuangannya.
Tapi, di sisi lain proses kepastian hukum menyusul sikap Presiden Yudhoyono yang apatis terkait kisruh KPK-Polri-Bank Century direspon negatif oleh pasar. “Padahal, pasar berharap SBY sendiri yang mengambil keputusan tegas, agar persoalan kisruh hukum antar lembaga negara itu segera tuntas,” tukasnya.

Hal ini terefleksi pada perdagangan indeks di sesi pagi yang sempat menguat 10 poin ke level tertingginya 2.491,865, kendati sempat anjlok ke level 2.478,996. Artinya, pergerakan indeks masih variatif. “Di sisi lain, nilai tukar rupiah  sempat juga melemah di atas 9.500 per dolar AS,” ulasnya.
Menurut Budi, pasar masih aktif pada saham-saham sektor agribisnis dan penunjang infrastruktur. Namun, emiten-emiten tersebut masih menyisakan risiko besar karena pergerakan pasar mixed. Investor pun menunggu perkembangan lebih lanjut.

“Pasar masih sangat hati-hati memanfaatkan kedua sektor saham tersebut hanya untuktrading,” paparnya.
Dalam kondisi ini, saham-saham pilihannya adalah PT Astra Agro Lestari (AALI), PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), PT United Tractors (UNTR), PT Semen Gresik (SMGR), dan PT Holcim Indonesia (SMCB). “Saya rekomendasikan trading saja untuk saham-saham tersebut,” pungkasnya.

Di sisi lain, Henan Putihrai memprediksikan, IHSG kemungkinan akan bergerak mixed. Minimnya insentif diperkirakan membuat investor melakukan wait and see. “IHSG hari ini kemungkinan akan bergerak pada kisaran 2.454/2.468-2.495/2.509,” ungkapnya dalam riset hariannya.
Sedangkan dari teknikal, khususnya dengan menggunakan candlestick chart, indeks membentuk pola spinning tops. Secara teoritis, pola ini mengindikasikan neutral lines.
Jika indeks hari ini benar-benar melemah, target penurunannya level 2.460 yang merupakan support line CD dari uptrend channel ABCD. “Namun apabila indeks sanggup bertahan maka target kenaikannya adalah level 2.511 yang merupakan upper line dari bollinger band,” paparnya.
Siang ini, beberapa saham yang turun harganya antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang melemah Rp50 menjadi Rp7.600, PT Aneka Tambang (ANTM) turun Rp50 menjadi Rp2.350, PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 50 ke Rp 4.650, dan PT Adaro Energy (ADRO) turun Rp 40 ke Rp 1.730. [mdr]





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini