Arsip Blog

Rabu, 27 Januari 2010

yang tertekan, bumi, tetap menarik seh ... 270110

27/01/2010 - 10:01
Irwan Ibrahim
Koreksi Minyak Negatif bagi BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Rabu (27/1) diprediksikan melanjutkan pelemahan. Pengetatan likuiditas di China dan AS memicu koreksi harga komoditas. Anak usaha Bakrie ini pun tertekan.

Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan potensi pelemahan saham BUMI hari ini seiring pelemahan harga minyak mentah dunia yang saat berada di level US$74 per barel . Irwan bahkan memperkirakan harga minyak bisa menyentuh level US$71. Pemicunya adalah pengetatan likuiditas di China dan AS.
“Karena itu, BUMI akan mengarah ke level support Rp2.475 dan Rp2.625 sebagai levelresistance-nya,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Selasa (26/1) saham BUMI ditutup melemah Rp100 (3,73%) menjadi Rp2.575 dengan intraday Rp2.675 dan Rp2.500. Volume transaksi mencapai 503,2 juta unit saham, senilai Rp1,2 triliun dan frekuensi 12.116 kali. Berikut wawancara lengkapnya.
Bagaimana peluang pergerakan BUMI hari inii?
Saya kira masih melanjutkan pelemahan. Ini masih disebabkan negatifnya sentimen market seiring pengetatan laikuiditas di China. Banyak perbankan di negara itu yang melakukan rights issue akibat keringnya likuiditas. Sebelumnya, otoritas moneter di China sudah menyerukan perbankan untuk membatasi kucuran kredit. Kemudian disusul kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 16% dari 15,5% sebelumnya.
Akan bergerak di kisaran berapa?
BUMI akan mengarah ke level support Rp2.475 dan Rp2.625 sebagai level resistance-nya. Sebab, dengan ketatnya likuiditas di pasar regional dan global, tren harga komoditas juga turun. Harga minyak saat ini berada di level US$74 per barel. Ini akan berpengaruh negatif pada saham-saham sektor komoditas termasuk BUMI. Apalagi harga minyak akan terus turun ke level US$72 per barel. Bisa-bisa ke US$71.
Apakah laporan produksi BUMI, dimana penjualan batubara tumbuh 12,81% dan produksi batubara naik 6,89%, masih dapat mengangkat emiten ini?
Selain sentimen market, tidak ada lagi yang berpengaruh pada pergerakan saham BUMI. Termasuk, aksi korporasi sekalipun. Pemicunya adalah sentimen negatif China, yang diperparah aksi pemerintah Obama yang memperketat sistem perbankan di AS.
Obama berencana membatasi perbankan membiayai hedge funds dan private equity funds. Obama juga berencana memecah korporasi perbankan yang terlalu besar. Tujuannya sih baik, untuk membatasi tingkat risiko.
Namun, pasar saat ini merespons negatif. Sebab, rencana Obama itu akan mengerek naik cost of fund perbankan. Apalagi, langkah ini kemungkinan juga akan diikuti FOMC (Federal Open Market Committee) pada pertemuan mendatang. Kemungkinan tingkat suku bunga AS mulai naik. Investor mulai khawatir kemungkinan dinaikkannya suku bunga.
Alhasil, investor saat ini beralih ke portofolio dolar AS sehingga bursa saham di seluruh dunia rontok. Invetor juga keluar dari komoditas. Hal ini ditandai dengan koreksi harga minyak. Ini tentu sangat negatif bagi BUMI. Di sisi lain, indeks lokal pun akan terus turun seiring berlarut-larutnya penanganan skandal Bank Century oleh Pansus DPR.
Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?
Saya rekomendasikan wait and see saja. Saya khawatir BUMI akan menuju level Rp2.200 hingga pekan depan. Tapi, pasar jangan buru-buru cut loss sambil menunggurebound berikutnya setelah data fundamentalnya dirilis. Kira-kira bulan Maret, BUMI akan naik lagi. Justru, pada saat pelemahan, merupakan kesempatan emas bagi investor untuk melakukan pembelian.[jin/ast]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini