Arsip Blog

Jumat, 29 Januari 2010

analis pro jadi BLOON @bumi lage (12) ... 290110

Jumat, 29 Januari 2010 | 16:45

PASAR

Sentimen Global dan Aksi Jual Tekan IHSG



JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak mampu mempertahankan kenaikan yang kemarin diraihnya. Sentimen buruk dari bursa global membuat investor memilih menjual saham-saham yang dimilikinya sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok 0,33% ke level 2.610,8.

Badai aksi jual masih menerpa saham-saham blue chip (unggulan). Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), misalnya, longsor 2,94% menjadi Rp 2.475. Broker yang paling banyak menjual saham BUMI adalah Kresna Graha Sekurindo, yaitu senilai Rp 101,5 miliar lalu CIMB Securities Indonesia Rp 29,4 miliar, dan Artha Securities Indonesia Rp 24,1 miliar. Saham PT United Tractor Tbk (UNTR) juga melorot 2,03% menjadi Rp 16.850. Aksi jual saham UNTR dilakukan oleh RBS Asia Securities senilai Rp 20,2 miliar, CIMB Securities Indonesia Rp 8,3 miliar, dan CLSA Indonesia Rp 8,3 miliar.

Berikutnya saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang tergelincir 1,88% menjadi Rp 31.400, saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) lengser 1,85% menjadi Rp 23.850, dan PT Bank Danamon Tbk (BDMN) rontok 2,02% menjadi Rp 4.850.

Adapun saham-saham yang menjadi pengerek indeks adalah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang naik 0,54% menjadi Rp 9.350, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkerek 2,56% menjadi Rp 5.000, dan PT Pacific Utama Tbk (LPPF) melambung 10,09% menjadi Rp 3.000. Kemudian, ada saham PT Bank Ekonomi Tbk (BAEK) yang melejit 11,11% menjadi Rp 3.000 dan PT Bank Kesawan Tbk (BKSW) meroket 16,90% menjadi Rp 830.

Transaksi perdagangan saham sepanjang hari ini terbilang masih di bawah rata-rata transaksi selama Januari 2010 yang sebesar Rp 4 triliun. Nilai transaksi saham hanya terkumpul Rp 3,24 triliun dengan volume saham yang ditransaksikan sebanyak 3,45 miliar saham. Sebanyak 40 saham harganya naik, 125 saham harganya turun, dan 69 saham harganya tetap.

Di Asia, indeks Nikkei 225 turun paling dalam 2,08% ke level 10.198,04 karena pengaruh data pengangguran AS yang meningkat dan melorotnya kinerja emiten sektor teknologi informasi (TI). Indeks Hang Seng tergelincir 1,15% ke level 20.121,99, indeks Shanghai turun 0,16% ke level 2.989,29, indeks Strait Times turun 0,51% ke level 2.743,75, dan indeks Kospi anjlok 2,44% ke level 1.602,43.



Hari Widowati kontan
28/01/2010 - 10:01
Parto Kawito
‘Wait and See’ Saja untuk BUMI!
INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Kamis (28/1) diprediksikan melanjutkan pelemahan. Sentimen negatif market, harga minyak, rencana rights issue, pajak, serta reklamasi bekas tambang anak usahnya, menjadi katalis.
Parto Kawito, Kepala Riset Infovesta Utama mengatakan, BUMI hari ini berpotensi melemah karena banyaknya sentimen negatif, baik dari market maupun dari sisi perseroan sendiri. “Karena itu, BUMI akan mengarah ke level support Rp2.400-2.300 dan Rp2.525 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada Ahmad Munjin dariINILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Rabu (27/1) saham BUMI melemah Rp100 (3,88%) menjadi Rp2.475 dengan intraday Rp2.600 dan Rp2.450. Sedangkan volume transaksi mencapai 352,1 juta unit saham senilai Rp885,04 miliar dan frekuensi 8.340 kali. Berikut wawancara lengkapnya.
Setelah 6 hari mengalami koreksi, apakah BUMI akan melemah hari ini?
Sepertinya akan begitu. Salah satunya faktornya adalah negatifnya sentimen market akibat pengetatan likuiditas di China. Selain itu, saham ini tersandung masalah reklamasi lahan bekas tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang notabene anak usaha BUMI. Seperti halnya PT Adaro Energy (ADRO), bekas penggalian tambang KPC di Kalimantan Timur tidak ditutup kembali.


Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level support Rp2.400-2.300 dan Rp2.525 sebagai level resistance-nya. Secara tren, saham ini menujukkan pelemahan. Jika level support 2.400 bisa ditembus hari ini, level support berikutnya berada di level Rp2.300. Sebab, BUMI juga mendapat sentimen negatif dari masalah tunggakan pajak senilai Rp2,1 triliun. Perseroan malah melakukan semacam protes ke Dirjen Pajak. Kalau sebuah perusahaan bermasalah dari sisi pajak kan repot juga itu.

Bagaimana dengan rencana rights issue?

Ya. Pelaku pasar saat ini masih menunggu kepastian rights issue. Jika rencana tersebut tidak jadi dilaksanakan, bisa jadi akan menjadi sentimen positif. Sebab, rights issue akan memaksa pemegang saham publik untuk menambah dana agar persentase kepemilikan sahamnya tidak berkurang.

Tapi, rights issue juga sebenarnya bisa berpengaruh positif dan juga bisa berpengaruh negatif tergantung di level harga berapa. Jika harga rights issue tidak terlalu murah, atau bahkan jauh di atas harga saat ini, bisa memicu spekulasi sehingga harga sahamnya bisa dikerek naik ke atas terlebih dahulu sebelum rights issue dilaksanakan.

Misalnya, harga BUMI saat ini di level Rp2.475. Sedangkan harga rights issue di level Rp2.600. Orang tidak akan bisa beli kecuali jika dinaikkan harganya ke level Rp2.800. Sebaliknya, jika ternyata harga rights issue di level Rp2.000 akan sangat negatif pengaruhnya. Harga saham yang dimiliki bisa turun.

Jika dilihat lebih jauh kalaupun BUMI tidak melakukan rights issue sebenarnya bermasalah juga. BUMI akan kesulitan mendapatkan dana. Akan mendapatkan dari mana untuk capital expenditure-nya.

Sentimen market masih negatif?

Berita regional saat ini kurang positif seiring pengetatan likuditas di China dan pembatasan gerak perbankan oleh pemerintahan Obama. Buktinya kemarin, bursa regional turun tajam dan hanya IHSG  yang mendingan. Akibatnya, pelemahan saham bukan hanya terjadi pada BUMI melainkan juga terjadi pada Grup Bakrie secara keseluruhan. Namun, pelemahan BUMI merupakan yang terdalam di grupnya.
Lalu, bagaimana pergerakan harga minyak?
Tren harga minyak juga melemah yang saat ini masih di level US$74 per barel . Harga minyak sendiri trennya diperkirakan masih akan melanjutkan pelemahan. Apalagi, cadangan minyak di AS dieperkirakan masih akan naik. Padahal sebelumnyainventory-nya sudah naik 1,3 juta barel.

Hal ini diperparah data pertumbuhan di Korea yang lebih rendah dari prediksi semua analis. Padahal konsumsi Korea merupakan rangking keempat terbesar di Asia. Ternyata pertumbuhannya di bawah ekspektasi sehingga menjadi sentimen negatif bagi harga minyak. Dipastikan akan negatif juga bagi BUMI. Level support harga minyak sendiri berada di angka US$69 untuk kembali mengarah ke penguatan. Itulah sentimen-sentimen negatif di pasar selain faktor pengetetan likuiditas di China.
Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?
Saya sarankan agar pasar lebih baik wait and see terlebih dahulu dan masuk kembali di level support Rp2.100-2.150. Sebab, tren saat ini masih turun. Level support 2.100, merupakan level murah untuk BUMI sehingga investor bisa membelinya. Jika ternyata level ini berhasil ditembus ke bawah, BUMI bisa melemah ke level Rp1.700. Tapi saya rasa tidak separah itu.[jin/ast]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini