Arsip Blog

Kamis, 07 Januari 2010

ekspektasi pulih, bumi JADI SARANA AMBIL LABA juga ... 070110

07/01/2010 - 09:10
Viviet S Puteri
‘Sell on Strength’ untuk BUMI

Viviet S Puteri
INILAH.COM, Jakarta – Beberapa sentimen positif masih akan mendongkrak penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) pada Kamis (7/1). Rekomendasi sell on strength untuk emiten batubara ini!
Viviet S Puteri, research analiyst PT Anugerah Securindo Indah mengatakan, penguatan sahamBUMI saat ini disebabkan banyak indikator. Baik aksi beberapa anak usaha Grup Bakrie yang akan melaksanakan rights issue, ekspektasi permintaan batubara yang terus meningkat, naiknya harga minyak dunia dan aksi beli asing.
Karena itu, BUMI akan mengarah ke level resistanceRp2.950 dan supportRp2.600. “Banyak sekuritas asing yang menargetkan BUMI di level Rp4.000, Tapi, level Rp2.900 saja sudah merupakan saat yang tepat. Sell on strength untuk BUMI,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.


Pada Rabu (6/1) saham BUMI ditutup menguat Rp75 (2,80%) menjadi Rp2.750, dengan intraday Rp2.800 dan Rp2.675. Volume transaksi mencapai 620,2 juta unit saham senilai Rp1,6 triliun dan frekuensi 13.131 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah dua hari mengalami kenaikan tajam, bagaimana pergerakan BUMI hari ini?

Masih menguat. Tapi, ini bukan karena faktor kenaikan harga batu bara. Saham ini terangkat oleh beberapa anak usaha Grup Bakrie yang akan melaksanakan rights issue. Karena itu, harga saham dari grupnya ditarik ke atas oleh pihak yang berkepentingan agar menarik bagi investor untuk mengeksekusi rights mereka.

Bakrie Group saat ini sedang membutuhkan dana. Karena itu, jika harga sahamnya tidak jauh berbeda dari exercise-nya, investor tidak akan tertarik. Karena itu, harga sahamnya dikerek naik sehingga berpengaruh positif bagi saham BUMI. Apalagi, Bakrie Group mendominasi market. Hal ini biasa dilakukan jika mau rights issue.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.950 dan Rp2.600 sebagai level support-nya. Tapi menurut saya, kenaikan BUMI tidak setinggi ini, mengingat utang perseroan yang sangat banyak. Meski prospek ke depannya bagus, tapi kenaikannya tidak setinggi ini.

Aksi beli asing yang mulai marak, apa akan mempengaruhi BUMI juga?

Memang, penguatan BUMI juga mendapat topangan dari asing yang masuk cukup firm ke pasar domestik dua hari terakhir. Akibatnya, yang semula nilai transaksi hanya Rp2-3 triliun, sekarang sudah di atas Rp5 triliun. Karena itu, pergerakan BUMI juga mendapat pengaruh positif dari sentimen market.

Meski kemarin mengalami koreksi, indeks hari ini berpeluang akan menguat kembali 35 poin ke level resistance 2.640. Kalaupun turun, tidak akan mencapai 10 poin. Jika level resistance indeks tembus, potensi penguatan indeks menjadi lebih kuat.

Ini sangat positif bagi BUMI. Apalagi, bursa Indonesia mendapat apresiasi dari Merry lynch yang membuat out look, Indonesa merupakan pasar yang bagus dan menjanjikan return yang cukup tinggi.

Bagaimana dengan prospek penjualan batu bara BUMI sendiri?

Begini, BUMI juga mendapat pengaruh positif dari diberlakukannya Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA). Sebab, secara otomatis China akan menggenjot produksi mereka sehingga kebutuhan bahan baku dan bahan bakar akan meningkat.

Indonesia merupakan supplier terbesar timah dan batu bara. Batu bara sudah dipastikan salah satunya dipasok oleh BUMI. Karena itu, permintaan batu bara akan meningkat sehingga harganya naik. Akibatnya, tingkat penjualan dan pendapatan BUMI pun akan meningkat.

Lalu, seperti apa dampak naiknya harga minyak ke US$81 per barel ?
Penguatan harga minyak dunia juga turut menopang penguatan BUMI. Sebelumnya, banyak industri yang menahan pembelian minyak karena negatifnya ekspektasi perekonomian dunia. Saat ini ekspektasi itu sudah positif, sehingga permintaan harga minyak naik. Di sisi lain, pada saat permintaan meningkat, OPEC tidak menambah kuota produksi minyak mereka. Apalagi, cadangan minyak di AS juga turun. Karena itu, penguatan harga minyak saat ini lebih karena faktor real demand, bukan lagi faktor pelemahan dolar AS. Ini sangat positif bagi BUMI.
Masih ada faktor lain yang menopang penguatannya?
Faktor lain berasal dari tekanan jual BUMI yang sudah cukup dalam menjelang Hari Natal tahun lalu, akibat sentimen negatif dari utang-utangnya yang sangat besar. Karena itu, pelaku pasar melihat, BUMI termasuk saham yang lagging (lambat) penguatannya. Pada saat saham lain naik beberapa persen, kenaikan BUMI masih tipis.
Karena itu, saat indeks saham menguat seiring berbondong-bondongnya investor asing masuk ke pasar domestik, secara otomatis mereka akan memprioritaskan mengoleksi saham BUMI.
Lantas apa rekomendasi Anda untuk BUMI?
Meski banyak sekuritas asing yang menargetkan harga BUMI di level Rp4.000, namun, level Rp2.900 saja sudah merupakan saat yang tepat. Sell on strength untuk BUMI. [jin/ast]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini