Arsip Blog

Sabtu, 23 Januari 2010

bumi dalam pekan yang tak nyaman ... 230110

23/01/2010 - 13:03
Sepekan BUMI
Anjlok 4,5%, Terhadang Sentimen Eksternal
Agustina Melani

INILAH.COM, Jakarta – Pekan ini, BUMI kembali melanjutkan pelemahan, dengan anjlok 4,5%. Merosotnya harga komoditas dan sentimen negatif bursa saham eksternal merontokkan emiten batubara ini.

Hal itu disampaikan Pengamat Pasar Modal Aji Martono saat dihubungi INILAH.COM pada Sabtu (23/1). Aji menuturkan, harga saham BUMI selama sepekan anjlok dipicu pelemahan indeks saham global. “Hal ini juga dialami emiten lain, seperti PT United Tractor (UNTR), PT Aneka Tambang (ANTM), dan PT Timah (TINS),” katanya.

Menurutnya, saham BUMI sepekan ini sudah bergerak di level support 2.675 dan level resistance 2.875. Sedangkan secara teknikal, BUMI akhirnya ditutup pada level supportnya. “Tidak ada sentimen positif untuk saham BUMI," kata Aji.

Hal senada diungkapkan Senior Analis PT Indopremier Securities Dang Maulida Menurutnya, pelemahan harga BUMI selama sepekan dipicu penurunan harga komoditas dan indeks saham global. "Seminggu ini, harga BUMI memang turun dan sempat menyentuh level terendah di 2.575,” katanya.

Pada Jumat (22/1) kemarin, BUMI ditutup pada level 2.675 atau melemah 50 poin dari perdagangan sebelumnya. Di hari terakhir pekan ini, anak usaha Bakrie ini bergerak di kisaran Rp2.675 untuk level tertingginya hingga Rp2.575 untuk level terendahnya.

Sentimen negatif berasal dari harga komoditas seperti minyak yang terus turun, bahkan tembus level US$75 per barel. Selain kekhawatiran pengetatan kredit Cina yang diperkirakan akan berdampak pada melambatnya pemulihan ekonomi.

Aksi ini ditambah anjloknya indek Dow Jones, menyusul pengajuan proposal dari pihak gedung putih untuk mengurangi pengambilan risiko pada perbankan. Ini berarti, perbankan akan dilarang berinvestasi di hedge fund. Pernyataan ini tak pelak memicu pelemahan pada bursa Wall Street, dolar dan juga komoditas.

Namun, rilisnya data kinerja BUMI sempat mengangkat harga emiten ini pada Selasa (19/1). Anak usaha Bakrie ini terpantau naik Rp75 ke Rp2.800. BUMI mengumumkan penjualan batu bara pada 2009 sebanyak 58.1 juta ton. Sementara total produksi dari KPC dan Arutmin mencapai 62 juta ton. Di sisi lain, BUMI juga menganggarkan capex US$1.1 miliar untuk menaikkan produksi KPC dan Arutmin menjadi 100 juta ton per tahun pada 2012.

Penguatan BUMI juga didukung saham sektor tambang yang kembali rebound. Hal ini terjadi seiring naiknya harga minyak ke US$78.4/barel, pertama kalinya dalam 6 hari terakhir. Harga minyak naik, setelah Qatar mengatakan bahwa OPEC tidak akan menaikkan produksinya tahun ini. Selain dipicu spekulasi bahwa China akan menaikkan impor. Impor batubara China Desember 2009 dilaporkan mencapai rekor tertinggi di 16.38 juta ton.

Setelah menguat sesaat, saham-saham di bursa Indonesia kembali didera tekanan aksi profit taking. Saham grup Bakrie kembali lengser, termasuk BUMI yang melemah Rp25 ke Rp2.775. Pelemahan saham primadona ini bahkan menghambat penguatan bursa, dengan nilai transaksi sebesar Rp1,104 triliun, atau 24,2% total transaksi perdagangan.

Sentimen pemburukan bursa regional dan global yang terus berlangsung, akhirnya membuat BUMI terhimpit dan sulit bernafas. Harga emiten ini terus merosot, dimana pada Kamis (21/1) bertengger di Rp2.725 pada akhirnya ditutup di Rp2.675 pada Jumat (22/1).

Dang Maulida menambahkan, pelemahan harga BUMI pekan ini masih tergolong wajar. Ia pun memperkirakan koreksi yang dialami emiten ini hanya sementara, "Penurunan BUMI hanya jangka pendek saja,dan ada peluang menguat dalam jangka menengah. Ini karena fundamental BUMI yang masih baik," ujarnya. [ast/mdr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini