Arsip Blog

Sabtu, 09 Januari 2010

banyak masalah, banyak investor, GAIN TERBANYAK dah: 090110

09/01/2010 - 14:33
Sepekan BUMI
BUMI Bintang Bursa, Naik 19,6%
Agustina Melani & Asteria


(inilah.com /Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta - Sepekan ini saham PT Bumi Resourcs (BUMI) menjadi bintang bursa, dengan melesat Rp475 atau naik 19,6%. Pemicu utamanya adalah laporan keuangan kuartal ketiga 2009 yang sesuai ekpektasi pasar.

Hal itu disampaikan analis PT Reliance Securities Gina Novrina Nasution saat dihubungi

INILAH.COM. Menurutnya, saham BUMI pada pekan pertama 2010, cukup aktif diperdagangkan, terlihat dari volume transaksi emiten anak usaha Bakrie ini. "Saham BUMI mengalami kenaikan volume perdagangan yang cukup tinggi selama sepekan ini, bahkan dibanding bulan lalu,”katanya.

Maraknya transaksi BUMI mulai terlihat pada hari kedua perdagangan, dimana volume transaksi mulai melonjak ke kisaran 600-an juta lembar saham. Demikian pula nilai transaksi yang mencapai Rp1,720 triliun atau 33% total perdagangan. Saham BUMI pun memimpin sebagai top gainer yang melonjak lebih dari 10% ke Rp 2.675 dan memicu kenaikan seluruh saham kelompok Bakrie dan saham tambang lainnya.

Menurut Gina, sentimen utama pemicu penguatan saham BUMI berasal dari rilisnya laporan keuangan kuartal ketiga 2009 yang sesuai ekpektasi pasar. Demikian juga produksi dan penjualan batubara BUMI juga sesuai dengan estimasi sebelumnya. “Hal ini memberikan sentimen positif bagi BUMI,”katanya.

Emiten primadona ini merilis laporan keuangan kuartal tiganya, setelah sebelumnya sempat mendapat peringatan otoritas bursa karena terus menunda penyerahan laporan kinerjanya.

Disebutkan, pendapatan kuartal tiga 2009 BUMI turun 4% YoY ke US$2.33 miliar karena rendahnya harga batubara.

Sedangkan laba bersih turun 26.51% YoY menjadi US$360.22 juta. Penurunan laba ini disebabkan naiknya beban pajak per September sebesar 2392% YoY menjadi US$ 173.46 juta . dari periode yang sama tahun lalu hanya US$ 6,96 juta

Meski mencatatkan penurunan laba, rilisnya laporan keuangan ini membawa sentimen positif bagi anak usaha Bakrie ini. Pasalnya, melorotnya laba perseroan ternyata digunakan untuk membayar pajak tambahan senilai total US$212.65 juta. Hal ini terkait tunggakan pajak di dua anak usahanya, yaitu KPC dan Arutmin. Pembayaran tersebut dilakukan 2x yaitu pada 14 Desember dan 28 Desember 2009.

Seperti diketahui, berlanjutnya kasus pajak KPC dan Arutmin ini sempat menekan harga BUMI. Emiteni ini bahkan harus membayar denda 500%, bila meminta pemerintah menghentikan penyidikan dan penyeidikan atas dugaan tunggakan pajak tambang senilai Rp 2.1 triliun.

Kenaikan harga saham BUMI terus berlanjut, hingga pada Rabu (6/1), emiten tambang batubara ini bertengger di Rp2.750, atau naik Rp75 dari penutupan sebelumnya. Selain laporan kinerjanya, ada beberapa berita lain soal BUMI yang memancing spekulasi investor.

Seperti mundurnya konsorsium PT TB Bukit Asam (PTBA) sebagai bidder tambang Maruwai milik BHP, yang memperbesar peluang BUMI untuk menguasai tambang tersebut. Selain adanya rumor bahwa BUMI akan mengumumkan harga saham baru di level Rp2.800 per saham. Saham baru ini (10%) rencananya akan diswap dengan utang BUMI dari CIC.

Setelah menguat signifikan dua hari, pada hari keempatnya, BUMI harus menarik nafas sejenak. Emiten ini mengalami pelemahan dengan turun Rp50 (1,8%) ke level Rp2.700. Nilai transaksinya pun merosot, hanya mencapai Rp750 miliar.

Namun, relaksasi BUMI tidak berlangsung lama. Pada hari terakhir perdagangannya, saham sejuta umat ini kembali bersemangat, dengan melesat Rp 200 ke Rp 2.900. BUMI pun mendominasi lantai bursa, dengan mencatatatkan nilai transaksi sebesar Rp2,288 triliun, atau 37,7% dari total.

Menurut Gina, penguatan bursa saham regional dan global memberikan sentimen positif

untuk BUMI. Hal ini didukung harga minyak mentah yang sempat menembus level US$83 per barel, seiring pelemahan dolar AS dan meningkatnya permintaan. Penguatan ini mengangkat harga komoditas lain, seperti batubara. “Pergerakan harga minyak bumi dan batubara memberikan sentimen positif bagi saham BUMI," tutur Gina.

BUMI saat ini juga berencana membangun overland conveyor belt guna meningkatkan efisiensi rantai pengiriman batubara. Terkait rencana tersebut, BUMI harus menganggarkan dana sebesar US$ 30 juta untuk membangun alat sepanjang 30 km yang membentang dari lokasi tambang PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia menuju pelabuhan. [mdr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini