Arsip Blog

Sabtu, 30 Januari 2010

gosip melulu @bumi dah ... 300110

30/01/2010 - 14:28
Ketidakpastian Right Issue Tekan BUMI Sepekan
Agustina Melani & Asteria


(Inilah.com/Agung Rajasa)
Kepala riset PT Bhakti Securities Edwin Sebayang mengatakan, sentimen negatif yang mempengaruhi saham BUMI sepekan ini adalah mengenai ketidakjelasan tentang jumlah saham yang akan dilepas anak usaha Bakrie ini.

"Pelaku pasar menunggu berapa jumlah saham yang dilepas oleh BUMI, tapi belum

ada pernyataan resmi dari BUMI, sehingga berpengaruh terhadap sahamnya,"kata Edwin saat dihubungi , Jumat (29/1).

Seperti diketahui, BUMI berencana menerbitkan saham baru tanpa Hal Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atay alias rights issue maksimal 10%, sehingga BUMI memiliki struktur permodalan yang lebih seimbang dan rasio utang terhadap modal (DER) lebih rendah. “Isu yang beredar di pasar BUMI akan melepas sekitar 10% saham dengan harga 2.925,” ujarnya.

BUMI ingin memaksimalkan kelonggaran aturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) baru, yang memperkenankan emiten melakukan penambahan modal tanpa HMETD maksimal 10% dari total modal disetor. Ini berarti BUMI harus menambah modal dasar sebanyak 1,94 miliar saham.

Edwin juga menilai, harga BUMI yang semakin mahal, mendekati target harga Rp3.000 ini, memicu aksi ambil untung pelaku pasar. Apalagi kurs mata uang rupiah terus berfluktuasi sekitar 9.100 hingga 9.375 per dolar AS. "Kurs mata uang dolar AS yang naik turun berpengaruh terhadap utang BUMI dengan dolar AS," paparnya.

Setelah stabil di level Rp2.675 pada Senin (25/1), saham BUMI terus merosot, dimana dalam dua hari perdagangan selanjutnya, BUMI mengalami pelemahan sebesar Rp200 hingga pada Rabu (27/1) bercokol di angka Rp2.475. Tekanan berasal dari harga minyak mentah yang berada dalam kisaran rendah, mencapai angka US$73 per barel, serta pemburukan sentimen global.

Kebijakan pengetatan likuiditas di China dan pembatasan perbankan AS, telah menimbulkan kekhawatiran akan terhambatnya pemulihan ekonomi global. Demikian juga spekulasi pemilihan gubernur bank sentral AS yang baru, serta ketidakmampuan Yunani dalam membiayai defisit anggarannya.

Setelah terpuruk beberapa sesi sebelumnya, BUMI pada Kamis (28/1), mengalami technical rebound, dengan naik Rp75 ke Rp2.550. Penguatan bursa regional dimanfaatkan investor untuk memburu saham-saham unggulan. Apalagi peringkat utang Indonesia dinaikkan oleh Fitch Rating. IHSG pun melesat 2%, tertinggi di kawasan Asia,.

Namun, penguatan ini hanya sesaat. Di penghujung perdagangan pekan ini, BUMI kembali berbalik arah melemah, dengan turun Rp75 ke Rp2.475. Selain terimbas faktor akhir pekan, masih lemahnya harga minyak dan berlanjutnya masalah pajak juga memberi tekanan pada BUMI.

Aburizal Bakrie, pimpinan grup Bakrie, menyatakan siap menghadapi Direktorat Jenderal Pajak di pengadilan terkait tudingan tunggakan pajak senilai Rp 2,1 triliun terhadap BUMI.

Dalam pembicaraan di Twitter miliknya Jumat (29/1), Ical bersedia melakukan pembayaran atas seluruh kewajiban pajak, jika pada akhirnya pengadilan memutuskan BUMI bersalah. "Kita buktikan saja di pengadilan. Kan ketahuan siapa yang benar atau salah," ujarnya.

Saat ini, Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha BUMI, sedang mengajukan gugatan terhadap Ditjen Pajak terkait proses penyelidikan yang menuding perseroan melakukan tindak pidana pajak senilai Rp2.1 triliun. KPC menganggap Ditjen Pajak sewenang-wenang dan dilandaskan hukum yang salah dalam proses penyelidikannya.

BUMI pun menanti keputusan banding Mahkamah Agung soal perbedaan hitungan pajak perseroan dengan versi Direktorat Jendral Pajak. Dalam laporan keuangannya periode triwulan III-2009, BUMI menyatakan telah melakukan pembayaran tambahan pajak PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia, masing-masing US$ 119,807 juta dan US$ 92,840 juta. Totalnya sekitar US$ 212,647 juta (Rp 2,1 triliun). [mdr]
30/01/2010 - 17:00
BUMI Masih Raja Tambang di Bursa
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta - Walaupun anak usaha Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai pengemplang pajak oleh Dirjen Pajak, namun sahamnya masih terus diburu. Dari 10 emiten sektor tambang, BUMI masih jadi pemimpin selama sepekan ini.

Berdasarkan data resmi BEI seperti dikutip INILAH.COM, total saham yang diperdagangkan BUMI sebanyak 184.237.000 saham sedangkan ADRO hanya 67.205.500 saham. Ada juga ITMG lebih kecil hanya 2.662.000 saham atau tak jauh beda dengan PTBA yang sebanyak 1.695.000 saham.

Sedangkan ATPK lebih besar ketimbang BYAN dan GTBO dimana sebanyak 107.500 saham, sedangkan BYAN sebanyak 77.500 dan GTBA hanya 75.000. Sayang, saham KKGI, PKPK. dan PTRO tak ada pergerakan bahkan tak ada perdagangan pada hari Jumat (29/1). [san/cms]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini