Arsip Blog

Sabtu, 20 Maret 2010

pasti TUKH kata analis pro ... 200310

19/03/2010 - 09:47
Bayu Aji
BUMI Menguat Perlahan Tapi Pasti

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (18/3) diprediksikan menguat perlahan. Hal ini ditengarai ada unsur kesengajaan dari pemegang saham pengendali. Saatnya ‘akumulasi beli’!

Bayu Aji, analis dari First Asia Capital menengarai perlahannya penguatan saham BUMI saat ini dipicu oleh adanya kesengajaan dari pemegang saham pengendali untuk mempertahankan BUMI di level Rp2.500-an. Mereka melakukan swing dari saham BUMI ke saham yang lain terlebih dahulu.

Tapi, saham BUMI pun tidak ditinggal sehingga menguat secara bertahap. Meksi market domestik dan regional diwarnai swing, saham ini bisa bertahan di area positif. “BUMI menguat perlahan tapi pasti,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Kamis (18/2), saham BUMI ditutup menguat Rp25 (0,98%) menjadi Rp2.575, dengan intraday Rp2.600 dan Rp2.525. Volume transaksi mencapai 188,9 juta unit saham senilai Rp482,8 miliar dan frekuensi 3.658 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Bagaimana Anda memprediksi pergerakan saham BUMI akhir pekan ini?

Menurut saya, saham ini masih potensial naik karena kuatnya harga minyak mentah dunia di atas level US$80 per barel. Karena itu, meksi market domestik dan regional diwarnai swing, saham sejuta umat ini bisa bertahan di area positif. BUMI menguat perlahan tapi pasti.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.700 dan Rp2.450 sebagai level support-nya. Tapi, harus saya akui penguatan saham batubara thermal ini tidak sepesat kenaikan IHSG ^JKSE. Penguatan di grup Bakrie pun terbatas. Sehingga, penguatan indeks pun, pendorongnya bukan dari Grup Bakrie.

Tapi, BUMI sendiri masih bertahan di area positif untuk mencoba ke level Rp2.800. Meski penguatan BUMI perlahan, tapi saham ini menyesuaikan juga dengan kondisi market secara keseluruhan. Memang, sebelumnya BUMI merupakan motor penggerak indeks.

Apa alasan penguatan BUMI tidak sepesat kenaikan IHSG?

Saat ini, sepertinya ada kesengajaan dari pemegang saham pengendali untuk mempertahankan BUMI di level Rp2.500-an. Mereka bermain di saham yang lain terlebih dahulu. Keadaan ini, dapat dilihat dari kontribusi perbankan terhadap kenaikan indeks yang signifikan. Mereka melakukan swing dari saham BUMI ke saham yang lain terlebih dahulu. Tapi, saham BUMI pun tidak ditinggal sehingga menguat secara bertahap.

Ada anggapan terkait kisruh pajak perseroan?

Terhambatnya penguatan pesat BUMI, tidak ada hubungannya dengan kisruh pajak. Kalaupun terpengaruh pajak, BUMI seharusnya malah turun. BUMI tetap positif meskipun perlahan. Sebab, di sisi lain, penguatan BUMI juga mendapat dukungan dari penguatan rupiah ke arah level 9.000 per dolar AS. Apalagi, net buy asing sendiri kemarin masih signfikan meskipun tidak mencapai Rp1 triliun seperti hari sebelumnya. Bertahapnya penguatan BUMI, lebih dipicu oleh strategi investasi dari pemegang saham pengendali.

Bagaimana dengan aksi korporasi?

Dari sisi ini, BUMI juga mendapat dukungan dari anak usahanya, PT Multi Daerah Bersaing (MDB), yang menuntaskan pembayaran 7% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) periode 2009. Nilainya mencapai US$229,4 juta atau setara Rp2,08 triliun. Pembayaran itu direspons positif oleh market.

Sebab, BUMI sudah berhasil menunjukkan kemampuan untuk membayar divestasi itu. Dalam aksi korporasinya sendiri, BUMI akan semakin dipercaya. Apalagi, harga minyak berkontribusi pada kenaikan saham BUMI.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Pada saat ada peluang koreksi, BUMI bisa dikoleksi. Saya rekomendasikan ‘akumulasi beli’ untuk BUMI dengan target Rp2.800 dalam tiga bulan ke depan. [jin/ast]
18/03/2010 - 09:55
Ukie Jaya Mahendra
Faktor Pajak, Tak Jadi Hambatan BUMI

Ukie Jaya Mahendra
INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Kamis (18/3) akan melanjutkan penguatan. Derasnya capital inflow menjadi sentimen positif, Kisruh pajak pun tak jadi hambatan. Strong buy BUMI!

Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan, potensi penguatan saham BUMI hari ini masih dipicu besarnya capital inflow menyusul The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada level rendah 0-0,25%.

Karena itu, kisruh pajak yang selama ini diyakini mengghambat pergerakan saham sejuta umat ini, menurutnya tak lagi jadi hambatan. “BUMI tetap akan mengarah ke level resistance Rp2.700 dan Rp2.500 sebagai level support-nya,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Rabu (17/3), saham BUMI ditutup menguat Rp50 (2%) menjadi Rp2.550 dengan intraday Rp2.575 dan Rp2.500. Volume transaksi mencapai 141,9 juta unit saham senilai Rp360,4 miliar dan frekuensi 4.137 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya yakin masih potensial menguat. Salah satu didukung positifnya sentimen market. Hal ini masih pengaruh positif dari The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada level rendah 0-0,25%. Di sisi lain, capital inflow masih deras. Apalagi, kondisi makro ekonomi Indonesia sangat kondusif bagi invstor. Di antaranya, laju pertumbuhan yang positif dan terkendalinya inflasi.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.700 dan Rp2.500 sebagai level support-nya. BUMI hari ini akan memasuki level Rp2.600. Tapi, sepanjang perdagangan, saham ini bisa menyentuh level Rp2.700. Sebab, support kuatnya sudah tercipta di level Rp2.500 akibat positifnya sentimen market. Pada saat yang sama, positifnya sentimen market diiringi dengan derasnya capital inflow. Pada perdagangan kemarin pun, arus dana masuk sangat besar mencapai Rp1 triliun dari broker asing. Saya pikir itu net buy.

Tapi memang, BUMI kemarin tidak terlalu banyak bergerak. Sebab, pembelian asing lebih banyak terjadi di saham seperti PT Astra Internasional (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Bank Central Asia (BBCA) dan PT Bank Danamon (BDMN).

Kenapa asing tidak langsung memilih BUMI?

Ya memang asing belum fokus pada BUMI. Sebab, merela lebih mengutamakan saham bluechips lain terlebih dahulu. Asing mendahulukan saham-saham lain yang market kapitalisasinya besar. Sektor perbankan menjadi trigger. Begitu juga dengan saham-saham yang membagikan dividen seperti PGAS, PT Telkom (TLKM), PT International Nickel Indonesia (INCO), dan PT Aneka Tambang (ANTM).

Kapan BUMI akan bergerak sesuai kencangnya pergerakan IHSG?

BUMI akan naik kencang, pada saat saham-saham lain sudah mengalami overbought. Namun, saya tidak setuju atas anggapan, tidak pesatnya penguatan BUMI saat ini karena faktor persoalan pajak perseroan. Pajak menurut saya tidak jadi hambatan. Sebab, fundametal emiten ini sangat positif. Karena itu, saya yakin, saham BUMI ini masih akan menguat secara bertahap. Sebab, di lain pihak, saham ini juga mendapat topangan dari harga minyak mentah dunia yang sangat tinggi di level US$82 per barel .

Lalu, aliran dana asing pun dari hasil roadshow pihak manajemen ke AS, Eropa, Jepang, juga akan terus memperkuat pergerakan saham BUMI. Pasar juga saat ini mengantisipasi laporan keuangan BUMI untuk full year 2009.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Untuk mid-long term saya rekomendasikan strong buy. Kalau untuk trading, buy on weakness saja. [jin/ast]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini