Arsip Blog

Rabu, 31 Maret 2010

bumi MENUNGGU, investor TERTUNGGU ... 310310

31/03/2010 - 09:37
Nico Simatupang
Pasar ‘Wait and See’ atas BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Rabu (31/3) diprediksikan bergerak stagnan. Pasar masih wait and see atas laporan kinerja dan hasil final kisruh pajak . Hold BUMI!

Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Asset Management mengatakan, potensi stagnannya saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini, karena sikap wait and see pasar atas banyak faktor. Salah satunya, laporan kinerja perseroan untuk full year 2009. Pelaku pasar juga masih menunggu kejelasan hasil final dari kisruh pajak perseroan. Memnurutnya, pasar ingin tahu berapa denda sebenarnya yang harus dibayarkan oleh BUMI.

Di sisi lain, investor masih menunggu koreksi saham di sektor perbankan dan saham-saham yang sudah menguat terlebih dahulu seperti saham-saham di grup Astra. “Setelah saham-sagam tersebut turun, baru orang trading kembali termasuk di saham BUMI,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Selasa (31/3), saham BUMI ditutup stagnan di level Rp2.350, dengan intraday Rp2.400 dan Rp2.325. Volume transaksi mencapai 87,8 juta unit saham senilai 206,7 miliar dan frekuensi 2.360 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah dua hari stagnan, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya pikir masih sama, stagnan. Sebab, pasar masih wait and see atas laporan keuangan full year 2009. Tapi, biasanya, emiten ini telat merilis laporan keuangannya. Seharusnya kan dirilis hari ini atau awal April.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan bergerak dalam kisaran support Rp2.300 dan Rp2.400 sebagai level resistance-nya.

Bagaimana ekspektasi pasar atas laporan keuangan BUMI?

Jika berkaca pada laporan keuangan tahun 2008, ekspetasi pasar atas kinerja emiten ini tidak terlalu baik. Hal ini menurut saya wajar karena memang utangnya yang sangat banyak. Meski level DER (debt to equtiy ratio) masih di angka 2,5 kali, tapi level ini sangat membebani perseroan jika kinerjanya tidak tumbuh positif. Jika pertumbuhan suatu emiten kurang baik, sementara utangnya besar, otomatis bunga utang akan menjadi beban.

Secara umum, ekspektasi atas laporan keuangan BUMI tidak terlalu positif. Sebab, tingkat ketidakpastiannya tinggi. Sebab, investor pun biasanya mengambil posisi dalam kemungkinan terburuk termasuk mengambil posisi di saham BUMI.

Lantas, bagaimana dengan PER BUMI 9,75 kali, berada di bawah emiten lain di sektornya?

Memang, PER (price earning ratio)-nya masih rendah jika dibandingkan dengan PER emiten lain, di level 9,75 kali. Tapo, murah tidaknya sangat tergantung pada pencapaian kinerja pada full year 2009. Jika earning-nya makin kecil, PE-nya makin besar.

Karena itu, valuasi sahamnya pun meski masih di level Rp2.300-an saat ini menjadi semakin mahal. Sebab, PE di level 9,75 kali dinilai murah jika perseroan mengalami pertumbuhan kinerja. Problemnya, pasar masih menuggu apakah pertumbuhan BUMI semakin besar atau semakin kecil. Karena itu, meski PER BUMI lebih kecil dibandingkan PER emiten lain di sektornya, belum tentu saham ini murah. Karena itu, peluang penguatannya pun terbatas. Itu pula yang memungkinkan saham BUMI bergerak stagnan saat ini.

Coba kita lihat, PER BUMI paling rendah jika dibandignkan PT Adaro Energy (ADRO) yang sudah berada di angka 12,7 kali; PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) di posisi 13,9 kali; dan PT Perusahaan Tambang Bukit Asam (PTBA) sudah mencapai 15 kali. Tapi, emiten-emiten itu tumbuh sehingga meski PER-nya tinggi tetap dinilai pasar masih murah. Apapun yang tidak tumbuh, harganya mahal termasuk peluang laporan keuangan BUMI.

Kenaikan harga minyak ke level US$82 bagaimana?

Ya, karena itu, kenaikan hraga minyak mentah dunia ke level US$82 per barel pun tidak begitu berpengaruh pada pergerakan harga saham BUMI. Sebab, invetor lebih menunggu laporannya keuangannya untuk melihat efek dari semua aksi korporasi yang sudah dilakukan sebelumnya.

Di sisi lain, pasar juga masih menunggu keputusan final dari kisruh pajak perseroan. Pasar ingin tahu berapa denda sebenarnya yang harus dibayarkan oleh BUMI. Tapi, yang paling ditunggu adalah laporan keuangan.

Bagaimana sentimen market?

Dari sisi market, stagnannya saham BUMI juga karena investor yang masih menunggu koreksi saham di sektor perbankan dan saham-saham yang sudah menguat terlebih dahulu seperti saham-saham di grup Astra. Setelah saham tersebut turun, baru orang trading kembali termasuk di saham BUMI. Sedangkan untuk saat ini, indeks sendiri masih akan bergerak dalam kisaran yang kuat dengan support 2.784 dan 2.816 sebagai level resistance-nya.

Apa rekomendasi Anda untuk BUMI?

Saya rekomendasikan hold untuk BUMI hingga ada kejelasan dari laporan keuangannya, untung atau rugi. Semoga saja cepat dirilis sehingga pasar tidak bertanya-tanya. [jin/ast]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini