Arsip Blog

Selasa, 02 Maret 2010

bumi mantul naek neh ... 020310

TLKM dan BUMI Bersaing, IHSG Terkerek 0,86 Persen
Selasa, 2 Maret 2010 | 16:54 WIB

KOMPAS/ALIF ICHWAN
Suasana Bursa Saham
TERKAIT:
IHSG Pagi Hijau
Meski Tergerus Saham Bakrie, IHSG Ditutup Naik
113 Saham Merah, IHSG Melorot 1,18 Persen
IHSG Melemah 0,16 Persen
TLKM Siuman, IHSG Terangkat 0,76 Persen
GramediaShop: Marketing In Crisis
GramediaShop: Seven Motivations Of Islamic Business
JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan penguatannya. Selasa (2/3/2010), hingga sesi kedua berakhir, indeks bertengger di 2.576,59, atau menguat 0,86 persen. Perinciannya 108 saham naik, 66 saham turun, dan 73 saham tak mengalami perubahan harga. Nilai transaksi harian Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mulai menggemuk menjadi Rp 3,233 triliun.

Kali ini, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi penopang penguatan Indeks. TLKM naik 3,68 persen menjadi Rp 8.450. Sementara, BUMI melonjak 6,9 persen menjadi Rp 2.325.

Saham-saham lain yang juga menguat; PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) naik 1,33 persen menjadi Rp 3.800, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) naik 1,29 persen menjadi Rp 27.450, PT Indosat Tbk (ISAT) naik 2,94 persen menjadi Rp 5.250, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 1,39 persen menjadi Rp 7.300, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,08 persen menjadi Rp 4.900.

Sebaliknya, beberapa saham yang melemah; PT Astra International Tbk (ASII) turun 2,08 persen menjadi Rp 36.200, PT United Tractors Tbk (UNTR) turun 0,87 persen menjadi Rp 17.000, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) turun 1,10 persen menjadi Rp 8.950, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) turun 1,11 persen menjadi Rp 13.400, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun 0,78 persen menjadi Rp 31.900. (Hendra Soeprajitno/Kontan)
02/03/2010 - 13:27
BUMI Menghijau Hingga Akhir Sesi
Asteria


(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Setelah kemarin berakhir melemah, PT Bumi Resources (BUMI) pada sesi siang ini mulai berbalik arah dan menguat. Bagaimana pergerakan BUMI hingga penutupan?

Pada perdagangan Selasa (2/3) sesi siang, BUMI terpantau berada di level Rp2.225, atau naik Rp50 (2,3%) dari penutupan kemarin. Emiten ini mencatatkan volume transaksi Rp138.509 lembar saham, senilai Rp152 miliar dan frekuensi 2,213 kali.

Purwoko Sartono dari Panin Sekuritas mengatakan, dengan reboundnya emiten ini kembali menembus 2.225, maka BUMI berpotensi akan konsolidasi pada range 2.175-2.300. Adapun target harga BUMI diperkirakan mencapai angka 3.175 per lembarnya. “Kami rekomendasikan beli untuk BUMI karena dari sisi trading telah berada di posisi bottom,” katanya.

Menurutnya, BUMI kemarin kembali melemah menembus level support di 2.225, melanjutkan penurunan yang terjadi dalam tiga hari terakhir. Terkait hal tersebut, BUMI hari ini berpeluang menguji support 2.050-2.125. “Jika range tersebut tertembus, kemungkinan BUMI dapat kembali ke bawah level 2.000,” ujarnya.

Potensi koreksi juga terbuka, mengingat secara teknikal indikator Relative Strength Index (RSI) mengarah melemah ke bawah, sementara moving average convergence divergence (MACD) masih berada di area negatif dan belum ada sinyal reversal. Melemahnya saham Grup Bakrie sedikit banyak dipengaruhi memanasnya kondisi politik di Tanah Air.

Purwoko juga menilai, pasar masih akan dibebani Sidang Paripurna DPR yang membahas masalah Bank Century. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu. Tetapi, bila akhirnya pelaku pasar melihat dampak negatifnya kecil, pasar akan bergerak cepat dan kembali bergairah. “BUMI pun yang menjadi motor pasar akan kembali aktif,” paparnya.

Sentimen positif ini didukung membaiknya bursa eksternal. Bursa Wall Street semalam naik cukup besar 0,76%. Pelaku pasar merespon positif kesediaan Yunani menerima bantuan dari Uni Eropa. Selain berita sejumlah rencana akuisisi di AS.

Bursa saham Asia juga menguat untuk hari ketiga, dipimpin perusahaan elektronik dan teknologi. Hal ini terjadi setelah naiknya belanja konsumen AS yang lebih besar dari ekspektasi serta kenaikan penjualan semikonduktor global.

Hal senada juga diungkapkan analis tim riset Trimegah Securities yang menilai bahwa stochastic yang memasuki area jenuh jual, membuka peluang akumulasi. “Kami rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI,” imbuhnya.

Menurutnya, BUMI dalam dua pekan terakhir cenderung berkonsolidasi di kisaran 2.200-2.400, namun tekanan jual yang terjadi kemarin membuat saham ini menyentuh support yang terbentuk dari November 2009. Adapun level terendah BUMI dalam 6 bulan terakhir berada di level 2.050.

Dari sisi korporasi, dikabarkan bahwa laba Tata Power Co, pemilik 30% saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia, turun 82% karena membukukan penyisihan (write-off) pengupasan biaya batubara dari tambang di Indonesia.

Tata pun menyisihkan 3,7 miliar rupee (US$ 80 juta) untuk biaya pengupasan batubara yang ditangguhkan. Biaya produksi Tata naik sekitar 5% sebesar US$1,42 per metrik ton. Hal ini berimbas kepada BUMI, mengingat perseroan menguasai 70% saham KPC dan Arutmin.

VP Research & Analysis Valbury Securities Nico Omer Jonckheere mengatakan, di 2009 tampaknya merupakan tahun penuh beban bagi BUMI. Pasalnya, selain beban bunga dan pajak yang tinggi, manajemen perseroan juga tengah mempertimbangkan membebankan biaya deffered stripping cost atau biaya pengupasan permukaan tambang batubara yang ditangguhkan sekaligus untuk tahun ini.

“Hal ini untuk menormalisasi neraca keuangan dan tidak akan memiliki dampak jangka panjang pada kinerja perusahaan,”ujarnya. Apalagi saham Grup Bakrie lainnya, yaitu UNSP kemarin turun ke level terendah barunya di Rp495 karena investor kecewa mengetahui bahwa pelaksanaan right UNSP hanya terserap sekitar 70% saja. [mdr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini