Arsip Blog

Sabtu, 24 Oktober 2009

UTANG melulu : DIVONIS pasar dah

24/10/2009 - 14:28
Sepekan BUMI
Isu Obligasi, BUMI Anjlok 9%
Asteria


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta - Sepekan ini PT Bumi Resources (BUMI) terkoreksi 9,09%, terkait kabar penerbitan obligasi perseroan. Namun, rebound di sesi terakhir perdagangan, menahan laju koreksi BUMI lebih lanjut.

Pada perdagangan hari pertama, Senin (19/10), BUMI ditutup terkoreksi Rp25 ke level Rp3.000.

Pelemahan emiten batubara ini cukup dominan, dengan nilai transaksi mencapai Rp286 miliar, atau 12,23% dari total transaksi bursa. Alhasil, IHSG hanya bisa naik tipis 0,20% ke 2.520,924.

Padahal, harga minyak mentah terus merangkak naik mendekati level US$80 per barel, dan berhasil menjadikan sektor tambang memimpin sentimen positif di bursa, dengan naik sebesar 0,85%.

BUMI sulit bergerak, menyusul adanya rumor bahwa perseroan akan menerbitkan surat utang baru sebesar US$500 juta dalam waktu dekat. Dikabarkan perseroan menunjuk Deutsche Bank dan Credit suisse. Belum diketahui tujuan penerbitan surat hutang tersebut. Sedangkan Komut perseroan Nalinkant Amratlal menyatakan tidak mengetahui kabar tersebut.

Sentimen negatif penerbitan utang baru ini masih berlanjut pada perdagangan keesokan harinya. BUMI pada Selasa (20/10) ditutup anjlok Rp150 (5%) ke level Rp2.850. Emiten ini masih mendominasi bursa dengan nilai transaksi sebesar Rp 1 triliun, atau 27% total nilai perdagangan.

IHSG pun berakhir turun 0,74% ke level 2.502,216.

Manajemen BUMI tidak membantah atau mengkonfirmasi kabar ini, dengan alasan merupakan kebijakan internal. Namun, mengingat pola perilaku BUMI sebelumnya, investor pun cenderung mempercayai kabar tersebut. Apalagi perseroan menyatakan sedang mengeksplorasi berbagai alternatif pendanaan.

Pelaku pasar khawatir terhadap total utang BUMI yang semakin menggunung sehingga menyulitkan perusahaan mencetak laba bersih lebih baik. Pasalnya, beberapa waktu lalu, BUMI mendapat suntikan dana senilai US$ 1,9 miliar dari China Investment Corporation (CIC).

Pada akhir kuartal pertama 2009, total utang BUMI mencapai US$ 1,25 miliar. Dengan US$ 1,9 miliar untuk refinancing utang lama dan obligasi senilai US$ 500 juta, maka beban utang BUMI akan melonjak tajam. Padahal pada kuartal pertama 2008, utang BUMI masih di bawah US$ 200 juta.

Kesuksesan BUMI mengakusisi sisa saham Herald Resources, pun gagal menjadi sentimen positif. Seperti diketahui, Direktur independen Herald Resources Limited akhirnya menerima tawaran BUMI melalui anak usahanya, Calipso Investment Pte Ltd untuk membeli sisa saham Herald milik publik sebanyak 8,3% hingga totalnya mencapai 92,45%

Transaksi ini terjadi setelah pada 30 September 2009 lalu, BUMI merevisi tawaran harga saham Herald menjadi AU$ 0,93 dari sebelumnya AU$ 0,7 per saham. Manajemen BUMI pun optimis dapat menguasai sisa saham Herald yang lain.

Pelemahan BUMI terus berlanjut. Pada Rabu (21/10). Emiten ini ditutup turun Rp25 (0,87%) ke level Rp2.825, setelah menyentuh level terendah di Rp2.750. Koreksi BUMI menyeret IHSG sehingga melemah 1,02% ke 2.476,797. Hal ini mengingat besarnya kontribusi BUMI di pasar, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,075 triliun, atau 28,9% total perdagangan.

Turunnya harga minyak mentah untuk pertama kalinya dalam sembilan hari terakhir, menjadi indikator penekan bursa. Harga minyak turun ke level US$79.12 per barel, setelah kemarin menembus level psikologis di US$80 per barel.

Hal ini dipicu penguatan dolar AS dari level 14 bulan terendahnya serta angka persediaan di AS yang dilaporkan naik menjadi 3.85 juta barel. Tersiar kabar bahwa BUMI akhirnya resmi memiliki 98,39% saham Herald Resources. Hal ini terjadi paska perseroan menutup tender offer atas saham Herald kemarin.

Menjelang akhir pekan, Kamis (22/10), koreksi BUMI belum berakhir. Anak usaha Bakrie malah terperosok Rp175 (6,2%) ke level Rp2.650. Transaksi negatif BUMI juga menyeret turun IHSG, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,679 triliun, atau 32,9% total perdagangan. IHSG pun terkoreksi 1,76% ke level 2.433,184

Investor khawatir, jika China benar akan menghentikan stimulus ekonomi dan menaikkan suku bunganya, maka pemulihan ekonomi global akan terhambat dan permintaan berbagai komoditas akan merosot. Menguatnya harga minyak mentah ke level tertinggi satu tahun terakhir, juga gagal menopang BUMI. Harga minyak sempat melampaui level US$82 per barel, menyusul data cadangan bahan bakar AS yang anjlok tajam.

Namun, awan mendung mulai bergeser di hari terakhir pekan ini. Sejak awal perdagangan, BUMI langsung rebound dan terus bergerak di zona psoitif, hingga akhirnya ditutup menguat Rp100 (3,7%) ke level Rp2.750. Dominasi saham BUMI, dengan nilai transaksi Rp974 miliar, atau 24,5% total perdagangan, mengkontribusi penguatan bursa. IHSG pun ditutup naik 1,43% ke 2.467,95.

Para pelaku pasar kembali mengoleksi saham-saham unggulan yang sudah tergerus cukup dalam. Apalagi rupiah juga menguat ke 9.420 terhadap dolar AS. Sementara harga minyak masih bertengger di atas level $81 per barel. [mdr]

Kamis, 05/02/2009 09:20 WIB
Dikabarkan Mundur dari Bakrie, Nalinkant Rathod Ketawa
Indro Bagus SU - detikFinance

Jakarta - Grup Bakrie tak pernah sepi dari berita. Kali ini Presiden Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Nalinkant Amratlal Rathod dikabarkan mundur dari jabatannya. Namun ketika dikonfirmasi sang presdir hanya tertawa.

"Enggak itu cuma rumor kok, nggak bener itu. Orang kita lagi bekerja keras kok bersama-sama dalam masalah ini. Ya kita ketawa saja," kata Nalinkant ketika dihubungi detikFinance, Kamis (5/2/2009).

Kabar di pelaku pasar, Nalinkant sudah mengajukan pengunduran diri namun belum disetujui pemegang saham. Pengunduran diri Nalinkant ini dikait-kaitkan dengan adanya tuntutan pemegang saham publik agar dilakukan perombakan manajemen Bakrie.

Lelaki lulusan Andhara University, India ini telah menjabat sebagai Presiden Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk sejak 17 Maret 2008.

Sementara Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk Dileep Srivastava memastikan Nalinkant masih akan menduduki posisi Presdir di BNBR.

"Informasi yang beredar itu tidak benar, kita tidak terlalu mengurusi rumor, kita fokus ke masalah saja," kata Dileep.

Manajemen BNBR saat ini memang tengah berjuang menuntaskan masalah utang-utang repo. Gara-gara utang repo, kinerja saham grup Bakrie ikut tertekan. (ir/ir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini