Arsip Blog

Jumat, 30 Oktober 2009

analis pro BINGUNG liat fakta pahit ...301009

30/10/2009 - 10:27
Pardomuan Sihombing
'Buy on Weakness' untuk BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Koreksi tajam dalam waktu singkat yang dialami PT Bumi Resources (BUMI), diperkirakan akan mendongkrak emiten ini pada Jumat (30/10). Buy on weakness BUMI!

Pardomuan Sihombing, kepala riset PT Paramitra Alfa Sekuritas mengatakan, BUMI berpotensi besar menguat, setelah anjlok drastis dari Rp3.000 menuju Rp2.200-an. Investor akan memanfaatkan kondisi ini untuk kembali mengakumulasi saham sejuta umat ini.

Ia memperkirakan BUMI akan mengarah ke level resitance Rp2.600 dan Rp2.200 sebagai level support-nya. “Saya rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI,” katanya kepada Ahmad Munjin INILAH.COM, di Jakarta.

Pada Kamis (29/10) kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp75 (3,12%) menjadi Rp2.475, dengan intraday Rp2.475 dan Rp2.150. Volume transaksi mencapai 815,5 juta unit saham, senilai Rp 1,8 triliun dan frekuensi 17.154 kali. Berikut wawancara lengkapnya:

Apa prediksi Anda terkait pergerakan saham BUMI akhir pekan ini?

Saya perkirakan BUMI akan mengalami technical rebound, namun tipis. Penguatannya terjadi seiring penurunan harga saham ini, dari Rp3.000 menuju Rp2.200-an dalam waktu singkat. Investor akan memanfaatkan kondisi ini untuk kembali mengakumulasi saham sejuta umat ini.

Apakah ini bisa mengkonfirmasi, BUMI berada pada tren penguatannya?

Belum bisa. Karena, IHSG masih mendapat tekanan dari bursa global. Apalagi, BUMI sendiri sejak awal Maret 2009 sudah naik signifikan 650% dari level 400-an ke level Rp 3.000. Karena itu, sangat wajar jika pelaku pasar asing masih melakukan aksi profit taking. Ini harus dicermati invsetor karena 70% struktur pasar Indonesia masih didominasi asing.

Bagaimana dengan sentimen market?

Hal serupa terjadi pada IHSG yang pergerakannya dikontribusikan saham BUMI. Indeks juga hari ini diperkirakan memiliki potensi technical rebound menyusul koreksi tajam sebelumnya dalam waktu singkat. Namun ini masih bersifat spekulatif. Kalaupun menguat akan terbatas juga.

Market regional mulai kondusif dan harga komoditas mulai menguat. Rilis data pertumbuhan kuartal tiga ekonomi AS kemarin ternyata naik menjadi 3,5% dari prediksi 2,8%. Namun, pasar masih menunggu beberapa indikator ekonomi lainnya yang belum menunjukkan pemulihan.

Di sisi lain inflasi juga masih tinggi, karena kenaikan harga komoditas dikhawatirkan akan menstimulus kenaikan tingkat suku bunga. Karena itu, investor juga harus mewaspadai perkembangan ekonomi AS, meskipun pertumbuhan AS itu tertinggi sejak kuartal kedua 2008. Dari dalam negeri sendiri, rupiah masih cenderung terus melemah ke 9.600-an.

Kemarin, investor asing terpantau melakukan aksi net sell. Apakah hal ini akan berlanjut akhir pekan ini?

Pergerakan market kemarin sangat flutuatif, hingga melemah 117 poin atau di atas 4%, tapi terakhir hanya minus 11 poin. Pelemahan di sesi pertama disebabkan tekanan jual di bursa global dan bursa regional yang rata-rata melemah 1,5%, bahkan ada yang mencapai 2% seperti bursa Taiwan. IHSG juga mengikuti bursa regional.

Di sesi kedua kemarin, terjadi technical rebound menyusul penurunan beberapa hari terakhir. Meski terjadi pembalikan arah, asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp500 miliar. Asing justru membesar melakukan net sell di sesi pertama keluar Rp300 miliar dan Rp200 miliar di sesi kedua.

Artinya, terlihat terjadi distribusi asing yang disinyalir sebagai aksi profit taking yang return-nya sudah besar sejak awal tahun. Karena kemarin pun sektor energi volatilitasnya hingga 30%. Hari Jumat (30/10) ini juga, akan terjadi hal serupa.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resitance Rp2.600 dan Rp2.200 sebagai level support-nya. Saya rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI. [ast]
30/10/2009 - 09:25
Rekomendasi Saham
Ayo Beli BUMI Saat Terkoreksi
Ahmad Munjin

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (30/10) diprediksikan menguat terbatas menyusul koreksi tajam sebelumnya dalam waktu singkat. Buy on weaknessuntuk BUMI!

Pardomuan Sihombing, kepala riset PT Paramitra Alfa Sekuritas mengatakan penguatan BUMI seiring penurunan harga dari Rp3.000 menuju Rp2.200-an terjadi dalam waktu yang singkat. Investor akan memanfaatkan kondisi ini untuk kembali mengakumulasi saham sejuta umat ini.

Ia memperkirakan BUMI akan mengarah ke level resitance Rp2.600 dan Rp2.200 sebagai level support-nya. “Saya rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (29/10) petang.

Kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp75 (3,12%) menjadi Rp2.475 dibandingkan sebelumnya pada level Rp2.400. Harga tertingginya Rp2.475 dan terendah Rp2.150. Sedangkan volume transaksi mencapai 815,5 juta unit saham senilai Rp 1,8 triliun dan frekuenasi 17.154 kali.

Namun, Pardomuan mewanti-wanti kenaikan BUMI hari ini belum bisa dipastikan sebagai pembalikan arah. Bursa saham masih mendapat tekanan dari bursa global dan pelemahan harga komoditas. “Harga minyak dunia saat ini sudah melemah kembali ke level US$ 77 per barel ,” ujarnya.

Apalagi, BUMI sendiri sejak awal Maret 2009 sudah naik signifikan 650% dari level 400-an ke level Rp 3.000. Karena itu, sangat wajar jika pelaku pasar asing masih melakukan aksi profit taking. “Ini harus dicermati investor karena 70% struktur pasar Indonesia masih didominasi asing,” imbuhnya.

Hal serupa terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pergerakannya dikontribusikan saham BUMI. Memang indeks hari ini diperkirakan memiliki potensitechnical rebound menyusul koreksi tajam sebelumnya. “Namun ini masih bersifat spekulatif. Kalaupun menguat akan terbatas,” tukasnya.

Pasalnya, market regional belum kondusif dan harga komoditas belum kembali menguat. Walaupun rilis data pertumbuhan triwilan ketiga ekonomi AS kemarin ternyata naik menjadi 3,5% dari prediksi 2,8%, belum tentu mengerek naik bursa regional. “Karena, beberapa indikator ekonomi lainnya masih belum menunjukkan konfirmasi pemulihan,” timpalnya.

Di sisi lain inflasi juga masih akan tinggi karena kenaikan harga komoditas yang dikhawatirkan akan menstimulus kenaikan tingkat suku bunga. Karena itu, investor juga harus mewaspadai adanya kekhawatiran di AS tentang perkembangan ekonominya meskipun pertumbuhan AS tertinggi sejak kuartal kedua 2008.

“Dari dalam negeri, rupiah masih cenderung terus melemah ke 9.600-an.” Itulah yang menyebabkan pergerakan market kemarin sangat fluktuatif hingga melemah 117 poin dan terakhir minus 11 poin.

Pelemahan di sesi pertama memang karena terjadi tekanan jual di bursa global dan bursa regional yang rata-rata melemah 1,5% bahkan ada yang mencapai 2% seperti bursa Taiwan. “IHSG juga mengikuti bursa regional,” tuturnya.

Namun di sesi kedua kemarin, terjadi technical rebound menyusul penurunan indeks beberapa hari terakhir. Meski terjadi pembalikan arah, asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp500 miliar kemarin. “Asing justru membesar melakukan net sell di sesi pertama keluar Rp300 miliar dan Rp200 miliar di sesi kedua,” ungkapnya.

Dari sisi ini terlihat terjadi distribusi oleh asing yang disinyalir sebagai aksi profit takingdengan return yang sudah besar sejak awal tahun. Karena kemarin pun sektor energi mengalami volatilitas hingga 30%. “Hari Jumat (30/10) ini juga, akan terjadi hal serupa,” pungkasnya. [mdr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini