Arsip Blog

Jumat, 30 Oktober 2009

bumi mulai disokong ASIENG LAGE...

30/10/2009 - 12:15
IHSG Kembali Rebound
Ahmad Munjin & Asteria


INILAH.COM, Jakarta – Sesi pertama perdagangan akhir pekan ini, IHSG memantapkan posisinya di atas level psikologis 2.400. Saham-saham unggulan mulai berbalik arah, dengan transaksi BUMI tetap mendominasi pasar.

Pada perdagangan Jumat (30/10) sesi siang, IHSG melonjak 56,486 poin (2,41%) ke level 2.400,519. Indeks saham unggulan LQ 45 naik 12,317 poin (2,68%) ke level 472,005.

Volume transaksi tercatat sebanyak 3.445 juta lembar saham, senilai Rp 4,234 triliun dengan frekuensi 66.382 kali. Sebanyak 150 saham naik, 26 turun dan 41 stagnan.

Sektor industri dasar memimpin penguatan bursa dengan naik 4,3%, disusul sektor tambang dan konsumsi yang naik 4%, properti 2,9%, perdagangan 2,7%, manufaktur 2,6%, finansial 1,9%, infrastruktur 1,5% dan perkebunan 1%. Sedangkan sektor aneka industri masih tertinggal di zona negatif.

Saham PT Bumi Resources (BUMI) naik Rp50 (2,02%) ke level Rp2.525. Transaksi emiten ini mendominasi pasar dengan kontribusi sebesar Rp711 miliar, atau 16,8% dari total perdagangan siang ini.

Suryadi Candra Kasih, Kepala Riset e-Trading Securities memperkirakan IHSG hingga penutupan sore nanti, berpotensi menguat dalam kisaran terbatas. Hal ini terjadi seiring positifnya bursa global dan regional. “Indeks akan mengarah ke level resistance2.385 dan 2.360 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (30).

Menurutnya, penguatan indeks ini merupakan titik balik (reversal) jangka pendek dari koreksi tajam beberapa hari sebelumnya. Selain penguatan rupiah ke 9.555 per dolar AS. “Karena itu, membaiknya bursa global dan regional semakin memperkuat penguatan indeks,”ucapnya.

Hal ini didorong positifnya data pertumbuhan AS kuartal ketiga 2009 menjadi 3,5%, lebih tinggi dari asumsi pasar sebesar 2,8%. Pasar melihatnya sebagai sinyal recoveryekonomi global. “Pertumbuhan AS sangat kuat menjadi penopang indeks regional sehingga berpengaruh positif pada IHSG hari ini,” ujarnya.

Kendati demikian, lanjutnya, pertumbuhan AS belum dikonfirmasi dengan indikator-indikator ekonomi lainnya. Hal ini menyisakan kekhawatiran tentang prospek untuk jangka menengahnya.

Apalagi, pertumbuhan AS sendiri sudah terfaktorkan di pasar. “Karena itu, indeks masih kekurangan katalis penguatan di pasar dan membuat sentimen negatif jangka pendek,” paparnya.

Yang harus dicermati pasar, imbuh Suryadi, adalah harga minyak dunia yang saat ini berada di level US$ 80 per barel dan potensi penurunannya yang sudah sangat minim. Keadaan ini dinilai sangat potensial mengerek naik inflasi dan suku bunga.“Pelaku pasar sebaiknya benar-benar memperhatikan apakah inflasi akan menguat drastis atau hanya bergerak normal,” tuturnya.

Menurutnya, katalis kenaikan harga sektor komoditas berasal dari penguatan suku bunga. Saat ini, hanya Australia yang baru menaikkan suku bunga. Sedangkan negara lain masih wait and see. Hal itulah yang menyebabkan laju pergerakan market lebih bersifat spekulatif. “Karena The Fed sendiri kecil kemungkinan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat,” timpalnya.

Jika suku bunga naik, timpalnya, bisa saja investor pasar saham beralih ke pasar uang sehingga indeks tertekan. Namun di sisi lain kenaikan harga minyak dunia akan mengerek naik saham-saham sektor komoditas.

Terkait situasi ini, Suryadi merekomendasikan investor untuk mencermati saham-saham sektor perbankan seperti Bank Central Asia (BBCA) dan PT Bank Mandiri (BMRI). Kemudian saham otomotif PT Astra International (ASII), saham infrastruktur PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) dan saham konsumsi PT Indofood Sukses Makmur (INDF).

“Dalam kondisi ini, investor seharusnya hold sampai ada tren penguatan yang konkrit, karena tren saat ini belum mengkonfirmasi penguatan jangka menengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini