Arsip Blog

Rabu, 28 Oktober 2009

di mata investor: REPO bumi itu RIIL ...281009

Rabu, 28/10/2009 07:25 WIB

Pemodal cemaskan repo Bakrie
Saham Bumi Resources terperosok 6,42%

oleh :

JAKARTA: Penurunan harga saham anak perusahaan Grup Bakrie secara serempak belakangan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap nasib repurchase agreement (repo) PT Bakrie & Brothers Tbk senilai total Rp582 miliar.



Semakin dalam harga saham yang dijadikan jaminan dalam repo terkoreksi, peluang Bakrie menambah nilai jaminan (top-up) kian besar. Padahal, kas dan setara kas Bakrie & Brothers per Juni 2009 hanya Rp743,67 miliar.



Bakrie & Brothers, induk perusahaan milik keluarga Bakrie, menjaminkan saham anak perusahaan yaitu PT Bumi Resources Tbk, PT Bakrie Telecom Tbk, dan PT Bakrieland Development Tbk dalam empat transaksi repo untuk mendapat utang Rp582 miliar pada bulan lalu.



Dalam laporan keuangan Bakrie & Brothers per 30 Juni 2009, perusahaan itu mempunyai repo dengan Harus Capital, Recapital Securities, Nusa Bintang Lestari, dan Danatama Makmur.



Repo merupakan janji untuk membeli kembali saham yang dijual kepada pihak lain pada harga dan waktu tertentu. Transaksi itu disertai perjanjian top-up jika nilai saham yang digadaikan jatuh di bawah kesepakatan.



Bakrie mengantongi utang repo US$46 juta dari Harus Capital, Rp35 miliar dari Recapital, Rp55 miliar dari Nusa Bintang Lestari, dan Rp55 miliar dari Danatama Makmur.



Untuk itu, Bakrie & Brothers menggadaikan 249,6 juta saham Bumi, 96 juta saham Bakrieland, dan 391 juta saham Bakrie Telecom atau setara dengan 1,37%. Namun, laporan keuangan Bakrie itu tidak menjelaskan harga kesepakatan repo.



"Sentimen negatif datang bertubi-tubi melanda saham Grup Bakrie, apalagi pasar terus melemah. Kenaikan harga komoditas tidak mampu mengangkat harga saham berbasis komoditas seperti pada 2007-2008. Melihat kondisi itu, pelaku pasar sepertinya putus asa, sehingga saham Bakrie menjadi sasaran aksi jual secara masif," ujar Head of Research Valbury Asia Securities Krishna Dwi Setiawan kepada Bisnis kemarin.



Menurut dia, setoran tambahan jaminan dalam transaksi repo pada umumnya berupa saham juga. Dengan harga saham jaminan yang terus tergelincir, dia menilai hal ini sangat mengkhawatirkan pemegang saham Bakrie & Brothers. "Kepemilikan Bakrie pada anak usahanya terus berkurang. Saham yang mana lagi yang harus dijadikan jaminan tambahan?" tuturnya.



Di sisi lain, Bakrie baru saja membeli kembali saham Bumi dan Bakrieland dari krediturnya. Melihat penurunan saham itu, Bakrie terancam harus top-up untuk menjaga rasio jaminan terhadap nilai utang yang biasanya berkisar 150%. "Bagi kami, apakah top-up atau tidak, itu tetap perlu memperhatikan efisiensi. Top-up itu normal saja apabila memang ternyata diperlukan," ujar Chief of Communication & Administration Officer Siddharta Moersjid.



Harga saham Bumi mencapai Rp3.375 pada 24 September, sedangkan kemarin jatuh 6,42% ke Rp2.550 dari posisi hari sebelumnya. Penurunan saham terbesar dialami oleh PT Energi Mega Persada Tbk sebesar 8,06% ke posisi Rp285.



Saham Bumi kemarin menyumbang 4,21 poin, penurunan terbesar terhadap pelemahan indeks harga saham gabungan Bursa Efek Indonesia kemarin. Indeks melemah 1,72% ke level 2.425,20.



Krishna menambahkan harga saham Bumi akhirnya menembus posisi penopangnya (support) di level Rp2.625 setelah kemarin terpeleset 6,42% atau Rp175 ke level Rp2.550. Valbury hari ini merekomendasikan nasabah untuk menahan beli dan mempertimbangkan jual, terutama terhadap saham Bumi.



Seorang manajer investasi menambahkan sehari sebelum riset Goldman Sachs keluar pada 21 Oktober, di pasar beredar informasi mengenai rekomendasi melepas saham Bumi dan beralih ke saham PT Adaro Energy Tbk.



Target Rp2.300



Bahkan, saham Bumi diperkirakan turun ke level Rp2.300, sama persis dengan target harga dalam 12 bulan ke depan yang dikeluarkan oleh Goldman. "Bagaimana bisa informasi di pasar itu bisa sama persis dengan isi riset Goldman. Seseorang sudah mengetahui isinya sebelum informasi itu beredar," ujarnya.



Goldman dalam riset perdananya tentang Bumi itu merekomendasikan jual terhadap saham perusahaan pertambangan batu bara terbesar nasional itu. Broker asing itu menilai saham Bumi lebih berisiko karena ada kenaikan biaya modal seiring dengan lonjakan utang.



Analis Goldman Patrick Tiah dan Nikhil Bhandari mengungkapkan saham perusahaan pertambangan batu bara itu secara historis diperdagangkan berkali lipat lebih tinggi.



Mereka menilai hal itu terjadi karena nilai kapitalisasi pasar yang besar dan likuiditas perdagangan yang tinggi lebih dari US$100 atau setara dengan Rp1 triliun per hari. Goldman menetapkan target harga Rp2.300 dalam 12 bulan ke depan. Itu berarti diskon 9,80% dari posisi penutupan kemarin. (pudji.lestari@bisnis. co.id/sylviana.pravita@bisnis.co.id/ wisnu.wijaya@bisnis.co.id)



Oleh Pudji Lestari, Sylviana Pravita R.K.N. & Wisnu Wijaya

Bisnis Indonesia

bisnis.com

1 komentar:

  1. komentar gw, SUKSES ASING DI TARGET PRICE 2400 lebe disebabkan oleh PERILAKU MANAJEMEN UTANG/REPO BUMI sendiri yang berlebihan ...

    BalasHapus

Welcome All of You

Cari di Blog Ini