Arsip Blog

Minggu, 07 Februari 2010

pekan koreksi bumi ... moga2 enjoy lah ... bwat beli : 070210

06/02/2010 - 08:29
Pengaruh Faktor Eksternal
Sepekan BUMI Terpeleset 1%
Asteria


(Inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Setelah bergerak fluktuatif, sepekan ini saham PT Bumi Resources (BUMI) mengalami penurunan 1%. Faktor eksternal sangat berpengaruh, di tengah minimnya sentimen positif yang signifikan mengangkat bursa.

Saham BUMI mengawali perdagangan pekan ini dengan naik Rp75 ke level Rp2.550. Penguatan ini merupakan faktor teknikal setelah akhir pekan lalu, saham primadona ini berakhir melemah. Pelaku pasar masih melakukan pembelian, seiring berlanjutnya sentimen penerbitan saham baru tanpa HMETD sebesar 10%.

“Masuknya China Investment Corporation (CIC) jelas sangat bagus untuk BUMI,” kata Purwoko Sartono dari Panin Sekuritas, pada awal pekan ini. BUMI berencana menerbitkan saham baru maksimal 10% saham atau 1,94 miliar saham dari total yang ditempatkan dan disetor penuh 19,4 miliar saham.

Hasil bersih penerbitan saham baru itu bahkan disebutkan akan dimanfaatkan BUMI untuk membayar utang. Namun, imbuhnya, tanpa sentimen ini pun, saham BUMI sebenarnya masih cukup menarik. “Hal ini dipicu saham Xstrata yang naik lagi untuk kedua kalinya, serta penguatan harga batu bara,” ujarnya.

Namun, keesokan harinya, beredarnya kabar bahwa BUMI tidak akan menerbitkan saham baru, setelah mempertimbangkan kondisi pasar dan situasi politik. Hal ini kembali melemahkan harga saham emiten batubara ini, sehingga BUMI ditutup turun Rp50 ke Rp2.500.

Meskipun BUMI belum menyatakan secara resmi tentang kepastian pelaksanaan penerbitan saham baru tanpa HMETD, beberapa pengamat mengganggap berita ini rumor belaka.

Pasalnya, bantahan ini tidak berasal dari surat kepada Bursa Efek Indonesia. Berbeda dengan penjelasan resmi kepada BEI sebelumnya tertanggal 8 Januari 2010, yang ditandatangani oleh Dileep Srivastava.

BUMI akhirnya berhasil menguat pada hari ketiga, Rabu (3/2), dengan ditutup naik Rp100 ke level Rp2.600. Hal ini dipicu rally pada harga minyak, yang mencapai US$77 per barel di New York.

Selain itu, PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha BUMI mengajukan permohonan praperadilan terkait kasus investigasi kantor pajak terhadap dugaan penyelewangan pajak.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak, KPC termasuk dalam daftar 100 perusahaan penunggak pajak terbesar. Namun, manajemen BUMI menilai, KPC telah melunasi kewajiban pajak sesuai surat pemberitahuan tahunan (SPT) yang telah disampaikan perusahaan.

Namun, penguatan itu hanya sementara. BUMI pada Kamis (4/2) kembali melemah Rp25 ke level Rp2.575. Selain profit taking setelah kenaikan sebelumnya, sentimen negatif berasal dari kabar bahwa anak usaha Bakrie ini akan menjadi aset jaminan (underlying aset) waran di Bursa Malaysia.

BUMI juga menjadi jaminan covered warrant yang diterbitkan OSK Investment Bank Berhard. Perusahaan itu menawarkan 75 juta waran berjenis coverred warrant dengan underlying asset saham BUMI.

Memburuknya bursa regional dan regional akibat defisit di kawasan Eropa serta data ekonomi AS yang kurang baik, menghambat pergerakan bursa. BUMI pun terus terjebak di zona negatif. Pada perdagangan di hari terakhir, BUMI ditutup turun Rp125 ke Rp2.450 setelah sepanjang perdagangan melemah ke Rp2.400. [mdr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini