Arsip Blog

Senin, 15 Februari 2010

beli bumi tukh ... 150210

15/02/2010 - 10:04
Arga Paradita Sutiono
‘Speculative Buy’ untuk BUMI!

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Senin (15/2) akan mengalami rebound akibat meredanya sentimen negatif kisruh pajak. Speculative buy!

Arga Paradita Sutiono, research analyst Asia Kapitalindo Securities mengatakan, meredanya masalah pajak menjadi pendorong kenaikan saham BUMI.

“Sebab, meski BUMI harus membayar pajak yang disebut-sebut sebagai tunggakan dengan beban bunga 19%, valuasi sahamnya tetap masih di atas Rp3.000,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada Jumat (12/2)BUMI ditutup menguat Rp50 (2,24%) menjadi Rp2.275 dengan intaraday Rp2.350 dan Rp2.200. Volume transaksi mencapai 248,2 juta unit saham, senilai Rp568,1 miliar dan frekuensi 6.756 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah akhir pekan lalu menguat, bagaimana potensi pergerakan BUMI?

Ya. BUMI berpotensi menguat teknis, karena koreksi beberapa hari sebelumnya. Valuasi saham ini sudah oversold sehingga sudah seharusnya memicu penguatan kembali. Tapi, BUMI dipengaruhi sentimen negatif dari kasus pajak perseroan dan anak usahanya PT Kaltim Prima Coal (KPC). Kisruh pajak telah membuat pasar bingung sehingga kenaikannya belum kuat. Tapi, sekarang sentimen pajak sudah mereda.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI berpeluang menguat ke level resistance Rp2.350-2.475 dan Rp2.225 sebagai level support. Ini melihat frekuensi pekan lalu yang mulai tinggi dan ditutup positif di Rp2.275. Karena itu, jika level resistance Rp2.350 bisa ditembus, saham ini berpeluang mengarah ke resistance berikutnya di Rp2.475.

Sebab, meski BUMI harus membayar pajak yang disebut-sebut sebagai tunggakan dengan beban bunga 19%, valuasi sahamnya masih di atas Rp3.000. Valuasi ini merujuk pada harga batubara di kisaran US$85. Apalagi, saat ini batubara sudah di level US$90-an. Kalaupun harus bayar pajak, pendapatan BUMI masih tinggi.

Anda percaya BUMI ‘ngemplang’ pajak?

Saya tidak berpikiran seperti itu. Menurut saya perseroan tidak memiliki tunggakan. Mencuatnya kasus pajak semata persoalan administrasi. Namun, kasus pajak ini tetap saja sudah mengganggu emosi pasar. Jadi, pasar bingung, sebenarnya berapa pendapatan BUMI sehingga harga sahamnya jatuh akibat emosi pasar itu yang lebih kuat. Jika saja pasar bersikap rasional, koreksi saham BUMI tidak akan setajam ini.

Bagaimana dengan rencana pencarian modal senilai US$500 juta?

Itu juga jadi katalis penguatan BUMI. Salah satunya adalah melalui rights issue tanpa HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu). Pilihan lain adalah Equity Linked Note (ELN) yang ujung-ujungnya mirip dengan obligasi konversi. ELN adalah surat utang yang bisa dikonvesrsi dalam bentuk saham dalam jangka waktu (tenor) pendek. Inilah yang membedakan dengan obligasi konversi, yang tenornya panjang hingga lima tahun. Opsinya hanya dua itu untuk memperkuat permodalan BUMI sendiri.

Bukankah obligasi akan menambah beban utang perseroan?

Aksi korporasi ini justru akan meringankan beban utang BUMI di mana Debt to Equity Ratio (DER)-nya berada di level 1,7 kali. Jika perseroan menempuh jalur rights issue, akan memperkecil DER-nya. Sebab, rights issue mengeluarkan saham baru.

Sedangkan obligasi (ELN), memang merupakan utang. Tapi, utang tersebut nantinya akan dikonversi ke equity. Artinya, BUMI memiliki hak mengkonversi obligasi dari para kreditor ke saham. Karena itu, ekuitinya menjadi bertambah dan rasio utangnya justru semakin kecil.

Bagaimana Anda menilai rasio utang BUMI di level 1,7 kali?

Itu masih wajar dan normal untuk ukuran industri batubara seperti BUMI. Kecuali jika DER-nya sudah mencapai 2 kali, yang artinya semua aset modal dibiayai utang dan risiko default-nya juga semakin besar karena beban utangnya semakin besar pula. Jika DER mencapai 2 kali, bagian pendapatan perseroan justru akan digunakan untuk utang. Karena DER BUMI masih di level 1,7 kali, ini masih wajar. Untuk berutang kembali pun masih berpeluang.

Harga minyak di level US$74-75, seperti apa pengaruhnya terhadap BUMI?

Tetap positif, seiring ekspektasi kenaikan harga minyak dunia. Hal ini dipicu oleh musim dingin yang sudah mulai tidak terkendali baik di Amerika maupun di China bagian utara. Karena itu, diekspektasikan kebutuhan akan minyak akan naik.

Secara teknis harga minyak bisa menuju US$78-80 per barel . Sebab, sebelumnya harga minyak sempat di atas angka itu. Level-level itu merupakan kisaran resistance harga minyak. Karena itu, sangat wajar jika harga minyak mencapai level itu. Karena itu, setelah kenaikan harga crude palm oil (CPO), batubara pun akan menyusul sehingga menjadi sentimen positif bagi BUMI.

Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?

Bagi pemegang sahamnya, saya rekomendasikan hold karena masih berpeluang naik. Tapi, bagi yang baru akan mengambil posisi saya sarankan speculative buy. [jin/ast]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini