Selasa, 06 April 2010

saham bumi DICUEKIN, bAgU$ @ investor ritel (2) : 060410

06/04/2010 - 13:44
Kali Ini Tak Ada Rekomendasi Bagi BUMI
Asteria


(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – Laba bersih BUMI pada 2009 lalu anjlok akibat faktor deferred stripping cost. Analis pun belum merekomendasikan saham ini untuk sementara waktu.

Analis CLSA Ahmad Solihin memberi penilaian negatif atas saham PT Bumi Resources (BUMI), terutama karena laba bersihnya yang merosot tajam. Namun, ia mengaku masih melakukan hitung-hitungan untuk mengetahui valuasi wajar emiten batubara ini.

“Kami belum memberi rekomendasi BUMI, karena masih merevisi valuasinya,” katanya kepada INILAH.COM, Selasa (6/4). Seperti diketahui, laba bersih BUMI sepanjang 2009 anjlok 49% menjadi US$190,4 juta. Hal ini disebabkan pemfaktoran biaya pengupasan batubara yang ditangguhkan deferred stripping cost sebesar US$275 juta dan beban bunga US$180,9 juta.

Deferred stripping cost yang sudah dibukukan pada kuartal empat 2009 lalu, akhirnya difaktorkan pada laporan keuangan 2009. “Memang ada penurunan tipis untuk full year. Pada kuartal empat sebesar US$275, namun khusus Desember hanya US$243,” paparnya.

Biaya pengupasan tangguhan merupakan biaya yang timbul apabila rasio aktual pengupasan tanah (stripping ratio) lebih tinggi dari rasio rata-rata yang diestimasi. Biaya ini akan dibebankan sebagai biaya produksi atau diamortiasi pada periode di mana rasio aktual lebih rendah dari rasio rata-rata yang diestimasi.

BUMI membukukan biaya tersebut sebagai one-time adjustment (net after tax dan minority interest) pada 2009, sehingga laba bersih turun. Biaya ini merupakan non-cash item sehingga tidak berdampak terhadap cashflow BUMI.

Menurut Ahmad, pencatatan one-time adjustment yang menurunkan laba bersih perseroan, merupakan tax deductible, sehingga beban pajak BUMI dapat berkurang.

Hal ini dilakukan terkait investigasi pajak atas perusahaan batubara nasional, seperti BUMI. Perseroan pun harus merendahkan profitnya untuk mengurangi pajak. "Kami masih terus mengikuti progres sengketa pajak KPC dan Arutmin," ungkapnya.

Sebenarnya, imbuh Ahmad, kalau BUMI tidak mencatatkan stripping cost , perseroan masih membukukan laba bersih US$380 juta. Apalagi perseroan belum memfaktorkan keuntungan divestasi aset, keuntungan forex, maupun loss derivatif dari ekuitas. “Seharusnya laba bersih BUMI tidak anjlok hingga 50% seperti saat ini,” katanya.

Hal senada diungkapkan analis pasar modal Dongsuh Securities Ryan Aryadi yang belum merekomendasikan saham BUMI. Menurutnya, BUMI biasanya selalu menangguhkan striping cost. “Namun, karena butuh dana besar tahun ini untuk beberapa aksi korporasinya, perseroan melakukan one-time adjustment,” ucapnya.

Ryan pun menilai stripping cost sebenarnya sama dengan pencadangan, karena belum tahu volume tanah yang akan diangkat. Hal ini berarti masuk ke biaya eksplorasi. “Kalau itu dimasukkan dalam laporan keuangan, hanya pencadangan,” ujarnya.

Adapun penurunan laba BUMI sebenarnya sudah terindikasi sejak awal. Pasalnya, Tata Power yang memegang 30% kepemilikan di KPC dan Arutmin mencatat penurunan laba bersih 82% pada kuartal empat 2009. Hal ini terkait write off atas deferred stripping cost sebesar US$76,1 juta di KPC dan Arutmin.

Pada perdagangan Selasa (6/4) sesi siang, BUMI terpantau naik Rp175 ke level Rp2.475. Setelah pada perdagangan kemarin stagnan di level Rp2.300. Kenaikan harga minyak mentah ke level US$87 per barel, menjadi katalisnya. [mdr]

... analis pro SUDAH GAGAL MEMPREDIKSIKAN HARGA SAHAM BUMI SEJAK AGUSTUS 2009 ... harga2 yang diprediksikan adalah 3500, 4000, 4500, 6000 ... SEMUA GAGAL TOTAL, makanya MEREKA MALU SAAT INI ... biarin aja, pokoke gw uda idup dari maen saham bumi lewat trading dan inves ... up2u lah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini