Senin, 05 April 2010

bumi, napa baru sekarang diitunknye ... 050410

05/04/2010 - 09:13
Laba BUMI Anjlok Dipicu 6 Tahun Amortisasi
Agustina Melani


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengklaim penurunan laba bersih karena amortisasi pada 2003 hingga 2009. Laba BUMI anjlok 95% menjadi US$190,448 juta.

Demikian disampaikan Senior Vice President Investor Relation BUMI Dileep Srivastava lewat pesan singkat yang diterima INILAH.COM, Senin (5/4). Dileep menambahkan, meski laba bersih BUMI turun dan biaya bunga lebih tinggi, tapi kinerja keuangan BUMI diimbangi oleh laba selisih kurs, laba pada investasi ekuitas, penjualan dan kerjasama strategis pada 2 aset.

BUMI juga mencatat mengalami rugi derivatif hingga US$63,367 juta. Kerugian atas derivatif hingga US$63,367 juta, Dillep mengklaim tidak berpengaruh dengan kas Perseroan. "Kerugian derivatif hanya mengacu pada harga pasar akuntansi dengan mencerminkan penurunan harga saham pada Desember 2009," kata Dileep.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya akan mengeksekusi transaksi derivatif bila convertible bond atau obligasi konversi dikonversikan di harga Rp3.250 per lembar saham. Hal ini berhubungan dengan note BUMI sekitar US$95 juta yang diambil pada Oktober 2009.

Sebelumnya, BUMI mendapatkan fasilitas CIC untuk mengcover IRR. "Hal tersebut akan dilaksanakan pada 2013," pungkasnya. [san/cms]
Rugi derivatif BUMI karena marked to market
Senin, 05/04/2010 10:08:00 WIBOleh: Wisnu Wijaya
JAKARTA (Bisnis.com): Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menyatakan kerugian atas transaksi derivatif disebabkan oleh penerapan akuntansi marked to market yang mencerminkan penurunan harga saham BUMI pada akhir Desember tahun lalu.

"Tidak ada pengaruh terhadap arus kas dan kami akan melaksanakan hal itu jika obligasi tukar [convertible bonds/CB] dikonversi di kisaran Rp3.250 per saham," ujar SVP Investor Relations BUMI Dileep Srivastava dalam layanan pesan singkat kepada Bisnis.com pagi ini.

BUMI pada akhir 2009 dibebani kerugian atas transaksi derivatif US$63,37 juta dan pembayaran pajak US$42,24 juta. Selain itu, beban bunga dan keuangan juga melonjak dari US$37,73 juta pada 2008 menjadi US$180,92 juta pada tahun lalu.

Terkait dengan transaksi derivatif itu, BUMI mempunyai opsi US$95 juta, yang diambil pada Oktober 2009 ketika perusahaan batu bara terbesar di Indonesia itu mengambil fasilitas pinjaman dari China Investment Corporation (CIC), untuk menutup IRR pinjaman tersebut.

Menurut dia, opsi itu akan dilaksanakan pada 2013 ketika IRR jatuh tempo, sesuai dengan perjanjian pinjaman dengan CIC.

Laba bersih BUMI pada tahun lalu menurun 49%, sedangkan laba usaha dan marjin usaha perusahaan batu bara terbesar di Indonesia itu juga melemah 42,09% pada tahun lalu dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya.

Seiring dengan penurunan pendapatan 4,77% dari US$3,38 miliar pada 2008 menjadi US$3.22 billion pada tahun lalu, laba usaha BUMI tergerus 42,09% dari US$1,10 miliar pada 2008 menjadi US$638,25 juta.

Penurunan laba usaha itu dipicu oleh lonjakan beban pokok pendapatan 19,77% dari US$1,76 miliar pada 2008 menjadi US$2,12 miliar pada tahun lalu.

Akibatnya, marjin usaha BUMI merosot drastis dari 32,63% pada 2008 menjadi 19,83% pada tahun lalu.

Laba bersih emiten batu bara yang dikendalikan oleh keluarga Bakrie itu juga menurun 49% dari US$371,69 juta pada 2008 menjadi US$190,45 juta pada tahun lalu karena dipicu oleh lonjakan biaya pengupasan lahan senilai US$275 juta. (wiw)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini