Senin, 12 April 2010

bumi, TINGKAHmu MEMUAKKAN ... 090610

10/06/2010 - 15:48
Menaksir Saham BUMI Usai 'Rights Issue'
Bastaman


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta - Untuk mengurangi beban utang, Juli mendatang, PT Bumi Resources (BUMI) akan menerbitkan saham baru. Walaupun bakal berdampak positif terhadap perseroan, investor tetap harus hati-hati.

BUMI kini sedang dirundung masalah. Perusahaan milik keluarga Bakrie tersebut dibebani utang US$5,44 miliar atau sekitar Rp45 triliun lebih, termasuk di dalamnya utang pajak yang nilainya mencapai triliunan rupiah.

Untuk menguranagi beban utang tersebut, produsen tambang batubara ketiga terbesar di dunia ini berencana menerbitkan 10% saham baru (rights issue) atau sekitar 1,94 miliar lembar.

Rencananya, saham baru tersebut akan ditawarkan ke pasar dengan harga Rp2.366 per lembar. Dari hasil penjualan saham itu, BUMI berharap dapat meraup dana segar sekitar US$495,89 juta atau sekitar Rp 4,5 triliun.

Seluruh dananya akan dipakai untuk membayar utang. Namun hingga kini belum ada penjelasan mengenai calon pembeli, kecuali kabar yang menyatakan bahwa China Investment Corporation (CIC) akan menyerap saham baru tersebut.

Menarikah saham BUMI untuk dikoleksi? Sejumlah analis menilai, saham ini mempunyai prospek yang bagus. Soalnya, dengan berkurangnya beban utang, maka tahun depan BUMI diperkirakan akan memperoleh laba bersih Rp5,556 triliun.

Sementara tanpa rights issue, laba BUMI hanya Rp4,902 triliun. Sedangkan laba per sahamnya (earning per share/EPS) akan meningkat 3% menjadi Rp260. “Menurut kami, rights issue memberi pengaruh positif bagi perseroan,” kata seorang analis dari Kresna Securities.

Namun pendapat berbeda datang dari analis lain. Menurutnya, langkah BUMI menerbitkan saham baru akan berdampak pada suplai yang terlalu besar. Selain itu, timing-nya juga kurang tepat.

Seperti diketahui, penerbitan saham baru ini akan dilakukan akhir Juli mendatang. Padahal pada Juli-Agustus investor biasanya mengurangi aktivitasnya lantaran memasuki musim liburan. Sementara di dalam negeri, pada Agustus umat Islam akan menunaikan ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri. [mdr]
Rabu, 09/06/2010 18:28 WIB
Tambang Batubara Arutmin Stop Operasi
Nurseffi Dwi Wahyuni - detikFinance

Jakarta - Kegiatan operasional tambang batubara milik PT Arutmin Muara Asam-Asam terhenti akibat adanya demo dari masyarakat setempat. Penghentian operasional itu berpotensi menghambat pengiriman 20 ribu ton batubara per hari.

Penghentian kegiatan operasi tersebut terjadi karena adanya penutupan jalan khusus angkutan batu bara dan pelabuhan khusus pemuatan batu bara PT Arutmin Indonesia oleh ribuan warga Asam-Asam, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, sejak Senin sore (7/6/2010).

Menurut Direktur Teknik dan Lingkungan, Ditjen Minerbapabum, Kementerian ESDM, M.S Marpaung, demo masyarakat yang terjadi sejak Senin hingga hari ini, dipicu masalah lahan dan protes dilarangnya aktivitas illegal pemungutan batubara 'karungan'.

"Adapun potensi produksi terhambat dikirimkan sebesar 20 ribu ton per hari. Hal ini tidak akan mengganggu produksi Nasional," kata Marpaung saat dihubungi detikFinance, Rabu (9/6/2010).

Berdasarkan laporan yang diterima Marpaung, kejadian tersebut telah dilaporkan oleh Arutmin kepada pihak Kepolisian Daerah (POLDA) Kalimantan Selatan.

"Sudah dilakukan upaya-upaya persuasif melalui mediasi dengan Muspika dan Muspida dan belum berhasil. Sedang diupayakan denganbantuan Polda Kalsel," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral dan Batu Bara, Ditjen Minerbapabum, Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono membenarkan pihak Arutmin telah melaporkan kepada Polda Kalsel.

"Laporan itu ditembuskan ke Dirjen Minerbapabum. Rencananya Kita mau melibatkan tim obvitnas," jelasnya.

Bambang menambahkan, untuk sementara penghentian kegiatan operasi tambang tersebut belum begitu mempengaruhi produksi batubara secara nasional.

"Tapi kalau penyelesaiannya lama dapat mempengaruhi produksi," jelasnya.

Tambang batubara Arutmin merupakan milik PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merupakan salah satu anggota kelompok usaha Bakrie.

(epi/qom)

08/06/2010 - 10:08
Willy Sanjaya
Jangka Pendek, Bermain Cepat Saja di BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Selasa (8/6) diprediksi menguat seiring positifnya sentimen dari grup Bakrie. Namun, pada pekan menjelang piala dunia, investor disarankan main cepat di BUMI!

Pengamat pasar modal, Willy Sanjaya mengatakan, salah satunya pemicu penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini adalah sentimen positif dari grup Bakrie. Hal ini terkait PT Telkom (TLKM) yang sedang menjajaki akuisi PT Bakrie Telecom (BTEL) salah satu anak usaha grup Bakrie.

Namun, pasar harus mencermati momentum menjelang piala dunia 2010 yang dimulai akhir pekan ini, 11 Juni. Secara historis, volume transaksi di pasar selalu tipis. “Untuk jangka pendek, pelaku pasar sebaiknya bermain cepat di BUMI karena sekarang sudah masuk momentum piala dunia,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Senin (7/6) saham BUMI ditutup melemah Rp110 (5,91%) menjadi Rp1.750 dengan intraday Rp1.790 dan Rp1.690. Volume transaksi mencapai 253,4 juta unit saham senilai Rp443,5 miliar dan frekuensi 6.748 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin melemah Rp110, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya kira BUMI berpotensi menguat. Salah satunya dipicu oleh sentimen positif dari grup Bakrie. Hal ini terkait PT Telkom yang sedang menjajaki akuisi PT Bakrie Telecom salah satu anak usaha grup Bakrie. Wacana itu, sudah diangkat hingga DPR melalui direktur utama TLKM, Rinaldi Firmansyah.

Berita terkait akuisisi itu, menjadi kabar gembira bagi saham-saham yang bernaung di bawah The Seven Brothers termasuk BUMI di dalamnya. Trigger-nya bisa di saham BTEL sehingga harga sajam sejuta umat ini pun terangkat.

Akan bergerak di kisaran berapa?

Karena itu, BUMI akan mengarah ke level resistance Rp1.820 dan Rp1.720 sebagai level support-nya.

Bagaimana jika dilihat dari sisi teknikal?

Secara teknis, penutupan saham BUMI kemarin sudah mengalami tekanan tajam yang diiringi besarnya volume transaksi. Karena itu, saham ini berpeluang naik kembali hari ini ke level Rp1.820.

Bagaimana dengan sentimen market?

Tekanan jual terhadap BUMI kemarin tidak masuk akal. Hal itu semata faktor goncangan regional. Saya berharap, pasar dan kondisi market regional bisa kembali mereda setelah merebaknya kembali kasus-kasus utang di Eropa seperti Hongaria. Sebab, setiap kali kasus Eropa merebak, indeks akan terguncang kembali termasuk BUMI.

Jika pasar regional kembali melaju dengan tenang, saham BUMI dipastikan menguat. Pergerakan bursa AS sudah mulai tenang sebab di Eropa pun kemarin hanya minus 7-20 poin. Apalagi, harga batubara di Newcastle kembali menguat ke level US$98 per metrik ton dari sebelumnya US$96. Karena itu, menyimpan saham BUMI untuk long term sangat menjanjikan.

Sementara itu, dari dalam negeri tidak ada hal-hal yang berpengaruh negatif ke pasar. Saat ini pasar tinggal menunggu fit and proper test gubernur Bank Indonesia (BI) di mana Darmin Nasution akan segera menduduki posisi puncak di BI.

Seberapa besar potensi penguatan BUMI hari ini?

Memang, susah bagi BUMI untuk menguat lebih jauh. Sebab, pekan ini sudah memasuki bulan piala dunia. Sebagian besar fokus pelaku pasar dunia termasuk domestik tertuju ke Afrika Selatan tempat piala dunia dilangsungkan. Pelaku pasar mengikuti pesta empat tahunan. Pada saat piala dunia, transaksi tipis dan perdagangan sepi. Hal itu selalu terjadi setiap 4 tahun sekali dan dua tahun sekali di piala Eropa.

Anda punya target untuk saham BUMI?

Saya menargetkan harga saham BUMI hingga akhir tahun ini di level Rp3.800-an. Sebab, setelah piala dunia 11 Juli mendatang, pasar kembali aktif. Selasa ini pun, jika tidak ada berita buruk kembali, BUMI akan menguat.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan hold dan strong buy atas BUMI untuk jangka menengah dan long term. Sebab, level saat ini sudah sangat murah. Untuk jangka pendek, pelaku pasar sebaiknya bermain cepat karena sekarang sudah masuk momentum piala dunia.[jin/ast]
07/06/2010 - 10:05
Satrio Utomo
‘Downside’ BUMI Tertahan di level Rp1.600

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Senin (7/6) diprediksi sideways cenderung melemah karena negatifnya sentimen market. Tapi, peluang downside-nya terbatas di level Rp1.600 per saham.

Pengamat pasar modal, Satrio Uotmo memperkirakan, potensi tertekannya saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini dipicu oleh negatifnya laju market akibat regional yang tidak mendukung. Akibatnya, meski sideways, peluang BUMI untuk melemah lebih besar daripada kemungkinan menguat.

Sebab, tekanan jual (selling pressure) bagi BUMI sangat besar. “Tapi, peluang downside-nya terbatas di level Rp1.600 per lembar saham,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, saham BUMI ditransaksikan melemah Rp50 (2,61%) menjadi Rp1.860, dengan intraday Rp1.900 dan Rp1.790. Volume transaksi mencapai 251,6 juta unit saham senilai Rp462,4 miliar dan frekuensi 7.326 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah akhir pekan lalu, melemah Rp50, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI awal pekan ini?

Saya kira pergerakan saham BUMI hari ini mendatar (flat) cenderung melemah. Hal ini dipicu oleh negatifnya sentimen market yang dimotori pelemahan bursa Dow Jones hingga 3,15%. Namun, pelemahan saham sejuta umat ini, tidak akan terlalu dalam karena tertahan oleh penguatan harga batubara. Berdasarkan harga di Newcastle, batubara mengalami penguatan ke level US$98,16 per metrik (harga mingguan) dan di angka US$69,28 di Nymex (harga harian).

Akan bergerak di kisaran berapa?

Karena itu, BUMI akan mengarah ke level support Rp1.750-1.700 dan Rp2.050 sebagai level resistance-nya.

Bagaimana arah pergerakannya untuk jangka menengah?

Saya perkirakan, untuk jangka menengah, saham batubara thermal ini akan bergerak dalam range yang lebar di kisaran support Rp1.600 dan Rp2.050 sebagai level resistance-nya. Artinya, level Rp1.600 menjadi support kedua dan Rp1.550 sebagai support ketiganya.

Bagaimana dengan sentimen market?

Dari sisi sentimen market, memang tren IHSG ^JKSE masih berada pada jalur penguatan dan pergerakan saham BUMI sendiri saat ini sangat tergantung pada arah pasar. Tapi, karena market regional tidak mendukung, peluang BUMI untuk melemah lebih besar daripada kemungkinan menguat. Tekanan jual (selling pressure) bagi BUMI sangat besar. Namun demikian, peluang downside-nya terbatas di level Rp1.600 per lembar saham.

Di sisi lain, pelaku pasar secara umum, masih khawatir terhadap krisis fiskal di Eropa. Terlebih lagi, pasar juga masih mencermati apakah krisis ini sudah akan berakhir atau justru akan bertambah buruk. Saat ini, pasar khawatir, krisis Eropa lebih buruk daripada yang dibayangkan, sehingga memicu orang untuk melakukan tekanan jual.

Adakah peluang market tertekan lebih dalam sehingga ikut menggerus laju pergerakan saham BUMI?

Untuk terjadinya super bearish, misalnya Dow Jones bergerak ke arah level support 8.500-8.000 hal itu belum akan terjadi. Sebab,secara teknikal pelemahan Dow Jones belum menembus level support 9.800. Karena itu, IHSG saat ini, berada di persimpangan jalan.

Dalam pekan ini, indeks mencari arah, apakah akan menembus level resistance 3.000 terlebih dahulu untuk kemudian melemah kembali dan indeks kembali menguat ke level 3.500 di akhir tahun. Atau, indeks justru turun ke level 2.200-an dan baru mencapai level 3.000 di tahun depan. Keadaan ini, akan ditentukan dalam sepekan ke depan ini.

Masalahnya, lanjut Satrio, pada saat indeks berada di level-level penentuan, berbarengan dengan momen piala Dunia 2010, 11 Juni akhir pekan ini yang memicu tipisnya volume transaksi. Pada saat transaksi tipis, pelaku pasar lebih cenderung melakukan aksi jual daripada aksi beli.

Lantas, apa rekomendasi untuk BUMI?

Dalam kondisi itu, saya sarankan agar pasar hati-hati dan antisipatif terhadap semua saham termasuk BUMI. Sebab, indeks memiliki peluang melemah ke level 2.200. Meskipun kemungkinan itu kecil tapi tetap ada. Saya rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI di level Rp1.750-1.500. [jin/ast]
04/06/2010 - 10:10
Irwan Ibrahim
‘Buy on Weakness’ untuk BUMI
Ahmad Munjin

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (4/6) diprediksikan menguat seiring potensi kenaikan harga batubara ke level US$100 per metrik ton dan positifnya sentimen market.

Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan, salah satu penopang penguatan saham BUMI hari ini dipicu oleh peluang kenaikan harga batubara ke level US$100 per metrik ton. Penguatan saham BUMI juga ditopang oleh positifnya sentimen market seiring membaiknya pergerakan bursa regional dan global.

Sebab, menurut Irwan, kekhawatiran pasar atas krisis utang di Yunani sudah selesai. “Investor di pasar global kembali masuk terutama di saham-saham sektor energi seperti BUMI,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp70 (3,80%) menjadi Rp1.910 dibandingkan sebelumnya di level Rp1.840. Harga tertingginya mencapai Rp1.930 dan terendahnya Rp1.820. Volume transaksi mencapai 360,4 juta unit saham senilai Rp675,07 miliar dan frekuensi 8.708 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Setelah kemarin menguat 3,80%, bagaimana Anda memperkirakan, pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya melihat potensi penguatan hari ini. Salah satunya dipicu oleh potensi penguatan kembali harga batubara ke level US$100 per metrik ton dari level saat ini di angka US$96 berdasarkan harga di Newcastle. Saya yakin, tren ke depannya, harga batubara akan kembali naik.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.000 dan Rp1.870 sebagai level support-nya.

Bagaimana dengan sentimen market?

Ya. Penguatan saham BUMI juga ditopang oleh positifnya sentimen market seiring membaiknya pergerakan bursa regional dan global. Sebab, kekhawatiran pasar atas krisis utang di Yunani sudah selesai. Investor di pasar global kembali masuk terutama di saham-saham sektor energi seperti BUMI.

Hal ini ditandai dengan kembali rebound-nya bursa di AS. Selain itu, mata uang euro sudah kembali menguat terhadap dolar AS. Sebelumnya euro sempat melemah ke level kritis di angka US$1,21 per dolar AS. Jika tembus di bawah itu, sangat berbahaya bagi kawasan Uni Eropa. Sekarang euro sudah kembali ke level US$1,2-1,3.

Bagaimana dengan manajemen BUMI yang meralat laporan laba bersihnya dari turun 22% menjadi naik 38%?

Itu sangat positif. Hal ini terefleksi pada penguatan saham sejuta umat ini kemarin dan akan terus menguat hari ini. Sebab, level harga BUMI saat ini sudah sangat murah. Kenaikan laba bersih menandakan kuatnya fundamental perseroan.

Menurut Anda di level berapa harga wajar saham BUMI saat ini?

Seharusnya, dengan kenaikan harga emas ke level US$1.219,24 per ons saat ini, saham BUMI sudah berada di level Rp5.000 per saham. Namun, angka ini bisa dicapai jika BUMI terus mengakuisisi perusahaan tambang kecil lebih banyak lagi. Termasuk juga pertambangan emas. BUMI jangan hanya berkutat pada masalah penjualan batubara semata.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan ‘beli’ BUMI untuk jangka panjang. Tapi, kalau untuk day trading, direkomendasikan buy on weakness. Pada saat saham ini melemah, pelaku pasar harus segera melakukan aksi beli. Bermain cepat. Sebab, biasanya, jika bermain jangka pendek, hari ini beli besok pagi sudah naik Rp50.

Tapi, karena hari ini merupakan akhir pekan, menjelang libur, orang tidak akan berani melakukan aksi beli dalam jumlah besar. Karena itu, Jumat ini harga BUMI akan berfluktuasi di kisaran sempit di level Rp1.900-2.000. [jin/hid]
Jumat, 04/06/2010 17:50 WIB
Ditjen Pajak: Grup Bakrie Belum Lunasi Tunggakan
Ramdhania El Hida - detikFinance

Jakarta - Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak sampaikan 3 perusahaan Grup Bakrie sampai saat ini belum melunasi tunggakan pajaknya. Ketiga perusahaan itu baru membayar sebagian dari total tunggakan utang pajaknya.

"Dibanding perusahaan lain, in case dia (Grup Bakrie) sudah bayar ini lebih baik," ujar Direktur Intelejen dan Penyelidikan Ditjen Pajak Pontas Pane di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (4/6/2010).

Tunggakan yang harus dibayar Bakrie Group merupakan nilai SPT (surat pemberitahuan tahunan) pajak tahun 2008 untuk penjualan tahun 2007. Jumlah totalnya cukup besar yakni mencapai Rp 2,1 triliun untuk 3 perusahaan.

"Itu untuk Bumi Recources Rp 948 miliar, KPC Rp 828 miliar, dan sisanya Arutmin," ungkap Pontas.

Pembayaran sebagian telah dilakukan pada 2009 lalu dan sebagiannya lagi dilakukan pada bulan Mei 2010.

Meski demikian, Pontas mengatakan pembayaran itu tidak berarti menghentikan proses pidana Bakrie Grup. Hal tersebut disebabkan penyidikan baru akan dihentikan apabila ada permintaan penghentian perkara dengan melunasi denda 400% dari tunggakan.

"Penghentian penyidikan bisa dilakukan sepanjang wajib pajak mau melunasi utangnya ditambah sanksi denda 4 kali jumlah pajak yang kurang atau tidak dibayar (400%)," jelasnya. (nia/dnl)

Jumat, 04/06/2010 18:47:16 WIB
Penyidikan kasus pajak anak usaha Bakrie tetap jalan
Oleh: Agust Supriadi
JAKARTA (Bisnis.com): Direktorat Jenderal Pajak menegaskan proses penyidikan kasus pajak tiga anak perusahaan tambang milik Bakrie Group tetap berlanjut meski ketiganya sudah membayar tunggakan pajak sebesar Rp2,17 triliun tanpa memperhitungkan denda.

Seperti diketahui, Ditjen Pajak tengah menyidik tiga anak perusahaan tambang batu bara milik Bakrie Group yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resource Tbk, dan PT Arutmin Indonesia. Jumlah sementara kerugian negara yang ditimbulkan dari tindak pidana tersebut sekitar Rp2,1 triliun.

Pontas Pane, Direktur Intelejen dan Penyidikan Direktorat Jenderal Pajak, menuturkan tiga perusahaan batubara Bakrie sudah bersikap kooperatif dengan membayar sebagian total tunggakan pajak dan denda dari surat pemberitahuan tagihan (SPT) pajak 2008. Kendati demikian, hal itu tetap tidak akan menghentikan proses penyidikan yang tengah dilakukan oleh direktoratnya mengingat masih ada sisa tagihan yang belum dilunasi.

"Jadi totalnya sekitar Rp2 triliun sekian yang sudah dibayar. Artinya, dibandingkan perusahaan-perusahaan lain yang bermasalah, [tiga anak perusahaan tambang] Bakrie itu sudah cukup kooperatif. Tapi penyidikan tetap jalan," jelas dia kepada wartawan, hari ini.

Pontas merinci total tagihan yang sudah dibayar adalah dari Bumi Resources sebesar Rp948 miliar, KPC Rp828 miliar, dan Arutmin Rp400 miliar. Namun, itu belum memperhitungkan denda 400% dari total tunggakannya.

Dalam Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP) 2007 dan 2009 diatur bahwa penghentian penyidikan bisa dilakukan sepanjang wajib pajak mau melunasi utangnya, ditambah sanksi berupa denda empat kali dari jumlah pajak yang kurang atau tidak dibayar (400%). (msw)
04/06/2010 - 17:48
BEI: Ulasan LK Kuartal I BUMI Tidak Masalah
Susan Silaban


(IST)
INILAH.COM, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakui, manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) telah memberikan revisi ulasan laporan keuangan (LK) kuartal I 2010.

"Ulasannya saja yang mereka revisi," ujar Direktur Pencatatan BEI, Eddy Sugito, saat dikonfirmasi INILAH.COM, Jumat (4/6).

Pada 2 Juni 2010, BUMI menyampaikan LK kuartal I 2010 dengan mencantumkan laba bersih US$96,805 juta, sedangkan laba bersih periode yang sama 2009 sekitar US$190,448 juta. Artinya, BUMI mencatatkan penurunan laba bersih Q to Q sekitar 22,26%.

Pada hari yang sama, manajemen perseroan batu bara ternama ini memberikan ulasan kinerja laba bersih kuartal I 2009 setelah penyesuaian pajak US$55,4 juta. Artinya, laba bersih kuartal 1-2009 menjadi US$71,14 juta.

"Hari itu juga mereka memberikan ulasan revisi kepada bursa. Jadi tidak masalah," akunya.

Saat dikonfirmasi mengenai revisi ulasan ini, Kabiro PKP Sektor Rill Bapepam-LK, Anis Baridwan menyatakan bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab bursa. Pasalnya, tugas Bapepam-LK adalah menelaah KL tahunan bukan kuartalan. "Ini menjadi tanggung jawab bursa. Kita mengawasi LK tahunan," ujarnya singkat. [san/mre]
Jumat, 04/06/2010
Bumi terdepak dari daftar efek syariah
bisnis indonesia
JAKARTA: Saham PT Bumi Resources Tbk tahun ini terdepak dari daftar efek syariah (DES) nasional, menyusul lonjakan utang perseroan tahun lalu yang mendongkrak rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/ DER).

Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) A. Fuad Rahmany mengatakan DES baru telah dirilis pada 27 Mei, melalui surat keputusan nomor Kep-208/BL/2010.

"Sumber data bahan penelaahan dalam penyusunan DES berasal dari laporan keuangan per 31 Desember 2009 yang diterima sampai 20 Mei 2010 dan data pendukung lain berupa data tertulis dari emiten atau dari pihak lain yang terpercaya," tuturnya dalam pernyataan resmi, kemarin.

Dari total 203 saham, hanya 11 perusahaan tambang yang masuk DES, turun dari posisi 2009 sebanyak 13 perusahaan. Bumi yang semula berada pada urutan 13 kini hilang dari daftar tersebut. Emiten lain yang juga terdepak adalah PT Benakat Petroleum Energy Tbk.

Menanggapi itu, Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito mengatakan DES memiliki kriteria batas maksimum DER yang tidak boleh terlewati, yakni sebesar 82%, yang kemungkinan membuat Bumi tersisih dari daftar tersebut.

"Namun saya perlu memastikan lagi apakah Bumi memang keluar dari daftar efek syariah," ujarnya.

Analis PT Samuel Sekuritas Christine Salim menilai rasio net gearing Bumi per triwulan I/2010 meningkat menjadi 2,04 kali (dari posisi setahun sebelumnya 0,69 kali). Kenaikan utang setahun tersebut sebesar 183% membuat beban bunga membengkak menjadi US$134,6 juta, dari posisi sebelumnya US$20,4 juta.

"Posisi leverage masih menjadi perhatian utama kami. Per Maret 2010, total utang mencapai US$3,49 juta, melonjak dari tahun lalu US$1,23 juta, sehingga rasio net gearing meningkat menjadi 2,04 kali," ujarnya dalam laporan riset 3 Juni.

Data analisis finansial Bloomberg menyebutkan perbandingan utang dan ekuitas Bumi berdasarkan neraca keuangan 2009 mencapai 249,47%, naik dari posisi 2008 yang berada di level 122,39%.

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia
03/06/2010 - 08:58
Mengintip Peluang BUMI Usai Laporan Keuangan
Asteria


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources (BUMI) baru saja merilis laporan keuangan kuartal pertama 2010. Namun, berbagai masalah masih membayangi pergerakan emiten batubara tersebut. Bagaimana rekomendasi analis?

Pada tiga bulan pertama 2010, laba bersih BUMI turun 22,26% menjadi US$96,81 juta dari periode yang sama 2009 sebesar US$124,54 juta. Sementara pendapatan BUMI naik 22,11% menjadi US$ 1,01 miliar dari US$832,66 juta.

Keterbukaan informasi BUMI kepada BEI, Selasa (2/6) mengatakan, turunnya laba bersih dipicu beban pokok pendapatan yang cukup besar. Alhasil, laba kotor BUMI pun turun 12,16% menjadi US$ 344,81 juta.

Dampak tersebut juga terasa pada laba usaha perusahaan yang turun 22,76% menjadi US$ 218,81 juta. Adapun dana kas BUMI juga merosot menjadi US$ 59,62 juta ketimbang periode yang sama 2009 sebesar US$ 140,06 juta.

Sepanjang kuartal pertama 2010, harga rata-rata batu bara BUMI turun 16% pada US$62,9/ ton dari U$74,7/ton di kuartal pertama 2009. Penjualan kuartal pertama 2010 sebesar 16 juta ton batubara, naik 41,6% dari 11,3 juta ton.

Pekan lalu, BUMI mengumumkan telah meraih kontrak ekspor 2010 ke pembeli China sebesar 13 juta ton pada harga US$80 per ton. Harga kontrak ini lebih rendah dari kontrak sebelumnya dengan Jepang untuk April 2010-Maret 2011, US$104 per ton (FOB/free on board).

Analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono menilai, penurunan laba bersih BUMI masih wajar dan sesuai estimasi. Ia mencontohkan saham PT Bukit Asam (PTBA) yang pada periode sama membukukan penurunan laba bersih 60%.

Demikian juga laba bersih Adaro (ADRO) yang turun 25% dan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) yang melemah 34%. “Jadi apa yang terjadi di BUMI wajar,” katanya.

Kendati demikian, tekanan pada ekonomi dunia pada bursa saham global, dunia dapat membuat penawaran 10% saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) BUMI sepi peminat.

Ini mengindikasikan aksi pelunasan utang bisa bermasalah. Terkait hal ini, Purwoko pun menyarankan investor melepas saham ini. “Rekomendasi kami adalah jual untuk BUMI,” tandasnya.

Seperti diketahui, BUMI berencana melepas saham baru tanpa HMETD atau non-preemptive rights. Berdasarkan peraturan Bapepam, jumlah maksimal saham yang dapat diterbitkan sebanyak 1,94 miliar lembar atau 10% dari jumlah saham beredar. Harga pelaksanaan berdasarkan 25 hari sebelum 24 Mei 2010 atau Rp2.331 per saham.

Christine Salim, analis dari Samuel Sekuritas memandang positif non pre-emptive right. Terutama karena adanya strategic shareholder dan porsi utang yang akan turun.

Sedangkan tekanan jual terhadap saham BUMI, menurutnya tidak didasari perubahan fundamental yang signifikan. Sehingga koreksi merupakan kesempatan untuk mengakumulasi. “Rekomendasi beli untuk BUMI,” paparnya.

Christine mengakui, dampak non- preemptive right di satu pihak akan menimbulkan dilusi earning per share (EPS) sekitar 5,2% pada 2010 dan 2,3% di 2011.

Namun, dengan asumsi utang berkurang, maka laba bersih akan meningkat karena interest saving cost dan tekanan cashflow berkurang. “Kendati demikian ada risiko investasi dari batalnya non-preemptive right atau tidak mendapat persetujuan pemegang saham,” jelasnya.

Di sisi lain, analis Dang Maulida dari Indo Premier Securities mengatakan, kemenangan KPC atas Dirjen Pajak, berkembang ke arah yang kurang sehat. Dalam hal ini Dirjen Pajak menyatakan akan menelaah kembali putusan Mahkamah Agung (MA) tertanggal 24 Mei 2010 yang menolak Peninjauan Kembali (PK).

Dirjen Pajak sebelumnya mengajukan PK ke MA pada Maret 2010 setelah Pengadilan Pajak pada Desember 2009 memutuskan Ditjen Pajak tidak diizinkan melakukan penyidikan atas KPC karena tidak adanya alasan dan bukti yang kuat. Sudah terpetik himbauan dari beberapa pebisnis agar Ditjen Pajak mematuhi putusan MA.

Ke depan, imbuhnya, karena BUMI tersangkut dengan kepemilikan keluarga orang nomor satu pada Partai Golkar, investor boleh menyiapkan diri bahwa nilai fundamental saham BUMI dengan perhitungan saat ini pada Rp3.500 per saham, akan mengalami hambatan untuk terealisasi.

Dang Maulida pun menyarankan 2 pilihan aksi investasi atas saham BUMI. Pertama, memegang jangka panjang sampai, setidaknya hingga 2014. “Sedangkan pilihan kedua adalah selalu menggunakan momentum positif pasar saham Jakarta untuk sell on strenght atau menjual pada saat pasar saham sedang naik,” pungkasnya. [mdr]
02/06/2010 - 09:58
Gina Novrina Nasution
‘Wait and See’ Saja untuk BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Rabu (2/6) diprediksikan melemah seiring negatifnya sentimen market. Pada saat yang sama harga minyak dan batubara turun. Wait and see BUMI!

Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities mengatakan, potensi tertekannya saham PT Bumi Resources (BUMI), hari ini karena dua faktor. Salah satunya, negatifnya sentimen market secara keseluruhan yang dimotori Eropa akibat ancaman kredit macet senilai 195 miliar euro.

Selain itu, sebagai emiten sektor pertambangan, BUMI juga tertekan penurunan harga minyak mentah dunia dan batubara. “Komoditas secara umum tidak mendukung penguatan BUMI,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp115 (5,67%) menjadi Rp1.910 dengan intraday Rp2.025 dan Rp1.900. Volume transaksi mencapai 177,6 juta unit saham senilai Rp348,4 miliar dan frekuensi 5.040 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin melemah 5,67%, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Menurut saya, masih berpotensi tertekan karena sentimen negatif market secara keseluruhan baik regional maupun global terutama Eropa. Bursa Eropa kemarin sore pun dibuka mengalami pelemahan. Hal itu disebabkan ECB (European Central Bank) yang memperingatkan, perbankan zona euro akan menghadapi kredit macet ‘gelombang kedua’. Nilainya tak tanggung-tanggung mencapai 195 miliar euro dalam 18 bulan mendatang.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level support Rp1.850 dan Rp1.980 sebagai level resistance-nya.

Selain faktor Eropa?

Negatifnya sentimen market juga karena faktor regional seperti bursa Nikkei dan Shanghai yang bergerak melemah. Hal ini dipicu oleh data The Purchasing Managers' Index (PMI) sektor manufaktur di China yang negatif baik menurut versi pemerintah maupun versi HSBC. Indeks manufaktur versi pemerintah China turun jadi 53,9 dari sebelumnya 55,7. Padahal diekspektasikan indeks ini berada di level 54,0.

Begitu juga dengan data HSBC. Sektor manufaktur China turun 52,7 dari sebelumnya 55,2. Ini berita negatif bagi pasar, karena menandakan perlambatan perekonomian negara itu. Market secara umum juga mendapat tekanan dari bursa Rusia. Sebab, negara itu memangkas suku bunga acuannya 25 basis poin jadi 7,75% untuk mendukung pemulihan ekonomi. Artinya, perekonomian negara itu melambat.

Bagaimana dengan komoditas minyak dan batubara?

Itu juga. Pada saat yang sama, harga minyak mentah dunia turun ke level US$71 per barel dari sebelumnya US$74 per barel. Kemarin pun, penguatan harga minyak sebenarnya hanya faktor spekulan dan bukan demand yang riil. Setelah terjadi kebocoran, pasar berspekulasi harga minyak akan naik. Tapi, ternyata kenaikan itu bukan karena permintaan riil, sehingga tidak kuat. Begitu juga dengan harga batubara yang turun ke level US$96 per metrik ton berdasarkan harga di Newcastle. Komoditas secara umum tidak mendukung penguatan BUMI.

Bagaimana dengan aksi korporasi perseroan?

Dari sisi aksi korporasi belum ada hal baru yang bisa mengangkat saham sejuta umat ini. Seharusnya BUMI memang mendapat sentimen positif dari kemenangan kasus pajak PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha BUMI, di Mahkamah Agung. Hal tersebut, seharusnya jadi sentimen positif. Tapi, karena market tidak mendukung, BUMI lebih besar potensinya untuk melemah.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan wait and see untuk BUMI. Tapi, untuk long term hingga akhir tahun masih oke, hold saja.[jin/ast]
Selasa, 01/06/2010 18:39 WIB
Kadin: Kalah Lawan KPC, Ditjen Pajak Tak Perlu Ngotot
Suhendra - detikFinance

Jakarta - Ketua Umum Pergantian Antar Waktu (PAW) Kamar Dagang dan Indonesia (Kadin) Adi Putra Tahir menegaskan masalah kasus PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang menang di Mahkamah Agung (MA) sudah seharusnya dihormati sebagai bentuk kepastian hukum berusaha di Indonesia.

"Kasus KPC kita minta kepastian hukum, kalau sudah di MA, ya sudah jangan dicampuri politiklah," kata Adi saat dihubungi detikFinance, Selasa (1/6/2010)

Adi meminta agar masalah kasus KPC ini jangan dicampuradukan dengan masalah politik, karena masalah ini murni terkait dengan dunia bisnis. Sehingga posisi putusan yang sudah selesai di MA harus diterima tak perlu diperpanjang.

"Kasus itu kalau sudah di MA, sudah dong," katanya

Sebelumnya Dirjen Pajak M. Tjiptardjo menyatakan tak akan menyerah menghadapi kekalahannya di Mahkamah Agung (MA) dalam melawan KPC. Tjiptardjo akan melakukan upaya hukum lanjutan.

"Ini kan negara hukum, kita akan lakukan upaya hukum. Jadi kita akan jalan terus," tegas Tjiptardjo kepada detikFinance, Sabtu (29/5/2010).

Tjiptardjo mengatakan, yang dipersoalkan dalam perkara tersebut pemberi perintah bukti permulaan (buper). Namun, penyidikannya sendiri sudah jalan walaupun belum selesai. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak tetap akan berusaha untuk memenangkan kasus tersebut.

(hen/dnl)
01/06/2010 - 08:57
BUMI Konsolidasi, ‘Trading Buy’!
Ahmad Munjin


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Selasa (1/6) diprediksikan bergerak konsolidasi akibat penguatan tajam pekan lalu. Pelaku pasar masih fokus pada saham bluechips lain. Trading buy BUMI!

Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan, potensi konsolidasinya saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini akibat penguatannya yang tajam pekan lalu. Itulah yang memicu pergerakannya tidak ke mana-mana dan berkutat di area trading.

Menurutnya, pasar saat ini masih fokus pada saham bluechips, sebelum emiten sejuta umat ini mendapat giliran. “BUMI akan bergerak dalam kisaran support Rp1.950 dan Rp2.100 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (31/5) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup stagnan di level Rp2.025. Harga tertingginya mencapai Rp2.075 dan terendah Rp2.000 per lembar. Volume transaksi mencapai 149,4 juta unit saham senilai Rp304,3 miliar dan frekuensi 3.113 kali.

Padahal, lanjut Ukie, jika dilihat dari sisi sentimen hari ini sebenarnya positif. Sebab, data inflasi Mei diekspektasikan positif di level rendah, tidak lebih dari 0,3%. Ini juga yang menjadi salah satu pemicu derasnya arus capital inflow ke pasar domestik. “Ke depannya BUMI masih menguat, tapi untuk hari ini konsolidasi terlebih dahulu,” ujarnya.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$74 per barel sudah di-adjust oleh market. Saat ini, menutur Ukie, pasar masih ingin memastikan apakah rally tersebut masih berlanjut atau tidak. “Begitu juga dengan harga crude palm oil (CPO),” ungkapnya.

Dengan kembali derasnya arus capital inflow, lanjut Ukie, sebenarnya sangat kondusif bagi penguatan BUMI lebih jauh. Tapi, investor saat ini mendahulukan saham bluechips lain karena BUMI sudah menguat tajam di pekan lalu.

Investor sekarang masuk di saham PT Perusahaan Gas Negara (PGAS), PT Aneka Tambang (ANTM), PT International Nickel Indonesia (INCO), dan saham-saham perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Bank Mandiri (BMRI).

Setelah saham bluechips lain naik, baru saham BUMI akan kembali menyusul untuk menguat. Sebab, level harga BUMI saat ini masih murah. Arah pergerakannya pun dalam jangka menengah-panjang sudah mulai naik, setelah sebelumnya terjadi kontraksi yang luar biasa hingga mencapai Rp1.500-an.

Setelah konsolidasi, Ukie yakin, saham sejuta umat ini akan naik pelan-pelan. Dengan kondisi market yang mulai menanjak, konsolidasi BUMI tidak akan lama. “Saya rekomendasikan trading buy BUMI. Sedangkan untuk jangka panjang, saya sarankan hold saja,” imbuh Ukie. [mdr]
27/05/2010 - 11:03
Irwan Ibrahim
Sentimen BUMI Masih Gonjang Ganjing

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Kamis (27/5) diprediksikan melamah setelah menguat tajam 19,88%. Sebab, sentimennya masih akan gonjang-ganjing terkait market dan aksi korporasinya.

Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan, salah satu potensi tertekannya kembali saham BUMI karena masih terpengaruh negatif oleh gonjang-ganjing aksi korporasinya. Selain itu, market global dan domestik pun belum memberikan arah yang pasti.

Karena itu, Irwan merekomendasikan beli atas BUMI. Tapi, untuk sehari-dua hari, lebih baik menjual saham ini terlebih dahulu di posisi 2.050-2.075. Sebab, BUMI akan bergerak dalam kisaran Rp1.800 hingga Rp2.000-an, katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (26/5) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat tajam Rp340 (19,88%) menjadi Rp2.050 dengan intraday Rp2.075 dan Rp1.800. Volume transaksi mencapai 482,8 juta unit saham senilai Rp941,4 miliar dan frekuensi 10.552 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin menguat tajam di atas 19%, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya melihat potensi melemah. Salah satunya dipicu oleh kasus pajak PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang belum final meski Mahkamah Agung sudah memenangkan kasus pajak senilai Rp1,5 triliun atas Direktorat Jenderal Pajak. Sebab nantinya, Ditjen Pajak akan mengajukan PK (peninjauan kembali) atas putusan MA tertanggal 24 Mei 2010 itu. Karena itu, secara legal, kasus pajak KPC belum final.

Selain PK dari Ditjen Pajak, Komisi Yudisial juga akan memeriksa putusan MA itu. Akibatnya, investor pun masih ragu-ragu. Sebab, investasi di saham BUMI terutama dari investor besar tidak dalam angka yang kecil melainkan di atas Rp100 miliar sehingga mereka akan hati-hati.

Investor sebenarnya belum mendapatkan arah yang jelas terkait rumor di emiten ini. Pasar belum mendapatkan pernyataan yang sakti dari manajemen BUMI sehingga pasar bisa memastikan apakah pergerakan BUMI sesuai dengan rumor-rumor di pasar. Meski aksi perseroan seprti non preemtive right sudah terdaftar di Bapepam LK, masalah penjualan saham masih ditunggu pasar kelanjutannya.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level support Rp1.900 dan Rp2.050 sebagai level resistance-nya.

Bagaimana dengan faktor teknikal?

Penguatan BUMI kemarin semata faktor technical rebound. Sebab, tren sebenarnya masih bearish. Apalagi, emiten ini masih diselimuti dengan rumor-rumor lain yang tidak menentu di luar pajak. Pada saat yang sama, harga minyak mentah dunia anjlok sangat tajam ke level US$70 per barel . Diprediksikan harga minyak akan turun ke level US$65 per barel. Dua kombinasi itu yang memicu pasar panik.

Penguatan tajam IHSG ^JKSE dan BUMI kemarin semata faktor technical rebound. Sebab, saham-saham sektor energi seperti BUMI sudah sangat murah. Apalagi, BUMI akhir Juni mendatang akan membagikan dividen. Jika masuk kemarin akan mendapat dividen yield yang sangat besar.

Karena itu, pelaku pasar buru-buru masuk ke saham ini sehingga terjadi rally dan technical rebound. BUMI berpeluang melemah kembali karena technical rebound kemarin terlalu tinggi. Technical rebound belum bisa mengonfirmasi penguatan saham BUMI selanjutnya.

Sentimen market bagaimana?

Dari eksternal masih ada kasus krisis Yunani. Hal ini memicu penurunan likuiditas di pasar global. Keadaan ini diiringi dengan kekhawatian melemahnya mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro) terhadap dolar AS. Karena itu, harga komoditas anjlok dan trennya pun akan terus turun.

Jika euro terus mengalami pelemahan hingga Juni mendatang, di bawah US$1,20 per dolar AS, The Fed berpeluang menaikkan tingkat suku bunga acuannya (The Fed Fund Rate). Karena itu, di AS pun Indeks Dow Jones berpeluang anjlok.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Untuk jangka panjang, Saya rekomendasikan beli atas BUMI. Tapi, untuk sehari-dua hari, lebih baik menjual saham ini terlebih dahulu di posisi 2.050-2.075. Sebab, BUMI akan bergerak dalam kisaran Rp1.800 hingga Rp2.000-an. Sentimennya masih akan gonjang-ganjing terus terkait dengan global mapun dari dalam negeri dan aksi korporasinya. [jin/ast]
Kalah Soal KPC, DPR Akan Panggil Dirjen Pajak
Akan dievaluasi, banyak kasus yang diajukan Ditjen Pajak selalu kalah di persidangan.
RABU, 26 MEI 2010, 13:05 WIB
Arinto Tri Wibowo, Agus Dwi Darmawan


VIVAnews - Panitia Kerja (Panja) Perpajakan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan segera memanggil Dirjen Pajak terkait kekalahan Direktorat Jenderal Pajak dalam Peninjauan Kembali (PK) kasus pajak PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, Mahkamah Agung (MA) menolak PK yang diajukan Ditjen Pajak karena menganggap landasan hukum penyidikan tidak sah.

Anggota Komisi XI DPR RI Maruarar Sirait mengatakan Panitia Kerja Perpajakan akan mengevaluasi penyebab penolakan itu. "Ini lagi-lagi dasar hukum. Kenapa dinyatakan tidak sah, itu yang kami ingin tahu," kata Maruarar di Gedung DPR, Jakarta, Rabu, 26 Mei 2010.

Maruarar membantah anggapan bahwa pemanggilan itu merupakan upaya intervensi DPR terhadap keputusan MA. Menurut dia, langkah ini semata merupakan evaluasi. Tambahan lagi, DPR tidak hanya akan menyoroti kasus KPC namun akan mencermati banyaknya kasus yang diajukan Kantor Pajak yang selalu mengalami kekalahan.

MA memenangkan KPC, anak usaha PT Bumi Resources Tbk, dalam sengketa pajak senilai Rp 1,5 triliun dengan menolak permohonan PK yang diajukan Direktur Jenderal Pajak. Dalam laman resmi MA, putusan itu dikeluarkan pada 24 Mei 2010. Kasus itu diajukan ke MA pada 29 Maret dengan Nomor Register 141 B/PK/PJK/- 2010.

Hakim dalam putusan ini adalah Imam Soebechi, Supandi, dan Paulus E. Lotulung. Sedangkan Sumartanto sebagai panitera pengganti.

Kuasa Hukum KPC Aji Wijaya mengatakan, "Kami menyambut baik putusan. Ini semakin menegaskan bahwa tidak ada penyimpangan pajak di KPC."

Putusan MA tersebut menguatkan putusan Pengadilan Pajak bahwa landasan Direktorat Pajak dalam penyidikan KPC tidak sah. (kd)

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews
Rabu, 26/05/2010 16:39 WIB
Terbitkan 10% saham baru, BUMI Lunasi Utang US$ 1 miliar
Angga Aliya - detikFinance

Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana menggunakan dana hasil penawaran umum terbatas tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (tanpa HMETD/nonpreemptive rights) sebesar 10 persen untuk membayar utang sebanyak US$ 1 miliar tahun ini. Total utang perseroan saat ini mencapai US$ 3,4 miliar.

"Kemungkinan kita mengeluarkan maksimal 10 persen, seperti dalam ketentuan Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan)," kata Direktur Utama Bumi Ari Saptari Hudaya usai RUPST PT Energi Mega Persada di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (26/5/2010).

Total utang perseroan saat ini mencapai US$ 3,4 miliar. Tahun ini, rencananya emiten berkode BUMI itu akan melunasi utangnya sebanyak US$ 1 miliar dengan dana dari penawaran umum terbatas tanpa HMETD tadi.

Namun sayangnya, ia enggan menyebutkan besaran dana yang bisa didapat dari aksi korporasi melepas 10 persen saham tersebut. "Belum tahu," katanya singkat.

Ia juga belum bisa membeberkan siapa saja investor yang akan menyerap saham yang bakal diterbitkan anak usaha Grup Bakrie tersebut karena masih harus menunggu persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB berikutnya.

Sesuai dengan peraturan Bapepam-LK No.IX.D.4 tentang Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Terlebih Dahulu, setiap emiten bisa melakukan aksi korporasi tersebut tanpa persetujuan Bapepam-LK. Namun, hanya persetujuan dari pemegang saham saja.

(ang/dnl)
26/05/2010 - 08:38
BUMI Masih Tertekan, ‘Wait and See’ Saja!
Ahmad Munjin


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Rabu (26/5) diprediksikan masih tertekan seiring negatifnya sentimen market. Pasar juga mencermati aksi perseroan non pre-emtive right.

Pengamat pasar modal, Willy Sanjaya mengatakan, potensi tertekannya saham BUMI hari ini seiring negatifnya sentimen market. Menurutnya, market domestik mendapat tekanan dari peluang negatifnya laju bursa regional. Apalagi, rata-rata bursa Eropa sudah negatif 3% kemarin sore.

Pelamahan Eropa, akan merembet ke IHSG ^JKSE sehingga tidak kondusif bagi pergerakan saham sejuta umat ini. “BUMI akan mengarah ke level support Rp1.620 dan Rp1.880 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (25/5).

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditransaksikan melemah Rp70 (3,93%) menjadi Rp1.710 dibandingkan sebelumnya di level Rp1.780. Harga tertingginya mencapai Rp1.860 dan terendah Rp1.570. Sedangkan volume transaksi mencapai 796,5 juta unit saham senilai Rp1,3 triliun dan frekuensi 12.259 kali.

Willy mengatakan, tertekannya saham BUMI juga karena faktor rumor-rumor yang beredar seputar emiten grup Bakrie yang membingungkan pasar. Keadaan ini bersamaan dengan kejatuhan bursa Eropa.

Di sisi lain, net sell asing sungguh besar di atas Rp3 triliun pekan lalu. “Potensi tertekan juga karena indeks kita akan memasuki masa libur nasional, Jumat (28/5) pekan ini,” imbuhnya.

Dengan terlalu banyak rumor yang beredar, Willy menyarankan investor lebih percaya pada pernyataan yang keluar dari perseroan sendiri. “Ini pasti ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Sebab, jatuhnya grup Bakrie kemarin luar biasa, termasuk BUMI,” imbuhnya.

Willy belum bisa memastikan apakah koreksi itu akibat satu aksi korporasi yang tidak diinginkan pasar, atau akibat negatifnya sentimen market regional terutama Eropa. Sebab, kasus ini terjadi bersamaan. “Bisa jadi, hedge fund menjual sahamnya untuk menutupi kerugian di Eropa,” timpalnya.

Karena itu, susah memastikan faktor apa yang utama yang menjadi tekanan bagi saham BUMI. “Saya juga tidak bisa memastikan apakah rencana rights issue tanpa HMETD (non preemptive right) menjadi faktor utama tertekannya saham BUMI. Di sisi lain, Dileep Srivastava (Senior Vice President BUMI) membantahnya,” tambahnya.

Sementara itu, Bapepam-LK mengakui sudah menerima pernyataan resmi BUMI terkait rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau non preemptive right.

Kabiro PKP Sektor Rill, Anis Baridwan kepada wartawan mengungkapkan, hajatan issue tanpa HMETD ini sesuai dengan peraturan Bapepam-LK Nomor IX.D.IV tentang Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Terlebih Dahulu.

Rencananya, perseroan akan memasukkan agenda tersebut dalam salah satu poin RUPSLB pada 20 Juni 2010. Salah satu butir peraturan tersebut mengungkapkan, dalam jangka waktu 2 tahun, penambahan modal tersebut paling banyak 10% dari modal disetor.

Menyoal berapa harga wajarnya, Anis menegaskan, dalam dokumen pendaftaran tersebut tidak tertulis harganya. "Harga itu kan nanti diputuskan dalam RUPS-nya. Tergantung RUPS," katanya.

Kabar berhembus harga saham tanpa HMETD BUMI berada di kisaran Rp1.700 per saham. Perseroan merencanakan memasukkan agenda tersebut pada RUPSLB 24 Juni 2010 mendatang. Hajatan ini guna membayar utang Perseroan.

Lebih jauh, Willy juga meragukan kebenaran kabar, BUMI melalui anak usahanya, PT Multi Daerah Bersaing (MDB), menawar harga 7% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) senilai US$400 juta atau sekitar Rp3,68 triliun.

Harga yang diajukan MDB lebih rendah dari yang diajukan NNT, yaitu US$444 juta. “Dalam kondisi ini, apapun juga, pemegang saham BUMI akan mencari berita-berita yang cukup positif untuk mempertahankan posisinya,” ucapnya.

Bagi pelaku pasar yang tidak lagi memegang saham BUMI, mereka akan berusaha membuat berita semakin keruh. “Keadaan ini membuat pasar semakin panik. Karena itu, anak-anak usaha dari The Seven Brothers semuanya melemah,” ungkapnya.

Willy merekomendasikan wait and see untuk BUMI. Atau, investor bisa melakukan pola day trading (beli dan jual dalam satu hari). “Sebab, tanda-tanda untuk bullish di market belum tampak,” pungkas Willy. [mdr]
Selasa, 25/05/2010
Grup Bakrie tekan indeks
Penawaran saham Bumi tanpa hak memesan efek lebih dulu

JAKARTA: Di tengah rebound indeks saham bursa Asia, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru kembali melemah, dipicu oleh kejatuhan saham Bakrie-7.

Sebanyak tujuh saham Grup Bakrie jatuh diterpa rumor PT Bumi Resources Tbk bakal menerbitkan saham baru (rights issue) pada harga Rp1.400.

IHSG kemarin ditutup melemah 0,52% atau 13,61 poin ke 2.609,61, sedangkan indeks Shanghai naik tajam 3,48% ke level 2.673,42. Indeks Hang Seng menguat 0,62% ke level 19.667,76. Indeks Strait Times menguat 0,76% ke 2.721,75.

Dalam keterbukaan informasinya kemarin, Bumi akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 24 Juni dengan tiga agenda, salah satunya persetujuan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau nonpreemptive rights.

Sepekan sebelumnya, manajemen Bumi menyampaikan agenda RUPSLB tanpa agenda nonpreemptive rights.

Sekretaris Perusahaan Bumi Dileep Srivastava, seperti dikutip Bloomberg, membantah rencana rights issue tersebut.

Rencana ini sebetulnya bukan informasi baru karena Bumi mengagendakan dalam RUPSLB pada 7 Januari. Namun, RUPSLB itu batal. Dengan mengacu pada peraturan Bapepam-LK, emiten diizinkan menerbitkan saham baru hingga maksimal 10% dari jumlah saham yang dikeluarkan perusahaan.

Saat ini, Bumi tercatat memiliki 19,40 miliar saham. Dengan demikian, produsen batu bara terbesar nasional itu, dapat menerbitkan paling banyak 1,94 miliar saham baru.

Sesuai dengan Peraturan Bursa Efek Indonesia No. I-A mengenai pencatatan saham, harga pelaksanaan nonpreemptive rights saham Bumi minimal setara dengan rata-rata harga penutupan saham Bumi di pasar reguler selama 25 hari sebelum iklan pengumuman.

Harga pelaksanaan

Satu analis dari broker lokal menambahkan dengan berpatokan pada aturan itu, minimal harga pelaksanaan nonpreemptive rights saham Bumi di kisaran Rp2.285 per saham.

Berdasarkan data Bloomberg, rata-rata harga saham Bumi pada 25 hari sebelum pengumuman mencapai Rp2.331.

Seorang eksekutif yang mengendalikan Grup Bakrie memastikan nonpreemptive rights Bumi tetap akan dilaksanakan sebagai bagian dari konversi utang bernilai US$1,9 miliar yang diterimanya dari China Investment Corporation (CIC).

"Tidak benar kalau harganya Rp2.950 [seperti yang beredar]. Itu ada aturannya," ujarnya.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia Eddy Sugito mengatakan secara peraturan, penambahan agenda RUPSLB dimungkinkan. Namun, dia menduga pasar sepertinya mengetahui informasi itu lebih dahulu karena reaksi pasar terhadap saham Bumi berlebihan.

"Kami harus melihat lebih dulu apa yang terjadi di pasar karena reaksi pasar terlalu berlebihan. Bumi agar lebih berhati-hati dalam mengumumkan aksi korporasi," katanya.

Menurut Eddy, manajemen Bumi agar benar-benar menyiapkan rencana material secara matang. "Jangan sampai aksi korporasi dilakukan tanpa menjunjung tinggi konsistensi dan governance," tuturnya.

Dirut PT Financorpindo Nusa Edwin Sinaga mengatakan tidak ada faktor domestik lain yang memengaruhi penurunan IHSG pada perdagangan saham kemarin kecuali rumor Bumi.

Kepala Riset PT Bhakti Securities Edwin Sebayang mengatakan kepanikan investor tidak hanya memicu kejatuhan saham Bakrie-7, tetapi juga mendorong aksi jual saham batu bara lainnya seperti PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk dan PT Adaro Energy Tbk.

Koreksi lanjutan

Dia memproyeksikan penurunan saham Bumi akan berlanjut. Aksi jual diperkirakan berhenti setelah manajemen Bumi memastikan rights issue memang tidak akan dilakukan.

"Kalau ternyata benar perseroan akan rights issue, imbasnya dapat lebih parah lagi."

Di tempat terpisah, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pemerintah meminta pada pelaku pasar agar tidak terlalu khawatir dengan aliran dana ke luar sepanjang pekan lalu yang diproyeksi berlanjut.

Hatta menekankan pemerintah telah melakukan langkah antisipasi yang melibatkan kementerian terkait.

Sementara itu, berkebalikan dengan indeks yang terpuruk, rupiah bangkit dari level terendah dalam 2 pekan terakhir terdorong spekulasi intervensi dari Bank Indonesia. Nilai tukar mata uang Indonesia itu diperdagangkan naik 0,1% menjadi Rp9.265 per dolar AS.

Terkait dengan intervensi itu, satu pejabat Departemen Keuangan yang meminta identitasnya dilindungi menyebutkan BI sudah mengeluarkan US$1,2 miliar selama 2 pekan terakhir untuk mengintervensi pasar.

Namun, informasi ini dibantah Deputi Direktur Direktorat Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Wiwiek Sisto Widayat. (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Reportase: 08/Hendri T. Asworo/ Ratna Ariyanti/ Berliana Elisabeth S./Bastanul Siregar/ Irsad Sati/Wisnu Wijaya/Linda T. Silitonga

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia
24/05/2010 - 14:01
Ups! Asing Keluar, BUMI Terkapar

INILAH.COM, Jakarta - Saham Bumi Resources (BUMI) tertekan hingga 10,5% setelah investor asing banyak melakukan aksi jual. Mereka menilai lebih menguntungkan memegang US$ saat ini.

Hal itu dikatakan analis saham Milenium Danatama Securities, Ahmad Riyadi kepada INILAH.COM Senin (24/5). "Kelihatannya asing keluar dan membuat investor lokal panik," katanya.

Pada pukul 13.55 saham BUMI terkoreksi Rp205 (10,5%) di Rp1.920 dengan volume perdagangan mencapai 650.517 unit saham senilai Rp648,8 miliar sebanyak 7,696 kali transaksi. "Asing menilai lebih untung memengang dolar AS, dengan aksi ini menekan IHSG," jelasnya.

Menurutnya, tekanan terhadap BUMI masih akan terus terjadi sehingga harganya masih akan tetap bertahan di bawah 2000. Bahkan banyak yang mengantri beli di 1.700. [hid]

24/05/2010 - 08:39
BUMI Dibayangi Koreksi, ˜Trading Buy"
Ahmad Munjin


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Senin (24/5) diprediksikansih melemah seiring negatifnya sentimen market. Trading buy BUMI.

Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan, potensi pelemahan saham hari ini dipicu masih berlangsungnya sentimen negatif market. Akhir pekan lalu, bursa Eropa ditutup negatif. Begitu juga bursa AS. Karena itu, sangat berat bagi indeks domestik untuk menguat sehingga tidak kondusif bagi pergerakan saham BUMI.

Situasi terakhir market, lanjut Ukie, masih unpredictable karena volatilitasnya yang masih tinggi. Karena itu, saham BUMI, Senin (24/5) ini akan melemah. “BUMI akan mengarah ke level support Rp1.000 dan Rp2.200 sebagai level resistance kuatnya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (23/5).

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (21/5), saham BUMI ditutup melemah Rp100 (4,49%) menjadi Rp2.125 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.225. Harga tertingginya mencapai Rp2.150 dan terendah Rp2.050. Volume transaksi mencapai 234,7 juta unit saham senilai Rp492,5 miliar dan frekuensi 5.766 kali.

Ukie mengatakan, jika melihat pergerakan saham BUMI akhir pekan lalu yang memiliki gap cukup dalam, sebenarnya secara teknis memiliki peluang untuk rebound Senin (24/5) ini. Tapi, karena sentimen market yang tidak mendukung, BUMI pun tidak bisa menghindar dari pelemahan.

“Kalau turun, bisa jadi akan membuat gap baru lagi, menembus level psikologis Rp2.000. Ini bahaya juga,” ujar Ukie. Sebab, jika melihat level terendahnya, akhir pekan lalu, di level Rp2.050, artinya tinggal Rp50 untuk mencapai level Rp2.000.

Karena itu, untuk jangka panjang, level support kuat BUMI berada di level Rp1.875. “Tapi, sebelum mencapai level ini, BUMI bisa tarik lagi ke atas atau paling tidak tertahan di level Rp2.000 akibat kondisi market yang begitu berat membawanya ke atas,” timpalnya.

Namun Ukie yakin, sebelum mencapai level Rp1.875 saham sejuta umat ini mengalami technical rebound. Tidak mungkin, suatu saham turun terus, tanpa ada kesempatan menguat.

“Pada saat market turun, hari ini, level Rp2.000 akan menjadi support yang kuat,” ucapnya. Tapi, untuk mengarah ke level resistance kuat di level Rp2.200, sangat berat. Sebab, selain negatifnya sentimen market, harga minyak pun masih rendah di level US$70 per barel.

Apalagi, akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah melemah ke atas level 9.200 per dolar AS. Pada saat yang sama, terjadi net sell dari asing senilai Rp700 miliar dari bursa dengan volume transaksi Rp4,9 triliun. “Artinya, ada capital outflow,” paparnya.

Indeks pekan ini, lanjut Ukie, akan mengalami volatilitas yang sama seperti pekan lalu, namun akan lebih tipis. Menurutnya, volume transaksi akan sedikit sepi. Sebab, pekan ini merupakan pekan terakhir Mei. “Biasanya, pasar wait and see atas data inflasi,” imbuhnya.

Selain itu, saat ini akan segera memasuki Juni atau akhir semester pertama. Pasar wait and see atas laporan kinerja kuartal kedua sehingga memicu tipisnya nilai transaksi. “Jadi saya pikir, yang paling volatile awal Mei, dan akan sedikit konsolidasi menjelang Juni,” timpalnya. “Volatilnya indeks saat ini masih karena faktor regional.”

Dengan demikian, pergerakan saham BUMI lebih dipengaruhi sentiment market. Sebab, dari sisi aksi korporasi, belum ada hal baru bagi saham batubara thermalini.

Untuk mid term, Ukie merekomendasikan akumulasi beli. Tapi, untuk harian, lebih baik trading buy jika sudah menyentuh level support baru. “Setelah mengalami kenaikan, baru jual lagi,” pungkas Ukie. [mdr]
WAWANCARA
21/05/2010 - 10:04
Nico Simatupang
Pasar Nantikan RUPS BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (21/5) diprediksikan melemah seiring negatifnya sentimen market. RUPS Tahunan pun belum direspon pasar. Rekomendasi Wait and see.

Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Asset Management mengatakan, potensi pelemahan saham BUMI dipicu oleh negatifnya sentimen market. Di sisi lain, kabar bahwa perseroan akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dalam waktu dekat, belum direspon pasar. Biasanya hal itu dilakukan di bulan Juni.

Pada saatnya, menurut Nico, pasar akan merrespon, namun sangat tergantung pada agenda RUPS itu. “Tapi agenda ini tetap dinantikan pasar,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Kamis (20/5) kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp50 (2,19%) menjadi Rp2.225 dengan intraday Rp2.325 dan Rp2.200. Volume transaksi mencapai 231,8 juta unit saham senilai Rp523,5 miliar dan frekuensi 5.067 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin melemah Rp50, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI akhir pekan ini?

Saya kira berpotensi melanjutkan pelemahan terutama akibat sentimen market yang negatif akibat laju bursa regional yang juga berpeluang negatif.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level support Rp2.175 dan Rp2.300 sebagai level support-nya.

Apa yang memicu market masih tertekan?

Dari eksternal, pasar masih terpengaruh negatif oleh krisis utang Yunani. Hari ini, para menteri keuangan dan gubernur bank sentral di Uni Eropa kembali berkumpul di Brussels untuk membicarakan teknik detil bantuan untuk Yunani. Pertemuan itu, sudah dilakukan pada Rabu (19/5) lalu, tapi mengalami jalan buntu. Itulah yang saat ini masih ditunggu pasar.

Pertemuan sebelumnya, Rabu (19/5) pasar kecewa, karena hasilnya hanya penghematan fiskal bagi negara-negara yang defisitnya besar seperti Yunani. Padahal yang ditunggu pasar adalah, bantuan detil penyelesaian krisis utangnya. Karena itu, hingga saat ini pasar merasa penyelesaian krisis Yunani masih simpang siur.

Bursa Eropa pun kemarin sore sudah mendahului bergerak negatif. Ini sudah menjadi preseden bahwa IHSG hari ini akan melemah. Indeks Dow Jones pun masih bergerak sama dan menanti sentimen yang baru.

Bagaimana dengan pengangkatan Agus Martowardojo sebagai menteri keuangan?

Terkait dipilihnya Agus Martowardojo sebagai menteri keuangan, pasar sebenarnya merespon positif. Sebab, Agus memiliki track racord yang positif di bank Mandiri. Market merasa masih ada harapan dengan Agus. Saya melihat Agus dan Anggito Abimanyu sama-sama diterima oleh pasar.

Dari sisi internal, tidak ada hal-hal yang bisa memicu indeks tertekan. Penurunan indeks semata faktor eksternal dari bursa regional. Investor saat ini lari ke aset-aset yang lebih aman dan menjauhi aset-aset yang berisiko tinggi.

Bagaimana dengan harga komoditas?

Harga minyak mentah dunia masih berfluktuasi di kisaran US$67-70. Karena itu, komoditas belum bisa menjadi penggerak saham BUMI. Bahkan, bisa saja, justru BUMI yang membawa indeks turun.

Kalau dari sisi aksi korporasi?

Ada kabar, bahwa perseroan akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dalam waktu dekat. Tapi untuk saat ini belum direspon pasar. Biasanya hal itu dilakukan di bulan Juni. Pada saatnya, pasar akan merrespon, namun sangat tergantung pada agenda RUPS itu. Tapi agenda ini tetap dinantikan pasar.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan wait and see untuk BUMI sambil menunggu perkembangan market berikutnya. Tapi, kalau memiliki cash, jika posisi turun sudah saatnya beli. Tapi wait and see jauh lebih aman.[jin/ast]
20/05/2010 - 10:01
Gina Novrina Nasution
‘Support’ Kuat BUMI di Level Rp2.200

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Kamis (20/5) diprediksikan mashi akan melemah. Namun, di tengah volatilitas pasar, emiten tambang ini dinilai cukup tangguh.

Demikian ungkap Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities. Menurutnya, potensi pelemahan saham BUMI hari ini dipicu negatifnya sentimen market baik internal maupun eksternal.

“Tapi, dibandingkan emiten lain di sektornya yang turun cukup tajam, saham BUMI cukup kuat di level support Rp2.200,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp150 (6,18%) menjadi Rp2.275 dengan intraday Rp2.375 dan Rp2.250. Volume transaksi mencapai 224,4 juta unit saham senilai Rp521,07 miliar dan frekuensi 5.447 kali. Berikut ini wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin melemah 6,18%, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya lihat, saham ini berpotensi melemah. Dipicu, oleh negatinya sentimen market baik domestik maupun regional. Pasar domestik tertekan pergantian menteri keuangan yang diumumkan presiden SBY semalam yang menuai pro dan kontra. Pasar terpengaruh pergantian Menteri Keuangan, Sri Mulyani menjadi Agus Martowardodjo (Dirut Bank Mandiri).

Pro-kontra pengganti Sri Mulyani berakibat pada sebagian pasar yang akan merespon positif karena Menteri penggantinya sesuai ekspektasinya. Tapi, ada juga yang sebaliknya sehingga merespon negatif. Karena itu, indeks rawan koreksi.

Kalau indeks bisa bertahan dan hanya minus 1% saja bagus sekali. Artinya, hasil pemilihan yang diumumkan semalam dilihat pasar, Agus Martowardodjo tidak akan kalah kinerjanya dengan Menkeu sebelumnya. Kecuali, kalau pelemahan indeks mencapai 2%, baru bermakna, bahwa pasar merespons negatif pengganti Menkeu Sri Mulyani itu.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan melemah ke level support Rp2.200 dan Rp2.350 sebagai level resistance-nya.

Bagaimana dengan sentimen regional?

Selain faktor dari kondisi internal, market juga terpengaruh faktor eksternal juga. Dari eksternal pasar masih mendapat tekanan dari krisis utang Yunani yang pemecahan detilnya belum ditemukan. Karena itu, sentimennya negatifnya, bukan hanya dari dalam negeri tapi juga bursa regional pun turun cukup dalam.

Apalagi, dengan koreksi tajam rata-rata bursa Eropa di atas 2% kemarin sore. Karena itu, IHSG ^JKSE berpeluang mengarah ke level support 2.630 dan 2.781 sebagai level resistance-nya.

Dari eksternal, pasar mendapat tekanan dari kekecewaan pasar atas pertemuan para menteri keuangan Uni Eropa dan gubernur bank sentral di Brussels, Rabu (19/5) kemarin. Ternyata, pertemuan itu tidak menghasilkan teknik detil bentuk bantuan bagi Yunani. Pertemuan itu hanya menghasilkan poin yang sangat minim.

Di antaranya, penghematan fiskal, tidak dijalankan di negara-negara yang defisitnya kecil melainkan oleh negara yang defisitnya besar seperti Yunani, Portugal, Spanyol, Italia, dan Irlandia. Padahal, yang ditunggu pasar adalah teknis detil bantuan itu. Pada akhirnya, pertemuan itu berjalan alot sehingga dijadwal ulang Jumat (21/5) akhir pekan ini. Pasar masih menunggu hasil pertemuan itu.

Kalau begitu, seberapa besar potensi pelemahan saham BUMI?

BUMI masih kuat dengan level support-nya di Rp2.200. Ini sebenarnya sangat positif sebab, pasar saat ini memang sedang goyang dan mementumnya bersamaan dengan pergantian Menteri Keuangan Sri Mulyani, ke Agus Martowardodjo.

Selama indeks terguncang dalam sepekan terakhir, BUMI sudah cukup kuat di kisaran level support Rp2.200. Begitu juga dengan PT Adaro Energy (ADRO) dibandingkan saham-saham di sektornya seperti PT Perusahaan Tambang Bukit Asam (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), PT International Nickel Indonesia (INCO) dan PT Timah (TINS). Semuanya sudah turun cukup dalam.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

BUMI masih oke untuk dikoleksi long term. Saya rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI.[jin/ast]
19/05/2010 - 09:45
Willy Sanjaya
IPO Bumi Mineral Siap Dongkrak BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Rabu (19/5) diprediksikan menguat seiring rencana anak usahanya, PT Bumi Resources Mineral yang akan menawarkan saham 25-30% ke publik. Saatnya akumulasi beli.

Pengamat pasar modal, Willy Sanjaya mengatakan, hal itu. Sebab, menurutnya, PT Bumi Resources Mineral merupakan subholding PT Bumi Resources (BUMI) yang membidangi usaha pertambangan nonbatubara. Perusahaan itu akan meraup dana US$600 juta. Itu akan menarik sehingga menjadi sentimen positif bagi BUMI.

Meski Bumi Mineral membidangi usaha non-batubara, tapi hasil dari penawaran itu akan membantu BUMI sebagai holding. “Arahnya pun, keuangan BUMI menjadi lebih solid,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (18/5) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp50 (2,10%) menjadi Rp2.425 dengan intraday Rp2.425 dan Rp2.375. Volume transaksi mencapai 85,4 juta unit saham senilai Rp205,2 miliar dan frekuensi 1,886 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin menguat Rp50, apakah saham BUMI masih berpotensi melanjutkan apresiasi?

Masih terbuka lebar untuk menguat. Salah satunya dipicu oleh peluang positifnya sentimen market regional. Saham BUMI terbuka lebar menguat kembali ke level Rp2.500. Hal ini tampak dari positifnya pergerakan bursa Eropa kemarin sore. Karena itu, arus rebound bagi bursa domestik akan terjadi.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.550 dan Rp2.375 sebagai level support-nya.

Ada sentimen positif lain yang menunjang kenaikan BUMI?

Ya. BUMI juga mendapat sentimen positif dari grupnya (Bakrie Group) di mana emiten PT Bakrieland Development (ELTY), akan membeli tanah milik PT Bukit Sentul City (BKSL). Ini akan menjadi sentimen positif bagi BUMI dari sisi grup-nya. Aksi korporasi ini sudah menjadi pembicaraan di kalangan direksi.

Bagaimana dengan anak usaha BUMI, PT Bumi Resources Mineral yang siap menawarkan 25-30% sahamnya ke publik pada September mendatang?

Itu jadi sentimen positif juga. Sebab, PT Bumi Resources Mineral merupakan subholding PT Bumi Resources yang membidangi usaha pertambangan nonbatubara. Perusahaan itu akan meraup dana US$600 juta. Itu akan menarik sehingga menjadi sentimen positif bagi BUMI. Meski Bumi Mineral membidangi usaha non-batubara, tapi hasil dari penawaran itu akan membantu BUMI sebagai holding. Arahnya pun, keuangan BUMI menjadi lebih solid.

Lalu, bagaimana dengan harga minyak mentah dunia yang anjlok ke level US$68 per barel ?

Penurunan harga minyak mentah dunia tidak akan berpengaruh pada fundamental BUMI. Sebab, meski harga batubara turun, akibat turunnya harga minyak tidak akan mengurangi harga penjualan batubara BUMI. Sebab, kontrak penjualan batubara BUMI merupakan kontrak jangka panjang minimal setahun ke depan. Apalagi, ke depan harga batubara akan bangkit kembali seiring kenaikan harga minyak mentah dunia yang saat ini sudah merangkak naik ke level US$72 per barel.

Apa rekomendasi Anda untuk BUMI hari ini?

Saya rekomendasikan akumulasi beli untuk BUMI, sebab untuk jangka pendek dan jangka panjang saham ini tetap menjanjikan gain. [ast/jin]
19/05/2010 - 08:39
Masih Janjikan Gain
Saatnya Akumulasi Beli Saham BUMI
Ahmad Munjin


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Rabu (19/5) diprediksikan menguat seiring peluang positifnya sentimen market. Emiten ini juga terbantu aksi korporasi grupnya. Saatnya akumulasi beli!

Pengamat pasar modal, Willy Sanjaya mengatakan, potensi penguatan saham BUMI hari ini salah satunya dipicu positifnya sentimen market. Menurutnya, saham BUMI terbuka lebar menguat kembali ke level Rp2.500. Hal ini tampak dari positifnya pergerakan bursa Eropa kemarin sore.

Karena itu, arus rebound bagi bursa domestik akan terjadi. “BUMI pun akan mengarah ke level resistance Rp2.550 dan Rp2.375 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (18/5) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp50 (2,10%) menjadi Rp2.425 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.375. Harga tertingginya mencapai Rp2.425 dan terendah Rp2.375. Volume transaksi mencapai 85,4 juta unit saham senilai Rp205,2 miliar dan frekuensi 1,886 kali.

Di sisi lain, lanjut Willy, BUMI juga mendapat sentimen positif dari grupnya (Bakrie Group) di mana emiten PT Bakrieland Development (ELTY), akan membeli tanah milik PT Bukit Sentul City (BKSL). Ini akan menjadi sentimen positif bagi BUMI dari sisi grup Bakrie. “Aksi korporasi ini sudah menjadi pembicaraan di kalangan direksi,” ucapnya.

BUMI juga mendapat sentimen positif dari anak usahanya PT Bumi Resources Mineral. Subholding PT Bumi Resources yang membidangi usaha pertambangan nonbatubara ini siap menawarkan 25-30% sahamnya ke publik pada September untuk meraup dana US$600 juta. “Itu akan menarik sehingga menjadi sentimen positif bagi BUMI,” tandasnya.

Menurut Willy, meski Bumi Mineral membidangi usaha non-batubara, tapi hasil dari penawaran itu akan membantu BUMI sebagai holding. “Arahnya pun, keuangan BUMI menjadi lebih solid,” tuturnya.

Sementara itu, penurunan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh level US$69 per barel , menurutnya tidak akan berpengaruh pada fundamental BUMI. Meski harga batubara turun, tidak akan mengurangi harga penjualan batubara BUMI. “Kontrak penjualan batubara BUMI merupakan jangka panjang minimal setahun ke depan,” ungkapnya.

Apalagi, ke depan harga batubara akan bangkit kembali seiring kenaikan harga minyak mentah dunia yang saat ini sudah merangkak naik ke level US$72 per barel. “Saya rekomendasikan akumulasi beli untuk BUMI, sebab untuk jangka pendek dan jangka panjang saham ini tetap menjanjikan gain,” pungkas Willy. [mdr]
18/05/2010 - 09:58
Irwan Ibrahim
Awal Juni, BUMI Ke Level 2.000

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Selasa (18/5) masih akan melemah, seiring turunnya harga komoditas akibat koreksi euro. Awal Juni mendatang, BUMI bahkan diperkirakan menuju level Rp2.000.

Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim mengatakan, pelemahan mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro) terhadap dolar AS, telah memicu pelemahan harga komoditas minyak mentah dunia. Akibatnya, harga batubara pun turun.

“Saham sektor komoditas termasuk BUMI pun akan terkoreksi,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta, Senin (17/5).

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp125 (5%) menjadi Rp2.375 dengan intraday Rp2.525 dan Rp2.450. Volume transaksi mencapai 150 juta unit saham senilai Rp374,2 miliar dan frekuensi 3.320 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin melemah 5%, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya kira masih berpotensi melemah. Salah satunya dipicu oleh pelemahan harga batubara pekan ini ke level US$102,23 per metrik ton dari sebelumnya US$106-108. Hal ini akibat koreksi harga minyak mentah dunia ke level US$69 per barel .

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level support Rp2.200 dan Rp2.425 sebagai level resistance-nya.

Bagaimana dengan sentimen market?

BUMI juga terpengaruh negatif oleh pergerakan bursa regional. Akibatnya, IHSG pun tidak kondusif menopang pergerakan saham ini. Bahkan, untuk pekan ini BUMI berada dalam tren pelemahan. Sebab, jenis batubara yang diproduksi PT Kaltim Prima Coal (KPC), anak usaha BUMI, turun ke level US$102,23. Ini harga batubara di Newcastle yang kualitasnya sangat baik. Karena itu, koreksi ini berkorelasi positif dengan pelemahan saham BUMI.

Apa yang menjadi pemicu utama terkoreksinya harga minyak?

Pelemahan harga minyak mentah dunia telah memicu melemahnya harga batubara akibat pelemahan mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro) terhadap dolar AS. Hal ini pada mulanya dipicu oleh krisis Yunani yang di-bailout senilai US$1 triliun. Inilah yang menimbulkan tren euro melemah akibat terlalu banyaknya supply di pasar.

Bersamaan dengan itu, dikhawatirkan AS akan menaikkan suku bunga acaunnya (The Fed Fund Rate). Saya perkirakan, dalam pertemuan mendatang, otoritas moneter AS berpeluang menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin ke level 0,75%. Sebab, dengan melemahnya euro, AS tidak perlu lagi mempertahankan suku bunga rendah.

Mata uang AS itu tidak lagi memiliki saingan setelah euro melemah. Semua harga komoditas baik pertambangan maupun perkebunan dan saham sektor ini pun akan terkoreksi termasuk BUMI. Hanya aset-aset berbasis safe haven-lah yang menguat seperti dolar AS, US Treasury, dan emas. Karena itu, pasar saat ini menunggu perkembangan nilai tukar euro terhadap dolar AS.

Sampai kapan pelemahan euro akan terjadi?

Dalam pekan ini, euro memasuki fase konsolidasi setelah anjlok tajam pekan lalu. Tapi jika melihat perkembangan atas respon pasar terhadap krisis Eropa, euro berpeluang terus melemah. Karena itu, harga komoditas pun berpeluang jatuh lebih dalam lagi. Harga minyak pun berpeluang anjlok ke level US$65 per barel .

Karena itu, pasar saat ini akan lebih fokus pada pergerakan harga batubara. Dan, BUMI pun dalam pekan ini akan melemah ke level Rp2.200 per saham. Bahkan, jika harga batubara terkoreksi tajam, saham sejuta umat ini bisa melemah ke level Rp2.000. Angka ini bahkan menurut Saya bisa tercapai pada awal Juni mendatang.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Investor saya sarankan wait and see atas BUMI dalam pekan ini. Jika BUMI turun lebih jauh ke level Rp2.000, investor bisa melakukan pembelian. Saya yakin, terbuka lebar bagi saham ini untuk melemah ke level Rp2.000. Level inilah waktunya yang tepat beli saham BUMI.[jin/ast]
Selasa, 18/05/2010
Bumi Mineral bidik US$600 juta
Perseroan optimistis segera raih izin penambangan
Cetak
JAKARTA: PT Bumi Re���sources Mineral, subholding PT Bumi Re�sour�ces Tbk yang mem�bi�dangi usaha pertambangan nonbatu bara, siap menawarkan sekitar 25%-30% sahamnya ke publik pada Sep�tember untuk meraup dana US$600 juta.

Seorang eksekutif yang mengetahui informasi itu mengatakan Bumi telah menunjuk JPMorgan dan Merrill Lynch untuk membantu valuasi subholding bisnis yang belum beroperasi itu. Me�nurut keduanya, valuasi 100% saham Bumi Mineral mencapai US$2 miliar.

"Dari US$2 miliar itu, jumlah dana dari penawaran ke publik se�besar US$600 juta atau sekitar 25%-30% dari total saham yang di�keluarkan. Memang ini [Bumi Mineral] belum beroperasi, tapi dalam waktu dekat izin [penambangan] sudah mulai diperoleh. Itu�lah kenapa IPO ditargetkan September," tutur eksekutif yang tak mau diungkap identitasnya itu kepada Bisnis, pekan lalu.

Menurut dia, Gorontalo Minerals-unit bisnis Bumi Mineral-diharapkan memperoleh izin untuk menambang pada bu�lan ini, sedangkan unit bisnis lain�nya yakni Herald Resources Ltd diperkirakan mendapatkan izin penambangan dalam 2 bulan ke depan. Perolehan izin ini, kata dia, akan membuat Bumi Mineral lebih bernilai, sehingga sahamnya layak untuk di�ta�war�kan kepada publik.

Dia memaparkan mulanya Bumi Mineral akan dicatatkan di bursa Hong Kong untuk membidik pemodal asal China dan mewarnai bursa itu dengan emiten berbasis sumber daya. Namun, pengendali Grup Bakrie berubah pikiran, sehingga Bumi Mineral akhirnya direncanakan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia.

Tak hanya menjual saham subholding bisnis pertambangan itu ke publik, Bumi juga akan mem�fa�silitasi masuknya kreditur ter�be�sarnya, China Investment Cor�po�ration, ke Bumi Mineral de�ngan kepemilikan setara dengan US$250 juta.

"Jadi bukan berupa suntikan dana. CIC akan masuk menjadi pe�megang saham ke Bumi Mi�neral seperti halnya nanti dia akan masuk ke Bumi melalui non preemptive rights [penawaran umum dengan tanpa hak memesan efek terlebih dahulu]," jelasnya.

Eksekutif itu menambahkan un��tuk memimpin Bumi Mineral, Bu��mi akan menunjuk Kenneth P. Farrell sebagai direktur utama. Far�rell saat ini menjabat di�rektur pemasaran di Bu�mi. Nan�tinya, kata dia, Farrell akan me�ning�gal�kan Bumi untuk ber��kon�sentrasi penuh di Bumi Mineral.

Ketika dimintai komentar me�nge�nai hal itu, Corporate Se�cretary Bumi Dileep Srivastava ti�dak merespons panggilan telepon dan surat elektronik yang Bisnis kirimkan kemarin.

Terkait dengan persiapan pe�na�waran umum perdana (initial public offering/IPO) Bumi Mi�ne�ral, Bumi menunjuk PT Da�na�ta�ma Makmur sebagai penjamin emi�si. Perseroan juga akan me�nunjuk sekuritas asing untuk mem�bantu penjualan saham di pasar global. Adapun sekuritas yang sedang diseleksi adalah JPMorgan, Merrill Lynch, Credit Suisse dan UBS Securities.

Ketika dikonfirmasi, Vice Pre�sident Investment Banking Da�na�tama Vicky Ganda Saputra menolak berkomentar. "Kami masih me�nunggu konfirmasi lebih jauh."

Secara terpisah, Executive Di�rec�tor Investment Banking De�par�tment UBS Rajiv Louis menga�takan sampai saat ini belum ada pembicaraan resmi atau nonformal mengenai IPO Bumi Mineral.

Jadi alternatif

Analis PT Dhanawibawa Ar�tha��cemerlang Ketut Tri Bayuna me�nilai kehadiran Bumi Mineral se�bagai emiten tambang nonbatu bara akan menambah jumlah emi��ten sektor tersebut, sehingga mem��beri alternatif investasi sa�ham.

"Investor asing terutama me�mi�nati saham-saham sektor pertambangan, tidak cuma di sektor batu bara. Namun, perlu dilihat juga ke depan apakah Bumi Mi�ne�ral mampu menaikkan cadang�an dan mendorong pertumbuh�an," tuturnya.

Di sisi lain, lanjutnya, pemodal akan mencermati biaya produksi anak usaha baru Grup Bakrie ter�sebut, mengingat salah satu pos pengeluaran terbesar emiten pertambangan berasal dari divisi penggalian atau eksplorasi.

Menanggapi valuasi perusaha�an tersebut yang mencapai US$2 mi��liar, Ketut me��nilai valuasi itu per�lu pem�buktian dan paparan da�lam pros�pektus men�je�lang IPO. "Ini terkait dengan pembentukan har��ga ke depan, berapa nilai aset dan cadangan sebenarnya," pa�par�nya.

Sebelumnya, Moody's Asia Pa�cific Ltd menyampaikan kemung�kin�an untuk menurunkan pe�ring��kat Bumi Resources dari po�sisi saat ini, Ba3. Ke�mung�kin�an itu juga berlaku untuk obliga�si yang diterbitkan Bumi Capital Pte Ltd, yang sepenuhnya di�ja�min Bumi.

Moody's Vice President dan Se�nior Credit Officer Laura Acres da�lam keterangan tertulisnya me�nyatakan hal itu dilakukan akibat naiknya risiko utang dan penu�run�an kinerja perseroan. (Bas�ta�nul Siregar) (arif.gunawan�@�bisnis.�co.id/�pudji.lestari�@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S. & Pudji Lestari
Bisnis Indonesia
17/05/2010 - 10:01
Ukie Jaya Mahendra
Juni, BUMI Bisa Mencapai Rp2.775

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Senin (17/5) diprediksikan melemah seiring negatifnya sentimen market. Tapi, untuk jangka menengah hingga Juni 2010, saham ini akan atraktif ke level Rp2.775 per saham.

Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan, negatifnya sentimen market akan menekan pergerakan pergerakan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini. Sebab, pelemahan bursa regional akhir pekan lalu pun turun cukup dalam hingga mencapai rata-rata minus 2%.

Namun, untuk mid term Ukie yakin saham BUMI akan begerak atraktif sehingga memberikan gain yang signifikan bagi investor. Jika kondisi market domestik dan regional mendukung, hingga Juni 2010, BUMI bisa mencapai Rp2.775. “Saya sarankan investor membeli saham sejuta umat ini,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (14/5) saham BUMI ditutup stagnan di level Rp2.500. Harga tertingginya mencapai Rp2.525 dan terendahnya Rp2.450. Volume transaksi mencapai 150 juta unit saham senilai Rp374,2 miliar dan frekuensi 3.320 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah akhir pekan lalu ditutup stagnan, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya kira berpotensi terkoreksi. Salah satunya dipicu oleh negatifnya sentimen market. Berat bagi BUMI untuk bergerak naik. Sebab, pelemahan bursa regional akhir pekan lalu pun turun cukup dalam. Karena itu, koreksi saham sejuta umat ini, lebih karena faktor negatifnya pergerakan bursa regional yang rata-rata minus 2%.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan bergerak dalam kisaran support Rp2.400 dan Rp2.575 sebagai level resistance-nya.

Apa yang memicu negatifnya sentimen market?

Secara umum pasar masih wait and see atas ketidakjelasan bantuan finansial untuk mengatasi krisis fiskal di Yunani. Pasar belum bisa memastikan, apakah bantuan senilai US$1 triliun untuk mengatasi penyebaran krisis dari Yunani ke negara-negara Eropa lainnya, akan berjalan dengan baik atau tidak. Karena itu, pergerakan IHSG ^JKSE pun cenderung konsolidasi pekan ini dan tidak kondusif bagi pergerakan BUMI.

Apalagi, secara historis, pergerakan indeks saham bulan ini selalu konsolidasi setelah mengalami kenaikan di April akibat dirilisnya laporan keuangan. Baru pada Juni-Juli, indeks saham akan menguat kembali karena menjelang dirilisnya laporan keuangan semester pertama 2010.

Bagaimana dengan koreksi harga minyak mentah dunia di level US$72 per barel?

Komoditas ini dipastikan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan saham BUMI. Di sisi lain, pasar juga belum bisa memastikan apakah laporan keuangan BUMI kuartal pertama 2010 akan dirilis akhir Mei ini.

Bagaiamana respon pasar atas kinerja BUMI?

Menurut saya, kinerja perseroan sudah di-absorb oleh pasar dan terefleksi pada harga BUMI sebelumnya. Pasar berekspektasi, kinerja emiten ini di kuartal pertama tahun ini akan lebih baik dari kuartal sebelumnya. Hal ini mendapat dukungan dari kenaikan harga batubara di atas US$100 per metrik ton. Berdasarkan harga di Newcastle, batubara berada di level US$106,20.

Namun, untuk pekan ini, harga batubara berpeluang mengalami koreksi tipis. Sebab, secara umum, harga komoditas sedang berada dalam tekanan sehingga tidak terlalu mendukung bagi pergerakan saham BUMI.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Untuk mid term saya yakin saham BUMI akan begerak atraktif sehingga memberikan gain yang signifikan bagi investor. Saya sarankan investor membeli saham sejuta umat ini. Hingga Juni 2010, BUMI bisa mencapai Rp2.775, jika kondisi market domestik dan regional mendukung. Tapi, untuk jangka pendek, (awal pekan ini) investor saya arankan bermain trading di saham ini. Langkah itu akan lebih baik. Trading buy untuk BUMI! [jin/ast]
17/05/2010 - 04:04
Ayo! Koleksi ASII, INCO, BUMI, INDF, TINS
Mosi Retnani Fajarwati


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta - Perdagangan Senin (17/5), IHSG diprediksikan akan berada pada kisaran 2.812-2.903. Sementara untuk saham yang layak dikoleksi adalah ASII, BUMI, INCO, INDF, dan TINS.

Analis pasar modal David Cornelis mengungkapkan, pada pekan lalu gain IHSG mencapai sekitar 4%. Ini di atas gain Wall Street yang sekitar 2%. Jumat (14/5) lalu, IHSG ditutup naik 10,77 poin (0,47%) ke level 2.860,89.

"Faktornya (untuk Senin ini) masih berhubungan dengan pergerakan global dan regional yang minus. Kita bisa lihat

Jumat masih positif, di saat yang lain negatif," ungkapnya kepada INILAH.COM, Minggu (16/5).

Selain itu, menurut David, sentimen pelemahan harga minyak pekan lalu, juga masih akan membayangi pergerakan IHSG Senin ini. Pada penutupan akhir pekan lalu, harga minyak mencapai US$71,61 atau turun US$2,35 (3,75%). "Capital inflow masih ada akan masuk,perlahan. Walaupun dua hari terakhir (Rabu dan Jumat pekan lalu), volume transaksi sangat kecil," ujarnya.

Sementara wacana pengganti Sri Mulyani selaku menteri keuangan RI diprediksi juga turut menyumbang transaksi pekan ini. "Ya minggu depan, akan ada ekspektasi juga masuknya substitusi yang mengisi posisi Bu Ani," ujarnya.

Menurutnya, apabila pengganti Sri Mulyani tidak berpihak pada pasar atau kurang dikenal maka akan berpotensi menimbulkan sentimen negatif. "Ya belum terlihat dipergerakan market so far. Ya kalo nggak market-friendly, tentu akan negatif reaksinya," ujarnya.

Sedangkan krisis Yunani, David mengatakan tidak akan berpengaruh signifikan bagi pasar Indonesia. Untuk Senin ini, IHSG diprediksi berada pada kisaran 2.812-2.903, dan untuk sepekan di kisaran 2.785-2.922.

Adapun saham-saham yang direkomendasikannya Senin ini adalah saham PT Astra International (ASII), saham PT Bumi Resources (BUMI), saham PT International Nickel Indonesia (INCO), saham PT Indofood Sukses Makmur (INDF), dan saham PT Timah (TINS). "Buy on weakness besok (hari ini)," pungkasnya. [mre]
14/05/2010 - 18:02
BUMI Minta Persetujuan RUPS Jaminkan Aset Untuk Pinjaman


(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana melakukan RUPS/RUPSLB pada 22 Juni 2010 mendatang.

Hal ini disampaikan Dileep Srivastava, Senior Vice President Investor Relations-Corporate Secretary BUMI dalam keterbukaan informasinya ke BEI, JUmat (14/5). Adapun agenda RUPS meliputi persetujuan laporan pertanggungjawaban direksi, pengesahan neraca dan perhitungan laba/rugi tahun 2009, persetujuan rencana penggunaan laba Perseroan 2009 dan penunjukan Akuntan Publik baru.

Sedang untuk agenda RUPSLB, Perseroan menagendakan pengangkatan kembali susunan Direksi Perseroan. Selain itu persetujuan untuk menjaminkan sebagian besar aset Perseroan langsung atau tidak langsung kepada kreditur. Tidak tertutup kemungkinan juga Perseroan melakukan gadai saham, fidusia atas tagihan-tagihan rekening bank, klaim asuransi, persediaan, rekening ascrow Perseroan dan anak-anak perusahaan.

Perseroan juga akan meminta persetujuan untuk melakukan jaminan aset Perseroan untuk pembiayaan atau perolehan pinjaman dari pihak ketiga. [cms]

IHSG kemarin loncat 111 poin atau 4,06% ditutup pada 2,850, menebus lebih dari penurunan pada perdagangan hari sebelumnya. Disamping berita kesepakatan mentri keuangan Uni Eropa untuk membantu negara Eropa yang bermasalah, pasar saham Jakarta kemarin meningkat juga karena pengumumam GDP (Gross Domestic Product) Indonesia untuk kuartal I-2010 yang meningkat sebesar 5,7% YoY, peningkatan terbesar selama 6 (enam) kuartal terakhir. GDP yang tinggi artinya kumpulan penghasilan (aggregate income) yang tinggi dari pelaku ekonomi suatu negara yang ditandai oleh semaraknya aktifitas produksi barang dan jasa. Apa dampak pertumbuhan GDP yang tinggi terhadap investor saham? Dalam keadaan ekonomi bertumbuh, investor bisa lebih mudah memilih saham pada bursa saham dibanding ketika ekonomi dalam keadaan resesi. Hal ini karena pada situasi ekonomi bertumbuh, barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan atau emiten bisa terserap dalam penjualan yang akhirnya menghasilkan laba bersih yang (meningkat) akan digunakan untuk membayar deviden bagi investor. Laba bersih yang meningkat dan dividen merupakan 2 (dua) faktor yang bisa meningkatkan nilai suatu saham. Saham kapitalisasi besar yang akan terimbas oleh estimasi pertumbuhan GDP Indonesia (estimasi internal) sebesar 6% tahun 2010, menurut kami,antara lain, ASII, INDF, BBRI, PTBA, TLKM, PGAS, BBCA, INTP.

IHSG hari ini kami perkirakan masih akan menguat dengan kisaran 2,845 - 2,875. Rekomendasi kami BUMI, INCO, SMGR, INDF, GZCO, BBNI.

Author : Research Department ipot
11/05/2010 - 09:01
Target Rp3.300 Awal Agustus
Saatnya ‘Strong Buy’ Saham BUMI
Ahmad Munjin


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Selasa (11/5) diprediksikan menguat seiring peluang positifnya sentimen market. Sebab, bursa Eropa pun sudah naik 6%. Saatnya strong buy BUMI!

Pengamat pasar modal, Willy Sanjaya mengatakan, potensi penguatan saham BUMI hari ini salah satunya dipicu positifnya sentimen market. Sebab, semua pasar Eropa sudah bergerak positif hingga 6% kemarin sore. Bursa Prancis bahkan mencapai 7%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ^JKSE pun tak ketinggalan menguat tajam hingga di atas 4%. Demikian juga dengan Bursa Jerman yang naik 4%. Karena itu, sentimen market, akan signifikan menopang penguatan saham BUMI hari ini.

“Level resistance Rp2.475 sudah terpecahkan sehingga BUMI berpeluang mengarah ke level resistance berikutnya Rp2.600 hari ini dan Rp2.425 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (10/5) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI menguat Rp175 (7,60%) ke level Rp2.475 dibandingkan akhir pekan lalu di level Rp2.300. Harga tertingginya mencapai Rp2.500 dan terendahnya Rp2.325. Sedangkan volume transaksi mencapai 471,7 juta unit saham senilai Rp1,1 triliun dan frekuensi 9.074 kali.

Positifnya pergerakan bursa baik regional maupun domestik dipicu oleh intervensi besar-besaran dari European Central Bank (ECB), International Monetary Fund (IMF) dan sejumlah bank sentral lainnya di Eropa.

Semua lembaga keuangan itu, sudah siap menggelontorkan uang senilai €720 miliar atau US$960 miliar, hampir mencapai US$1 triliun melalui berbagai instrumen untuk mengantisipasi penyebaran krisis Yunani ke negara Uni Eropa lainnya.

Di sisi lain, penopang penguatan BUMI juga karena Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie sebagai pemilik Bakrie Group telah didaulat menjadi ketua harian partai koalisi.

Pasar merespons positif karena pemerintahan dinilai akan semakin kuat dalam menjalankan program-program yang dirancangnya. “Oposisi pun semakin melemah sebab Golkar berkoalisi dengan pemerintah,” timpalnya.

Pada saat yang sama, desas-desus persoalan pajak BUMI sudah selesai. Terlepas dari itu, dengan diangkatnya Aburizal Bakrie pun sebagai ketua koalisi menunjukan adanya kesepahaman antara Partai Golkar dengan Demokrat yang merupakan partai pemerintah. “Karena itu, jaringan pemerintah semakin kuat sehingga positif bagi pasar,” timpalnya.

Di lain pihak, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2010 sudah dirilis dengan angka yang sangat positif di level 5,7% dibandingkan kuartal IV 2009 di angka 5,4%. Karena itu, semua faktor mendukung penguatan indeks termasuk saham BUMI. “Sebab, regional positif di tengah bagusnya pertumbuhan ekonomi RI,” tandasnya.

Harga minyak mentah dunia pun, terbuka lebar kembali menguat ke level di atas US$80 per barel . Otomatis, keadaan ini sangat positif bagi pergerakan BUMI. Sebab, secara grafik pun, pergerakan harga minyak masih terus menanjak.

Willy merekomendasikan strong buy untuk BUMI dengan target Rp3.300 menjelang akhir 2010. “Saya perkirakan di awal bulan 8 (Agustus) harga itu akan tercapai,” imbuhnya. [mdr]
07/05/2010 - 07:24
CIC Tolak Deal Right Issue BUMI?


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI) bergerak cenderung stagnan. Hal ini karena adanya isu bahwa China Investment Corporation (CIC) tidak mau deal dengan non pre-emptive right di harga Rp2.950.

Meskipun berkali-kali sempat menyentuh level Rp2.400, saham BUMI masih tertekan dan sulit menembus angka ini dalam dua pekan terakhir. Pada perdagangan Kamis (6/5) kemarin saja, saham BUMI ditutup di level Rp2.350, atau naik Rp100. Sedangkan sejak akhir pekan lalu, anak usaha Bakrie ini justru terpantau turun tipis 1%.

Beredar rumor di pasar, bahwa stagnannya harga BUMI ini disebabkan CIC kemungkinan akan menegosiasikan lagi harga right issue BUMI. Mereka menilai, selisih harga non pre-emptive rights, yang dipatok di angka Rp2.950, masih terlalu tinggi di atas harga pasar BUMI saat ini.

“Jadi pergerakan naik harga saham BUMI terhambat oleh negosiasi harga non pre emptive right antara BUMI dan CIC,” ujar seorang pengamat pasar modal.

Lebih lanjut dikatakan, CIC berani menjadi standby buyer right issue BUMI hanya jika harga batubara hingga akhir 2010 terus menguat menuju ke US$90 per ton. [nat/ast]
07/05/2010 - 09:58
Gina Novrina Nasution
Sentimen Market Dukung BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Jumat (7/5) diprediksikan menguat. Hal ini dipicu positifnya sentimen market dan tingginya harga batubara di level US$108 per metrik ton.

Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities mengatakan, salah satu penopang penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini adalah positifnya sentimen market baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebab, pelemahan rupiah kemarin tidak terlalu tajam. “Karena itu, market berpeluang berpengaruh positif juga bagi pergerakan BUMI hari ini,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp100 (4,44%) menjadi Rp2.350 dengan intraday Rp2.350 dan Rp2.200. Volume transaksi mencapai 261,6 juta unit saham senilai Rp594,6 miliar dan frekuensi 5.331 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin menguat di atas 4%, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI akhir pekan ini?

Saya kira masih akan menguat. Salah satu alasannya, harga batubara di level US$108 per metrik ton merupakan angka yang sangat tinggi. Penguatan BUMI juga mendapat dukungan dari faktor teknis. Sebab, emiten ini memiliki support yang cukup kuat di level Rp2.200 sehingga tren ke depannya masih bullish.

Akan bergerak di kisaran berapa?

Untuk Jumat ini, level resistance BUMI berada di angka Rp2.425 dan Rp2.275 sebagai level support-nya. Namun demikian, penguatan BUMI saat ini tidak akan signifikan. Sebab, pasar masih menunggu dirilisnya laporan keuangan perseroan di kuartal pertama 2010.

Karena itu, pasar juga, harus menunggu volume perdagangan saham ini yang besar untuk melakukan pembelian. Di samping itu, pasar juga menanti sentimen positif dari aksi korporasinya. Dari sisi aksi korporasi belum ada yang baru. Pasar masih menunggu kabar terkait perkembangan pinjaman perseroan dari China Investment Corporation (CIC).

Tapi, untuk hari ini, saya yakin, BUMI akan menguat seiring kenaikan harga batubara pekan ini ke level US$108 per metrik ton jika merujuk pada harga di Newcastle.

Bagaimana dengan sentimen market?

Saya pikir market positif baik di dalam negeri maupun luar negeri sehingga berpeluang berpengaruh positif juga bagi BUMI hari ini. Sebab, pelemahan rupiah kemarin tidak terlalu tajam. Setelah mata uang RI itu sempat melemah ke level 9.265, kembali balik arah menguat ke level 9.195. Meskipun dibandingkan hari sebelumnya level ini turun tajam 110 poin.

Tapi, market juga hari ini mendapat topangan dari pergerakan market Eropa yang positif. Karena itu, market regional memungkinkan indeks mengalami technical rebound. Namun, pergerakan indeks hari ini, dengan titik resistance di level 2.857 dan support di angka 2.761, diperkirakan penguatan indeks masih belum stabil. Dalam waktu dekat masih bisa terjadi koreksi-koreksi wajar.

Sebab, indeks sudah menguat 7,9% sejak 15 Maret 2010 hingga mencapai level tertingginya di level 2.996 dan ditutup di angka 2.971 pada 20 April lalu. Tapi, untuk hari ini indeks tetap akan menguat setelah dua kali mengalami long candle sehingga memungkinkan terjadinya technical rebound.

Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?

Saya rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI. [jin/ast]
05/05/2010 - 08:37
Rekomendasi: 'Wait and See' untuk BUMI
Mosi Retnani Fajarwati


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta - Saham PT Bumi Resources (BUMI) masih cenderung bergerak sideways pada perdagangan Rabu (5/5). Rekomendasi wait and see untuk saham emiten ini.

Analis teknikal Muhammad Alfatih mengatakan, saham sejuta umat ini masih dalam pola sideways atau mendatar. Hal ini terjadi selama pergerakan saham BUMI masih belum melampaui kisaran Rp2.225-2.450.

Menurutnya, dalam pola sideways, apabila terjadi sedikit kenaikan pada saham BUMI, investor akan langsung mengambil sikap jual. Pasalnya, pola ini mengindikasikan adanya guncangan-guncangan. “Sehingga pergerakan BUMI sulit diperkirakan," ujarnya kepada INILAH.COM, Selasa (4/5) petang.

Dengan demikian, lanjut Fatih, dalam jangka pendek saham BUMI masih akan melemah dan mengarah ke level-level support di 2.225-2.300. "Namun, untuk besok, BUMI masih berada pada kisaran tadi (2.225-2.450)," katanya.

Ia menambahkan, secara fundamental saham BUMI masih bagus dan memiliki potensi menguat seiring dengan apresiasi indeks. Kondisi ini didukung harga minyak mentah yang masih tinggi, di atas level US$85 per barel. Namun, faktor di luar hal tersebut yaitu kasus pajak yang belum tuntas, masih membayangi. "Rekomendasi wait and see," pungkasnya.

Saat ini pasar masih menantikan laporan keuangan kuartal pertama 2010 BUMI, yang paling lambat dirilis 31 Mei 2010. Manajemen menjelaskan, perseroan sedang melakukan penelaahan secara terbatas atas laporan keuangan tersebut yang dibantu Kantor Akuntan Publik Tjiendradjaja & Handoko Tomo.

Pada penutupan perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah 50 poin (2%) ke Rp2.325 dengan kisaran harian Rp2.325-2.400. Nilai transaksi jauh lebih rendah yaitu Rp199,474 miliar dibanding hari sebelumnya yang sebesar Rp460,486 miliar. Sementara frekuensi perdagangan mencapai 2.263, dengan volume 84.745.500. [ast/mdr]
03/05/2010 - 16:03
IHSG Butuh BUMI Menuju ke 3.000


(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) segera naik ke level 3.000. Untuk itu dibutuhkan bantuan PT Bumi Resources (BUMI) yang masih lagging .

Indeks semakin mendekati level psikologis barunya di 3.000. Namun, saham-saham berkapitalisasi besar, seperti PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dan PT Astra International (ASII) sudah naik terlalu tinggi, sehingga tidak dapat menopang kenaikan bursa lebih lanjut. “Penguatan BUMI pun menjadi satu-satunya harapan pelaku pasar,” kata seorang analis pasar modal.

Namun, imbuhnya, pergerakan saham berbasis batubara ini cenderung stagnan karena sepi sentimen. Saham grup Bakrie lainnya pun berusaha meramaikan dengan pelbagai kabar aksi korporasinya.

Seperti obligasi dolar PT Bakrie Telecom (BTEL) yang kabarnya akan ditawarkan dengan yield 11.5%. Selain itu PT Bakrieland Development (ELTY) dapat pinjaman baru US$220 juta dari konsorsium USA, “Pergerakan saham-saham ini adalah untuk membentuk moment kenaikan BUMI, yang diperkirakan akan terjadi pada saat IHSG menuju 3.000,” pungkasnya. [nat/ast]
29/04/2010 - 11:11
Pemda NTB Minati 7% Divestasi Newmont
Makarius Paru


(IST)
INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah Daerah NTB sangat berharap bisa kembali mendapatkan saham 7% divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NTB), meskipun hingga saat ini pemda belum diajak bicara soal valuasi nilai sahamnya.

"Kami sangat siap mendapatkan saham 7% divestasi Newmont 2010. Sampai saat ini kami belum mendengar sejauhmana proses divestasi jatah 2010 ini," kata Gubernur NTB, Mochamad Zainul Madji ketika ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (29/4).

Ia menjelaskan pertama-tama saham divestasi Newmont ditawarkan ke pemerintah (pemerintah pusat dan daerah).

Apabila dikomunikasikan ke Pemda, maka Pemda akan menyerahkannya ke PT Daerah Maju Bersaing (DMB). Kemudian DMB tentunya akan berkomunikasi bersama mitra strategisnya PT Multi Capital. "Intinya Pemda NTB akan tetap menggandeng PT Multi Capital," katanya. [cms]
e-trading: 290410
Technical Picks

ASIA (99) – trading Buy
CTRP (360) – Trading Buy
BUMI (2325) – Trading Buy
APOL (152) – Trading Buy.
28/04/2010 - 08:49
[increase] [decrease]
BUMI 'Wait & See' Hingga Tembus Level 2.350
Mosi Retnani Fajarwati

(inilah.com/Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta - Saham PT Bumi Resources (BUMI) yang masih bergerak menyamping (sideways) menahan gairah pelaku pasar. Analis merekomendasikan wait and see, sampai bisa menembus level 2.350.

Analis teknikal Samuel Securities, Muhammad Al Fatih mengatakan, saat ini saham BUMI masih dalam pola sideways di kisaran 2.225-2.550. Fenomena itu telah terjadi sejak pertengahan Februari lalu.

"Sehingga kemungkinan pola ini masih akan berlanjut. Kalaupun ada penurunan tapi akan terbatas karena sekarang telah berada pada level 2.322," ungkapnya ketika berbincang dengan INILAH.COM, Selasa (27/4) petang.

Pada penutupan perdagangan kemarin, saham BUMI melemah 25 poin (10%) ke 2.325, dengan frekuensi perdagangan 1.678 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 87,275 miliar.

Ia melanjutkan, dalam dua minggu terakhir, pergerakan saham BUMI telah membentuk pola falling wedge, yaitu sebuah pola yang terbentuk cenderung menurun. Namun koreksi berlangsung lebih landai dari harga resistent-nya. "Pola ini cenderung menjadi bullish jika bisa menembus level di atas 2.350 dalam jangka menengah," tuturnya.

Ia memprediksikan, pergerakan saham BUMI hari ini berada pada kisaran 2.250-2.350, dengan kecenderungan melemah. "Sentimen harga minyak dan batubara memang bisa memicu, tetapi ada faktor-faktor di luar perusahaan yang menjadi kendala seperti kasus pajak," ujarnya.

Ia menilai, saat ini pelaku pasar masih ingin mengetahui bagaimana hasil dari penyelesaian kasus pajak tersebut. "Ini hambatan bagi investor, saat ini pelaku menunggu apakah terbukti atau tidak," tandasnya.

Sementara mengenai harga batubara yang membaik, ia menilai, memang akan memberi pengaruh mengingat bisa menambah pemasukan perseroan. "Bisa jadi perseroan menahan laba untuk mengantisipasi pajak yang cukup besar itu," imbuhnya.

Pelemahan bursa regional yang terjadi kemarin dan berdampak pada pelemahan indeks, menurutnya, juga bakal berkorelasi dengan saham BUMI karena secara umum berdampak pada saham-saham besar.

Ia pun merekomendasikan, bagi para investor yang sudah memegang saham BUMI lebih baik untuk ditahan dulu. Sementara untuk yang belum mengoleksinya sebaiknya wait and see. "Kalau sideways memang sebaiknya tidak melakukan apa-apa, kecuali spekulatif," tambahnya. [mdr]

27/04/2010 - 11:33
Irwan Ibrahim
BUMI Siap Lanjutkan Rally
Mosi Retnani Fajarwati

INILAH.COM, Jakarta - Pada perdagangan Selasa (27/4), saham PT Bumi Resources (BUMI) akan melanjutkan rally. Ekspektasi penguatan harga minyak akan menjadi katalisnya.

Menurut pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim, saham BUMI akan melanjutkan rally beriringan dengan saham-saham pertambangan lainnya. "Hal ini ditopang harga minyak yang diekspektasikan menuju level US$87 per barel," ungkapnya kepada INILAH.COM, Senin (26/4).

Pada perdagangan Senin kemarin, saham BUMI ditutup pada level 2.350 naik 25 poin (10%). Volume perdagangan 114.711.500, nilai transaksi mencapai 271.201.537.500, serta frekuensi perdagangan 2.946.

Menurut Anda, apakah saham BUMI akan melanjutkan rally pada hari ini ?

Masih akan berlanjut, didorong dengan apresiasi penguatan harga minyak dunia yang dipicu pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama, termasuk euro. Selain itu, sentimen positif BUMI juga berasal dari kenaikan permintaan komoditas dunia, terutama batubara yang datang dari India dan China.

Kedua negara besar ini, menggunakan batubara sebagai alternatif pengganti minyak mentah. Terlebih lagi mereka menargetkan akan memperbesar ekspansi hingga 20% selama 10 tahun ke depan.

Sementara itu, dari sisi fundamental, BUMI masih baik. Diperkuat lagi dengan ekspektasi pembagian dividen tahun buku 2009 yang diharapkan lebih baik dari sebelumnya, seiring dengan membaiknya kinerja perseroan. Investor juga berharap akan kinerja kuartal I 2010 membaik. Mereka (manajemen BUMI) bilang akan melaporkannya ke paling lambat akhir Mei ini.

Kira-kira ada potensi untuk terjadi aksi ambil untung (profit taking) karena reli itu ?

Itu (profit taking) sangat tipis, justru investor asing akan terus membeli.

Kira-kira saham BUMI akan bergerak di kisaran berapa?

Setelah kemarin menguat, saham BUMI hari ini diperkirakan akan bergerak pada kisaran 2.500-2.550. Rekomendasi saya long term buy. [mdr]
BUMI: Dikabarkan Bakal Beli Right Issue DOID, Kinerja Perusahaan Akan Makin Solid
Kamis, 22 April 2010 09:50 WIB vibiz

Emiten tambang batubara, PT Bumi Resources tbk (BUMI) dikabarkan akan menjadi standby buyer right issue yang akan diterbitkan PT Delta Dunia Petroindo tbk (DOID). Rencana ini disinyalir merupakan langkah BUMI untuk memiliki DOID.

Jika BUMI terintegrasi dengan DOID maka akan banyak keuntungan yang bisa diperoleh. Pasalnya DOID rencananya akan mengambil alih Berau Coal yang merupakan produsen batubara terbesar kelima

26/04/2010 - 12:27
Secara Teknikal, BUMI Menuju 2.550


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – PT Bumi Resources (BUMI) pada Senin (26/4) akan terus merambat naik. Indikator teknikal menunjukkan sinyal penguatan ke Rp2.550.

Seorang analis dari sekuritas asing mengatakan, saham BUMI hari ini akan bergerak di kisaran Rp2.275 - Rp2.550. Hal ini didukung dari sisi teknikal, dimana emiten ini telah menunjukkan sinyal penguatan ke Rp2.550

Sentimen penguatan BUMI berasal dari pernyataan manajemen BUMI bahwa KPC mulai Mei 2010 akan meningkatkan produksi batubara dari 4.500 metrik ton/ jam menjadi 7.500 metrik ton/jam. Hal ini untuk memenuhi meningkatnya permintaan.

Demikian juga harga batubara yang tembus US$100 per metric ton, dinilai akan menguntungkan BUMI yang mayoritas produksinya dijual ke pasar ekspor. [nat/ast]
25/04/2010 - 09:04
Review Saham Sepekan
Pesona Memudar, BUMI Melorot 4%
Agustina Melani

INILAH.COM, Jakarta - Saham PT Bumi Resources (BUMI) dalam sepekan melorot 4,1%. Memudarnya pesona BUMI, menyebabkan emiten tambang ini cenderung konsolidasi dengan pergerakan di kisaran sempit.

Kepala Riset PT BNI Securities Norico Gaman mengatakan, BUMI sepanjang perdagangan pekan ini tidak mengalami volatilitas berarti, dengan pergerakan tidak terlalu lebar di kisaran 2.300-2.500.

Meski penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memberi sentimen positif, pelaku pasar kurang tertarik mentransaksikan saham BUMI dalam jumlah besar. "Mereka lebih memilih saham dengan fundamental bagus dan kinerja keuangan yang baik," ujarnya saat dihubungi INILAH.COM akhir pekan ini.

Pergerakan saham BUMI memang tidak signifikan. Lihat saja pada perdagangan Senin (19/4), dimana anak usaha Bakrie ini ditutup turun Rp75 ke level Rp2.350. Setelah sempat menguat Rp50 ke Rp2.400 pada keesokan harinya, BUMI pun segera berbalik turun ke level Rp2.350 pada Rabu (21/4).

Tidak hanya itu. Di tengah pencapaian rekor tertinggi IHSG, BUMI malah tak bergeming.

Padahal, laporan keuangan emiten perbankan yang hampir seluruhnya membaik serta sentimen emiten batubara yang positif sejak konsumen Jepang bersedia membeli dengan harga 40% lebih tinggi, telah mendongkrak harga saham beberapa emiten unggulan.

Norico menuturkan, investor saat ini masih menunggu aksi korporasi anak usaha BUMI, PT Bumi Resources Mineral (BRM), yang berencana melakukan penawaran saham umum ke publik (Initial Public Offering/IPO). “Saat ini, aksi korporasi BUMI belum agresif dibandingkan tahun lalu. Sehingga, investor cenderung menunggu,” ujarnya.

Rencana BRM melakukan IPO, menunjukkan fokus BUMI pada usaha tambang mineral logam selain batubara. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan pemulihan ekonomi global dan Asia. "IPO Bumi Resources Mineral ini akan menjadi perhatian investor. Hal tersebut memberikan sentimen positif untuk saham BUMI," kata Norico.

Adapun hasil kinerja kuartal pertama 2010 BUMI menjadi perhatian pelaku pasar. Terutama mengingat laporan keuangan full year 2009 yang cenderung merosot."Perbaikan laporan keuangan menjadi harapan pelaku pasar," tambah Norico.

Di sisi lain, kabar bahwa China Invesment Corporation (CIC) yang menjadi pembeli siaga (standby buyer) BUMI di level Rp3.000-an, belum akan menjadi sentimen positif dalam jangka pendek. Sebab, pembelian itu mengandaikan adanya rights issue tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). [ast/mdr]
22/04/2010 - 10:01
Irwan Ibrahim
Kasus Pajak & Politik Hambat Laju BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Kamis (22/4) diprediksikan menguat seiring potensi penguatan indeks. Namun, lajunya akan terhambat karena pasar mencermati faktor pajak dan politik. Long term buy!

Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini dipicu oleh peluang positifnya sentimen market. Sebab, dari sisi emiten, belum ada aksi korporasi baru. Pergerakannya pun tidak terlalu atraktif.

“Sebab, jika emiten besar seperti BUMI minim sentimen dari korporasi, yang menggerakannya adalah faktor lain seperti pajak dan politik,” katanya kepada Ahmad Munjin INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Rabu (21/4), saham BUMI ditutup melemah Rp50 (2,08%) menjadi Rp2.350, dengan intraday Rp2.425 dan Rp2.325. Volume transaksi mencapai 88,1 juta unit saham senilai Rp208,7 miliar dan frekuensi 2.456 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin terkoreksi di atas 2%, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya melihat ada potensi penguatan. Salah satunya dipicu tren kenaikan indeks saham yang sudah menembus level psikologisnya 2.900. Indeks akan terus naik seiring aksi borong asing. Namun, BUMI akan mengalami tekanan di awal-awal perdagangan.

Akan bergerak di kisaran berapa?

Setelah terkoreksi, BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.500 dan Rp2.250 sebagai level support-nya. Namun demikian, penguatan BUMI tidak akan terlalu pesat. Sebab, jika dilihat trennya secara teknis, saham ini masih stagnan. Meskipun, dari sisi valuasi, saham ini sebenarnya sangat murah.

Lantas, apa yang menghambat investor melakukan pembelian di saham ini?

Mungkin investor mempertimbangkan hal lain. Di antaranya faktor kisruh pajak perseroan, dan mungkin juga faktor politik. Investor asing dan investor institusi masih memperhitungkan faktor pajak dan faktor politik. Dari sisi faktor pajak, mereka masih menunggu proses penyelesaian di pengadilan.

Sementara itu, dari sisi politik, Aburizal Bakrie, sebagai pemilik grup Bakrie termasuk BUMI, identik dengan Partai Golkar, karena memang menjabat sebagai Ketua Umum. Pasar melihat, arah politik Golkar belum jelas yaitu persetruannya antara Golkar dengan partai penguasa. Hal ini tampak dari mencuatnya skandal Bank Century.

Tapi, saya yakin investor akan melakukan pembelian secara bertahap di saham ini. Sebab, level harga BUMI di angka Rp2.300-2.500 masih murah. Invetor pun akan berpikir, untuk jangka panjang wajib beli saham ini.

Apakah laporan keuangan perseroan kuartal pertama tahun ini sudah direspons pasar?

Pembelian ini juga, karena momentum menjelang musim pembagian dividen dalam waktu dekat, yaitu menjelang pengumuman laporan keuangan kuartal pertama 2010. Termasuk BUMI, rata-rata kinerja emiten dieskspektasikan positif. Sebab pada kuartal pertama suku bunga bank sudah sangat rendah sehingga memungkinkan emiten untuk ekspansi dan mempertahankan tingginya laba.

Bagaimana dengan harga minyak mentah dunia?

Harga minyak mentah dunia masih kosolidasi di level US$83-84 per barel . Karena itu, pengaruhnya netral ke saham BUMI. Tapi, saya perkirakan, pekan depan harga minyak akan kembali ke level US$85-88 per barel. Sebab, dari sisi aksi korporasi belum ada yang baru dari BUMI. Karena itu, jika emiten besar seperti BUMI minim sentimen dari sisi aksi korporasi, yang menggerakannya adalah faktor lain seperti pajak dan politik.

Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?

Menurut saya, saat inilah waktu yang tepat untuk membeli saham BUMI dan saham di grup Bakrie lainnya. Saya rekomendasikan beli, untuk jangka panjang. [jin/ast]
22/04/2010 - 15:20
Tinggalkan BUMI, Beli ENRG!


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Para pecinta saham Bakrie 7 disarankan untuk menghindari saham Bumi Resources (BUMI). Mereka sebaiknya beralih ke saham lain di grupnya, yaitu Energi Mega Persada (ENRG).

Seorang pengamat pasar modal mengatakan, sepinya sentimen positif yang bisa mendongkrak saham BUMI, menyebabkan pergerakan emiten sejuta umat ini cenderung terbatas. Ia pun menyarankan investor beralih ke saham grup Bakrie lainnya, yakni ENRG. “Saham ENRG kini menjadi highly recommend, “katanya.

Selain bisa mendorong sentimen positif di saham BUMI, ENRG masih menarik karena total utang perseroan kini sudah jauh berkurang banyak. Terutama setelah melakukan right issue. Hal ini ditopang harga minyak mentah tahun ini yang dirata-rata mencapai US$81 per dolar AS.

Apalagi harga gas yang membaik, menimbulkan ekspektasi laporan keuangan ENRG kuartal pertama 2010 ini akan kinclong . Situasi ini akan memicu saham ENRG ke harga tertinggi setelah pencapaian pada Juli 2008 lalu. Adapun hingga kini, investor asing sudah mengakumulasi 1,7 juta lot saham ENRG. “Rekomendasi beli untuk ENRG dengan target harga di bisa mencapai Rp500,”katanya. [nat/ast]
21/04/2010 - 09:51
Yustian Hartono
Secara Teknis, BUMI Masih Menguat

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Rabu (21/4) diprediksikan mengalami technical rebound. Rekomendasi beli BUMI untuk jangka pendek-menengah.

Yustian Hartono, technical analyst AmCapital Indonesia mengatakan, secara teknis, saham PT Bumi Resources (BUMI) akan bergerak naik hari ini. Sebab, emiten ini baru berhasil rebound dari level support-nya. Hanya saja, pasar harus mencermati kenaikan BUMI yang tidak diiringi bersarnya volume transaksi.

Menurutnya, penguatan BUMI hari ini pun belum meyakinkan, untuk kenaikan selanjutnya. “Tapi, secara teknis, IHSG ^JKSE dan BUMI memiliki peluang untuk naik,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (20/4) malam.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp50 (2,12%) menjadi Rp2.400 dengan intraday Rp2.400 dan Rp2.350. Volume transaksi mencapai 67,3 juta unit saham senilai Rp159,9 miliar dan frekuensi 1.790 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin menguat di atas 2%, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya melihat secara teknis masih berpotensi menguat. Salah satunya dipicu oleh peluang positifnya sentimen market. Sebab, pada saat Goldman Sachs dituduh melakukan kejahatan derivatif terkait subprime mortgage, ternyata bukan suatu hal yang perlu dicermati pasar secara serius. Sebab, kasus tersebut tidak mengubah fundamental pasar. Kasus itu merupakan kejadian yang sudah lampau.

Kasus Goldman Sachs, bahkan, di pasar AS sendiri sebenarnya tidak berdampak signifikan untuk pasar secara keseluruhan. Hal itu hanya jadi pemicu agar investor melakukan profit taking. Sebab, kenaikan indeks dalam beberapa pekan terakhir sangat pesat.

Akan bergerak di kisaran berapa?

Karena itu, BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.450-2.525 dan Rp2.325 sebagai level support-nya.

Selain sentimen market, apalagi yang bisa mendongkrak BUMI?

Di sisi lain, potensi penguatan BUMI juga didorong oleh faktor teknis. Secara teknikal, BUMI masih positif sebab baru berhasil rebound dari level support-nya. Hanya saja, pasar harus mencermati kenaikan BUMI yang tidak diiringi bersarnya volume transaksi. Penguatan BUMI hari ini pun belum meyakinkan, untuk kenaikan selanjutnya. Tapi, secara teknis, IHSG ^JKSE dan BUMI memiliki peluang untuk naik meskipun dalam kisaran yang terbatas.

Terbatasnya pergerakan saham BUMI belakangan ini juga tampak dari tipisnya volume transaksi. Karena itu, pada saat indeks terkoreksi tajam sehari sebelumnya, penurunan BUMI tidak terlalu tajam.

Apa yang memicu penguatan BUMI terbatas?

Itu karena minimnya sentimen dari berita-berita korporasi yang bisa men-drive pergerakannya dalam jangka pendek. Sebelumnya, kenaikan BUMI mendapat tenaga dari kenaikan harga batubara dalam kontraknya. Batubara sendiri saat ini masih kuat di level US$98 per metrik ton di Newcastle. Namun, ini sudah diserap oleh pasar. Datarnya pergerakan BUMI belakangan ini akibat kurangnya sentiemen. Padahal biasanya, BUMI merupakan emiten yang paling banyak berita yang menggoyangnya.

Tapi, ini bukan berarti, BUMI tidak lagi jadi saham sejuta umat. Sebab, pelaku pasar tetap terus mencermati perkembangannya meskipun saham ini cukup menimbulkan kontroversi. Menurut saya, sepinya perdagangan BUMI hanya terjadi dalam jangka pendek.

Bagaimana dengan harga minyak?

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia saat ini masih berfluktuasi di level US$80-85 per barel . Angka ini cukup fair. Sebab, pergerakan harganya tidak terlalu buble seperti tahun 2008 lalu yang menguat hingga US$140 per barel, lalu tiba-tiba turun ke level US$30 per barel. Karena itu, fluktuasi pasar, tidak akan bergerak seperti 2008 lalu.

Tapi, saat inipun jika harga minyak mengalami kenaikan, tentu berpengaruh positif bagi BUMI, karena core bisnisnya di sektor batubara. Namun, karena dari sisi aksi korporasi belum ada hal baru, penguatan BUMI terbatas. Sementara itu, hambatan dari besarnya utang perseroan, menurutnya sudah menjadi rahasia umum. Karena itu, utang BUMI sudah price in di level harga BUMI saat ini. Hal itu bukan hal baru lagi.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Secara teknikal, BUMI bullish. Saya rekomendasikan buy dalam jangka pendek hingga menengah dengan target Rp2.525. [jin/ast]
20/04/2010 - 10:04
Parto Kawito
Dalam 1-2 Bulan, BUMI Menguntungkan

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Selasa (20/4) diperkirakan melemah seiring negatifnya sentimen market. Tapi, 1-2 bulan ke depan, emiten ini bisa menguntungkan, karena level support-nya sangat kuat.

Direktur PT Infovesta Utama, Parto Kawito menyarankan, agar invstor mengoleksi saham BUMI di level Rp2.100-2.050. Sebab, level support saham ini cukup kuat sehingga dalam 1-2 bulan, investor bisa meraih gain. Meskipun ada peluang saham PT Bumi Resources (BUMI) kembali ke level Rp2.400-2.500.

Untuk itu, Parto merekomendasikan buy on weakness untuk BUMI. “Investor tunggu dulu, karena level saat ini belum benar-benar aman,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Senin (19/4), saham BUMI ditutup melemah Rp75 (3,09%) menjadi Rp2.350 dengan intraday Rp2.400 dan Rp2.325. Volume transaksi mencapai 93,6 juta unit saham senilai Rp220 miliar dan frekuensi 3.318 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin melemah Rp75, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI hari ini?

Saya kira, masih berpeluang koreksi. Salah satunya dipicu oleh negatifnya sentimen market. Sebab, kenaikan indeks terlalu cepat sehingga harus menarik nafas sejenak dengan pelemahan untuk kemudian menguat kembali. Namun, koreksi indeks saat ini hanya bersifat sementara akibat profit taking. Saya perkirakan, indeks perlu turun 50-70 poin lagi, untuk kemudian menguat. Karena itu, kurang kondisif bagi pergerakan saham BUMI hari ini.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan bergerak dalam kisaran support Rp2.100-2.050 dan Rp2.400-2.500 sebagai level resistance-nya.

Bagaimana dengan tren pelemahan kembali harga minyak dunia?

Itu juga akan jadi tekanan bagi BUMI. Apalagi, harga minyak mentah dunia sempat ke level US$80 per barel . Koreksi harga minyak, juga menjadi sentimen negatif bagi sektor pertambangan termasuk BUMI. Begitu juga dengan perkebunan.

Apakah akan menjadi sentimen positif terkait CIC yang menjadi pembeli siaga BUMI di level Rp3.000-an?

Kabar bahwa China Invesment Corporation (CIC) yang menjadi pembeli siaga (standby buyer), belum akan menjadi sentimen positif dalam jangka pendek. Sebab, pembelian itu mengandaikan adanya rights issue tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Sampai saat ini belum ada konfirmasi terkait ini. Tapi, paling tidak, yang namanya pembeli siaga, sudah dipastikan ada kesepakatan antara CIC dengan BUMI untuk melakuan pembelian di level Rp3.000-an.

Sedangkan rights issue, memang masih dimungkinkan di bawah 10% dari modal yang disetor, bisa tanpa harus melalui Rapat Uumum Pemengang Saham (RUPS). Tanpa harus ada izin dari pemegang saham publik. Dengan demikian, CIC akan menyetorkan modal sebagai pembelian BUMI di level Rp3.000-an. Akibatnya, level harga BUMI saat ini sangat murah sehingga akan menguntungkan jika investor melakukan pembelian.

Hanya saja, kepemilikan saham publik, akan terdilusi 10%. Sebab, CIC menyetorkan modal, sedangkan pemegang saham publik tidak. Jika semula kepemilikan 10%, setelah rights issue jadi terdilusi tinggal 9%.

Terdilusinya saham, apakah otomatis jadi sentimen negatif bagi BUMI?

Bisa jadi. Tapi dalam jangka pendek. Sebab, di sisi lain, BUMI mendapatkan modal segar sehingga memungkinkan ekspansi atau membayar utang. Hal itu menguntungkan bagi perseroan. Jadi, pengaruhnya bagi investor sangat tergantung pada dana segar itu dugunakan untuk apa.

Itupun, pengaruh positifnya belum akan terefleksi pada pergerakan saham BUMI hari ini. Sebab, sentimen market kurang mendukung. Apalagi, pada dasarnya, pasar tidak menyukai rights issue baik melalui HMETD maupun tanpa HMETD. Tapi, jika investor berpikir panjang, BUMI mendapatkan uang untuk ekspansi atau mengurangi utang, itu sangat positif.

Untuk jangka pendek, rights issue memicu terdilusinya saham sehingga berpengaruh negatif pada pergerakan saham BUMI. Hal itu terbukti dari beberapa emiten yang melakukan rights issue, harga sahamnya mengalami penurunan. Sementara itu, saham BUMI dilihat dari sisi laporan keuangannya, mengecewakan.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya sarankan agar invstor mengoleksi saham ini di level Rp2.100-2.050. Sebab, level support saham ini cukup kuat. Untuk 1-2 bulan, invsetor bisa untung mengoleksi saham ini karena berpeluang kembali lagi ke level Rp2.400-2.500. Buy on weakness untuk BUMI, supaya benar-benar aman. Level saat ini belum benar-benar aman. [jin/ast]
BUMI Bantah Arutmin Salah Area Tambang
Senin, 19 April 2010 - 08:31 wib

Candra Setya Santoso - Okezone

JAKARTA - Lagi-lagi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) diterpa pemberitaan miring dan pihak manajemen membantahnya.

Kali ini, perseroan melalui anak usahanya, PT Arutmin Indonesia di Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, dinilai telah menyerobot areal hak guna usaha (HGU) perusahaan perkebunan karet PT Malindo Jaya Diradja.

"PT Arutmin Indonesia (PTAI) sebagai pemegang perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) melakukan aktivitas penambangan sesuai dengan area yang ditetapkan dalam PKP2B. Berita tersebut adalah tidak benar karena aktivitas yang dilakukan PTAI di dalam area yang ditetapkan tersebut," ungkap Senior Vice President Investor Relations dan Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava, dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Senin (19/4/2010).

Pesreroan akan mematuhi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku di pasar modal, termasuk keterbukaan informasi kepada publik.

Sekadar mengingatkan, kasus penyerobotan lahan hak guna usaha (HGU) itu memunculkan unjuk rasa oleh karyawan PT Malindo Jaya di Desa Rain Andung, Kintap, yang menuntut Arutmin menghentikan aktivitas tambang. Para pengunjuk rasa juga memblokade jalan tambang PT Arutmin Indonesia yang masuk lahan HGU PT Malindo Jaya Diradja.(css)
19/04/2010 - 16:55
Tambang Seret Turun Bursa 38 Poin
Asteria


(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk di zona merah. Saham sektor tambang memimpin pelemahan di tengah memburuknya sentimen bursa.

Pada perdagangan Senin (19/4), IHSG ditutup anjlok 38,246 poin (1,32%) ke level 2.840,425. Indeks saham unggulan LQ 45 juga turun 7,785 poin (1,39%) ke level 549,620

Indeks saham di awal perdagangan dibuka langsung anjlok 1,80% ke level 2.826. Berkurangnya tekanan jual investor, membuat laju koreksi indeks dapat tertahan. Setelah bertengger di 2.838 pada sesi siang, indeks akhirnya ditutup di 2.840, masih di zona merah.

Kepala Riset Valbury Asia Securities Nico Omer mengatakan, IHSG hari ini terkoreksi seiring pelemahan yang dialami bursa regional Asia, merespon turunnya Wall Street akibat kasus Goldman Sachs. “IHSG melemah mengikuti tren bursa global,” katanya kepada INILAH.COM.

Tertekannya bursa saham domestik juga dipicu aksi ambil untung investor. Meskipun secara fundamental indeks di BEI cukup kuat dan masih berada pada tren bullish, valuasi sahamnya sudah cukup mahal. “Sehingga koreksi tetap berlanjut,” lanjutnya.

Bursa AS akhir pekan lalu ditutup melemah, menyusul dugaan kecurangan pada Goldman Sachs Group Inc. Saham Goldman Sachs anjlok 10% selama sepekan, penurunan terbesar sejak Maret 2009. Hal ini terjadi setelah Securities and Exchange Commision mempermasalahkan bank tersebut dan fakta mengenai obligasi kolateral ditutup salah satu pejabatnya.

Hal senada diungkapkan Alfiansyah, analis dari PT Sinarmas Sekuritas. Menurutnya, aksi lepas saham itu dipicu koreksi bursa saham regional dan Wall Street. Selain pelemahan rupiah ke level 9.040 per dolar AS,”Ini berakibat pada kuatnya tekanan negatif pasar,” ujarnya.

Pelemahan itu juga didominasi aksi jual saham terhadap saham pertambangan, setelah beberapa waktu lalu menguat. Apalagi harga minyak mentah melemah ke level US$ 82.3 per barel. Minyak terkoreksi selama 3 hari setelah spekulasi kenaikan atas komoditas dalam 10 minggu telah melebihi permintaan global dalam masa recovery.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia cukup aktif, dimana volume transaksi mencapai 4,848 miliar lembar saham, senilai Rp 3,996 triliun dan frekuensi 106.026 kali. Sebanyak 57 saham naik, 176 saham turun dan 51 saham stagnan.

Hampir semua sektor melemah, dimana tambang mengkontribusi penurunan terbesar mencapai 3,1%, diikuti sektor perkebunan yang anjlok 2,3%. Kemudian sektor industri dasar yang terkoreksi 1,7%, properti 1,4%, perdagangan 1,3%, infrastruktur 1,2%, finansial 0,9%, manufaktur 0,6% dan konsumsi 0,5%. Hanya sektor aneka industri yang masih tampak menghijau.

Beberapa saham tambang yang melemah antara lain Indo Tambang (ITMG) turun Rp 1.250 ke Rp 38.200, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 550 ke Rp 17.400 dan PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp75 ke Rp2.350.

Emiten lain yang melemah antara lain Astra Agro (AALI) turun Rp 650 ke Rp 23.200, Indocement (INTP) turun Rp 500 ke Rp 14.450, United Tractors (UNTR) turun Rp 300 ke Rp 19.150.

Sedangkan emiten-emiten yang menguat antara lain Bir Bintang (MLBI) naik Rp 3.000 ke Rp 167.000, Anker Bir (DLTA) naik Rp 2.000 ke Rp 77.000, Astra International (ASII) naik Rp 200 ke Rp 43.100, Goodyear (GDYR) naik Rp 200 ke Rp 14.000, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 50 ke Rp 27.100.

Pelemahan IHSG terjadi seiring koreksi bursa-bursa Asia. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 530,119 poin ke level 21.335,14, indeks Nikkei-225 Jepang turun 193,41 poin ke level 10.908,77 dan indeks Straits Times Singapura turun 71,21 poin ke level 2.945,73. [mdr]

19/04/2010 - 10:10
Aji Martono
Secara Teknis, BUMI Tetap Atraktif

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI pada transaksi Senin (19/4) diprediksikan menguat seiring aksi beli investor. Pasar tertarik untuk membeli saham ini di bawah Rp2.425. Akumulasi beli BUMI!

Pengamat pasar modal, Aji Martono mengatakan, salah satu alasan penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini dipicu faktor teknis. Menurutnya, investor tertarik untuk melakukan aksi beli di bawah harga Rp2.425.

“Itulah yang menjadi alasan BUMI hanya melemah 1 poin saja akhir pekan lalu,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (16/4) saham BUMI ditutup melemah Rp25 (1,02%) menjadi Rp2.425, dengan intraday Rp2.450 dan terendah Rp2.400. Volume transaksi mencapai 59,1 juta unit saham senilai Rp143,2 miliar dan frekuensi 1.609 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah terkoreksi Rp25, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI awal pekan ini?

Saya melihat ada potensi penguatan hari ini. Salah satunya, dipicu oleh faktor teknis. Level harga saham BUMI di angka Rp2.425, merupakan level yang sangat atraktif bagi investor. Sebab, saya melihat seperti halnya pekan lalu, akumulasi saham ini di bawah level Rp2.425, sangat menarik. Itulah yang menjadi alasan, mengapa dengan pelemahan indeks yang tajam 25 poin akhir pekan lalu, BUMI hanya terkoreksi 1 poin (Rp25) saja.

Akan bergerak di kisaran berapa?

Dengan posisi Rp2.425 di akhir pekan lalu, BUMI memiliki peluang di level support Rp2.375 dan Rp2.675 sebagai level resistance-nya untuk pergerakan jangka pendek. Untuk jangka pendek, faktor teknikal lebih berperan menjadi penggerak BUMI. Saya yakin, level support-resistance itu akan mewarnai pergerakan saham BUMI awal pekan ini. Tapi, penguatan BUMI akibat adanya aksi akumulasi investor lebih tinggi daripada kecenderungan melemahnya.

Lalu, apa yang menjadi faktor penggerak BUMI untuk jangka panjang?

Saya lihat, aksi akumulasi beli atas saham ini juga dipicu oleh kesepakatan BUMI dengan China Invesment Corporation (CIC). CIC menjadi ‘pembeli siaga’ (stand by buyer) untuk saham ini di level Rp3.000-an. Saham ini pun menjadi sangat menarik bagi investor sehingga akan mengerek naik harganya ke level Rp3.000 untuk jangka menengah panjang.

Saya memperkirakan, CIC bisa saja menjadi buyer BUMI di level Rp3.100-3.200. Namun, saya sendiri belum bisa memastikan kapan pembelian itu akan dilakukan perusahaan investasi milik pemerintah China itu. Belum bisa dipastikan kapan. Karena alasan itulah, investor akan melakukan akumulasi beli atas BUMI untuk jangka panjang. Saya juga melihat positif saham ini karena lebih melihat faktor mid and long term-nya. Tapi, untuk jangka pendek, BUMI juga tetap menarik.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan akumulasi beli untuk BUMI.[jin/ast]

19/04/2010 - 08:54
CIC Pembeli Siaga, Akumulasi BUMI!
Ahmad Munjin

INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI pada transaksi Senin (19/4) diprediksikan menguat seiring akumulasi beli investor. Pemicunya, kabar CIC yang menjadi ‘pembeli siaga’ BUMI di level Rp3.200.

Pengamat pasar modal Aji Martono mengatakan, potensi penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini salah satunya dipicu oleh faktor teknis. Menurutnya, level harga saham BUMI di angka Rp2.425, merupakan level yang sangat atraktif bagi investor. Sebab, Aji melihat seperti halnya pekan lalu, akumulasi saham ini di bawah level 2.425, sangat menarik.

Itulah yang menjadi alasan, mengapa dengan pelemahan indeks yang tajam 25 poin akhir pekan lalu, BUMI hanya terkoreksi 1 poin (Rp25) saja. “Dengan posisi Rp2.425 di akhir pekan lalu, BUMI memiliki peluang di level support Rp2.375 dan Rp2.675 sebagai level resistance-nya untuk pergerakan jangka pendek,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (18/4).

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (16/4) saham BUMI ditutup melemah Rp25 (1,02%) menjadi Rp2.425 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.450. Harga tertingginya mencapai Rp2.450 dan terendah Rp2.400. Volume transaksi mencapai 59,1 juta unit saham senilai Rp143,2 miliar dan frekuensi 1.609 kali.

Aji menegaskan, untuk jangka pendek, faktor teknikal lebih berperan menjadi penggerak BUMI. Dia yakin, level support-resistance itu akan mewarnai pergerakan saham BUMI awal pekan ini. “Tapi, penguatan BUMI akibat adanya aksi akumulasi investor lebih tinggi daripada kecenderungan melemahnya,” tandasnya.

Sebab, aksi akumulasi beli atas saham sejuta umat ini juga dipicu oleh kesepakatan BUMI dengan China Invesment Corporation (CIC). Menurutnya, CIC menjadi ‘pembeli siaga’ (stand by buyer) untuk saham produsen batubara thermal ini di level Rp3.000-an. Saham anak usaha grup Bakrie ini pun menjadi sangat menarik bagi investor sehingga akan mengerek naik harganya ke level Rp3.000 untuk jangka menengah panjang.

Bahkan, Aji memperkirakan, CIC bisa saja menjadi buyer BUMI di level Rp3.100-3.200. Namun, Aji sendiri belum bisa memastikan kapan pembelian itu akan dilakukan perusahaan investasi milik pemerintah China itu. “Belum bisa dipastikan kapan,” timpalnya.

Karena alasan itulah, investor akan melakukan akumulasi beli atas BUMI untuk jangka panjang. Aji menilai positif saham ini karena lebih melihat faktor mid and long term-nya. Tapi, untuk jangka pendek, BUMI juga tetap menarik. “Saya rekomendasikan akumulasi beli untuk BUMI,” tambahnya. [mdr]
16/04/2010 - 09:50
Gina Novrina Nasution
BUMI Tetap Jadi Incaran Investor


INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Jumat (16/4) diprediksikan menguat seiring masih positifnya sentimen market. Arus dana asing yang masuk mencerminkan perburuan invsetor di saham BUMI.

Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities mengatakan, salah satu alasan penguatan saham PT Bumi Resources (BUMI) hari ini dipicu oleh investor yang tetap mengincar saham ini seiring positifnya sentimen market.

Apalagi, perekonomian mulai membaik secara global. Akibatnya, arus dana asing yang masuk mencerminkan perburuan invsetor di saham komoditas. “Termasuk juga di saham BUMI,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Kamis (15/4), saham BUMI ditutup menguat Rp50 (2,08%) menjadi Rp2.450 dengan intraday Rp2.475 dan Rp2.400. Volume transaksi mencapai 159,3 juta unit saham senilai Rp388,6 miliar dan frekuensi 3.128 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah kemarin berhasil menguat 2%, bagaimana Anda memperkirakan pergerakan saham BUMI akhir pekan ini?

Masih menguat. Salah satu alasan penguatan BUMI berasal dari positinya sentimen global dan regional. Hal ini mendapat dukungan dari beberapa laporan keuangan perusahaan publik yang dirilis di AS, IHSG ^JKSE pun akan tetap berada di atas 2.900. Positifnya indeks mengindikasikan penguatan untuk pergerakan saham BUMI hari ini.

Akan bergerak di kisaran berapa?

BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.525-2.750 dan Rp2.350-2.200 sebagai level support-nya.

Selain sentimen market, apakah harga komoditas masih cukup menjadi dukungan bagi penguatan BUMI?

Ya. BUMI juga mendapat topangan dari penguatan signifikan harga batubara yang mencapai level US$98 per metrik ton. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia sudah kembali ke level US$86 per barel. Itulah, faktor-faktor yang bisa memicu penguatan BUMI hari ini.

Seberapa kuat tenaga penguatan saham ini?

Menurut saya, untuk penguatan lebih jauh, BUMI membutuhkan sentimen positif dari aksi korporasinya. Yaitu, suatu aksi korporasi yang bisa menjadi sentimen positif di market. Dengan adanya sentimen itu, BUMI bisa kembali ke level resistance Rp2.750. Setelah BUMI menguat dan menembus level Rp2.525 BUMI bisa menembus level resistance berikutnya.

Untuk saat ini, saham sejuta umat ini masih minim sentimen positif dari aksi korporasinya. Sebab, saat ini BUMI hanya mendapat topangan dari positifnya pergerakan bursa global dan penguatan harga komoditas. PT Bumi Resources Mineral (BRM), anak usaha BUMI yang menjajaki IPO saham senilai US$1 miilar atau sekitar Rp 9 triliun memang berpengaruh positif. Tapi tidak cukup kuat untuk menjadi penggerak BUMI.

Aksi korporasi apa yang bisa mengerek naik saham ini lebih jauh?

BUMI sangat membutuhkan sentimen yang lain. Misalnya, aksi korporasi terkait kontrak baru penjualan batubara BUMI di level harga berapa. Atau, harga minyak melambung di atas US$90 per barel. Begitu juga, misalnya dengan kenaikan harga batubara di atas US$100 per metrik ton.

Bagaimana dengan kenaikan harga saham ANTM yang mencapai harga tertingginya di 2010; apakah akan memicu peralihan investor ke saham BUMI?

Penguatan harga saham PT Aneka Tambang (ANTM) yang sudah mencapai Rp2.550, harga tertinggi di 2010, bisa juga memicu peralihan investor ke saham BUMI sehingga terdongkrak. Itu juga bisa jadi alasan penguatan BUMI. Tapi memang, pasar masih menunggu sentimen positif dari aksi korporasinya. Kalau ada sentimen positif dari aksi korporasinya, BUMI akan kembali ke level harga yang seharusnya di atas harga ANTM dan PT Timah (TINS). Sebab, sebelumnya pun, harga kedua saham ini jauh berada di bawah saham BUMI.

Lalu, apa respon pasar terhadap laporan keuangan BUMI kuartal pertama 2010?

Laporan keuangan BUMI kuartal pertama 2010 belum direspon pasar, sehingga tidak berpengaruh pada pergerakan sahamnya. Saya memperkirakan, pekan depan pelaku pasar akan berekspektasi atas kinerja emiten sejuta umat ini. Akibatnya, pergerakan di BUMI pun terpacu.

Namun, hari ini pun BUMI tetap menjadi incaran pasar seiring positifnya sentimen market. Apalagi, perekonomian mulai membaik secara global. Akibatnya, arus dana asing yang masuk mencerminkan perburuan invsetor di saham komoditas termasuk BUMI.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya rekomendasikan buy on weakness untuk BUMI. Sebab, dengan penguatan indeks di level 2.900, harga saham BUMI saat ini masih cukup murah dan sangat potensial menguat. [jin/ast]
Divestasi Newmont diminta dituntaskan
Jumat, 16/04/2010 13:36:07 WIBOleh: Nurbaiti
JAKARTA (Bisnis.com): Pemerintah diminta menuntaskan proses negosiasi harga 7% saham yang ditawarkan oleh PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), program divestasi 2010 senilai US$444,08 juta sehingga mendapatkan harga wajar dan tidak terlalu mahal.

Anggota Komisi VII DPR Dito Ganinduto mengungkapkan divestasi saham NNT jatah 2010 tersebut seharusnya tetap dimiliki oleh daerah setempat, yakni Pemrov Nusa Tenggara Barat (NTB), mengingat daerah paling besar merasakan dampak negatif dari penambangan.

"Harga [divestasi 2010] harus dinegosiasikan supaya mendapatkan level yang wajar dan tidak terlalu mahal sebagai goodwill ke daerah. Jadi daerah ke depannya tidak hanya mendapatkan limbah saja, tetapi juga bisa menikmati hasil bumi dari daerahnya," ujarnya, hari ini.

Menurut dia, pemerintah sudah seharusnya memberikan kesempatan kepada daerah penghasil tambang emas dan tembaga Batu Hijau itu sehingga bisa ikut merasakan memiliki potensi sumber daya yang cukup besar.

Dengan demikian, lanjut dia, daerah juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Pasalnya, kata dia, kawasan di daerah timur Indonesia hingga kini relatif masih memerlukan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Terkait dorongan beberapa pihak agar perusahaan BUMN dilibatkan dalam pembelian 7% saham jatah 2010 itu, Dito mengatakan BUMN tambang bisa mengambil kesempatan yang sama di tempat lain.

"Daerah penghasil harus diprioritaskan untuk saham NNT ini karena mereka [daerah] hanya bisa berpartisipasi di daerahnya saja. Prinsipnya, kami tetap inginkan ke daerah. Bagaimana cara daerah mendapatkan saham 7% itu, terserah kesepakatan daerah saja," tutur Dito.

NNT telah melepaskan 24% saham periode 2006-2009 yang merupakan bagian dari kewajiban divestasi sebesar 31%. Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui PT Multi Daerah Bersaing –konsorsium PT Multicapital Indonesia, anak usaha PT Bumi Resources Tbk dan PT Multi Daerah Bersaing, perusda NTB-telah menguasai 24% saham tersebut.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tetap mengandalkan PT Aneka Tambang Tbk untuk membeli 7% saham program divestasi 2010 yang ditawarkan oleh pemilik tambang Batu Hijau itu.

Di sisi lain, PT Sumbawa Maju Jaya, perusahaan bentukan Pemkab Sumbawa dan Valco Corporation telah menyatakan minatnya mengakuisisi 7% saham NNT.

Bahkan, perusahaan tersebut telah menyiapkan dana sebesar US$444,08 juta untuk membuktikan keseriusannya mengambil saham tersebut. (msw)
IHSG Akhirnya Bertengger di 2.900
Penguatan bursa acuan dunia dan beberapa harga komoditas di pasar global menjadi pemicu.
KAMIS, 15 APRIL 2010, 16:20 WIB
Antique


VIVAnews - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia akhirnya bertengger di level psikologis 2.900, dari sebelumnya yang selalu berakhir di bawah level tersebut.

Analis PT BNI Securities Akhmad Nurcahyadi berpendapat, penguatan sebagian besar bursa acuan dunia, didukung penguatan beberapa harga komoditas di pasar global menjadi pemicu keberhasilan IHSG ditutup di level 2.900.

"Nilai tukar rupiah yang kembali menguat dan sempat ditransaksikan di bawah 9.000 per dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor penggerak kenaikan indeks dalam negeri hari ini," kata dia kepada VIVAnews melalui risetnya di Jakarta, Kamis, 15 April 2010.

IHSG pada penutupan transaksi sesi II Kamis, menguat 15,51 poin atau 0,53 persen ke level 2.900,53. Melanjutkan akhir sesi I tadi, yang naik 15,32 poin (0,53 persen) di posisi 2.900,34.

Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 5,34 triliun dan volume tercatat 13,04 juta lot, dengan frekuensi 148.652 kali. Sebanyak 119 saham menguat, 94 melemah, 90 ditutup stagnan, serta 195 saham tidak terjadi transaksi.

Pemodal asing melakukan pembelian saham Rp 1,17 triliun, sedangkan penjualan mencapai Rp 1 triliun.

Bursa Asia, saat IHSG berakhir sebagian juga bergerak positif. Indeks Hang Seng menguat 36,39 poin (0,16 persen) ke level 22.157,82 dan Nikkei 225 terangkat 68,89 poin atau 0,61 persen di posisi 11.273,79.

Di Bursa Efek Indonesia, saham komoditas yang mengontribusi penguatan IHSG cukup besar di antaranya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) terangkat Rp 1.200 atau 3,15 persen ke level Rp 39.250, PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) menguat Rp 250 (5,10 persen) menjadi 5.250, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik Rp 50 atau 2,08 persen di posisi Rp 2.450.

Sementara itu, berdasarkan data transaksi perdagangan Bloomberg pukul 16.00 WIB, nilai tukar rupiah bercokol di posisi 9.008 per dolar AS dari transaksi siang tadi yang berada di level 9.006/US$.

Sedangkan berdasarkan data kurs transaksi BI, rupiah sore ini berakhir di posisi 9.004 per dolar AS. Pada perdagangan Rabu, 14 April 2010, mata uang lokal tersebut berakhir di kisaran level 9.005-9.008/US$.

antique.putra@vivanews.com
Saham Komoditas Jadi Favorit
Saham komoditas tersebut di antaranya PT Bumi Resources Tbk dan PT Astra Agro Lestari Tbk.
RABU, 14 APRIL 2010, 09:16 WIB
Antique



VIVAnews - Harga komoditas yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu disinyalir akan dimanfaatkan investor asing maupun lokal untuk mengakumulasi saham-saham di sektor tersebut.

"Saham komoditas tambang dan CPO (minyak sawit mentah) akan menjadi favorit," kata pengamat pasar modal Pardomuan Sihombing kepada VIVAnews di Jakarta, Selasa sore, 13 April 2010.

Menurut Pardomuan, selain ditopang harga komoditas di pasar dunia yang cenderung meningkat, perpindahan portofolio pemodal dari sebelumnya di saham-saham sektor infrastruktur, perbankan, dan konsumer yang sudah tinggi akan menjadi pemicunya.

Dia menuturkan, saham-saham komoditas tersebut di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Energi Tbk (ADRO), PT Indika Energy Tbk (INDY), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP), dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Terbukti, kata Pardomuan, pergerakan positif indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia kemarin, ditopang penguatan saham-saham komoditas tambang maupun CPO. "Padahal, indeks regional Asia melemah," ujarnya.

antique.putra@vivanews.com

• VIVAnews
15/04/2010 - 08:59
Sentimen Market Cukup Positif
Saatnya Akumulasi BUMI
Ahmad Munjin


(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham BUMI, Kamis (15/4) diprediksikan menguat seiring positifnya sentimen market dan peluang penguatan kembali harga minyak mentah dunia. Saatnya akumulasi BUMI.

Pengamat pasar modal, Willy Sanjaya mengatakan, salah satu alasan penguatan saham BUMI hari ini dipicu oleh peluang positifnya sentimen market. Hal ini didukung positifnya bursa regional Asia. Di antaranya penguatan tajam bursa Singapura kemarin 48,14 poin (1,62%) menjadi 3.019,74.

Begitu juga dengan pergerakan indeks Nikkei dan Hang Seng yang masih berada di teritori positif. Hal serupa terjadi pada indeks Dow Jones yang memecahkan level 11.000. “Karena itu, BUMI bisa mengarah ke level resistance Rp2.475 dan Rp2.325 sebagai level support-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (14/4) petang.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup stagnan di level 2.400. Harga tertingginya mencapai Rp2.450 dan terendah Rp2.350. Volume transaksi mencapai 100,8 juta unit saham senilai Rp240,5 miliar dan frekuensi 2.954 kali.

Bursa Indonesia pun, lanjut Willy seharusnya menguat tajam pada perdagangan kemarin. Tapi karena terjadi kerusuahan Koja, Tanjung Priok, indeks tertekan di sesi sore. Meskipun, bursa berhasil ditutup di area positif.

“Penguatan itu, akan terjadi hari ini sehingga kondusif bagi pergerakan BUMI,” ujarnya. Positifnya sentimen market, imbuhnya, juga ditopang oleh penguatan rupiah terhadap dolar AS yang berpeluang menembus level 9.000 ke bawah hari ini.

Di sisi lain, secara teknikal, BUMI memang seharusnya bisa mengalami technical rebound hari ini setelah dua hari diperdagangkan di level 2.400. Di sisi lain, harga minyak sudah mulai balik arah menguat ke level US$84 dari sebelumnya US$83 per barel . Bahkan bisa jadi minyak kembali ke level US$85 per barel. “Ini bisa menambah tenaga bagi BUMI,” timpalnya.

Namun, meskipun positif, pergerakan BUMI tidak akan terlalu banyak. Sebab, pasar masih wait and see atas laporan keuangan perseroan kuartal pertama 2010. “Penguatan harga minyak, akan berpengaruh positif bagi BUMI jika berbarengan dengan dirilisnya laporan keuangan,” ucapnya.

Sementara itu, dari sisi aksi korporasi belum ada yang baru yang dapat menggerakan BUMI. Tapi, mungkin pasar masih dihantui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang akan memeriksa tunggakan pajak perseroan. “Tapi, itu seharusnya tidak ada masalah sebab tidak berpengaruh pada fundamental BUMI,” tuturnya.

Lebih jauh, Willy mengatakan, penguatan BUMI juga dipicu valuasinya yang sangat rendah. Sebelumnya, PT Aneka Tambang (ANTM) dan PT Timah (TINS) valuasinya jauh di bawah BUMI. Sekarang justru sebaliknya. Karena itu, BUMI sudah saatnya menguat. “Saya rekomendasikan akumulasi BUMI. Sebab, ANTM dan TINS sudah memecahkan level tertingginya,” imbuhnya. [mdr]

EKONOMI
14/04/2010 - 08:57
Investor Tunggu Laporan Keuangan
BUMI ‘Sideways’, Pegang Saja!
Ahmad Munjin


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Rabu (14/4) diprediksikan bergerak sideways. Pasar masih menunggu laporan keuangan perseroan kuartal pertama 2010. Hold saja!

Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Asset Management mengatakan, sideways-nya pergerakan saham BUMI hari ini dipicu oleh belum ada berita positif baru yang bisa memperkuat pergerakannya.

Karena itu, saham ini akan bergerak sideways di kisaran Rp2.400-2.500. “Namun, secara teknikal, level support kuatnya berada di angka Rp2.350 dan Rp2.500 sebagai level resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (13/4) petang.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup stagnan di level Rp2.400. Harga tertingginya mencapai Rp2.450 dan terendah Rp2.350. Volume transaksi mencapai 100,8 juta unit saham senilai Rp240,5 miliar dan frekuensi 2.954 kali.

Nico mengatakan, berita PT Bumi Resources Mineral (BRM) yang menjajaki IPO saham senilai US$1 miliar atau sekitar Rp9 triliun, pun tidak menjadi penggerak BUMI.

Padahal, Bumi Mineral merupakan anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang memiliki perusahaan tambang emas, tembaga, seng, timah, serta bijih besi di Indonesia dan Afrika. “Itu tidak ada efeknya bagi BUMI, tapi mungkin tergantung ceritanya bagaimana,” ujarnya.

Di sisi lain, BUMI juga akan menyuntikan sebagian asetnya senilainya US$1,9 miliar ke dalam BRM. Tapi, pasar tetap mempertanyakan dari mana asal dana itu. Nico menengarai dana itu berasal dari utang. “Semua itu, kan belum jelas, karena hal itu sangat menentukan cost-nya BUMI,” tukasnya.

Sementara itu, penurunan harga minyak ke level US$83 per barel dari sebelumnya mendekati level US$87 per barel, menurut Nico tidak terlalu berpengaruh pada pergerakan saham BUMI. “Melihat yang lalu-lalu sih, tidak ada korelasinya. Sebab, harga batubara juga masih datar-datar saja di level US$95-97 per metrik ton di Newcastle,” paparnya.

Nico menengarai, pasar saat ini masih menunggu laporan keuangan perseroan pada kuartal pertama 2010. Kinerja BUMI kuartal pertama ini, menurutnya, bisa lebih baik dari kuartal keempat 2009.

Sebab, pada kuartal keempat, BUMI merealisasikan stripping cost-nya. Hal itu, menjadi salah satu pemicu penurunan net income BUMI sebesar 49% dari US$371,69 juta pada 2008 menjadi US$190,45 juta pada 2009.

Untuk kuartal pertama, BUMI sudah tidak terbebani lagi stripping cost (biaya penambangan) yang ditunda pembukuannya itu, melainkan hanya terbebani operational cost biasa. Stripping cost BUMI naik menjadi US$490 juta di atas perkiraan sebelumnya US$250 juta.

Namun demikian, meski kuartal pertama BUMI sudah terlepas dari striping cost, tidak otomatis saham primadona ini akan menguat. Sebab, investor juga mempertimbangkan faktor lain seperti utang perseroran yang mencapai Rp30 triliun dan kisruh pajak. “Saya rekomendasikan hold saja untuk BUMI sampai ada katalis penguatan baru,” tandasnya. [mdr]
... analis pro juga berperan membuat para investor ritel MUAL dan MUAK pada ANALIS PRO dan manajemen bumi termasuk prediksi TIDAK PROF SEPERTI INI :

Bumi Resources Tbk

(Jakarta: BUMI.JK)
Last Trade:2,375
Trade Time:3:42am ET
Change:Down 25 (1.04%)
Prev Close:2,400
Open:2,400
Bid:2,375
Ask:2,400
1y Target Est:N/A
Day's Range:2,350 - 2,450
52wk Range:1,020 - 3,475
Volume:70,478,000
Avg Vol (3m):190,703,000













Chart for Bumi Resources Tbk (BUMI.JK)


WAWANCARA

13/04/2010 - 09:25
Irwan Ibrahim
Investor Baru Masuk di Saham BUMI

INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Selasa (13/4) diprediksikan menguat. Investor baru mulai masuk ke saham ini, seiring valuasinya yang sangat rendah. Inilah saat tepat untuk beli BUMI!
Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim mengatakan, salah satu alasan penguatan saham BUMI disebabkan masuknya investor baru, terutama asing ke saham sejuta umat. Hal itu dipicu valuasi saham ini yang sangat murah (undervalue) dibandingkan kenaikan tajam IHSG ^JKSE yang mendekati level 2.900.
BUMI juga mengalami technical rebound sebagai pembalikan arah dari pelemahan sementara pada perdagangan kemarin. “Selasa ini saya pikir BUMI rebound. BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.500 dan Rp2.350 sebagai level support-nya,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.
Pada perdagangan Senin (12/4), saham BUMI ditutup melemah Rp100 (4%) menjadi Rp2.400, dengan intraday Rp2.525 dan Rp2.400. Sedangkan volume transaksi mencapai 167,9 juta unit saham senilai Rp415,4 miliar dan frekuensi 3.575 kali. Berikut wawancara lengkapnya.
Setelah kemarin terkoreksi 4%, bagaimana Anda memprediksi pergerakan saham BUMI hari ini?
Saya kira akan kembali rebound. Salah satunya, dipicu oleh valuasinya yang sangat rendah, dibandingkan penguatan indeks yang tajam mendekati level 2.900. Pada saat IHSG ^JKSE mencapai level tertinggi di angka 2.830,27 pada 14 Januari 2008, saham BUMI berada di posisi Rp8.550. Karena itu, level BUMI di angka Rp2.400 saat ini sangat murah.
Akan bergerak di kisaran berapa?
Selasa ini saya pikir BUMI reboundBUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.500 dan Rp2.350 sebagai level support-nya.
Apalagi yang jadi alasan penguatan BUMI?
Penguatan BUMI juga, karena investor baru akan masuk di saham ini akibat valuasinya yang sangat rendah itu. Selain itu, BUMI mengalami technical rebound sebagai pembalikan arah dari pelemahan kemarin. Sebab, kemarin, BUMI hanya terkoreksi sementara.
Bagaimana dengan sentimen market?
Sentimen market akan positif sehingga sangat kondusif bagi penguatan BUMI. Sebab, investor berharap adanya dividen. Sampai Juli mendatang, trading disebut divident play. Mereka masuk ke saham-saham yang masih murah, dengan harapan mendapatkangain dari dividen yang tinggi. Secara historis, puncak pembagian dividen pada Juli-Agustus. Karena itu, saat harga saham masih murah, pelaku pasar melakukan pembelian termasuk investor asing. Dividen juga termasuk BUMI.
Bagaimana dengan harga minyak?
Harga minyak pun kemarin hanya terkoreksi sementara. Setelah mendekati US$87 pekan lalu, kemarin harga minayk kembali melemah ke level US$84 per barel . Karena itu, hari ini minyak bisa rebound kembali ke level US$86 per barel sehingga positif bagi BUMI.
Lalu, seperti apa fundamental BUMI sendiri?
Sangat positif. Sebab, akan ada aksi korporasi lanjutan dari BUMI. Saat ini pun, PT Bumi Resources Mineral (BRM), anak usaha BUMI menjajaki IPO saham senilai US$1 miilar atau sekitar Rp9 triliun. Perusahaan ini memiliki perusahaan tambang emas, tembaga, seng, timah, dan bijih besi di Indonesia dan Afrika. Dikabarkan, dijadwalkan IPO akhir tahun 2010.
Menurut saya, untuk jangka panjang akan sangat berpengaruh positif. Tapi, untuk jangka pendek, hal itu akan memicu berkurangnya cash flow BUMI. Sebab, untuk jangka pendek, pasar harus melihat penggunaan dana dari IPO itu, peruntukannya.
Mungkin 30% untuk pembayaran utang, 20% untuk ekspansi, dan 50% untuk biaya peralatan atau akuisisi perusahaan lain. Tapi, yang terpenting BUMI sekarang sangatundervalue dibandingkan penguatan indeks. Apalagi, tren harga minyak mentah dunia dan harga batubara naik terus dan aksi korporasinya ke depan akan menjadi sentimen positif ke market.
Lantas, apa rekomendasi Anda?
Saya rekomendasikan beli untuk BUMI. [jin/ast]





... taon 2009 ditandai oleh akuisisi 3 bisnis tambang batu item dan herald serta NNT ... 2010 akan ditandai oleh IPO bisnis tambank non-batubara ... ini berarti apa seh? gw kayanya uda bosen maen saham bumi kale :P :( ... UUD terus yang dicari the bakries dan saham bumi ... setiap AKSI TIDAK ADA IMBAS POSITIF BWAT INVESTOR RITEL THE BAKRIES dan SAHAM BUMI : liat aja TIDAK ADA SATU PUN YANG KASIH DIVIDEN SAMA SEKALI SAMPAI SEKARANG ... jadi apa gunanya menjadi INVESTOR BUMI dan THE BAKRIES ... well, elo putusin aja dah : BUMI: Mineral Disuntik US$1,9 Miliar

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan menyuntikan sebagian asetnya senilainya US$1,9 miliar ke dalam PT Bumi Resources Mineral (BRM). Bumi Mineral bakal menjadi perusahaan yang mengkonsolidasikan anak usaha Bumi Resources di bidang pertambangan emas, tembaga, seng, timah, serta bijih besi di Indonesia dan Afrika. e-trading

BUMI Enggan Komentari IPO Anak Usaha
Senin, 12 April 2010 - 18:02 wib
TEXT SIZE :
Widi Agustian - Okezone

Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) masih enggan berkomentar terkait dengan kabar yang menyebutkan jika perseroan bakal menjadikan anak usahanya menjadi perusahaan terbuka.

"Pengumuman mengenai rencana ke depan akan dilakukan pada waktunya sesuai prosedur yang ditetapkan. Saran saya adalah yang terbaik menunggu ini daripada berspekulasi sebelum waktunya, karena hanya pengumuman perusahaan yang formal sama informasi yang kredibel," jelas SVP Investor Relation BUMI Dileep Srivastava kepada okezone di Jakarta, Senin (12/4/2010).

Dia hanya menyebutkan jika nilai dari anak usaha yang didirikan untuk menampung bisnis non-batu bara perseroan adalah sebesar USD1,9 miliar. Pembentukan anak usaha ini juga dilakukan untuk memfokuskan bisnis perseroan di sektor non-batu bara ini.

"Kami telah membentuk Bumi Resource Mineral (BRM) dan mengumumkan ini kepada regulator. Tujuannya dari penyuntikan dana USD1,9 miliar dilakukan sesuai dengan nilai aset non-batu bara kami (yang unvalued oleh pasar), dengan ini maka akan terfokus pada pengembangan bisnis non batubara ini melalui manajemen yang independen," papar dia.

Sebelumnya, BUMI kali dikabarkan bakal menjadikan anak usahanya yang bergerak di sektor non-batu bara (non-coal) menjadi perusahaan terbuka. Initial public offering (IPO) dengan nilai USD1 miliar direncanakan dilaksanakan pada akhir tahun ini.

Seperti dilansir dari Reuters, nilai dari perusahaan yang merupakan anak usaha BUMI tersebut mencapai sebesar USD1,9 miliar. Anak usaha BUMI yang bergerak disektor non-batu bara tersebut adalah BRM. Anak usaha BUMI ini beroperasi di Indonesia dan Afrika.

Perusahaan tambang ini memproduksi emas, copper, zinc, serta iron ore di Indonesia dan Afrika. Credit Suisse dan JP Morgan disebut menjadi penasihat atas aksi perseroan tersebut.(ade)



Akhir Tahun, BUMI IPO-kan Anak Usaha USD1 Miliar
Senin, 12 April 2010 - 17:19 wib

Widi Agustian - Okezone

JAKARTA - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali membawa kabar mengejutkan. BUMI kali ini dikabarkan bakal menjadikan anak usahanya yang bergerak di sektor non-batu bara (non coal) menjadi perusahaan terbuka. Initial public offering (IPO) dengan nilai USD1 miliar direncanakan akan dilaksanakan pada akhir tahun ini.

Seperti dilansir dari Reuters, Selasa (12/4/2010), nilai dari perusahaan yang merupakan anak usaha BUMI tersebut mencapai sebesar USD1,9 miliar.

Anak usaha BUMI yang bergerak disektor non-batu bara tersebut adalah PT Bumi Resources Mineral (BRM). Anak usaha BUMI ini beroperasi di Indonesia dan Afrika. Perusahaan tambang ini memproduksi emas, copper, zinc serta iron ore di Indonesia dan Afrika. Credit Suisse dan JP Morgan disebut menjadi penasihat atas aksi perseroan tersebut.

Sekadar informasi, laba bersih BUMI pada tahun 2009 mencapai USD190,45 juta, turun sebanyak 48,76 persen jika dibandingkan dengan realisasi laba pada 2008 yang sebesar USD371,69 juta.

Laba bersih BUMI tersebut tergerus oleh amortisasi yang dipergunakannya untuk pengupasan lahan yang ditangguhkan selama beberapa tahun terakhir.

Akan tetapi, biaya amortisasi tersebut masih diimbangi oleh keuntungan kurs, serta penjualan beberapa aset perseroan yang tidak produktif. Padahal, jika tidak adanya beban dari amortisasi tersebut laba bersihnya akan mencapai level USD448 juta.(css)
12/04/2010 - 16:05
Jadi Underwriter IPO Anak usaha BUMI
Danatama Makmur 'Ngaku' tak Tahu


(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta - Danatama Makmur sama sekali belum mengetahui kabar penunjukkannya menjadi underwriter lokal pelaksanaan IPO anak usaha Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Mineral (BRM).

Hal ini disampaikan Vice President Danatama Makmur, Vicky Ganda Saputra kepada INILAH.COM, saat dikonfirmasi kebenaran berita tersebut, Senin (12/4). "Nggak, nggak tahu. Saya sama sekali baru mendengar kabar tersebut," ujarnya.

Menurutnya, jika ada berita terkait IPO, pihaknya pasti akan mengumumkannya ke media. "Jadi saya tidak bisa mengomentari kabar tersebut," tukasnya.

Sebelumnya diberitakan BRM tengah menjajaki penawaran umum perdana (IPO) senilai US$1 miliar atau sekitar Rp9 triliun. Anak usaha BUMI dibidang non batubara ini bahkan dikabarkan akan melaksanakan proses IPO-nya pada 2010 ini. [cms]

12/04/2010 - 16:26
BNP Paribas Jual BUMI Terbesar


(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta - BNP Paribas melakukan penjualan terbesar saham Bumi Resources Tbk (BUMI) Senin (12/4) ini.

Menurut analis AM capital Jhanson Nasrial, pada siang tadi saja, broker asing ini telah menjual sebanyak 28.500 lot saham. Sementara penjual saham BUMI terbesar berikutnya adalah Trimegah Securities dan Ciptadana Securities.

Sementara sebagai pembeli terbesar saham BUMI dilakukan VBS Securities yang siang tadi telah membeli 43 ribu lot saham BUMI. Sekuritas asing terlihat masih aktif menarik saham BUMI.

Pada penutupan bursa hari ini, saham BUMI turun 4% ke harga Rp2.400. Volume perdagangan sebanyak 335.963 senilai Rp415,49 miliar dengan 3.575 kali transaksi. [cms]

... tapi analis pro ada yang pro aksi korporasi bumi bo :

WAWANCARA
12/04/2010 - 09:28
Ukie Jaya Mahendra
Jangan Khawatirkan Fundamental BUMI!

INILAH.COM, Jakarta – Kontrak batubara BUMI dengan Jepang di level harga US$104 per metrik ton untuk 2011, telah mengangkat valuasi saham ini ke level Rp3.200. Investor disarankan untuk tidak mengkhawatirkan fundamental BUMI.

Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities menilai, saham BUMI secara fundamental sangat positif. Sebab, pasar sudah memperhitungkan kontrak batubara perseroan dengan Jepang di level harga US$104 per metrik ton untuk 2011. “Karena itu, valuasi wajar BUMI saat ini di level Rp3.200,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Jumat (9/4) saham BUMI ditutup menguat Rp50 (2,04%) menjadi Rp2.500 dengan intraday Rp2.525 dan Rp2.450. Volume transaksi mencapai 101,6 juta unit saham senilai Rp253,04 miliar dan frekuensi 2.559 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Bagaimana Anda memprediksi pergerakan saham BUMI awal pekan ini?

Saya kira masih akan naik. Salah satunya dipicu pasar yang memperhitungkan kontrak batubara BUMI dengan Jepang di level harga US$104 per metrik ton untuk 2011. Karena itu, valuasi saham ini dalam beberapa tahun ke depan sangat positif. Level harga US$104, sama artinya dengan kenaikan harga kontrak sebesar 40% dari tahun 2009. Pasar melihat, dari sisi harga batubara, positif bagi BUMI. Sebab, kontrak dengan Jepang menjadi preseden positif bagi konrak-kontrak lainnya dengan BUMI.

Akan bergerak di kisaran berapa?

Menurut saya, BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.650 dan Rp2.425 sebagai level support-nya. Penguatan BUMI juga dipicu rumor bahwa saham ini akan diangkat ke level Rp2.650, karena kasus pajaknya selesai. Tapi, saya tidak tahu secara pasti seperti apa. Sebab, hal itu hanya rumor.

Kontrak penjualan batubara dengan Jepang otomatis mengangkat valuasi BUMI?

Ya. Selain karena memang sudah saatnya BUMI naik sekarang. Sebab, kontrak batubara BUMI dengan Jepang menyebabkan, valuasi wajar BUMI saat ini di level Rp3.200. Meskipun, laba bersih 2009 mengalami penurunan, BUMI tetap menjanjikan gain di masa mendatang. Sebab, penurunan laba itu, sudah di-adjust oleh market.

Faktor lain yang menopang penguatan BUMI?

Harga minyak yang sempat menyentuh level US$86 per barel . Meskipun, sekarang kembali ke level US$84. Tapi ini tetap positif bagi saham sektor batubara seperti BUMI. Sebab, dari sisi fundamental pun saham BUMI tetap positif seiring kenaikan harga batubara dan kontrak-kontraknya yang menguntungkan perseroan. Bagus lah, tidak usah khawatir.

Bagaimana dengan sentimen market?

Sentimen market pun berpeluang menguat sehingga kondusif bagi kenaikan saham BUMI hari ini. Sebab, meski indeks akhir pekan lalu, diliputi suasana profit taking, namun hal itu tidak akan berlanjut hingga hari ini. Sebab, koreksi akhir pekan lalu terbatas, sehingga menandakan bahwa aksi beli masih kuat. Karena itu, pergerakan indeks sangat positif.

BUMI, selain mendapat dukungan dari pengauatan harga minyak, juga ditopang oleh positifnya sentimen market yang mencapai level tertingginya dalam sejarah. Apalagi, di sisi lain, saham BUMI belum mengalami kenaikan dibandingkan saham-saham lain di sektornya.

Lantas, apa rekomendasi Anda?

Saya sarankan, bagi investor yang sudah memiliki saham BUMI, lebih baik di-hold hingga mid and long term. Sedangkan bagi mereka yang belum atau akan menambah kepemilikannya di BUMI, saat inilah yang tepat untuk mengoleksi saham sejuta umat ini. [jin/ast]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini