Sabtu, 03 April 2010

laba bumi ADA tapinya ... 030410

Bumi Resources Raup Laba US$ 190,45 Juta
Meski demikian, perolehan itu di bawah laba selama 2008 yang mencapai US$ 371,69 juta.
JUM'AT, 2 APRIL 2010, 11:39 WIB
Arinto Tri Wibowo



VIVAnews - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan kenaikan penjualan dan volume produksi selama 2009. Selama periode itu, perseroan juga membukukan laba bersih US$ 190,45 juta.

Meski demikian, perolehan laba itu di bawah konsensus sebesar US$ 448 juta dan laba 2008 yang terbukukan US$ 371,69 juta.

Senior Vice President Investor Relations Bumi Resources Dileep Srivastava kepada VIVAnews menjelaskan, perolehan laba itu di antaranya ditopang oleh keuntungan investasi saham dan laba selisih kurs.

"Pada kuartal I-2010, Bumi berharap dapat menjual 16 juta ton batu bara dibanding 11,3 juta ton pada periode sama 2009," kata Dileep di Jakarta, Jumat 2 April 2010.

Target penjualan tersebut melonjak 41,6 persen dengan harga jual yang lebih tinggi dibanding kuartal I-2009. "Sedangkan outstanding penjualan hingga kuartal I-2010 masih on track," ujarnya.

Menurut Dileep, hingga akhir 2010, Bumi menargetkan penjualan hingga 64 juta ton batu bara.

Dia optimistis, 2010 akan menjadi tahun yang menggembirakan bagi peningkatan volume penjualan, pendapatan, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) serta paramater keuangan lainnya.

arinto.wibowo@vivanews.com

• VIVAnews
Gara-gara stripping cost, laba bumi turun 49%
Jumat, 02/04/2010 21:06:01 WIBOleh: Bastanul Siregar & Wisnu Wijaya
JAKARTA (Bisnis.com): PT Bumi Resources Tbk, salah satu anak kelompok usaha Bakrie, mencatat laba bersih tahun 2009 sebesar US$190,45 juta atau turun 49% dibandingkan dengan pencapaian 2008 yang sebesar US$371,69 juta.

"Penurunan laba Bumi pada 2009 disebabkan adanya penyesuaian realisasi biaya pengupasan lahan [deferred stripping expenses] US$275 juta," ujar SVP Investor Relations BUMI Dileep Srivastava dalam penjelasannya melalui layanan pesan singkat kepada Bisnis.com malam ini.

Menurut dia, penyesuaian tersebut merupakan realisasi atas amortisasi biaya pengupasan lahan. Tanpa adanya realisasi itu, laba bersih Bumi mencapai US$448 juta, naik 20,53% dari tahun 2008 sebesar US$ 371,69 juta.

Meski dengan kinerja keuangan yang tidak memuaskan itu, Produksi batu bara Bumi sebanyak 63,12 juta ton pada 2009, naik 19,5% dibandingkan dengan 2008 52,81 juta ton.

Sementara itu, volume penjualan batu bara perseroan juga meningkat sebanyak 13,4% menjadi 58,39 juta ton pada 2009. Pada tahun 2008 volume penjualan batu bara hanya sebanyak 51,51 juta ton

Namun, pada 2009, pendapatan Bumi tercatat sebesar US$3,22 miliar, turun tipis 4,7% dibandingkan dengan pencapaian pada 2008 sebesar US$3,38 miliar. Dileep menekankan penurunan pendapatan itu disebabkan oleh menurunnya harga jual rata-rata batu bara Bumi

Pada 2009, harga rata-rata yang diterima perusahaan sebesar US$63,14 per ton, turun 13,9% dari sebelumnya US$73,34 per ton. Biaya produksi juga menurun menjadi US$28,32 per ton pada akhir 2009. Pada 2008, biaya produksi sebesar US$33,11 per ton.

Hingga akhir kuartal I/2010, Bumi memperkirakan bisa menjual 16 juta ton batu bara dibandingkan dengan 11,3 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Volume penjualan pada kuartal I/2009 itu melonjak 41,6% karena harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu.

"Perolehan penjualan kuartal I/2010 sesuai dengan rencana untuk mencapai target penjualan tahun ini sebesar 64 juta ton batu bara," katanya. (wiw)
04/04/2010 - 09:40
Pergerakan Saham Unggulan Sepekan
BUMI Tunggu Laporan Keuangan
Agustina Melani


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta - Pada pekan yang berlangsung singkat, saham PT Bumi Resources (BUMI) turun 2,1%. Pelaku pasar masih mencermati laporan keuangan yang dikeluarkan oleh BUMI.

Hal itu disampaikan Vice President PT Valbury Securities Nico Omer J. Menurutnya, pelaku pasar saat ini mengantisipasi laporan keuangan, yang dinilainya tidak sesuai ekpektasi pasar. “Karena itu mereka menahan aksi beli terhadap BUMI,”katanya saat dihubungi INILAH.COM akhir pekan ini

Ia menambahkan, saham BUMI cenderung tertinggal dibandingkan saham-saham yang bergerak di sektor batubara seperti Perusahaan Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Salah satu perbedaan yang mencolok yaitu utang yang besar dibandingkan saham sektor batubara lain.

PTBA dan ITMG dinilai memiliki kas lebih besar dibandingkan utang. Selain itu, BUMI memerlukan belanja modal yang besar karena green field project yang besar. "utang besar ditambah bunga tinggi akan menggerus laba bersih BUMI," ujar Nico.

Senada dengan pengamat pasar modal Willy Sanjaya, yang menilai saham BUMI sudah ketinggalan di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, selain isu pajak yang masih mempengaruhi BUMI, pelaku pasar mengantisipasi laporan keuangan emiten ini. “Namun, saya lihat, harga saham BUMI bisa mencapai kisaran 3.300,”katanya.

Seperti diketahui, Dua hari pertama perdagangan, emiten BUMI terpantau stagnan di level Rp2.350. Nilai transaksi anak usaha Bakrie ini pun tidak terlalu besar di bawah Rp300 miliar. Koreksi indeks saham di hari pertama, berhasil diimbangi penguatan saham logam.

Penguatan trio saham logam PT International Nickel Indonesia (INCO), PT Aneka Tambang(ANTM) dan PT Timah (TINS), mengikuti trend harga underlying nikel di level tertinggi barunya US$24 ribu per ton, membawa sentimen positif bagi saham komoditas lain, termasuk BUMI.

Demikian juga pada keesokan harinya, dimana BUMI masih stagnan di level Rp2.350. Maraknya aksi ambil untung investor, dapat dicegah oleh aliran dana asing ke bursa. Hal ini didukung harga minyak mentah yang merangkak naik ke level US$82 per barel.

Manajemen BUMI mengakui mendapatkan penawaran atas leasing konsesi tambang berlian yang ada di Liberia. Ini sama dengan eksplorasi yang sedangkan berjalan seperti konsensi bijih besi di Mauritania.

Menurut SVP Investor Relation BUMI Dileep Srivastava dalam keterbukaan informasinya ke BEI, awal pekan ini, BUMI akan tetap melihat seksama berbagai peluang baru di Indonesia maupun di luar negeri. Namun, bukan berarti seluruh proses menuju kesepakatan bisnis, dan itu tengah berlangsung. “Dalam pertemuan manajemen BUMI dengan investor di Singapura, BUMI juga akan mengakuisisi perusahaan di kawasan Asia,”katanya.

Pada Rabu (31/3), saham BUMI akhirnya menunjukkan pergerakan, dengan melemah Rp100 ke level Rp2.250. Tata Power menjajaki pelepasan sekitar 8-10% saham Kaltim Prima Coal dan Arutmin Indonesia, anak usaha BUMI kepada Olympus Capital, perusahaan investasi di New York, dengan nilai penjualan saham diperkirakan mencapai US$ 300 juta.

Namun, pada Kamis (1/4), emiten ini berhasil ditutup naik Rp50 ke level Rp2300. Harga minyak mentah yang menembus level US$83.7/barrel, tertinggi dalam 17 bulan terakhir, seiring pelemahan dolar AS, membantu penguatannya. [ast/mdr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome All of You

Cari di Blog Ini