Mau Liat Maenan Saham2 gw Hari Ini :

Senin, 25 Januari 2010

25/01/2010 - 10:05
Ukie Jaya Mahendra
Likuiditas Susut, BUMI Tergerus

Ukie Jaya Mahendra
(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Senin (25/1) diprediksikan melanjutkan pelemahan. Susutnya likuiditas di pasar menjadi salah satu pemicunya. Hold untuk BUMI!

Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan salah satu faktor koreksi saham BUMI hari ini adalah susutnya likuiditas di pasar. Menurutnya, secara perlahan dana mulai ditarik dari market sehingga terjadi capital outflow.
Hal ini bisa dilihat dari net sell asing senilai Rp1,46 triliun pekan lalu. “Karena itu, BUMI akan mengarah dan menguji level support Rp.2.500 dan level Rp2.675 sebagai resistance-nya,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta
Pada perdagangan Jumat (22/1) saham BUMI ditutup melemah Rp50 (1,83%) menjadi Rp2.675, dengan intraday Rp2.675 dan Rp2.575. Volume transaksi mencapai 353,9 juta unit saham, senilai Rp926,3 miliar dan frekuensi 8.726 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah tiga hari terkoreksi, apakah ada potensi rebound bagi BUMI awal pekan ini?
Untuk saat ini belum ada potensi kenaikan. Sebab, pergerakan saham BUMI akan in line dengan penutupan indeks regional pekan lalu yang terkoreksi. Karena itu, sentimen market akan menggiring saham ini ke teritori negatif. Selain itu, pelemahan harga minyak mentah dunia ke level US$74 per barel  juga turut membuat BUMI tertekan.

Apakah koreksi ini juga didukung sentimen market eksternal?

Tren pergerakan saham saat ini memang berada dalam koreksi sementara. Hal ini dipicu likuiditas di pasar yang secara perlahan mulai ditarik dari market, sehingga terjadi capital outflow berupa net sell asing senilai Rp1,46 triliun pekan lalu.

Ini salah satunya sebagai respon terhadap rencana Presiden Obama yang akan membatasi perbankan untuk menempatkan dana spekulatifnya di hedge fund maupun private equity funds.

Selain itu, pasar juga saat ini belum terlalu percaya terhadap pemulihan ekonomi. Pasar melihat kondisi ketatnya likudiitas, data-data AS yang dirilis dan Eropa belum terlalu kuat menopang pemulihan ekonomi yang sustainable. Karena itulah pergerakan indeks dan BUMI akan inline dengan market regional.

Sampai kapan tren koreksi BUMI akan terjadi?

Peralihan dari saham dan komoditas ke dolar AS hanya bersifat sementara. Ini merupakan koreksi sehat dan normal. Saya perkirakan BUMI dan indeks akan koreksi hingga akhir Januari. Pada Februari baru bisa refresh , dan setelah itu juga baru bisa naik kembali.

Sampai level berapa, BUMI akan koreksi dan kemudian reversal naik kembali?

Tren koreksi BUMI akan terus terjadi hingga mencapai level support kuat di level Rp2.125, sebelum tembus ke level Rp2.000 per lembar saham. Karena itu, aksi korporasi apapun dari BUMI tidak akan berpengaruh positif ke BUMI. Terlalu berat bagi saham ini untuk melawan arus.

Harga batubara sendiri bagaimana pengaruhnya terhadap BUMI?

Dari sisi harga batubara, saham BUMI seharusnya bergerak positif. Sebab, permintaan batu bara saat ini justru tinggi. Meski saat ini harga batubara di Newcastle berada di level US$85-90 per metrik ton dari sebelumnya sempat di level US$102, seharusnya masih positif bagi BUMI.

Dari sisi valuasi?

Begitu juga jika dilihat dari sisi valuasi. IHSG pun sebenarnya masih rendah jika dibandingkan dengan indeks regional. Begitu juga dengan BUMI sehingga masih memiliki ruang menguat. Karena itu, dari sisi ini BUMI pun masih berpotensi menguat karena masih kompetitif. Artinya, tidak sepenuhnya benar, alasan valuasi indeks yang tinggi menjadi salah satu alasan koreksi.

Tapi, untuk saat ini sangat berat bagi BUMI melawan arus koreksi indeks.

Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?

Saya rekomendasikan hold sementara untuk BUMI. Baru buy on weakness jika BUMI menembus level support-nya di Rp2.500. [jin/ast]

bumi yang kompetitif tapi kena imbas juga ... 250110

25/01/2010 - 09:12
Terbawa Arus Regional
Koreksi Berlanjut, ‘Hold’ BUMI
Ahmad Munjin


(Istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI), Senin (25/1) diprediksikan melanjutkan pelemahan. Salah satunya karena koreksi harga minyak dunia ke level US$74 per barel. Hold untuk BUMI!
Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan, potensi pelemahan saham BUMI hari ini in linedengan penutupan indeks regional pekan lalu yang mengalami koreksi. Karena itu, sentimen market akan menggiring saham sejuta umat ini ke teritori negatif.
Selain itu, pelemahan harga minyak mentah dunia ke level US$74 per barel  juga turut membuat saham batubara thermal tertekan. “Karena itu, BUMI akan mengarah dan menguji level support Rp.2.500 dan level Rp2.675 sebagai resistance-nya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (24/1).


Pada perdagangan Jumat (22/1) saham BUMI ditutup melemah Rp50 (1,83%) menjadi Rp2.675 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.725. Harga tertingginya mencapai Rp2.675 dan terendahnya Rp2.575. Volume transaksi mencapai 353,9 juta unit saham senilai Rp926,3 miliar dan frekuensi 8.726 kali.

Lebih jauh Ukie mengatakan tren pergerakan saham saat ini, sedang berada dalam koreksi sementara. Hal ini dipicu likuiditas di pasar yang secara perlahan mulai ditarik dari market sehingga terjadi capital outflow.

“Koreksi ini salah satunya masih terkait rencana Presiden Obama yang akan membatasi perbankan menempatkan dananya di hedge fund maupun private equity funds,” ujarnya.

Selain itu, pasar juga saat ini belum terlalu percaya terhadap pemulihan ekonomi. Pasar melihat kondisi ketatnya likuiditas, serta data-data yang dirilis di AS dan Eropa belum terlalu kuat menopang pemulihan ekonomi yang sustainable. “Karena itulah pergerakan indeks dan BUMI akan inline dengan market regional,” paparnya.

Ukie kembali mengatakan, peralihan dari saham dan komoditas ke dolar AS hanya bersifat sementara, sehat dan normal. Ia memperkirakan akan berlangsung hingga akhir Januari, baru kemudian BUMI dan indeks akan koreksi. “Pada Februari baru bisa refresh setelah itu baru bisa naik kembali,” imbuhnya.

Tren koreksi ini, akan terus terjadi hingga mencapai level support kuat di level Rp2.125 untuk BUMI sebelum tembus ke level Rp2.000 per lembar. “Aksi korporasi apapun dari BUMI tidak akan berpengaruh positif ke BUMI. Terlalu berat bagi BUMI untuk melawan arus,” timpalnya.

Tapi, dari sisi harga batubara, saham BUMI seharusnya bergerak positif. Sebab, permintaan batubara saat ini justru tinggi. Harga batubara di Newcastle berada di level US$85-90 per metrik ton dari sebelumnya sempat di level US$102, seharusnya masih positif bagi BUMI.

Begitu juga jika dari sisi valuasi, IHSG sebenarnya masih rendah dibandingkan indeks regional. Begitu juga dengan BUMI sehingga masih memiliki ruang menguat. Dari sisi ini, BUMI berpotensi menguat karena masih kompetitif.

Artinya, tidak sepenuhnya benar, alasan valuasi indeks yang tinggi menjadi salah satu alasan koreksi. “Tapi, untuk saat ini sangat berat bagi BUMI melawan arus koreksi indeks,” tuturnya.

Ukie merekomendasikan hold sementara untuk BUMI. “Baru buy on weakness jika BUMI menembus level support-nya di Rp2.500,” pungkasnya. [mdr]

Minggu, 24 Januari 2010

bumi diekspektasikan analis pro @3625 ... 240110

9M09 Results Beat Expectation
samuel sekuritas
Christine Salim
Post date: 07 Jan 10


Bumi Resources (BUMI) – Maintain BUY
Price: Rp2,750 – Target Price: Rp3,625

9M09 Results Beat Expectation
· Stronger than expected 9M09
· Operating performance on track.
· Tax issue could pose to higher tax rate going forward.
· Leverage remains high.(utank maseh gede)
· Still positive on coal price outlook
· Maintain BUY, TP Rp3,625/share

BUMI: Kinerja operasional di atas ekspektasi
• PT Bumi Resources (BUMI) mencatat penjualan batu bara sebanyak 58.1
juta ton di FY09, di atas ekspektasi kami yaitu 56.8 juta ton.
• Sementara total produksi dari KPC dan Arutmin mencapai 62 juta ton, di
atas perkiraan kami yaitu 58 juta ton.
• BUMI berencana menganggarkan capex US$1.1 miliar untuk menaikkan
produksi KPC dan Arutmin menjadi 100 juta ton/tahun pada 2012. BUMI:
Buy

kecelakaan kerja yang diselidiki di NNT-bumi : 240110

23/01/2010 - 16:44
Hujan, Penyebab Longsor di Tambang Newmont
Makarius Paru


(Istimewa)
INILAH.COM, Jakarta - Penyebab insiden longsor di tambang Batu Hijau milik PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) beberapa waktu lalu setelah melalui penyelidikan akhirnya disimpulkan karena tingginya curah hujan.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi (Dirjen Minerba) Bambang Setiawan kepada INILAH.COM, Jakarta, Sabtu (23/1). “Longsor yang terjadi beberapa waktu lalu di tambang batu hijau disebabkan oleh tingginya curah hujan, alhasil longsor terjadi secara langsung dan tidak bertahap. Menyebabkan alat yang memonitor gerakan tanah tidak bisa mendeteksi gerakan longsor,” kata Bambang Setiawan.

Bambang melanjutkan, terjadinya insiden longsor di mulut tambang memang telah menghentikan aktifitas penambangan. Namun, tidak menghentikan kegiatan produksi karena untuk produksi Newmont mengambil bahan dasar dari stock pile.

Ketika dihubungi terpisah, Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral, Batubara dan Panas Bumi (Ditjen Minerba) MS Marpaung mengatakan sampai saat ini kegiatan penambangan di tambang Batu Hijau masih dihentikan dan akan dilanjutkan untuk beberapa hari ke depan.

Akan tetapi lanjutnya, produksi konsentrat dan tembaga dari pabrik pengolahan tidak berhenti karena mereka memiliki cadangan ‘ore’ atau batuan biji dari stockpile. “Stok ore atau batuan biji yang ada di stock pile bisa tertahap sampai beberapa minggu ke depan,” kata Marpaung. [hid]

17% ke 31 persen ... 240110

23/01/2010 - 15:03
Minggu Depan, MDB Lunasi 7% Saham Divestasi Newmont
Makarius Paru

INILAH.COM, Jakarta - Komisaris PT Daerah Maju Bersaing (DMB) Heryadi Rahmat mengatakan, saat ini pihak PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) sedang menyelesaikan urusan administrasi pengalihan 7% saham divestasi NNT jatah 2009. Diharapkan pekan depan Multi Daerah Bersaing (MDB) akan melakukan trasfer dana.

“RUPS pembahasan pembayaran saham 7% divestasi Newmont oleh Pemda NTB sudah dilakukan pada 15 Januari kemarin. Saat ini pihak Newmont sedang mengurus administrasi pengalihan nama kepemilikan saham 7% ke Kementerian ESDM, Kepala BKPM, dan juga Menkumham. Rencananya pekan depan segera dilakukan transaksi pembelian,” kata Heriyadi ketika dihubungi INILAH.COM, Jakarta Sabtu (23/1).

Tambahnya, pada RUPS 15 Januari kemarin, selain membahas pelaksanaan divestasi saham 7% 2009, RUPS juga menyetujui penempatan perwakilan Pemda NTB, melalui perusahaan patungannya dengan PT Multi Capital di PTNNT.

“Ada tiga perwakilan Pemda di PT NNT, terdiri atas dua anggota komisaris dan satu direksi. Khusus direksi belum diputuskan posisi pastinya,” katanya.

Lanjutnya, sementara terkait jatah divestasi Newmont 2010 sebesar 7%, Heriyadi mengatakan pembahasannya akan mulai dilakukan pada Maret mendatang. Adapun beberapa hal yang dibahas dalam divestasi saham 7% 2009 antara lain soal berapa harga sahamnya.

Sebelumnya, Gubernur NTB Muhamad Zainul Madji mengatakan kalau Pemda NTB juga akan memiliki saham 7% saham divestasi Newmont 2010. Bahkan Pemda NTB sudah jauh-jauh hari meneken perjanjian kerjasama dengan Multi Capital untuk mengambil semua saham divestasi Newmont sampai 31%.

Sampai saat ini Pemda NTB sudah berhasil mendapatkan saham divestasi Newmont hingga 17%, dengan rincian saham divestasi 2006 sebesar 3%, divestasi 2007 sebesar 7% dan divestasi 2008 sebesar 7%, total 17%. [san/cms]

Sabtu, 23 Januari 2010

bumi dalam pekan yang tak nyaman ... 230110

23/01/2010 - 13:03
Sepekan BUMI
Anjlok 4,5%, Terhadang Sentimen Eksternal
Agustina Melani

INILAH.COM, Jakarta – Pekan ini, BUMI kembali melanjutkan pelemahan, dengan anjlok 4,5%. Merosotnya harga komoditas dan sentimen negatif bursa saham eksternal merontokkan emiten batubara ini.

Hal itu disampaikan Pengamat Pasar Modal Aji Martono saat dihubungi INILAH.COM pada Sabtu (23/1). Aji menuturkan, harga saham BUMI selama sepekan anjlok dipicu pelemahan indeks saham global. “Hal ini juga dialami emiten lain, seperti PT United Tractor (UNTR), PT Aneka Tambang (ANTM), dan PT Timah (TINS),” katanya.

Menurutnya, saham BUMI sepekan ini sudah bergerak di level support 2.675 dan level resistance 2.875. Sedangkan secara teknikal, BUMI akhirnya ditutup pada level supportnya. “Tidak ada sentimen positif untuk saham BUMI," kata Aji.

Hal senada diungkapkan Senior Analis PT Indopremier Securities Dang Maulida Menurutnya, pelemahan harga BUMI selama sepekan dipicu penurunan harga komoditas dan indeks saham global. "Seminggu ini, harga BUMI memang turun dan sempat menyentuh level terendah di 2.575,” katanya.

Pada Jumat (22/1) kemarin, BUMI ditutup pada level 2.675 atau melemah 50 poin dari perdagangan sebelumnya. Di hari terakhir pekan ini, anak usaha Bakrie ini bergerak di kisaran Rp2.675 untuk level tertingginya hingga Rp2.575 untuk level terendahnya.

Sentimen negatif berasal dari harga komoditas seperti minyak yang terus turun, bahkan tembus level US$75 per barel. Selain kekhawatiran pengetatan kredit Cina yang diperkirakan akan berdampak pada melambatnya pemulihan ekonomi.

Aksi ini ditambah anjloknya indek Dow Jones, menyusul pengajuan proposal dari pihak gedung putih untuk mengurangi pengambilan risiko pada perbankan. Ini berarti, perbankan akan dilarang berinvestasi di hedge fund. Pernyataan ini tak pelak memicu pelemahan pada bursa Wall Street, dolar dan juga komoditas.

Namun, rilisnya data kinerja BUMI sempat mengangkat harga emiten ini pada Selasa (19/1). Anak usaha Bakrie ini terpantau naik Rp75 ke Rp2.800. BUMI mengumumkan penjualan batu bara pada 2009 sebanyak 58.1 juta ton. Sementara total produksi dari KPC dan Arutmin mencapai 62 juta ton. Di sisi lain, BUMI juga menganggarkan capex US$1.1 miliar untuk menaikkan produksi KPC dan Arutmin menjadi 100 juta ton per tahun pada 2012.

Penguatan BUMI juga didukung saham sektor tambang yang kembali rebound. Hal ini terjadi seiring naiknya harga minyak ke US$78.4/barel, pertama kalinya dalam 6 hari terakhir. Harga minyak naik, setelah Qatar mengatakan bahwa OPEC tidak akan menaikkan produksinya tahun ini. Selain dipicu spekulasi bahwa China akan menaikkan impor. Impor batubara China Desember 2009 dilaporkan mencapai rekor tertinggi di 16.38 juta ton.

Setelah menguat sesaat, saham-saham di bursa Indonesia kembali didera tekanan aksi profit taking. Saham grup Bakrie kembali lengser, termasuk BUMI yang melemah Rp25 ke Rp2.775. Pelemahan saham primadona ini bahkan menghambat penguatan bursa, dengan nilai transaksi sebesar Rp1,104 triliun, atau 24,2% total transaksi perdagangan.

Sentimen pemburukan bursa regional dan global yang terus berlangsung, akhirnya membuat BUMI terhimpit dan sulit bernafas. Harga emiten ini terus merosot, dimana pada Kamis (21/1) bertengger di Rp2.725 pada akhirnya ditutup di Rp2.675 pada Jumat (22/1).

Dang Maulida menambahkan, pelemahan harga BUMI pekan ini masih tergolong wajar. Ia pun memperkirakan koreksi yang dialami emiten ini hanya sementara, "Penurunan BUMI hanya jangka pendek saja,dan ada peluang menguat dalam jangka menengah. Ini karena fundamental BUMI yang masih baik," ujarnya. [ast/mdr]

Jumat, 22 Januari 2010

ga ngefek, tapi kejebur dah ... 220110

22/01/2010 - 10:01
Gina Novrina Nasution
Rapat CIC-Bakrie Tak Pengaruhi BUMI

Gina Novrina Nasution
INILAH.COM, Jakarta – Rapat CIC dengan Group Bakrie kemarin dinilai tak berpengaruh pada laju saham BUMI akhir pekan ini. Tapi secara teknis, anak usaha Bakrie ini masih berpeluang naik. Rekomendasi hold.

Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities memperkirakan saham PT Bumi Resources (BUMI) akan mengalami penguatan teknis. Sebab, secara umum belum ada sentimen yang bisa menopang pegerakannya.

Bahkan, rapat kemarin antara China Invesment Corporation (CIC) dengan Grup Bakrie pun dinilainya tidak berpengaruh apa-apa. “Titik support di level Rp2.675 sangat kuat sehingga hari ini berpotensi menguat ke level resistance Rp2.800,” katanya kepada Ahmad Munjin dari INILAH.COM, di Jakarta.

Pada perdagangan Kamis (21/1) saham BUMI ditutup melemah Rp50 (1,80%) menjadi Rp2.725, dengan intraday Rp2.825 dan Rp2.675. Sedangkan volume transaksi mencapai 236,5 juta unit saham senilai Rp647,9 miliar dan frekuensi 5.686 kali. Berikut wawancara lengkapnya.

Setelah dua hari terkoreksi, apakah BUMI berpeluang rebound akhir pekan ini?

Secara teknikal, BUMI berpeluang menguat, karena dua hari kemarin mengalami pelemahan berturut-turut. Tapi, dari sisi sentimen market, saham sejuta umat ini sangat tergantung pada pergerakan bursa regional, terutama Hang Seng.

Pada perdagangan kemarin pun, meski bursa Eropa positif, tapi Shanghai dan IHSG terkoreksi. Selain karena faktor profit taking, juga kenaikan indeks sudah cukup tinggi sehingga terjadi jenuh beli (overbouhgt).

Meski kemarin China mencatatkan pertumbuhan 2009 di atas ekspektasi di level 8,7%, tapi prediksi pertumbuhan untuk tahun ini akan lebih rendah. Karena itu, sentimennya menjadi negatif terhadap BUMI dari sisi market.

Bagaimana dengan koreksi harga minyak ke US$75 per barel ?
Minyak akan menjadi sentimen positif jika harga minyak mentah dunia menguat kembali ke level US$80 per barel , didukung penguatan harga batu bara. Semua itu akan mendorong penguatan BUMI lebih jauh. Tapi, untuk saat ini, BUMI lebih terpengaruh oleh regional.

Lalu, seperti apa sentimen dari BUMI yang mencatat pertumbuhan penjualan batubara 12,81% dan produksi batubara yang naik 6,89% sepanjang 2009?
Seharusnya menjadi sentimen positif. Tapi, pelaku pasar saat ini lebih melihat bagaimana peluang penjualan dan produksi batu bara BUMI di 2010. Sedangkan dari sisi valuasi sejak 20 Desember 2009, saham ini mengalami penguatan berkelanjutan. Ini berarti, kalaupun hari ini terkoreksi sehingga genap menjadi tiga hari, sangat wajar. Tapi, secara teknikal tetap potensi penguatan masih ada.
Secara umum, sentimen positif untuk BUMI belum ada. Sekarang tinggal menuggu bagaimana pergerakan bursa regional saja. Regional sendiri saat ini masih mengkhawatirkan perekonomian yang belum pulih. Meskipun pulih terjadi perlambatan sehingga menjadi sentimen negatif dalam dua hari terakhir ini.
Bagaimana pengaruh dari rapat China Invesment Corporation (CIC) dengan Grup Bakrie kemarin?
Sangat tergantung pada hasil dari rapat tersebut. Salah satu pembicaraannya adalah soal konversi utang BUMI menjadi 10% saham baru melalui penawaran umum terbatas tanpa HMETD (hak memesan efek terlebih dahulu).. Kalau soal itu, konversi sudah diserap pasar. Kecuali, kalau rapat itu menghasilkan aksi korporasi yang baru. Hal itu pasti akan direspon pasar.
Saya justru mengharapkan rapat itu membahas proyek-proyek baru yang akan dilakukan di 2010. Itu pun proyeksinya harus berada di atas ekspektasi pasar seperti strategi baru dalam pengembangan usaha yang memang di luar pikiran pasar. Baru sentimennya akan sangat positif bagi BUMI.
Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?
Secara tren saham BUMI untuk jangka menengah masih akan menguat. Tapi, di tengah minimnya sentimen untuk jangka menengah, saya rekomendasikan hold. Untuk jangka pendek, 3-4 hari, BUMI masuk ke area bearish jika titik support di 2.675 bisa ditembus. [jin/ast]
22/01/2010 - 08:59
Secara Teknis, BUMI Masih Bertenaga
Ahmad Munjin


(inilah.com/Agung Rajasa)
INILAH.COM, Jakarta – Di tengah minimnya sentimen, saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (22/1) diprediksikan menguat seiring koreksi teknis dua hari terakhir. Rekomendasi hold BUMI.

Analis riset dari Reliance Securities Gina Novrina Nasution mengatakan, potensi penguatan BUMI hari ini semata faktor teknikal setelah dua hari mengalami pelemahan berturut-turut.

“Titik support di level Rp2.675 sangat kuat sehingga hari ini berpotensi menguat ke level resistance Rp2.800,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (21/1) petang.

Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp50 (1,80%) menjadi Rp2.725 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.775. Harga tertingginya mencapai Rp2.825 dan terendahnya Rp2.675. Sedangkan volume transaksi mencapai 236,5 juta unit saham senilai Rp647,9 miliar dan frekuensi 5.686 kali.

Namun, Gina mengatakan dari sisi sentimen market saham sejuta umat ini sangat tergantung pada pergerakan bursa regional terutama Hang Seng. Pada perdagangan kemarin pun, meski bursa Eropa positif, tapi bursa China dan IHSG terkoreksi.

“Selain itu juga karena faktor profit taking, serta kenaikan indeks yang sudah cukup tinggi sehingga terjadi jenuh beli (overbouhgt),” ujarnya.

China mencatatkan pertumbuhan 2009 di atas ekspektasi di level 8,7%, tapi prediksi untuk tahun ini, pertumbuhan ekonomi negara tirai bambu itu akan lebih rendah. “Karena itu, sentimennya menjadi negatif terhadap BUMI dari sisi market,” paparnya.

Kecuali, imbuhnya jika harga minyak mentah dunia menguat kembali ke level US$80 per barel dari saat ini di level US$77 yang didukung dengan penguatan harga batubara. Semua itu akan mendorong penguatan BUMI lebih jauh. “Tapi, untuk saat ini, BUMI lebih terpengaruh oleh regional,” timpalnya.

Sementara itu, menurutnya, sentimen dari BUMI yang mencatat pertumbuhan penjualan batubara sebesar 12,81% sepanjang 2009 dan produksi yang naik 6,89% seharusnya menjadi sentimen positif. “Tapi, pelaku pasar saat ini lebih melihat bagaimana peluang penjualan dan produksi batubara BUMI di 2010,” tukasnya.

Di sisi lain, dari sisi valuasi sejak 20 Desember 2009, saham sejuta umat ini mengalami penguatan berkelanjutan. Karena itu, kalaupun hari ini terjadi koreksi kembali sehingga genap menjadi tiga hari sangat wajar. “Tapi, secara teknikal tetap potensi penguatan masih ada,” tandasnya.

Secara umum, sentimen positif untuk BUMI belum ada, dan tinggal menunggu bagaimana pergerakan bursa regional saja. Regional sendiri saat ini masih mengkhawatirkan perekonomian yang belum pulih. “Meskipun pulih terjadi perlambatan sehingga menjadi sentimen negatif dalam dua hari terakhir ini,” imbuhnya.

Sementara itu, sentimen dari rapat China Invesment Corporation dengan Grup Bakrie kemarin menurutnya sangat tergantung pada hasil dari rapat tersebut. Salah satunya pembicaraan dalam rapat tersebut adalah soal konvesrsi utang BUMI.

“Kalau konversi sudah diserap pasar,” timpalnya. Kecuali, kalau rapat itu menghasilkan aksi korporasi yang baru. Hal itu dipastikan akan direspon oleh pasar.

Seperti diketahui, salah satu masalah yang dibahas dengan CIC adalah rencana perusahaan itu mengkonversi sejumlah pinjamannya ke BUMI menjadi 10% saham baru yang akan diterbitkan melalui penawaran umum terbatas tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

Gina justru mengharapkan rapat itu membahas proyek-proyek baru yang akan dilakukan di 2010. Itu pun proyeksinya harus berada di atas ekspektasi pasar seperti strategi baru dalam pengembangan usaha di luar pikiran pasar. “Baru sentimennya akan sangat positif bagi BUMI,” tuturnya.

Secara tren, saham BUMI untuk jangka menengah masih akan menguat. Tapi, di tengah minimnya sentimen untuk jangka menengah, Gina merekomendasikan hold. “Untuk jangka pendek, 3-4 hari, BUMI masuk ke area bearish jika titik support di 2.675 bisa ditembus,” pungkasnya. [mdr]

Welcome All of You

Cari di Blog Ini